Temani Aku Berhijrah

Temani Aku Berhijrah
MENGEJAR IMPIAN


__ADS_3

Tak terasa sudah satu bulan berlalu sejak acara bazar tahunan Kampus Nusantara. Mahasiswa Kampus Nusantara susah disibukkan kembali dengan aktivitas mereka. Ada yang sibuk dengan tugas, bimbingan dan penelitian. Salah satunya Zarra. Ia sudah mulai mengikuti pengajian Ustadz Adi. Ini adalah pengajian Ustadz Adi yang ketiga yang Zarra ikuti dalam rangka penelitiannya.


Dani, koordinator kajian ini sangat ramah. Ia sangat senang ketika Zarra menghubunginya dan menyampaikan maksudnya. Bahkan timnya sangat senang dengan kehadiran Zarra. Zarra juga sering membawakan mereka kudapan atau makanan hasil masakannya. Menurutnya, sekalian promosi. Dan kajian kali ini panitia memesan makan siang mereka di Zarra beserta jajanan untuk Ustadz Adi, bintang tamu dan panitia.


"Ra, kalo kamu pinter masak gini, mending sehabis kuliah nanti buka usaha daripada kerja," celetuk Dani sambil memakan kue miliknya.


"'Kan sudah, Kak. Ini usahanya Zarra sekarang, Kak Dani," jawab Zarra. Ia terlihat tengah mencatat beberapa hasil interview dengan beberapa jama'ah hari ini.


"Oiya, Ra. Hari ini kamu bisa narsum kita nggak? Narsum yang kita undang nggak bisa datang karena ada keperluan," kata Dani kemudian. Zarra terhenyak. Narasumber? Zarra merasa belum pantas berbicara di depan jama'ah apalagi soal ilmu agama.


"Aduh, Kak jangan! Ilmu Zarra masih dikit. Aku masih belajar Kak Dani. Nanti malu-maluin lho," jawab Zarra. Dani tertawa membuat Zarra mengernyitkan dahi tak mengerti apa yang ditertawakan Dani.


"Zarra, Zarra. Masa iya aku nyuruh kamu ceramah?! Narsum yang aku maksud, narsum testimoni. Kamu cukup bercerita perjalanan hijrah kamu," kata Dani. Zarra terdiam. Hatinya masih menimbang. Sebelumnya ia tak pernah berbicara di depan banyak orang, apalagi ini jama'ah. Ada Ustadz Adi dan bintang tamu pula! Tapi tak enak menolak permintaan Dani. Akhirnya ia mengangguk. Dani pun ikut senang.


"Alhamdulillah. Tenang, Ra. Sebagai gantinya nanti aku bantu skripsimu," kata Dani. Zarra kini yang tertawa kecil.


"Kak Dani enggak perlu segitunya, ah! Sudah diizinin ikut kajian ini aja, aku syukur banget. Dapet ilmu, skripsi juga kelar. Alhamdulillah juga kalo aku bisa sharing pengalaman positif di sini," jawab Zarra. Dani menggelengkan kepalanya. Kagum ia pada gadis itu. Masih muda dan berani hijrah.


Tak lama kemudian, kajian pun dimulai. Kajian dibuka dengan do'a dan ceramah dari Ustadz Adi tentang Fiqih Sholat. Zarra merasa sedikit canggung duduk di depan jama'ah bersama Fenita. Sedangkan Ustadz Adi duduk bersama Arie Untung. Iya, bintang tamu kali ini adalah Arie Untung dan Fenita, istrinya.


"Grogi ya?," tanya Fenita kepada Zarra. Zarra mengangguk. "Enggak apa-apa. Niatkan untuk berbagi kebaikan," kata Fenita lagi dengan senyuman manisnya. Zarra mengangguk senyum. Mereka sudah berkenalan di belakang sebelum kajian dimulai. Ketika Arie dan Fenita menceritakan pengalaman hijrahnya, Zarra benar-benar kagum. Ia merasa pengalamannya itu belum ada apa-apanya. Diam-diam ia berdo'a dalam hati agar bisa mendapatkan pasangan yang mau berhijrah bersamanya. Menemaninya hijrah di jalan Allah, dan membimbingnya.


"Setiap perjalanan hijrah itu pasti beda-beda, ya tiap orang. Kali ini kita coba dengerin cerita perjalanan hijrahnya Neng Zarra. Masya Allah masih muda sudah berhijrah. Silahkan Neng Zarra," kata Arie memberikan Zarra waktu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Ustadz, Kak Arie dan Kak Fenita. Assalamu'alaikum semuanya," sapa Zarra. Terdengar suara jama'ah menjawab salamnya. "Wa'alaikumsalam". Termasuk Ustadz Adi, Arie dan Fenita.


"Bismillahirrahmanirrahim. Cerita saya sebenarnya biasa saja. Berawal diputusin pacar, disuruh hijrah, penasaran eh keterusan," kata Zarra memulai ceritanya. Ia menceritakan pengalaman hijrahnya dari awal hingga sekarang. "Beratnya itu bukan pada saat memutuskan hijrahnya, tetapi istiqomahnya. Terutama kalo dengar omongan tetangga, temen-temen, bahkan sahabat. Tetapi, percaya ya temen-temen, semua itu enggak akan lebih dari seminggu," kata Zarra lagi dengan senyuman. Kini, ia merasa lebih rileks dan santai bercerita. Begitu Zarra mengakhiri ceritanya, para jama'ah bertepuk tangan. Acara pun berlanjut hingga pukul tiga sore. Setelah shalat ashar bersama, kajian pun selesai.


Ruang meeting yang mereka gunakan untuk kajian kini sudah kosong dari jama'ah. Hanya tinggal koordinator, Ustadz Adi, Arie, Fenita dan Zarra. Mereka akan menyantap makanan yang sudah disediakan. Makanan itu adalah makanan yang dipesan dari Zarra. Zarra pun membantu menyiapkan makanan dan minumannya. Setelah semuanya terbagi, mereka pun memulai makan dengan mengucap bismillah. Zarra duduk dekat Fenita.


"Dan, ini nasinya enak banget, beli dimana?," tanya Arie kepada Dani. Dani tersenyum, sedangkan Zarra menunduk untuk menyembunyikan rasa malunya mendengar pujian itu.


"Iya, ini ayam wokunya enak banget lho," sambung Fenita.


"Itu yang punya catering di sebelah Mbak Fenita," jawab Dani. Spontan semua menoleh ke arah Zarra. Zarra yang merasa menjadi pusat perhatian, jadi tersipu.


"Ini catering kamu, Ra?," tanya Fenita. Zarra mengangguk senyum. "Yang masak?," tanya Fenita lagi.


"Masya Allah, Zarra. Ini nikmatnya luar biasa lho. Kapan-kapan kalo kita ke Surabaya lagi wajib banget mesen di kamu makanannya," seru Fenita. Zarra tersenyum.


"Alhamdulillah kalo Kak Fenita suka. Insha Allah kalo ada kesempatan ke Surabaya, nanti Zarra masakin menu lainnya," jawab Zarra. Fenita tertawa kecil bersama Zarra. Setelah makan siang selesai, mereka berbincang sebentar.


"Ra, tadi masakan kamu itu enak banget lho. Kapan-kapan ikut acara kita ya, ngajarin muslimah di kajian kita masak," puji Fenita sekali lagi.


"Saya masih belajar juga, Kak Feni. Boleh, Kak. Seneng banget bisa berbagi saya," jawab Zarra antusias. Fenita tampak senang sekaligus kagum dengan semangat Zarra.


"By the way, apa impian kamu, Ra?," tanya Fenita lagi. Zarra tersenyum. Matanya menatap Fenita sejenak, kemudian beralih pada apa yang ada di depannya.

__ADS_1


"Impian Zarra sekarang cuma ingin bahagiain orang tua Zarra selagi masih bisa. Zarra pengen istiqomah, semuanya di jalan yang di ridhoi Allah. Zarra pengen bisa berbagi kebaikan dengan muslimah yang lain ilmu yang Zarra miliki. Dan Zarra ingin ke rumah Allah," jawab Zarra dengan senyumnya.


"Kejar impian kamu, Ra. Impian yang di jalan Allah, niatkan karena Allah, insha Allah, Allah akan meridhoinya," ujar Fenita. Keduanya saling berpandangan dan tersenyum.


"Iya, Kak. Ini sekarang Zarra juga sedang mengejar impian. Penelitian buat skripsi, usaha catering supaya nggak bebanin orang tua lagi dan berbagi pengalaman hijrah untuk memotivasi muslimah yang lain," jawab Zarra dengan cerianya. Fenita tertawa kecil.


Ustadz Adi harus meninggalkan Surabaya sore itu untuk kembali ke Jakarta. Sedangkan Arie dan Fenita masih ingin menghabiskan malam ini di Surabaya. Mereka berpisah sebelum maghrib. Zarra pun harus kembali ke rumah sebelum maghrib. Hari ini pun mereka berpisah sebelum maghrib datang.


 


❤️❤️❤️


 


Impian itu berbeda dengan cita-cita. Jika cita-cita lebih cenderung ke profesi, impian jauh lebih luas maknanya. Zarra, seorang gadis millenial yang awalnya tidak mengenal ilmu agama, bercita-cita untuk berkarier biasa, kini ia telah berubah menjadi muslimah dengan impian yang berbeda.


Belajar tentang fiqih wanita, membuat konsep pikirannya berubah soal impian. Ia tak lagi menginginkan karier dan kemewahan seperti dulu, begitu ia tahu sebaik-baiknya wanita dalam Islam adalah wanita yang diam di rumah dan menjaga anak-anaknya. Kini, impiannya adalah berkarier di rumah. Memiliki usaha catering yang ia jalankan dari hobi masaknya dari rumah. Menuntaskan segera pendidikannya. Bahkan, hari ini ia menambahkan satu impian lagi dalam hidupnya. Berbagi kebaikan. Ilmu dan keahliannya sekarang ingin ia bagikan kepada muslimah lainnya. Berbagi kebaikan bukan hanya dengan uang dan harta. Tetapi juga ilmu. Ia ingat sekali Umi Fatma pernah mengatakan padanya, ketika kita membagikan satu ayat yang kita tahu kepada orang lain dan orang lain itu mengamalkannya, maka pahalanya pun akan mengalir kepada si pembagi ilmu.


Itulah kenapa Zarra ingin segera bisa membagikan ilmunya kepada muslimah lainnya. Kini, ia ingin fokus mengejar impiannya. Terutama membahagiakan orang tuanya.


"Bismillah. Ya Allah, hamba ingin datang ke rumahMu, di Ka'bahMu bersama orang tua hamba. Permudahlah jalan kami. Permudahlah jalan hamba mewujudkan impian-impian hamba. Semoga hamba bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi muslimah lainnya, Ya Allah. Aamiiiin".


- Zarra-

__ADS_1


__ADS_2