Temani Aku Berhijrah

Temani Aku Berhijrah
MEISYA & RAHASIA FAHRI


__ADS_3

Meisya benar-benar menepati janjinya. Ia datang mengunjungi Zarra pada jam sepuluh pagi waktu Mesir. Fahri baru saja berangkat saat ia datang. Ia membawa sebuket kecil mawar merah dan makanan kecil untuk Zarra. Zarra duduk di sofa empuknya dan berbincang dengan Meisya.


"So, tell me what happened with you," kata Meisya. Zarra menggigit sepotong mangga itu tersenyum.


"I'm fine, Mey," kata Zarra.


"No, definitely you're not fine. Kamu pucat, Ra," kata Meisya setengah mendesak. Zarra menatap Meisya dalam. Sikap Meisya mengingatkannya pada Asyifa dan Amira. Ia rindu dua sahabat sekaligus saudari iparnya itu. "Come on, Ra. Aku bisa jadi sahabatmu," kata Meisya lagi.


"Aku hamil, Mey," jawab Zarra lirih. Mata Meisya membulat sempurna. Seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia salah tingkah sendiri. Zarra melihat perubahan sikap Meisya yang seolah terkejut tak percaya. "Mey?," panggil Zarra.


"Wah, selamat ya Ra?," seru Meisya kemudian. Tetapi Zarra terlanjur melihat ekspresi yang ditunjukkan Meisya tadi. Itu membuatnya bertanya-tanya. Meisya menghela napas lemah. Ia tertunduk dan tiba-tiba ia menangis. Zarra tak mengerti, tetapi ia mengusap bahu Meisya yang duduk di depannya itu. Ia tak bertanya apapun pada Meisya. Ia ingin Meisya lebih tenang dulu. Tak berapa lama, tangis Meisya berhenti. Zarra menyodorkan kota berisi tisu agar Meisya bisa mengusap air matanya.


"Maaf ya, Ra? Jadi nangis," kata Meisya sembari tertawa pahit. Zarra tersenyum lembut.


"Nggak apa-apa, Mey. Nangis itu kan juga bisa ngurangin beban," jawab Zarra dengan senyum lembutnya.


"Maaf, Ra. Itu karena aku nggak seberuntung kamu. Dokter vonis aku nggak bisa punya anak. Itu juga yang bikin aku sulit dapet jodoh kali ya? Bahkan Fahri juga lebih milih kamu," kata Meisya dengan mata menerawang jauh keluar jendela apartemen Zarra.


DEGG


Jantung Zarra berdegup kencang, merasakan sesuatu yang tidak enak menelusup di hatinya ketika Meisya menyebut nama Fahri. Apakah mereka ada hubungan sebelumnya?, batin Zarra. Ia mengernyitkan dahinya, menelisik pada Meisya. Sedangkan Meisya menyadari keterkejutan Zarra, ia juga sedikit terkejut bahwa Fahri tak menceritakan apapun tentang mereka.


"Maaf, Ra. Fahri nggak cerita soal kami?," tanya Meisya dengan menatap Zarra. Zarra terlihat bingung. Ia hanya menggeleng pelan. Meisya kemudian menghela napas panjang.


"Kayaknya bukan hakku untuk cerita ini. Aku nggak mau kalian ribut," kata Meisya. Ia melirik ke arah Zarra yang mulai penasaran.

__ADS_1


"Please, Mey. Cerita aja. Semuanya. Jangan ada yang terlewat," kata Zarra mantap. Ia tak sabar kalau harus menunggu cerita dari Fahri. Pasti Fahri pun akan menutupi beberapa bagiannya. Siap tak siap ia ingin mendengar apa yang disembunyikan Fahri darinya. Ia kecewa sekali Fahri tak menceritakan ini padanya, padahal mereka suami istri. Bahkan Fahri sudah mengetahui luar dalam diri Zarra.


Meisya menceritakan perihal hubungannya dengan Fahri. Ia mengatakan bahwa dulu mereka pernah menjalani ta'aruf. Bahkan sudah sampai di tahap khitbah. Sayangnya, mendekati hari pernikahan, mereka melakukan tes pra nikah. Dokter memvonis ia tak bisa memiliki keturunan. Ia memutuskan untuk mengakhiri ta'aruf mereka dan melepas Fahri. Ia kira Fahri akan mempertahankannya. Tetapi ternyata Fahri memilih pulangke Indonesia dan saat Fahri kembali ke Kairo, ia mendengar bahwa Fahri telah menikah dengan Zarra.


Zarra yang mendengar itu serasa dihantam batu besar ke dalam jantungnya. Ia kecewa mendengar cerita ini dari Meisya. Namun, logikanya masih berjalan. Ia harus mengkonfirmasi cerita ini langsung kepada Fahri.


"Aku mohon kamu jangan tanya apa-apa sama Fahri. Bukan salahnya kami berpisah, walaupun saat itu kami sama-sama suka," pinta Meisya. Zarra terdiam, berusaha menenangkan hatinya yang sedang dipenuhi emosi dan kacau. Ia merasa hanya menjadi pelampiasan dari Fahri. Meskipun setengah hatinya mengatakan untuk mengingat-ingat bagaimana baiknya Fahri padanya, bagaimana Fahri memperlakukannya sebagai seorang istri dan ratu di rumahnya.


"Kamu masih ada perasaan padanya? Masih berharap padanya?," tanya Zarra dengan mata menatap Meisya dalam-dalam. Meisya menangis lagi dan mengangguk. Zarra menghela napas panjang. Seketika hatinya tak sanggup berpikir jernih.


"Tapi maaf, Mey. Aku tidak bisa memberikan izin Fahri menikah lagi. Aku belum sanggup untuk berbagi," kata Zarra menatap ke arah lain. Ia tak bisa menatap Meisya. Meisya tersenyum dan mengangguk.


"Aku tahu dan aku ngerti perasaanmu sekarang, Zarra. Harus mendengar ini semua. Aku tahu kamu nggak akan terima semua ini, meskipun mungkin Fahri juga merasakan hal yang sama," jawab Meisya lirih. Zarra memejamkan matanya mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.


"Maaf, Zarra kalau aku menyakitimu. Kamu yang menginginkan aku cerita semua tanpa menyembunyikan apapun lagi. Aku hanya ingin berteman denganmu, Ra. Jujur, aku bahagia kalau akhirnya Fahri berbahagia bersamamu dan akhirnya memiliki anak darimu," kata Meisya. Zarra menatap Meisya. Ia merasa Meisya memang benar adanya. Yang meminta Meisya bercerita adalah dirinya. Bukan salah Meisya jika hatinya saat ini sakit karena cemburu dan kecewa.


"Kalau kamu butuh teman bepergian, chat aja aku. Kasihan kamu diem di apartemen terus. Aku bisa jadi free profesional guide buat kamu," kata Meisya dengan senyum manisnya. Zarra mengangguk senyum. Ia termangu melihat kepergian Meisya. Sepeninggal Meisya, ia masuk ke dalam kamarnya dan menangis sejadi-jadinya hingga tertidur.


 


❤️❤️❤️


 


Zarra terbangun saat mendengar suara dari arah dapurnya. Ia pun bergegas bangun dengan sedikit terlonjak. Ia ingin melihat siapa yang begitu ribut ada di dapurnya. Begitu melihat siapa yang sedang berada di dapur, ia menghela napas lega. Fahri tengah memasak sesuatu. Zarra melihat ke arah luar jendela apartemennya. Suasana telah gelap. Sepertinya ia melewatkan waktu maghrib. Ia pun berdiri termangu di balkon apartemennya.

__ADS_1


Matanya menerawang jauh ke arah pusat kota Kairo. Gemerlap lampu terlihat menghiasi kota dengan indahnya. Angin malam menerpa wajahnya. Dingin. Tapi ia tak mempedulikannya. Ia menghela napas panjang. Pikirannya kembali kepada cerita Meisya tadi siang. Entah kenapa, hatinya tak ingin percaya sepenuhnya kepada cerita Meisya. Mungkin benar itu adalah rahasia Fahri dan Meisya. Masa lalu mereka dan kini masa depan Fahri adalah dirinya dan anak yang ada di dalam kandungannya itu. Ia hanya tak habis pikir kenapa Fahri tak menceritakan ini. Harus menunggu sampai kapan Fahri akan menceritakan ini. Kalaupun memang seperti itu, apa alasan Fahri menyembunyikan ini semua. Semua pikiran itu menganggu pikirannya, membuatnya sedikit pusing. Ia terhuyung ke belakang sedikit. Namun, badannya tertahan sesuatu yang kuat. Ia menoleh. Fahri berdiri di sana.


"Kamu kok di sini sih, Yang? Angin malam itu nggak baik buat kesehatanmu lho," ujar Fahri membimbing Zarra ke sofa depan. Zarra duduk bersandar di sofa empuknya itu dengan lemasnya. Ia meluruskan kakinya di sofa.


"Pusing ya?," tanya Fahri khawatir. Zarra mencoba mencari ketulusan di mata Fahri. Dan itu benar-benar tulus dari Fahri. Zarra hanya mengangguk lemah. Jika melihat sikap Fahri yang penuh kasih sayang, rasanya mustahil Fahri tak memiliki ketulusan padanya.


"Yang, kamu sayang aku beneran nggak sih?," tanya Zarra sembari menatap Fahri. Fahri tersenyum. Ia mengira itu adalah bagian dari bawaan setiap wanita yang sedang hamil. Ia hanya terkekeh kecil. Ia mencubit lembut hidung istrinya dengan gemas.


"Ya iyalah aku sayang banget sama kamu, Sayangku," jawab Fahri. Zarra tersenyum. Senyumnya sedikit terpaksa karena ia masih belum puas dengan jawaban Fahri. Ia ragu untuk mempertanyakan soal masa lalu Fahri dengan Meisya. Ia ingat bagaimana adab suami istri dalam Islam yang tak memperbolehkan mengungkit atau mengorek masa lalu pasangan, kecuali pasangannya yang memang ingin menceritakannya.


"Want to tell what happened?," tanya Fahri lembut. Ia tahu pasti Zarra ingin menyampaikan sesuatu. Zarra membenarkan posisi duduknya. Ia menghadap Fahri dan menatapnya dalam-dalam.


"Kak, maaf sebelumnya. Bukan maksudku membahas masa lalumu, tapi aku hanya ingin tahu, apa ada wanita sebelum aku yang kamu khitbah?," tanya Zarra. Matanya terus menatap Fahri. Fahri tersenyum, tetapi bukan senyuman yang Zarra inginkan. Itu adalah senyuman pahit. Ia mengangguk sendu. Zarra menghela napas panjang untuk menenangkan gejolak dalam hatinya.


"Wanna tell something to me?," Zarra balik bertanya. Ia berharap Fahri menceritakan sesuatu untuk mendukung perasaannya yang mengatakan Meisya bohong. Namun, jawaban Fahri membuat Zarra kecewa.


"Zarra, maafkan aku nggak cerita soal ini sama kamu. Terlalu pahit buat aku. Dan masalah ini memang belum selesai dan belum kuatasi. Tapi aku janji, waallahi, akan menceritakan semuanya sama kamu," kata Fahri. Ia memegang tangan Zarra dengan erat. Zarra mencoba mengerti, meskipun jawaban Fahri membuatnya sakit. Iya! Sakit hatinya mendengar Fahri belum mengatasi perasaannya pada Meisya. Itu artinya Fahri memang masih ada perasaan pada Meisya.


"By the way, waktu aku masuk rumah sakit kemarin, kamu lagi janjian sama Meisya?," tanya Zarra kemudian. Mata Fahri membulat sempurna. Ia terkejut Zarra mengetahuinya.


"Siapa yang bilang?," tanya Fahri.


"Meisya," jawab Zarra pendek. Fahri menghela napas pendek. Senyum di wajahnya memudar berganti menjadi kekhawatiran.


"Ra, aku pesen ya? Jangan terlalu deket sama Meisya. Apapun yang terjadi jangan meminta bantuan sama dia. Aku mohon demi kebaikanmu dan anak kita," kata Fahri. Zarra mengernyitkan dahinya. Ia menjadi semakin bingung dan ingin marah. Apakah Fahri melarangnya dekat dengan Meisya karena mereka masih ada perasaan? Memikirkannya membuat Zarra semakin pusing. Perut bagian bawahnya terasa nyeri. Ia tak ingin berdebat lagi, apalagi melihat perubahan raut wajah Fahri. Lebih baik ia mencari tahu sendiri.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2