
Zarra membuka matanya perlahan. Ia sadar kini berada di kamarnya. Kepalanya pusing dan matanya terasa panas. Bajunya juga telah berganti dengan piyama tidurnya. Nyeri di perut bagian bawahnya belum berkurang. Ia melihat kepala Fahri yang terbaring di sebelah tangannya, sedangkan badannya duduk di samping tempat tidur. Dielusnya kepala Fahri dengan lembut.
Fahri yang merasakan kepalanya dielus, terbangun. Ia mendapati istrinya telah sadar. Wajahnya yang pucat itu tampak memaksakan senyum. Ia terlihat sedang menahan sakit. Ia pun meraih tangan Zarra dan menggenggamnya.
"Jangan pergi lagi, Ra!," ucapnya lirih. Buliran bening menetes dari mata laki-laki gagah di hadapannya itu. Zarra mengusapnya pelan dan lemah.
"Jangan menangis, Kak. Aku nggak pantes Kakak tangisi begini. Aku ini bukan orang yang...," belum sempat Zarra menyelesaikan kata-katanya, Fahri menggeleng cepat dan menempelkan jari telunjuknya ke bibir wanita yang disayanginya itu.
"Aku yang harusnya minta maaf. Aku menyembunyikan masalah ini darimu, orang yang harusnya tahu. Ini bukan hanya soal masa lalu, tetapi belum kuselesaikan. Dan soal Meisya, aku tak pernah ada hubungan apapun dengannya," ungkap Fahri. Zarra mengernyitkan dahinya. Namun, ia menunggu cerita selanjutnya dari Fahri. Sambil terus memegang tangan Zarra, Fahri memulai kisahnya.
Masalah Fahri dimulai dari perkenalan Fahri dengan Meira, saat masih kuliah di UIN Kediri. Mereka mengambil mata kuliah yang sama. Meskipun tidak menjalin hubungan pacaran, mereka tahu bahwa hati mereka memiliki perasaan yang sama. Fahri memberanikan mengajak Meira ta'aruf saat semester akhir. Meira menerimanya. Mereka merencanakan sebuah pernikahan setelah sama-sama menyelesaikan S1. Sayangnya, Meisya, kakak Meira tidak menyetujuinya, karena tak mau dilangkahi. Ia melakukan berbagai cara agar Meira mengurungkan niatnya menerima khitbah Fahri. Sampai akhirnya, Meisya memalsukan hasil tes kesehatan pra nikah Meira. Hasil tes itu ditukar dengan miliknya, yang akhirnya dokter mengatakan kepada Meira bahwa ia tak bisa memiliki anak. Meira yang terpukul memutuskan untuk menolak khitbah Fahri. Meira benar-benar menghilang dari kehidupan Fahri, dan Meisya terus mengejar Fahri. Hingga suatu hari, Fahri mendengar kabar bahwa Meira meninggal bunuh diri karena merasa tak sanggup menanggung beban pikirannya itu.
Kepergian Meira juga meninggalkan beban di hati Meisya. Membuat Meisya depresi karena rasa bersalahnya. Meisya sempat harus bolak-balik ke psikiater karena dianggap mengidap skizophrenia atau halusinasi. Ia menganggap bahwa dirinya sedang menggantikan posisi Meira. Sampai-sampai menyusul Fahri kuliah di Kairo dengan biaya sendiri. Orang tua Meisya sebenarnya sedikit khawatir melepaskan Meisya ke Kairo. Tetapi dengan meyakinkan bahwa dirinya telah sembuh dan baik-baik saja, orang tuanya mengizinkan ia pergi ke Kairo. Dengan harapan, di Kairo Meisya bisa melupakan semuanya dan kembali ke kehidupan normalnya. Orang tuanya sama sekali tidak tahu niat yang sebenarnya. Fahri baru mengetahui Meisya di Kairo dari Moza. Moza, Raina, Firhan dan Hawari adalah sahabat Fahri semasa di UIN dan mendapat beasiswa ke Kairo bersama. Mereka sepakat tidak menceritakan ini kepada Zarra karena permintaan Fahri. Fahri tidak ingin membuat Zarra khawatir.
"Tetapi nyatanya, justru aku yang dibuat khawatir sama kamu," ucap Fahri mengakhiri ceritanya. Zarra tersenyum lemah. Ia merasa bersalah membuat Fahri khawatir. Seharusnya ia bisa mensupport Fahri segera menyelesaikan S2nya.
"Jangan minta maaf, Sayang. Aku senang bisa mengkhawatirkanmu. Tandanya kamu ada di sisiku. Nggak bener kalau aku nggak sayang sama kamu. Aku cinta kamu, Ra. Kamu bukan pelarianku. Aku dan Meira itu masa lalu yang kusesali. Tapi bertemu denganmu dan menikahimu adalah kesempatan kedua dari Allah untukku. Aku memilihmu menjadi istriku karena aku jatuh cinta saat melihatmu, melihat kuatnya keinginan kamu berhijrah di jalan Allah. Dan aku ingin sekali menjadi imam bagimu, aku ingin bersamamu, menemani kamu hijrah. Ingat kan janji kita di awal pernikahan? Kita hijrah bersama-sama di jalan Allah," ungkap Fahri. Zarra mengangguk lemah. Ia sudah terisak mendengar penuturan Fahri. Dalam hatinya ia benar-benar mohon ampunan dari Allah karena telah suudzon padaNya dan pada suaminya.
Sudah seharusnya, suami istri saling mensyukuri pasangan masing-masing. Memaafkan kesalahan masing-masing. Fahri dan Zarra berpelukan melepas beban di dada masing-masing. Saling memaafkan dan menerima. Dan akhirnya mereka terlarut dalam keharuan. Keduanya saling mengusap air mata. Fahri mengecup kening Zarra dengan penuh kasih sayang. Dalam hati mereka masing-masing telah memaafkan apa yang terjadi hari ini, berjanji saling memperbaiki diri dan bergandengan tangan di jalan Allah.
__ADS_1
❤️❤️❤️
Suara adzan subuh membangunkan Fahri. Ia membuka matanya. Badannya terasa sedikit pegal, mungkin karena kehujanan. Ia melihat ke sampingnya dimana Zarra berbaring. Pulas sekali Zarra tidur. Tetapi ia sedikit khawatir dengan kondisi Zarra. Ia saja yang kehujanan sebentar sudah merasakan pegal-pegal, bagaimana dengan Zarra yang berjalan menerobos hujan deras entah darimana. Perlahan ia mengecup kening istrinya itu untuk membangunkannya. Hangat. Badan Zarra demam. Fahri mulai khawatir.
"Sudah subuh ya?," Zarra menggeliat dan berusaha membuka matanya. Pusing sekali dan nyeri di perutnya masih terasa. Ia pun berusaha bangkit dan dibantu Fahri. Dibimbing Fahri mengambil wudhu dan kemudian mereka sholat berjama'ah. Saat menyelesaikan dzikir, rasa nyeri di perut Zarra semakin menjadi. Bahkan ia sampai terbaring karena tidak kuat menahan sakit.
"Kaaak...," serunya lirih memanggil Fahri sembari menahan sakit. Fahri menoleh. Betapa terkejutnya melihat Zarra sudah terbaring dengan menahan sakit. Fahri mendekati Zarra dan menopang tubuh Zarra.
"Sakit, Kak," isak Zarra lirih. Fahri yang khawatir itu berusaha membantu Zarra untuk bangkit. Tetapi kekhawatirannya berubah menjadi kepanikan saat melihat mukena belakang Zarra telah bernoda darah. Zarra mengalami pendarahan. Di tengah kepanikannya itu ia segera memesan taksi online. Ia menggendong tubuh Zarra turun dari kamar mereka menuju lobby bawah.
Untung saja, lokasi apartemen mereka berdekatan dengan Al Azhar Hospital. Dengan menggunakan taksi online, Fahri membawa Zarra ke rumah sakit. Zarra sudah tak sadarkan diri dalam perjalanan menuju rumah sakit yang hanya berjarak 10 menit dari apartemennya itu.
Begitu sampai, Zarra dibawa ke ruang gawat darurat. Fahri diharuskan menunggu di luar ruangan. Ia menghubungi Abi dan Umi serta kawan-kawannya. Tak berapa lama, Firhan dan Hawari datang, karena tempat tinggal mereka yang dekat dengan rumah sakit.
"Wa'alaikumsalam. Masih ditangani dokter di dalam," jawab Fahri yang gemetar karena paniknya. Firhan dan Hawari duduk di samping Fahri. Mereka menguatkan Fahri. Fahri merasa takut dan khawatir terjadi sesuatu pada Zarra dan calon bayinya. Ia berdo'a agar keduanya baik-baik saja.
Semenit kemudian, dokter keluar dari ruang gawat darurat. Fahri segera bangkit mendekatinya. Ia berbincang sebentar dengan dokter tersebut. Setelah itu ia kembali ke Firhan dan Hawari dengan menghempaskan diri di kursi tunggu. Ia menutup wajahnya dan menangis sesenggukan. Firhan dan Hawari saling berpandangan, kemudian bertanya kepada Fahri apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa kata dokter, Fahri?," tanya Hawari cemas. Fahri membuka wajahnya. Ia mengusap air matanya dan tersenyum. Kemudian memeluk sahabatnya bergantian.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Zarra nggak apa-apa. Alhamdulillah," ucapnya sambil memeluk Firhan. Firhan dan Hawari pun tersenyum lega dan mengucapkan alhamdulillah. Tak berapa lama, perawat keluar membawa Zarra yang masih terbaring keluar dari ruang gawat darurat menuju ruang perawatan. Firhan, Fahri dan Hawari mengikuti para perawat itu.
Sementara itu, Abi dan Umi juga telah sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruang perawatan yang ditunjukkan oleh perawat. Begitu membuka pintu ruangan, Zarra masih belum sadarkan diri ditemani Fahri di sisinya. Sedangkan di sudut ruangan, Firhan dan Hawari duduk berbincang.
"Assalamu'alaikum," sapa Umi.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka bertiga hampir bersamaan. Umi masuk ke ruangan dan berdiri di samping Zarra. Ia mengelus kening dan pipi Zarra khawatir. Suhu tubuh Zarra masih hangat, demam.
"Gimana kondisinya, Ri?," tanya Abi.
"Alhamdulillah kandungannya baik-baik saja. Pendarahannya itu dipicu karena kelelahan, stress berat dan demam. Selain itu, diindikasi kalau janin yang dikandung Zarra kembar," jawab Fahri. Umi yang terkejut sampai menutup mulutnya saking bahagianya.
"Kenapa bisa sampai begini?," tanya Abi.
"Soal Meisya, Bi. Seperti yang Fahri bilang kemarin. Zarra balik ke apartemen hujan-hujanan, jalan kaki pula. Fahri nggak nanya darimana karena Fahri khawatir lihat Zarra udah menggigil kedinginan semalam. Langsung Fahri ajak istirahat," jawab Fahri. Abi menghela napas.
"Kamu sudah cerita?," tanya Abi. Fahri mengangguk. "Bagus. Abi sudah hubungi orang tua Meisya juga. Kemungkinan malam ini mereka sampai di sini. Sengaja mereka nggak kasih tahu Meisya supaya anak itu nggak kabur," sambung Abi lagi. Fahri mengangguk.
"Syukron, Bi," ucap Fahri berterima kasih. Ia bersyukur sekali saat pamannya itu membantu menyelesaikan masalahnya. Ia juga bersyukur ada teman-teman yang senantiasa menemaninya saat susah dan senang. Dan yang paling ia syukuri adalah Allah memberinya istri yang sabar seperti Zarra dan calon bayi yang kuat di dalam perut Zarra. Tak henti-hentinya ia mengucapkan hamdalah dalam hatinya, mensyukuri "hadiah" Allah padanya.
__ADS_1
❤️❤️❤️