
Minggu pagi ini udara Surabaya terasa lebih dingin daripada biasanya. Zarra ingin tidur lebih lama lagi setelah sholat subuh. Tapi nyatanya matanya tak bisa lagi terpejam. Ia pun melakukan joging keliling komplek perumahannya. Hari ini ia terlanjur janji dengan Asyifa dan Amira untuk ke butik langganan Asyifa. Ia ingin membeli beberapa baju. Sedangkan baju-baju lamanya semasa belum berhijab sudah ia rapikan dalam kardus dan akan disumbangkan ke panti asuhan.
Begitu ia sampai di rumah, ia pun segera bersiap-siap untuk menjemput Asyifa dan Amira. Ia hanya meminum secangkir kopi susu buatan Bi Asih dan segera berangkat.
Zarra sampai di rumah Asyifa jam 9 pagi. Di jok belakang mobilnya sudah ada dua kardus baju yang akan mereka bawa ke panti asuhan terdekat. Ketika Zarra turun, ia sudah disambut oleh Humaira. Ternyata di sana ada Husna dan Fahri. Zarra mengucap salam dan dibalas oleh mereka.
"Zarra, biar Fahri aja yang antar kalian ya? Jangan terlalu sore juga pulangnya," pesan Abah. Zarra mengangguk. Ia tak keberatan Fahri mengantar mereka. Tetapi ia tak tahu harus bersikap bagaimana. Mereka menaikkan dua kardus lagi dari rumah Asyifa. Asyifa dan Zarra duduk di jok belakang, sedangkan Amira duduk di depan dengan Fahri. Ini karena Amira adalah adik Fahri dan merupakan mahram. Sebelum berangkat mereka pamit dengan mengucap salam. Sepeninggal mereka, Umi Fatma berkata kepada Abah, "segera saja, Bah". Abah manggut-manggut mengerti.
❤️❤️❤️
Sepanjang perjalanan ternyata tak sesepi yang Zarra bayangkan. Fahri adalah orang yang ramah dan penyayang. Itu terlihat dari sikapnya memperlakukan Amira. Sesekali ia bercanda membuat Amira ngambek.
"Oiya, Zarra katanya sudah skripsi ya?," celetuk Fahri kepada Zarra. Ia melirik Zarra dari kaca mobil. Zarra jadi salah tingkah sendiri.
"Iya, Kak. Minggu depan sidang," jawab Zarra. Asyifa dan Amira terkejut dengan pernyataan Zarra. Mereka baru tahu Zarra akan sidang minggu depan. Meskipun begitu mereka ikut senang karena akhirnya sidang itu terkejar juga oleh Zarra.
"Wah, akhirnya kekejar juga ya, Ra?," ujar Asyifa. Zarra mengangguk senyum.
"'Kan berkat kalian juga. Kalau nggak ada motivasi dari kalian, entah apa aku ini," jawab Zarra merendah.
"Oh, so sweet," sahut Amira. Zarra dan Asyifa tertawa melihat tingkah Amira.
"Kak Fahri kuliah dimana?," tanya Zarra kemudian. Belum sempat Fahri menjawab, Amira sudah menyahutnya.
"Dia S1-nya di UIN Kediri, Ra. Sekarang lagi cuti S2 di Kairo. Dapet beasiswa kuliah di sana," sahut Amira bangga. Zarra takjub mendengarnya. "Nggak nyesel jadi istrinya Bang Fahri," celetuk Amira lagi.
"Heh, apaan sih? Aku masih belajar juga kok, Ra," kata Fahri merendah. Zarra tersenyum. Sekali lagi Fahri melihat Zarra melalui kaca. Mata mereka berpapasan sekali lagi. Kemudian mereka kembali pada percakapan mereka.
❤️❤️❤️
__ADS_1
Butik Fressia langganan Amira memang benar-benar besar. Butik ini khusus menjual pakaian muslim dan perlengkapan ibadah muslim. Begitu sampai, mereka bertiga langsung berpencar memilih barang yang akan mereka beli. Amira dan Asyifa hanya membeli satu stel baju syar'i lengkap dengan kerudungnya. Sedangkan Zarra ia masih sibuk membeli beberapa perlengkapan lainnya. Zarra paling terakhir masuk kembali ke dalam mobil. Ia membawa dua kantong belanja. Satu besar dan satu kecil. Kemudian mobil pun berjalan menuju Panti Asuhan Nurul Hikmah.
"Ra, kamu beli baju banyak banget!," seru Amira melihat tas belanja Zarra. Belum sempat Zarra menjawab, Asyifa sudah menimpali.
"Ingat pesan Umi, Ra. Setiap baju yang kamu pakai akan kamu pertanggung jawabkan nanti. Berhias berlebihan juga nggak baik lho, Ra," kata Asyifa. Zarra tersenyum lembut.
"Aku cuma beli kerudung dua helai aja sahabat-sahabatku," jawab Zarra.
"Lha ini?," tunjuk Amira pada plastik besar yang penuh belanjaan. Zarra tetap dengan senyumannya, ia membuka plastiknya dan mengeluarkan salah satu isinya. Ternyata Al Qur'an kecil.
"Aku beli ini, Amira. Aku beli 10 buah untuk anak-anak panti. Aku mau sumbangkan ini atas nama kedua orang tuaku. Jadi, ketika anak-anak membacanya, pahalanya mengalir kepada orang tuaku," jawab Zarra. Amira dan Asyifa tersenyum lega. Pun demikian dengan Fahri. Lagi-lagi ia melirik ke arah Zarra. Ia tersenyum penuh arti.
❤️❤️❤️
Jam menunjukkan pukul satu siang. Mereka telah selesai berbagi di panti asuhan. Mereka juga sholat dzuhur bersama anak-anak panti. Seusai dari panti, mereka ingin mampir ke Tunjungan Plaza untuk mengisi perut sekaligus jalan-jalan sebentar.
Di Tunjungan Plaza mereka berjalan beriringan bertiga. Sedangkan Fahri berjalan di belakang mereka. Kebetulan food court berada di lantai lima. Naik melalui eskalator sebenarnya membuat Zarra harus menahan ketakutannya. Dari lantai 1 sampai lantai 3, ia tak terlalu merasakannya. Ketika dari lantai 3, ia mulai mengeratkan genggaman tangan Asyifa. Dari lantai 4 ke lantai 5, keringat dinginnya keluar. Kakinya mulai lemas. Ia tegang bahkan tak berani melirik ke samping kanan kirinya, karena begitu ia di ketinggian, jantungnya akan berdegup kencang.
"Kamu takut ketinggian ya?," tanya Fahri. Zarra mengangguk pelan. Semuanya tersenyum lega. Mereka pikir Zarra sedang sakit. "Enggak apa-apa, Ra. Kalau kamu takut kamu bisa pegang tangan Asyifa atau Amira," imbuh Fahri. Asyifa dan Amira mengangguk.
"Zarra? Kamu di sini?," seru seseorang. Spontan mereka menoleh ke arah sumber suara. Mereka menemukan Malik sedang mendekat ke arah Zarra.
"Kumat lagi ya? Kamu kan takut ketinggian, kenapa ke sini?," cerocos Malik. Dari matanya, Zarra tahu ia sangat khawatir. Ia dan Malik memang tak pernah sampai ke lantai atas bangunan karena phobianya Zarra terhadap ketinggian.
"Aku lagi sama temen-temen, mau makan di sini," jawab Zarra seadanya. Ia melihat sekeliling, menyadari tak ada Kinar bersama Malik. "Kinar mana?," tanyanya kemudian. Malik terdiam.
"Ya sudah, lebih baik kita duduk dan makan bersama, yuk! Nggak enak dilihat orang di sini. Lagian kita di jalan lho," kata Fahri. Mereka pun mengiyakan dan mulai menuju food court.
Mereka mengambil tempat duduk bersama. Seusai memesan makanan, mereka mencoba mengobrol.
"Kamu belum jawab, Kinar mana?," tanya Zarra. Malik terdiam. Ia menunduk sayu.
"Kinar di rumah, Ra. Lagi bed rest karena abis keguguran," jawab Malik. Zarra terkejut. Kinar hamil dan sekarang keguguran. Ia beristighfar.
__ADS_1
"Terus kamu ngapain di sini? Kok nggak nemenin Kinar sih?," tanya Amira kemudian. Fahri menendang kaki Amira, mencoba memberi isyarat agar tak ikut campur. Malik melihat Amira sejenak.
"Aku lagi beliin Kinar skincarenya dan beberapa perlengkapannya dia," jawab Malik. Matanya kembali menatap Zarra. Zarra menghindari tatapan Malik dengan meneguk minumannya.
"Ra, tentang apa yang kita bicarakan kemarin di bazar, apakah kamu nggak bisa pertimbangkan?," tanya Malik.
"Malik, istrimu baru saja keguguran. Dan kamu malah berniat menikah dengan wanita lain? Please, Malik! Dimana empati kamu? Ingat, Malik! Poligami itu diizinkan dengan dasar dan syarat tertentu. Memangnya istrimu sudah nggak sehat dan nggak bisa melayani kamu?," sergah Zarra. Ia benar-benar hampir kehabisan rasa sabar menghadapi Malik.
"Kata dokter, keguguran kemarin membuat rahim Kinar pecah sehingga harus diangkat. Sedangkan ibuku menginginkan anak dariku. Please, Ra. Kasih aku kesempatan sekali ini," kata Malik. Zarra terkejut mendengar berita itu.
"Maaf, Malik. Aku turut sedih dengan kondisi Kinar. Tapi menggantikannya untuk memberimu keturunan enggak pernah ada dalam impianku lagi. Malik, dia istrimu, sekarang sedang down. Dia butuh kamu di sisinya untuk membelanya. Perkara ia tak bisa memiliki anak lagi, bukan alasan memilih poligami. Kamu dan Kinar masih bisa mengangkat anak dari panti asuhan. Mereka jauh lebih membutuhkan kalian sebagai orang tua," kata Zarra lagi.
"Tapi, Ra..," belum sempat Malik melanjutkan perkataannya, Zarra kembali menyahut.
"Malik, please. Lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan. Cintai Kinar apa adanya! Dia yang kamu pilih. Kamu harus konsisten dengan pilihan kamu. Temani dia! Jangan meneruskan obsesimu lagi. Saat ini aku sudah enggak melihat cinta di mata kamu. Yang ada hanya obsesimu kepadaku dan itu menyakitiku," sergah Zarra.
"Apakah sudah ada pria lain di hatimu?," tanya Malik kemudian. Zarra tertunduk. Kali ini ia harus berbohong supaya Malik berhenti mengejarnya. "Jawab, Ra!," seru Malik. Asyifa, Amira dan Fahri menoleh ke arah mereka. Fahri hendak menengahi, tetapi dicegah oleh Amira.
"Iya, Malik. Saat ini kami sedang menjalani proses ta'aruf. Sehabis wisuda, rencananya dia akan mengkhitbahku dan segera menikah. Aku akan ikut bersamanya," jawab Zarra.
"Apa istimewanya dia?," tanya Malik.
"Karena dia menemaniku dan membimbingku berhijrah, bukan menyuruh dan meninggalkanku," jawab Zarra setengah menyindir Malik. Malik pun mengangguk. Ia beranjak dari kursinya.
"Baik, aku tunggu undanganmu. Pastikan setelah wisuda kamu menikah," kata Malik. Ia pun berlalu tanpa mengucap salam. Zarra menghela napas lega. Asyifa, Amira dan Fahri menatapnya dengan pikirannya masing-masing.
"Hei, kok bengong, ayo makan dulu!," seru Zarra membuyarkan lamunan mereka.
"Kamu enggak apa-apa kan, Ra?," tanya Amira. Zarra menggeleng sambil mengunyah nasi gorengnya. "Terus yang kamu bilang ta'aruf dan mau khitbah kamu itu siapa?," tanya Amira lagi.
"Nggak ada. Ups! Maksudnya belum ada. Aku bohong tadi sama dia biar dia stop terobsesi sama aku," jawab Zarra. Amira tersenyum lega.
"Aku nggak mau nikah karena nebus rasa bersalah aja. Dia sudah bukan main cinta lagi, itu sudah obsesi. Kalau cinta, seharusnya dia nikahin aku dan hijrah bareng. Bukan nyuruh doang! Aku mau, mau banget malah ada yang nemenin hijrah," lanjut Zarra. Mereka bertiga tersenyum mendengar pernyataan Zarra barusan. Senyum bahagia yang sama. Senyum penuh rencana kebaikan.
❤️❤️❤️
__ADS_1