
Kampus Nusantara jam delapan pagi telah penuh dengan mahasiswa. Zarra pun termasuk di dalamnya. Pagi ini ia datang ke kampus dengan penuh harapan. Kenapa? Ia berharap hari ini adalah bimbingan terakhirnya dengan Pak Adi. Bukan karena ia tidak suka dengan dosen itu, tetapi ia juga ingin segera lulus dari universitas yang telah mendidiknya selama hampir 4 tahun itu.
Di hadapannya, Pak Adi memeriksa skripsinya. Dosen itu tampak serius membaca setiap tulisan di dalam skripsinya itu. Sedangkan, ia tampak tegang di depan Pak Adi. Tiba-tiba Pak Adi menengadah menatap Zarra.
"Oiya, saya penasaran. Kamu ada hubungan apa sama Dani?," tanya Pak Adi sambil menulis di sebuah kertas. Zarra terbelalak. Pak Adi memang mengenal Dani sebagai koordinator kajian Ustadz Adi. Bahkan Pak Adi yang memberikan kontak Dani kepada Zarra. Tetapi, Zarra tak percaya Pak Adi mempertanyakan hubungannya dengan Dani. Padahal tak ada yang spesial, hanya sebatas pertemanan biasa.
"Maaf, Pak. Saya sama Kak Dani hanya berteman biasa saja kok, Pak," jawab Zarra. Pak Adi mengangguk senyum. "Ada apa ya, Pak?," tanya Zarra lagi. Ia khawatir terjadi sesuatu. Mungkinkah ia membuat kesalahan atau hanya Pak Adi sedang iseng.
"Saya cuma heran aja. Dia sebegitunya memperjuangkan skripsi kamu," jawab Pak Adi. Wajahnya masih serius. Deg, jantung Zarra berdetak semakin cepat. Jadi, Kak Dani benar-benar memenuhi kata-katanya kemarin, batinnya.
"Dia minta supaya saya bantu kamu agar kamu bisa ikut wisuda tahun ini. Sedangkan jadwal wisuda itu sudah mepet. Kalau kamu mau kejar sebenarnya bisa saja. Saya bisa saja lolosin kamu hari ini supaya kamu bisa daftar sidang. Tapi kamu harus siap dengan kemungkinan terburuk pada saat ketemu penguji di sidang nanti," jelas Pak Adi. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia terdiam sejenak dan berpikir. Jika saja jadwal wisuda tak terlalu mepet, ia mungkin akan mengambil opsi kedua untuk mengikuti prosedur saja. Tetapi kenapa ia harus takut sidang? Bukankah itu hanya pengujian materi skripsinya. Ia hanya tinggal menjelaskan menurut hasil penelitiannya dan menjawab sesuai dengan hasil pengamatannya. Dan akhirnya ia pun memutuskan opsi pertama.
"Baik, Pak. Saya ambil resikonya," kata Zarra mantap. Dengan tegas ia mengambil keputusan itu. Tak lupa ia mengucap bismillah dalam hatinya. Pak Adi tertawa kecil.
"Kamu sudah ada yang melamar belum?," tanya Pak Adi sambil menandatangani form bimbingan. Zarra mengernyitkan dahinya.
"Belum, Pak. Saya masih mau fokus kejar mimpi saya," jawab Zarra.
"Lebih enak kejar mimpi berdua, Ra. Ketika kamu seumuran saya, kamu akan merasakan nikmatnya perjuangan dari nol bersama. Itu akan bikin ikatan hubungan kalian lebih langgeng," nasihat Pak Adi. Zarra mengangguk senyum. "Kamu mau ta'aruf dulu atau mau langsung saya khitbah?," tanya Pak Adi kemudian. Zarra terkejut dengan apa yang didengarnya. Dalam hatinya ia kesal. Bukankah Pak Adi barusan bilang ngejar mimpi berdua, dan ia sudah punya istri. Bahkan anaknya juga sudah seumuran Zarra.
"Maksud Bapak apa ya?," tanya Zarra masih dengan nada sopan. Pak Adi tertawa. Ia baru menyadari kesalahannya dalam bertanya pada gadis di depannya itu.
"Aduh, maaf, Ra bikin kamu salah paham. Maksud saya, buat anak saya," kata Pak Adi masih dengan tawanya. Astaghfirullah, batin Zarra menyesal sudah suudzon. Ia pun ikut tertawa.
"Emang anak Bapak umur berapa?," tanya Zarra kemudian.
"'Kan kamu udah ketemu dia," jawab Pak Adi. Zarra terlihat bingung. "Emang Dani nggak bilang sama kamu kalau dia itu anak saya?," tanya Pak Adi lagi. Zarra pun semakin bengong mendengar hal itu. Ia menggeleng pelan. Wajahnya masih belum usai terkejut. Ternyata Dani adalah anak Pak Adi. Sekarang semuanya jadi make a sense menurut Zarra dengan pernyataan Pak Adi dari awal.
"Dasar anak itu!," gerutu Pak Adi sambil tertawa. "Oiya, jangan diambil hati soal ta'aruf dan khitbah tadi. Saya bercanda, Ra. Kalian masih bebas memilih, kok," kata Pak Adi kemudian. Zarra menghela napas lega. Saat ini, ia masih ingin fokus lulus kuliah. Perkara jodoh, sudah ia serahkan kepada Allah.
__ADS_1
❤️❤️❤️
Semilir angin di siang hari memang sangat membuai. Apalagi di saat suasana panas. Zarra memejamkan mata menikmati semilirnya angin di teras mushola Asyifa. Hal yang sama pun dilakukan oleh Irina dan Farida. Sejak selesai bazar, kedua gadis itu bersama Zarra mengikuti pengajian atau belajar. Mereka ingin belajar seperti Zarra, katanya.
"Enak ya anginnya?," seru seseorang. Suara keibuan itu sangat khas di telinga Zarra. Zarra, Irina dan Farida membuka mata. Umi Fatma dan Asyifa telah berada di hadapan mereka. Asyifa dibantu Amira membawa baki berisi gelas dan cemilan.
"Enak sekali, Umi. Jadi pengen merem terus," jawab Irina. Gadis itu terlihat bersemangat.
"Mati dong kamu!," seru Farida menimpali. Keduanya tertawa.
"Eh, kok ngomongin mati, sih!," sergah Amira bergidik ngeri. "Pada belum punya bekel akhirat juga!," tambahnya kemudian.
"Mati itu nggak nunggu bekal kekumpul. Kalo waktunya habis ya mati, Kak," jawab Irina. Semua terdiam mendengar jawaban dari Irina itu.
"Eh, sudah, sudah. Kok pada ngomongin mati, sih! Enakan ngomongin soal jodoh," seru Umi Fatma memecah kesunyian di antara mereka. Mereka pun kembali bersemangat dan melupakan percakapan barusan.
"Kalian sudah faham soal ta'aruf?," tanya Umi Fatma.
"Apa yang kamu tahu soal ta'aruf?," tanya Umi Fatma.
"Ta'aruf itu cara kita berkenalan dengan calon suami kita," jawab Zarra. Umi Fatma mengangguk senyum. Kemudian Umi Fatma menjelaskan apa itu ta'aruf, proses dan tata caranya.
"Jadi selama masa ta'aruf itu kita tidak bertemu secara langsung ya, Mi?," tanya Farida lagi. Umi Fatma mengangguk.
" Tetapi tetap bisa berkomunikasi melalui perantara," tambah Umi Fatma.
"Umi, jika ada seorang laki-laki yang ia mengajak ta'aruf gimana, Mi?," tanya Amira.
"Lihat agama dan akhlaknya. Kalau baik, terima. Kalau jauh dari agama, kalian boleh menolaknya," jawab Umi Fatma. Mereka mengangguk mengerti.
"Assalamu'alaikum," sapa seseorang. Semua menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam", jawab mereka bersamaan. Ada seorang laki-laki, seorang perempuan dan seorang anak perempuan berjalan ke arah mereka. Zarra sedikit terkejut. Laki-laki itu adalah laki-laki yang sama, yang datang di bazarnya. Anak perempuan itu, Humaira.
"Tante donat?," seru Humaira begitu melihat Zarra. Zarra tersenyum senang melihat gadis kecil itu. Humaira berlari ke arahnya. "Tante bawa donat lagi?," tanya Humaira lagi. Zarra tertawa mendengar pertanyaan Humaira. Ia menggeleng.
"Kamu suka donatnya Tante?," tanya Zarra. Humaira mengangguk senang. "Oke, kapan-kapan Tante bawain kamu donat yang banyak ya?," ujar Zarra. Humaira mengangguk antusias. Zarra melihat Fahri. Iya, Fahri, paman dari si kecil Humaira yang bertemu di bazar tahunan kampusnya. Di belakangnya seorang wanita muda, cantik, berdiri menatap keakraban Humaira dan Zarra. Ia tersenyum lembut. Kemudian wanita itu mendekati mereka. Humaira kemudian memeluk wanita itu.
"Makasih ya, Zarra? Humaira suka sekali donat dari kamu waktu di bazar," kata wanita itu. Zarra mengangguk senyum. "Eh iya, saya Husna, uminya Humaira," kata wanita itu memperkenalkan diri. Zarra mengangguk senyum lagi.
"Saya Zarra," kata Zarra.
"Zarra, Husna ini keponakannya Umi. Anak dari kakaknya Abah. Kakaknya Amira sama Fahri" imbuh Umi Fatma. Zarra pun mengangguk senyum. Jadi, Husna, Fahri dan Amira bersaudara. Tapi kenapa mereka tak saling sapa saat di bazar tahunan?, batinnya. Zarra melirik ke arah Fahri. Ternyata Fahri pun sedang melihat ke arahnya. Ketika mata mereka bertemu, keduanya kemudian mengalihkan pandangan seolah tak terjadi apa-apa. Umi Fatma tersenyum melihat kejadian itu. Sedangkan, Asyifa dan Amira saling berpandangan dan melakukan tos pelan di belakang tubuh mereka.
"Abi nya Humaira tidak ikut ke sini?," tanya Zarra. Humaira menatap uminya. Husna nampak berubah raut wajahnya. Zarra sungguh menyesal telah bertanya karena ia tak tahu apa yang terjadi.
"Abi sudah pergi, Tante. Abi sudah bahagia bersama Allah," jawab Humaira memecah keheningan. Zarra semakin menyesal mempertanyakan hal itu.
"Maaf ya, Kak Husna?," ucap Zarra sambil mengelus lengan Husna. Husna menggeleng senyum. Ia terlihat begitu tegar.
"Udah, enggak apa-apa, Zarra. Itu sudah qadarullah," jawab Husna memegang tangan Zarra. Semuanya tersenyum melihat pemandangan itu. "Eh, kalian lanjutin dulu ngajinya sama Umi. Aku ke dalam ya mau bajak dapurnya umi? Titip Humaira ya, Ra," kata Husna kemudian. Wajahnya tampak ceria lagi. Zarra mengangguk senang. Fahri kini duduk di teras rumah Asyifa. Kemudian Umi Fatma melanjutkan penjelasannya soal ta'aruf.
"Zarra, kamu mau nggak ta'aruf?," bisik Amira di telinga Zarra. Zarra menoleh ke arah Amira.
"Ta'aruf sama siapa?," tanya Zarra balik dengan senyum gelinya. Ia geli mendengar pertanyaan Amira itu.
"Tuh," tunjuk Amira dengan lirikan matanya. Zarra mengikuti arah lirikan Amira. Ia melihat Fahri yang sedang mendengarkan sesuatu. Itu terlihat dari telinganya yang sedang menggunakan headset. "Pasti lagi dengerin murottal. Hafalan lagi dah dia," seru Amira. Zarra masih menatap Fahri dengan kagum. Senggolan tangan Amira membuyarkan lamunannya. Ia pun mengucap istighfar dengan berbisik. Kemudian ia tersenyum. Amira juga. Senyum dengan kebahagiaan yang sama.
❤️❤️❤️
__ADS_1