
Pagi menyapa kota Kairo. Matahari telah bersinar terang menerangi jalanan Nasr City, apartemen Zarra. Zarra mengejapkan mata beberapa kali. Seusai sholat subuh, Zarra tertidur kembali karena merasa lelah. Entah kenapa sekarang ia merasa cepat lelah dan pusing. Ia berusaha bangkit dari tempat tidurnya, tetapi perut bagian bawahnya terasa nyeri. Ia kemudian duduk bersandar pada bantalnya, untuk mengurangi rasa nyerinya.
Fahri keluar dari kamar mandi. Ia melihat Zarra sudah bangun bersandar di tempat tidurnya seolah sedang menahan sakit. Ia duduk di samping Zarra.
"Sakit, Yang?," tanya Fahri khawatir.
"Iya, tapi nggak apa-apa kok. Sebentar lagi pasti ilang," jawab Zarra dengan senyumnya. Kemudian, ia memeluk Fahri yang hanya menggunakan handuk saja. Fahri tertawa melihat tingkah Zarra yang tak biasa itu. Tetapi ia senang melihat Zarra seperti itu. Biasanya Zarra akan malu melakukannya.
"Tar dulu, Yang. Aku masih pengen peluk kamu," kata Zarra. Fahri tertawa melihat kelakuan istrinya. Ia mengelus kepala Zarra lembut. Zarra pun melepas pelukannya. Ia menatap Fahri dalam-dalam. Fahri pun mengambil bajunya dan mulai memakai baju.
"Kok kamu nggak bangunin aku, Yang?," tanya Zarra.
"Abis sholat itu aku lihat kamu nyenyak banget tidurnya. Lagipula kamu memang harus bed rest, Yang demi si kecil," jawab Fahri. Zarra pun beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan pelan-pelan ke kamar mandi. Ketika di kamar mandi, ia melihat sedikit flek. Zarra khawatir dan takut. Ia ingin memberitahu Fahri. Namun, diurungkannya karena ukuran flek itu sangat kecil dan samar. Ia membiarkannya.
"Ya sudah, aku berangkat ya? Kamu jangan banyak gerak. Dan stay at home," pesan Fahri sebelum berangkat. Zarra mengangguk. Fahri pun mengucapkan salam dan mengecup kening Zarra sebelum pergi.
Sepeninggal Fahri, Zarra mencoba mencari tahu dari teman-teman Fahri. Ia memulai dari Moza dan Raina. Hari ini ia sudah janji ketemu keduanya itu di cafe dekat apartemen. Mereka mengajak bertemu pagi karena siang mereka ada kuliah. Zarra pun bersiap menuju cafe dekat apartemennya.
❤️❤️❤️
Zarra duduk di dalam cafe itu sendirian. Ia melihat sekeliling. Ia merasa tak enak karena keluar tanpa seizin Fahri dan tanpa mahram. Ia melihat jam tangannya. Ia memang sampai lebih awal dari janji mereka, karena cafe itu dekat sekali dengan apartemennya. Ia pun meneguk lattenya sekali lagi.
"Assalamu'alaikum," suara merdu perempuan membuyarkan lamunannya. Itu suara Moza.
"Wa'alaikumsalam," jawab Zarra menoleh. Ia tersenyum melihat kedatangan Moza dan Raina. Mereka pun berpelukan sebentar sebelum akhirnya duduk bersama. "Pesan dulu ya?," kata Zarra lagi. Keduanya mengangguk dan memesan latte yang sama dengan Zarra.
"So, apa yang mau kamu tanyakan, Ra?," tanya Raina. Zarra menatap keduanya bergantian.
__ADS_1
"Kalian kenal Meisya?," tanya Zarra. Moza dan Raina saling berpandangan. Kemudian, Raina memegang tangan Zarra. Matanya menyorotkan rasa khawatirnya.
"Zarra, maafin kita karena udah kasih nomor kamu ke Meisya. Jangan bilang sama Fahri. Kami udah janji sama Fahri untuk keep kamu dari masalah ini. Cuma malam itu, kami nggak bisa nolak juga saat Meisya ikut ke apartemen kalian," kata Raina. Zarra bingung dan tak mengerti maksud Raina.
"Aku nggak ngerti maksud kamu, Raina. Aku tanya Fahri, dia nggak mau cerita. Dia bilang masalah ini belum bisa dia atasi. Masalah apa sebenarnya? Dan kenapa kalian semua seolah-olah melarang aku dekat dengan Meisya dengan alasan demi kebaikanku?," ujar Zarra. Ia mulai tak sabar dengan masalah ini. Mereka semua seolah main teka-teki yang tak jelas. Satu-satunya cerita dan clue dari masalahnya adalah cerita versi Meisya.
"Ra, kami nggak punya hak untuk cerita sama kamu masalah ini. Tapi Meisya itu akan menempatkanmu dalam bahaya di rumah tanggamu," kata Moza. Mata Zarra membulat. Bahaya? Iya! Sebagai mantan, Meisya adalah ancaman bagi rumah tangganya. Tetapi ia perlu alasan lebih kuat lagi untuk benar-benar menghindari Meisya. Sungguh! Zarra sangat tidak suka bermain dengan teka teki. Dalam hatinya ia mohon agar Allah membuka semuanya.
"Aku cuma tidak suka ada rahasia, Moz. Aku benci teka teki di saat seperti ini. Semua orang menyuruhku menjaga kandunganku, tetapi di sisi lain, mereka juga membuatku stress dengan semua ini," kata Zarra lemah. Ia rasanya sudah putus asa memecahkan rahasia apa yang disimpan Fahri. Moza dan Raina saling berpandangan lagi.
"Jadi kamu hamil, Ra?," tanya Moza setengah berbisik. Zarra mengangguk. Mata Moza dan Raina berbinar bahagia.
"Waahh, selamat ya, Ra. Barakallah. Semoga jadi anak yang soleh seperti ayah dan ibunya," ucap Moza. Raina mengangguk. Namun, binar dan senyum mereka tak berapa lama berubah jadi kekhawatiran.
"Apa Meisya tahu soal ini?," tanya Raina. Zarra mengangguk. Moza dan Raina menghela napas panjang. "Zarra, setelah ini tolong jauhi Meisya. Sebisa kamu," kata Raina. Ia memperingatkan dengan kata-kata yang lembut.
"Sure. Tapi bisakah kalian memberitahuku sebenarnya apa yang terjadi? Jujur, aku benar-benar sedih saat Meisya mengatakan ia masih mencintai Kak Fahri dan sebaliknya. Mereka berpisah karena keadaan. Setidaknya kalau aku hanya pelarian cinta Kak Fahri, aku mengetahuinya dengan jelas," kata Zarra. Tak terasa air matanya menetes. Ia menangis di hadapan Moza dan Raina. Moza dan Raina hanya bisa saling pandang dan mengelus bahu Zarra. Mereka tak bisa menceritakan detil masalahnya karena selain bukan hak mereka, mereka juga sudah berjanji pada Fahri untuk tidak membahas ini di depan Zarra.
❤️❤️❤️
Hari sudah semakin siang. Terik matahari di Kairo terasa menyengat. Zarra berjalan kaki pelan menuju apartemennya. Sepeninggal Moza dan Raina, Zarra memutuskan berjalan-jalan sebentar di sekitar apartemen. Ketika ia hendak kembali ke apartemen, ia melewati satu masjid besar. Masjidnya indah. Karena panasnya lumayan terik dan memang sudah masuk waktu dzuhur, ia memutuskan mampir ke masjid itu untuk sholat.
Seusai sholat, Zarra tak langsung pulang. Meski ia tahu ini jamnya Fahri pulang kuliah dan kemudian akan kembali ke kampusnya lagi. Namun, Zarra memilih tinggal di luar masjid. Ia memejamkan mata dan menikmati semilirnya angin. Entah kenapa, hatinya terus menyuruhnya pulang, tetapi otaknya enggan. Ah, bukankah mendiamkan suami itu juga dilarang dalam Islam? Ikhlas, Ra, batinnya membisiki diri sendiri. Ia pun bangkit dan berjalan menuju apartemennya.
Begitu sampai di apartemennya, ia membuka pintu seperti biasa dengan memasukkan password. Betapa terkejutnya di sana ada Fahri dan Meisya yang sedang adu mulut.
"Stop ganggu hidup aku sama Zarra, Mey. Jangan sampai aku benar-benar laporin kamu ke orang tua kamu atau polisi," ancam Fahri.
"Tapi aku sayang sama kamu, Fahri. Kamu pilih Zarra karena dia bisa punya anak dan aku enggak?," teriak Meisya. Mereka beradu mulut tanpa mempedulikan Zarra. Zarra segera menutup pintunya.
__ADS_1
"Kamu itu terlalu berhalusinasi, Mey! Kamu bukan Meira!," seru Fahri. Kini habis sudah kesabaran Fahri.
"STOP!," seru Zarra. Meisya dan Fahri berhenti beradu argumen. Mereka menatap ke arah Zarra.
"Ngapain dia ada di sini, Kak?," tanya Zarra dengan nafas ngos-ngosan, mencoba menahan emosi. Dari sorot matanya, Fahri bisa melihat emosi yang berapi-api.
"Tenang, Ra. Aku bisa jelasin semuanya. Aku nggak ngundang dia sama sekali," kata Fahri membela diri. Zarra mengangguk.
"Aku tahu. Aku yang mengundangnya," jawab Zarra. Meisya tersenyum. Mata Fahri membulat sempurna mendengar apa yang disampaikan istrinya itu.
"Maaf, Kak. Kalian semua bilang agar aku jaga kondisi dan kandungan ini. Tapi di sisi lain kalian membuat teka-teki yang bikin aku stress. Kakak jujur aja, kakak masih sayang sama Meisya?," tanya Zarra. Fahri menatapnya.
"Jawab jujur, Fahri," seru Meisya. Zarra melirik ke arahnya dengan sinis.
"Bisa diam? Aku nggak tanya kamu!," kata Zarra dingin. Meisya terdiam. Mata Zarra kembali menatap Fahri. Mereka saling bertatapan. Zarra mencoba mencari kebenaran di mata suaminya itu. Air matanya menggenang membuat Fahri salah tingkah.
"Bukan begitu, Ra," jawab Fahri.
"Lalu bagaimana? Jawab, Kak. Apa aku ini cuma pelarian kamu?," cecar Zarra lagi. Air matanya sudah mengalir. Fahri menggeleng cepat.
"Zarra aku belum bisa menceritakan semuanya sekarang," jawab Fahri. Zarra memejamkan matanya dan membuat air matanya semakin deras mengalir.
"Lalu kapan, Kak? Sampai kalian bersama kembali? Maaf, Kak tapi aku belum bisa dan aku belum sanggup kalau harus berbagi kamu. Maaf, Kak," kata Zarra berlalu. Ia membuka pintu dan memilih keluar meninggalkan mereka. Fahri hendak mengejarnya, namun tangan Meisya berhasil menahannya.
"Biarkan, Fahri. Dia sedang ingin sendiri. Nanti dia juga akan kembali. Dia nggak tahu Kairo. Kita selesaikan masalah kita" kata Meisya. Fahri menatapnya gusar.
"Masalah kita? Itu masalah kamu! Masalah dirimu yang bikin aku berantakan. Bisa nggak sih jangan mencampuri urusanku lagi?," sergah Fahri kasar.
"Aku masih sayang kamu, Fahri," ucap Meisya mulai menangis.
"Maaf, Mey. Aku sudah punya istri. Aku sudah berjanji padanya tidak akan ada wanita lain selain dia," kata Fahri melepaskan tangan Meisya. Ia keluar menyusul Zarra dan meninggalkan Meisya yang terduduk menangis di lantai.
__ADS_1
❤️❤️❤️