Temani Aku Berhijrah

Temani Aku Berhijrah
WELCOME TO CAIRO


__ADS_3

Suasana dingin pagi hari tak menghalangi kesibukan di Bandara Internasional Juanda. Jam masih menunjukkan pukul enam pagi, tetapi bandara itu sudah dipadati oleh penumpang yang hendak bepergian. Zarra sendiri berjalan menuju pintu masuk penumpang sambil terus menggelayut di tangan Fahri. Hari ini mereka akan berangkat ke Kairo untuk menyelesaikan pendidikan Fahri yang tinggal sedikit lagi. Tak ada yang mengantar mereka ke bandara. Mama dan Papa Zarra masih di Banjarmasin. Mereka hanya video call tadi selama perjalanan dari rumah ke bandara.


Zarra merasakan langkah mantap Fahri. Mungkin karena Fahri sudah terbiasa terbang ke Kairo. Ia mendengar dari cerita Fahri bahwa mereka akan terbang sekitar 15 jam dari Indonesia ke Kairo. Di sana, paman Fahri sudah menyediakan satu apartemen untuk mereka yang dekat dengan kampus Fahri. Fahri terlihat tenang, berbeda dengan Zarra yang sedikit tegang. Ia tak pernah bepergian keluar negeri sendirian. Well, sekarang pun tidak. Tetapi tidak dalam jangka waktu yang lama. Ia takut harus di apartemen sendiri saat Fahri kuliah. Ia terus menerus menghela napas untuk membantu tubuhnya agar rileks. Fahri yang merasakan tangan Zarra terasa dingin, sudah menduga kalau istrinya akan tegang. Ia memegang tangan Zarra, menggenggamnya, membuat Zarra tersenyum bahagia.


Di dalam pesawat pun Zarra tak dapat memejamkan mata. Bayangan apa yang akan dihadapinya di sana, membuatnya terasa tegang. Di sana tak ada siapa yang ia kenal. Ah, positif thinking dan berharap ia bisa bergaul dengan bahasa Inggris yang pas-pasan.


"Bismillah," bisik Fahri memecah ketegangan Zarra. Zarra menoleh, menatap suaminya. Ternyata sedari tadi, Fahri memperhatikannya. Zarra mengangguk senyum. Fahri tahu apa yang ada dalam pikiran Zarra. Apalagi Zarra mengetahui bahwa paman Fahri tinggal agak jauh dari apartemen mereka. Ia mengerti kekhawatiran Zarra. Tetapi menjelaskannya saat ini tidak akan mengurangi ketegangan Zarra. Lebih baik begitu sampai di Kairo, ia menunjukkan betapa menakjubkan kota itu.


❤️❤️❤️


Suasana Kairo ternyata sangat berbeda dengan apa yang di benak Zarra. Ibukota Mesir itu tampak seperti Jakarta baginya. Sepanjang perjalanan, Fahri menceritakan apa yang mereka lihat. Mereka memesan taksi online setelah sampai di bandara untuk menuju apartemen mereka. Karena perbedaan waktu yang lebih lambat 5 jam dari Indonesia, mereka sampai di Kairo pukul 5 sore. Karena kelelahan setelah 15 jam perjalanan, Zarra hampir tak sanggup menahan kantuknya. Untung saja mereka telah sampai di depan apartemen.


Fahri dan Zarra mengucapkan salam saat membuka pintu apartemen. Apartemen itu tak terlalu besar. Hanya ada satu kamar tidur, dapur dan ruang tengah yang bisa mereka gunakan juga untuk menerima tamu. Meskipun tak terlalu besar, Zarra bersyukur, apartemen ini sangat nyaman.


Setelah mandi, Zarra tertidur. Bahkan ia belum membereskan baju-bajunya. Fahri melihatnya hanya tersenyum. Ia melihat Zarra benar-benar kelelahan. Tak tega hatinya untuk membangunkannya walaupun sekedar untuk membuatkan kopi. Ia memilih membuat kopi sendiri dan membereskan beberapa barang mereka. Bahkan ia juga memasak bahan makanan yang ada di kulkas. Bahan-bahan itu disediakan oleh Paman Fahri. Paman Fahri adalah adik angkat Ayah Fahri. Meskipun begitu, Ayah Fahri dan Abah sangat menyayanginya bagaikan saudara kandung. Fahri juga seperti anak kandung bagi pamannya karena ia tak memiliki anak.


Ting tong


Suara bel pintu membuyarkan lamunan Fahri yang sedang menikmati kopinya. Ia pun beranjak dari tempatnya berdiri dan membuka pintu. Di sana telah berdiri paman dan bibinya. Mereka datang membawa kado untuk menantu mereka.


"Assalamu'alaikum," sapa pamannya bahagia.


"Wa'alaikumsalam," jawab Fahri. Mereka berpelukan melepas rindu. Fahri pun mempersilahkan mereka masuk.

__ADS_1


"Gimana ini pengantin baru? Istrimu mana?," tanya Bibi Fahri.


"Kecapekan kayaknya, Mi. Abis mandi tadi langsung tidur," jawab Fahri.


"Nggak apa-apa. Jangan dibangunin. Kasihan. 15 jam itu nggak sebentar, apalagi istrimu baru pertama kali pergi jauh," jawab Bibi Fahri.


"Abi sama Umi gimana kabarnya?," Fahri balik bertanya. Beberapa bulan tak melihat mereka, rindunya terasa. Ia sudah terbiasa memanggil paman dan bibinya dengan panggilan 'abi-umi'. Mereka adalah orang tua juga bagi Fahri.


"Alhamdulillah kami sehat, Nak," jawab pamannya sambil bersantai di kursi ruang tamu mereka.


"Kopi?," Fahri menawarkan kopi. Paman Fahri menyelidik. "Tenang, Bi. Kopi Indonesia ini, buatan Ibu," jelas Fahri. Mereka kemudian tertawa. Fahri hafal sekali dengan kebiasaan pamannya yang meminum kopi asli Indonesia. Pamannya itu tak mau minum kopi dari mana-mana, harus asli Indonesia dan buatan Ibu Fahri.


"Untuk Umi, Ibu sudah buatin bumbu rendang sama beberapa sambal," kata Fahri lagi. Mata Bibinya itu nampak berbinar. Bibi Fahri ini penyuka pedas. Ia selalu memesan sambal dan bumbu Indonesia dari Ibu Fahri. Obrolan mereka pun berlanjut dengan topik pertemuan antara Fahri dan Zarra.


Sepeninggal paman dan bibinya, ponsel Fahri berdering. Ternyata dari Firhan, salah satu teman Indonesia di kampusnya. Mereka hanya menanyakan apakah Fahri sudah sampai. Karena mereka akan membawakan sesuatu untuk Fahri dan Zarra. Fahri pun mengiyakan dan mereka akan datang ba'da isya.


Fahri masuk kembali ke kamarnya. Dilihatnya Zarra masih pulas tertidur. Perlahan ia mendekati istrinya itu. Nyenyak sekali tidurnya. Zarra tidur meringkuk persis bayi. Fahri merapikan rambut Zarra. Zarra mengejapkan matanya. Hari ternyata sudah hampir gelap.


"Jam berapa ini, Yang?," tanya Zarra menggeliyat pelan. Ia kembali ke posisi semula, meringkuk.


"Sudah maghrib, Sayangku. Ayo bangun!," kata Fahri. Zarra membuka matanya lagi. Berat sekali matanya terbuka. Jadi, ia tidur belum sampai satu jam. "Oiya, tadi Abi sama Umi kesini. Mereka titip salam, lain kali mampir lagi ketemu kamu, Yang," kata Fahri. Mata Zarra membulat sempurna.


"Kok nggak dibangunin akunya, Yang? Nggak enak dong! Mereka berkunjung ke sini untuk lihat kita," sesal Zarra. Fahri tersenyum

__ADS_1


"Umi yang nggak mau. Soalnya abis perjalanan jauh," jawab Fahri. Zarra hanya menghela napas. Ia menatap Fahri. 15 jam perjalanan seperti tak terasa padanya. Atau mungkin sudah terbiasa. Zarra pun beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil wudhu serta menunaikan sholat maghrib bersama Fahri.


❤️❤️❤️


Kairo di malam hari tak ubahnya seperti Jakarta. Ramai. Wilayah apartemen Zarra berada di wilayah perkotaan. Dari balkon apartemennya ia bisa melihat keindahan malam Kairo. Apartemennya ini berada di lantai 3. Menurut Fahri, apartemen ini termasuk yang lumayan bagus. Karena pelajar-pelajar Indonesia biasanya tinggal di kontrakan atau kosan atau asrama dimana satu ruangan itu diisi 3-4 orang untuk menghemat biaya hidup. Fahri termasuk yang sangat beruntung memiliki paman dan bibi yang mempunyai cukup penghasilan untuk memberinya tempat tinggal. Apartemen yang mereka tempati dulu milik Paman Fahri. Namun, akhirnya paman dan bibi Fahri memutuskan pindah setelah membeli rumah.


"Welcome to Cairo, Sayang," bisik Fahri manja di telinga Zarra. Zarra tersenyum menanggapi kata-kata Fahri. Fahri memeluk Zarra dari belakang.


"Tenang aja. Di sini ada banyak orang Indonesia. Nanti aku kenalin sama teman-temanku, ya?," kata Fahri. Zarra mengangguk lagi. Angin malam yang dingin menghembus ke arah mereka.


"Oiya, kamu jangan keluar sendirian di sini ya kecuali darurat. Tunggu aku. Atau kamu bisa minta Umi untuk menemanimu keluar. Pokoknya jangan sendirian keluar apalagi sampai pulang maghrib. Kalau aku nggak di rumah jangan terima tamu sembarangan," kata Fahri memperingatkan. Nada suaranya terdengar tegas seolah mengkhawatirkan sesuatu. Zarra mengangguk senyum. Ia tahu suaminya itu pasti khawatir ia akan nyasar. Lagipula, ia tak akan berani keluar tanpa mahram.


Ting tong


Suara bel memecah suasana di antara mereka. Zarra menatap suaminya penuh tanda tanya. Siapa bertamu di jam ba'da isya begini?, batin Zarra. Fahri tersenyum.


"Nah, itu mereka datang," seru Fahri. Mereka? Mereka siapa? Zarra masih tak mengerti. Untungnya ia sudah memakai khimarnya sehabis sholat isya tadi. Begitu pintu dibuka, terdengar suara lebih dari satu orang. Ternyata mereka teman-teman Fahri. Fahri memperkenalkan satu per satu temannya itu. Ada Firhan, Hawari, Raka, Moza, Raina dan Meisya. Semua menyambut Zarra dengan senang hati. Ternyata teman-teman wanita Fahri tinggal di asrama putri dekat apartemen mereka. Mereka dekat satu sama lain karena memang ikut dalam perkumpulan pelajar Indonesia di Kairo. Diantara mereka, Meisya sangat pendiam. Ia terus menerus melihat Zarra dengan tatapan yang sulit ditebak. Namun, ketika Zarra mengajaknya mengobrol, ia tampak sangat ramah bahkan sangat baik. Zarra hanya berusaha positif thinking dan tetap menjamu mereka dengan baik.


Mereka singgah tak terlalu lama. Sekitar satu jam kemudian mereka pamit pulang. Apalagi para wanita itu tak berani terlalu malam pulang meskipun ramai. Zarra mengerti sekali. Ini belum terlalu malam, masih pukul setengah 9. Namun, mereka bertiga perempuan. Sedangkan teman-teman putra, mereka akan mengantarkan para wanita itu sampai depan asrama.


Sepeninggal mereka, Zarra membereskan ruangan tamu dan dapur. Fahri membantunya membersihkan meja dan membuang sampah.


"Yang, kamu kalau kepepet banget bisa keluar sama Moza atau Raina. Jadwal kuliah mereka sekarang lagi nggak padat banget," kata Fahri. Zarra mengiyakan ucapan suaminya. Mungkin ia terlalu lelah untuk bertanya kenapa tidak dengan Meisya. Fahri tak menyebutkan nama Meisya untuk jadi temannya. Namun, Zarra hanya ingin melanjutkan tidurnya. Badannya terasa sakit semua. Malam ini pun Zarra benar-benar tertidur pulas.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2