Temani Aku Berhijrah

Temani Aku Berhijrah
MA FII QOLBI GHAIRULLAH


__ADS_3

Hari belum terlalu malam. Jam juga masih menunjukkan pukul setengah tujuh. Masih sore. Namun begitu, Zarra sudah bersiap ke rumah Asyifa. Ia memakai gamis dengan motif bunga-bunga kecil pemberian Umi Fatma. Lengkap dengan hijab instannya yang menutup dada. Ia mematutkan dirinya di cermin. 'Manis juga,' batinnya dengan senyum. Senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya.


Ia berjalan menuju mobilnya dengan senang hati. Bahkan Bi Asih tampak heran melihat nona muda kesayangannya itu. Seperti orang yang baru jatuh cinta. Kenyataannya iya! Zarra sedang jatuh cinta pada Allah. Zarra tak lupa mengucap 'bismillah' sebelum menjalankan mobilnya. Dan ia pun melajukan mobilnya.


Jarak rumah Zarra dan Asyifa tak terlalu jauh. Sebenarnya hanya 15 menit. Tetapi, sepertinya akan lebih lama karena Zarra terjebak macet. Mobilnya hanya bisa melaju perlahan. Sudah 10 menit tetapi rasanya seperti satu jam. Mau tak mau Zarra pun mengetik chat whatsapp kepada Asyifa, mengatakan kalau dirinya terlambat datang. Seusai mengirim pesan, Zarra meletakkan ponselnya di kursi sebelahnya. Ternyata tak sampai 2 menit, kemacetan di wilayah itu terurai dan lalu lintas lancar kembali.


"Alhamdulillah," ucap Zarra penuh rasa syukur. Akhirnya ia tak jadi terlambat datang ke acara Asyifa. Namun, ketika ia hendak berbelok menuju jalan ke perumahan Asyifa, matanya menangkap sosok yang ia kenal. Sosok pria itu sedang duduk di depan sebuah minimarket. Ia terlihat sedang fokus menatap layar ponselnya. Zarra menghentikan mobilnya tak jauh dari situ. Ia pun turun hendak menyapa Malik. Tetapi betapa terkejutnya ketika ia melihat Kinar setengah berlari mendekati Malik. Mereka saling menyapa akrab. Zarra berjalan mendekat ke arah mereka.


"Malik? Kinar? Kalian di sini?," seru Zarra. Malik dan Kinar yang terkejut, langsung salah tingkah melihat kehadiran Zarra. Sedetik kemudian pandangan mereka berubah menjadi terkejut dengan penampilan Zarra.


"Eh, assalamu'alaikum! Sampau lupa ngucap salam," kata Zarra lagi. Mereka kemudian tertawa salah tingkah. Zarra mengernyitkan dahinya. Mereka saling berpandangan.


" Oh, wa'alaikumsalam. Mau kemana, Ra?," tanya Malik. Kinar sedari tadi hanya diam dan tidak berani memandang Zarra.


"Mau ke rumah temen, deket sini," jawab Zarra. Melihat reaksi Kinar, sepertinya Zarra menjadi pengganggu diantara mereka. "Ya sudah lanjutin aja kalian berdua. Aku sudah telat. Assalamu'alaikum," pamit Zarra. Malik mencegahnya.


"Wa'alaikumsalam. Ra, tunggu! ini nggak seperti yang kamu pikirkan," cegah Malik. Zarra menaikkan alisnya.


"Emang apa yang aku pikirkan?," Zarra balik bertanya. Malik terdiam, tak mampu menjawab pertanyaan Zarra. Zarra tertawa. "Kamu ini lucu, Malik! Kayak kamu tahu apa yang aku pikirkan. Kalaupun itu benar, kamu nggak perlu capek-capek jelasin ke aku. Kita 'kan udah putus," sambung Zarra kemudian. Malik terperangah dengan kata-kata Zarra barusan.


Zarra berjalan melewati Malik seolah tak ada apa-apa. Padahal dalam hatinya kesal luar biasa. Apalagi mengingat pandangan Kinar kepadanya saat Malik mencegahnya pergi. Sampai di sini, Zarra cukup tahu saja rahasia perubahan sikap Kinar kepada dirinya sebulan terakhir ini. Zarra menyembunyikan air matanya. Ia berjalan sesantai mungkin sampai di dalam mobilnya. Di dalam mobil, tumpah air matanya. Ia terisak. Ini pengkhianatan terburuk dalam hidupnya.


 

__ADS_1


❤️❤️❤️


Zarra memarkir mobilnya di depan rumah Zarra. Tampaknya acara baru saja selesai. Itu terlihat tamu-tamu sudah mulai keluar dari rumah Asyifa. Padahal tadi, Zarra hendak membatalkan kedatangannya, tetapi Asyifa memaksanya. Ia tak mampu menolak permintaan sahabatnya itu. Apalagi tadi dia sudah berjanji datang kepada Umi Fatma.


"Assalamu'alaikum," ucap Zarra mengucap salam. Seisi rumah Asyifa menoleh ke arahnya.


"Wa'alaikumsalam," jawab seisi rumah hampir bersamaan. Umi Fatma menyambut kedatangan Zarra dengan antusias. Ia menarik tangan Zarra pelan dan diajaknya masuk.


"Maaf, Umi. Zarra datang telat," kata Zarra setengah berbisik. Umi Fatma menggeleng dan berbisik, "Sudah. Enggak apa-apa. Yang penting kamu datang". Zarra tersenyum. Matanya masih sedikit panas karena habis menangis. Bahkan sisa tangisnya masih tersisa dengan sedikit sembab matanya.


Asyifa yang baru keluar kamar, langsung menyambut Zarra. Ia memeluk Zarra. Zarra hanya tersenyum lemah melihat Asyifa.


"Everything is okay?," tanya Asyifa. Zarra menggeleng. Tangisnya hampir pecah lagi. Asyifa menariknya ke kamar Asyifa. Di kamar, Asyifa melepas cadarnya. Ternyata sesuai dengan bayangan Zarra, wajah Asyifa memang imut. "Cerita di sini aja. Di luar lagi ada keluarga Abah," kata Asyifa lagi begitu mereka duduk di tempat tidur Asyifa. Zarra pun menceritakan pertemuannya dengan Malik dan Kinar sebelum sampai di rumah Asyifa tadi.


"Gitu, Fa," tutup Zarra sambil mengusap ingus dan air matanya.


"Enggak mungkin seakrab itu 'kan? Lagian, enggak perlu lihat aku seolah pengganggu gitu. Mau Malik? Ambil aja!," kata Zarra berapi-api.


"Ma fii qolbi ghairullah," kata Asyifa.


"Apa?".


"Ma fii qolbi ghairullah. Artinya tidak ada di hatiku selain Allah. Ucapkan itu ketika kamu sedih, kangen, galau atau cemburu sama orang lain. Sambil serahkan semuanya sama Allah dan yakin bahwa Allah sebaik-baiknya pembuat rencana," jelas Asyifa. Zarra tercenung.

__ADS_1


"Gimana kalau akhirnya benaran aku nggak bisa nikah sama Malik?," tanya Zarra kemudian.


"Itu artinya Allah punya rencana lain. Mungkin kamu harus fokus dengan kuliahmu. Dengan begitu, orang tuamu akan bangga padamu. Dan soal jodoh, Allah sudah menyiapkan penggantinya yang lebih baik," jawab Asyifa. Zarra kembali termenung mendengar ucapan Zarra. Asyifa memegang tangan Zarra.


"Ayok coba ucapkan, ma fii qolbi ghairullah," ajak Asyifa. Zarra pun menuruti Asyifa. Mereka mengucapkan bersama-sama, kemudian tersenyum.


"By the way, ini acara apa sih, Fa?," tanya Zarra kemudian. Asyifa menepuk dahinya. Ia lupa memberitahu Zarra ini adalah acara syukuran karena Abah akan berangkat umrah bersama dengan ponakan kesayangannya.


"Syukuran Abah sama Bang Fahri mau umrah dua hari lagi," jawab Asyifa. Ia kemudian mengenakan cadarnya lagi. Ia menarik tangan Zarra dan mengajaknya keluar dari kamarnya. Saat mereka keluar, tepat Abah hendak mengetuk pintu kamar Asyifa.


"Syifa. Baru Abah mau panggil kamu. Itu Zarra ajak makan dulu. Ada tamu kok malah diajak sembunyi," ujar Abah. Zarra mengangguk senyum. Abah membalas dengan senyuman.


Asyifa mengiyakan perintah Abahnya. Mengajak Zarra menikmati makanan yang sudah disediakan. Diam-diam, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka.


 


❤️❤️❤️


 


Zarra melipat sajadah dan mukenanya. Di tengah malam seperti ini ia terbangun. Tanpa menunggu aba-aba ia pun menyelesaikan dua rakaat sholat tahajud sebelum kembali tidur.


Dalam sholatnya tadi, ia membaca do'a yang diajarkan Asyifa tadi. Ma fii qolbi ghairullah. Ia meminta kekuatan dan keikhlasan untuk melepas Malik dan Kinar, jika benar mereka memang ada hubungan. Zarra benar-benar terluka dengan pemandangan tadi sore. Alasan hijrah, tidak boleh pacaran, tapi ujung-ujungnya menjalin hubungan juga. Sama sahabatnya lagi! Zarra benar-benar kesal.

__ADS_1


Hati dan mulut Zarra tak berhenti mengucapkan ma fii qolbi ghairullah. Ia berdo'a dalam hati, 'jika ini kehendakMu, Ya Allah, buat aku ikhlas melepasnya. Aku percaya rencanaMu'. Kemudian Zarra menutup matanya. Ia berharap besok bangun dengan perasaan yang lebih tenang dan damai.


❤️❤️❤️


__ADS_2