
Siang telah berganti senja. Tak ada sinar matahari senja seperti biasanya. Hanya ada mendung yang menggelayut di langit kota Kairo. Zarra duduk di teras masjid yang tadi dia datangi. Ia menelungkupkan wajahnya di lututnya. Ia sedang berusaha menyembunyikan tangisannya.
Di dalam hati Zarra terasa ada pergulatan batin. Sebelah hatinya mengatakan menyesal menerima khitbah tanpa mengenal orangnya, tanpa tahu masa lalunya. Sedangkan setengah hatinya menyuruhnya ikhlas dan sabar menunggu cerita Fahri. Ia tahu ia lemah dalam perasaan. Dan Allah mengujinya melalui kelemahannya. Ia terus bertanya dalam hati, kenapa Allah mempertemukan dengan laki-laki yang tidak mencintainya. Inilah kenapa ia ragu menjalani pernikahan tanpa pengenalan.
Suara adzan terdengar berkumandang. Orang-orang yang tadinya di luar kini masuk ke dalam masjid untuk menunaikan ibadah sholat maghrib. Zarra mengusap air matanya dan memandang sekelilingnya. Kemudian ia berdiri di depan pintu masjid. Menatap ke dalam. Setengah hatinya yang diliputi kemarahan tak mengizinkan kakinya melangkah masuk menunaikan sholat. Ia marah dan kecewa. Kenapa Allah pilihkan laki-laki yang begini untuknya? Penuh rahasia dan mencintai perempuan lain. Bukankah ia sedang dalam proses taubatnya? Bukankah ia hijrah ke jalanNya? Bukankah ia sudah beriman padaNya dan berusaha menjalankan perintahNya? Hatinya benar-benar memberontak.
"Assalamu'alaikum," sapa seseorang. Zarra menoleh dan menjawab salamnya. Seorang wanita setengah baya mendekatinya. Ia berbicara menggunakan bahasa Mesir yang tak Zarra mengerti.
"'Iinaa asif '. Ana al'andunisia," jawab Zarra yang berarti 'maaf, saya orang Indonesia'. Wanita itu tersenyum.
"Kenapa tidak masuk?," tanya wanita itu. Zarra terpesona. Wanita itu fasih berbahasa Indonesia. "Jangan kaget! Saya asli Medan. Saya tinggal di sini sudah 20 tahun," jelas wanita itu. Zarra hanya mengangguk senyum.
"Kenapa tidak segera masuk?," wanita itu mengulang pertanyaannya. Zarra terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan masalahnya kepada wanita yang baru ditemuinya ini. Bahkan ia tak mengenalnya.
"Nggak apa-apa. Saya sedang haid," jawab Zarra berbohong. Wanita itu hanya mengangguk.
"Baiklah, saya sholat dulu ke dalam. Emm...sebaiknya kamu sholat jika kamu ada masalah. Kembalikan pada Rabbmu semuanya," kata wanita itu sebelum akhirnya masuk ke dalam masjid. Zarra tertegun memandang wanita itu dari belakang. Ah, Astaghfirullah, ucapnya dalam hati. Tanpa sadar ia telah suudzon kepada Allah. Ia merasa seperti disentil dengan perkataan wanita tersebut. Rasanya malu harus berbohong karena haid padahal ia sedang hamil. Ia mengelus perutnya dan menyesalinya.
"Maafkan aku, Ya Allah," bisiknya pelan. Air matanya meleleh. Ia mengusapnya dan buru-buru mengambil wudhu. Ia tak ingin ketinggalan sholat berjama'ah. Ia berharap Allah akan mendengarkan permintaannya kali ini. Ia ingin kedamaian hati.
__ADS_1
❤️❤️❤️
Sementara itu, di sisi lain kota Kairo, Fahri sedang kebingungan mencari Zarra. Ia pun menelpon teman-temannya, meminta bantuan untuk mencari Zarra. Ia juga menelpon Abi dan Uminya untuk membantunya menghubungi Zarra karena sedari tadi Zarra tak mengangkat telponnya.
Senja pun digantikan dengan malam. Mereka sudah mencari di sekitar Kampus Al Azhar dan apartemen, namun tak menemukan Zarra. Fahri terduduk di depan apartemennya. Firhan, Hawari dan Raka sudah kembali. Mereka tak menemukan Zarra. Moza dan Raina pun berjalan gontai dengan hasil yang nihil.
"Fahri, maaf sebelumnya," kata Raina. Fahri menoleh ke arah Raina. Wajahnya benar-benar kuyu setelah berjam-jam berjalan mencari Zarra. "Aku dan Moza tadi pagi ketemu Zarra. Zarra yang meminta kami menemuinya di cafe dekat sini. Dia menanyakan soal Meisya dan masalah ini," kata Raina kemudian.
"Dan kamu cerita?," tanya Fahri. Raina menggeleng.
"Kami nggak mungkin cerita soal masalah ini, Fahri. Aku dan Moza hanya berusaha meyakinkan Zarra bahwa kamu benar-benar tulus mencintainya karena...karena Zarra menganggap bahwa dia hanya sekedar pelarianmu. Apa yang Meisya ceritakan sebenarnya?," kata Raina.
"Meisya menemui Zarra?," tanya Hawari. Fahri mengangguk lemah. Hawari menepuk dahinya. Semua menghela napas kesal.
"Sudah malam dan akan hujan sepertinya. Kalian pulang aja dulu. Nanti kalau Zarra kembali, aku kabarin," kata Fahri. Mereka saling berpandangan.
"Okay. Ingat, apapun yang terjadi kamu kabarin kami," kata Hawari. Mereka pun pamit pergi. Sepeninggal sahabat-sahabatnya, Fahri terasa menyesal membuat Zarra seperti ini. Rintik hujan mulai berjatuhan. Ia semakin khawatir dengan Zarra di luar sana.
"Kemana kamu, Ra? Cepet pulang," gumam Fahri. Ia masih setia menunggu di depan apartemen.
__ADS_1
❤️❤️❤️
Hujan turun semakin deras. Aroma tanah yang diguyur hujan membuat Zarra tenang. Namun, suasana yang dingin membuatnya lapar. Seusai sholat isya', Zarra tetap duduk di teras masjid. Sebenarnya ia ingin segera pulang dan bertemu Fahri. Tetapi hujan terlalu deras untuk diterobosnya. Alhasil, ia hanya duduk di teras masjid.
Sembari melihat hujan yang turun, pelan-pelan Zarra berfikir kembali. Apa yang salah dalam dirinya atau diri Fahri. Ia kembali terngiang kata-kata Umi Fatma. "Pernikahan bukan hanya soal cinta tetapi juga kenyamanan. Kalau kamu bisa memberi kenyamanan tentu suamimu tak akan berpaling ke lain hati". Kata-kata itu pernah dipesankan Umi Fatma saat ia hendak menikah.
Zarraa menyandarkan kepalanya ke dinding masjid. Hawa dingin mulai menyerbu badannya. Perutnya kembali terasa nyeri. Di saat seperti ini ia merindukan pelukan hangat Fahri. Apakah Fahri mencarinya saat ini? Memikirkan Fahri membuatnya meneteskan air mata. Ia harus menemukan kenyataan Fahri masih mencintai orang lain. Namun, separuh hatinya berkata, 'Lalu kenapa kalau Fahri mencintai Meisya? Aku istrinya! Aku sedang mengandung anaknya'. Namun, separuh hatinya juga mengatakan bahwa bisa saja mereka menikah tanpa sepengetahuannya. Ah, hati Zarra semakin kacau. Rindunya ingin melihat Fahri mengalahkan segalanya. Ia benci seperti ini.
Zarra beranjak dari tempatnya duduk. Berjalan, melangkahkan kakinya menerobos hujan deras. Jaraknya hanya 5 menit jika berjalan kaki. Langkahnya terasa berat karena hujan terlalu deras. Hawa dingin membuatnya menggigil. Perutnya yang terasa nyeri membuatnya harus perlahan berjalan.
Ketika ia mendekati wilayah apartemennya, ia melihat seorang pria tengah berdiri termangu di depan apartemen. Zarra langsung mengenalinya. Itu Fahri. Fahri terlihat bingung dan terus menerus menelpon. Ekspresi wajahnya terlihat bingung dan khawatir. Apakah Fahri mengkhawatirkannya? Perlahan langkahnya berjalan maju. Terasa semakin berat. Dingin dan nyeri yang dirasakannya semakin menjadi.
"Dimana kamu, Zarra? Please angkat telponku, Ra!," gumam Fahri sambil terus menelpon ponsel Zarra. Namun, matanya menangkap sosok wanita yang tertatih berjalan menuju ke arahnya. Mata Fahri terbelalak saking terkejutnya. Zarra. Itu Zarra. Ia pun berlari menjemput Zarra yang tengah berjalan di tengah hujan. Dengan tak mempedulikan hujan deras, ia berlari menjemput istrinya itu.
"Zarra?," seru Fahri begitu mereka berhadapan. Zarra tersenyum menggigil.
"Ma..maa..maaf, Kaaak," kata Zarra. Air matanya yang jatuh bercampur air hujan yang membasahi tubuhnya. Namun, tak berapa lama kemudian tubuhnya terasa lelah dan ringan. Ia ambruk di pelukan Fahri. Fahri pun menggendongnya menuju kamar mereka.
Sesampainya di kamar, Fahri membersihkan tubuh Zarra dan menggantikan bajunya yang basah. Ia membaringkannya di tempat tidur. Menyelimuti tubuh istrinya itu agar hangat.
__ADS_1
"Maafin aku, Ra. Maafin aku," kata Fahri sambil menciumi tangan istrinya yang dingin. Air matanya menetes. Ia sadar ia telah menyakiti hati Zarra dengan tetap menyembunyikan masalah ini dari Zarra. Ia ingin masalah ini segera selesai. Ia pun menelpon seseorang. Seseorang yang akan membantunya menangani Meisya dan masalahnya.
❤️❤️❤️