
POV ZARRA
Hari ini rasa penasaranku sedikit terobati. Tetapi ada yang mengganjal di hatiku. Seperti rasa terharu, sedih dan malu yang bercampur jadi satu. Ternyata ada banyak hal yang tak kuketahui dalam agama yang sudah kuanut sejak kecil ini. Namun demikian, ketika aku bertanya pada Umi Fatma harus mulai dari mana, beliau mengatakan dari diriku sendiri dulu.
Aku harus mulai dengan memperbaiki sholatku, menutup auratku dan memperbaiki sikapku. Sholat. Aku sudah lupa kapan terakhir kali mengambil wudhu dan melaksanakan sholat. Mungkin saat Ayah masih menjabat di region Surabaya dan itu sudah 2 tahun lalu. Tiba-tiba ada perasaan malu merayapi hatiku. Umi Fatma mengingatkanku soal nikmat yang sudah Allah berikan tetapi belum aku syukuri sama sekali. Iya! Aku yang merasa nyaman ini bisa jadi terjebak dalam istidraj, ujian dari Allah. Diberikan kesenangan dan aku meninggalkanNya. Allah tak akan rugi karena Dia bisa mencabut nikmat itu kapanpun Dia mau. Aku menghela napas panjang. Hari ini sedikit melelahkan tetapi menyenangkan. Di satu sisi Umi Fatma menjelaskan dengan sabar dan jelas, di sisi lain aku merasakan kelegaan yang luar biasa.
Aku sedikit lelah. Kusandarkan badanku di kursi mobil ini. Hari ini aku menggunakan taksi online karena sedang malas menyetir atau mengeluarkan mobil dari garasi. Kulihat jam tanganku, sudah pukul lima sore. Berarti hampir 3 jam aku di rumah Asyifa. Pikiranku masih melayang kembali tentang percakapanku dengan Umi Fatma tadi siang. Tentang sholat, hijab dan adab seorang perempuan.
Aku kembali menghela napas panjang. Hari ini banyak hal yang baru aku tahu tentang pandangan Islam terhadap perempuan. Apa yang kuketahui sebelumnya ternyata hanya kulit-kulitnya saja. Kalau menurut Umi Fatma bisa memicu salah paham. Iya! Jujur! Sebelum ini aku memandang agamaku ini sedikit tak adil soal perempuan. Sebelumnya aku berpikir, terlalu banyak aturan yang mengikat perempuan ketimbang laki-laki. Hari ini aku baru tahu, betapa istimewanya perempuan. Hijab adalah bentuk penghormatan sekaligus perlindungan bagi seorang perempuan. Aku merasa punya pengetahuan baru. Aku tersenyum bisa menerima semua itu.
❤️❤️❤️
Aku menyelesaikan sholat isya' ku dan menutupnya dengan do'a. Aku ingat Umi Fatma mengatakan agar mohon ampun setelah sholat. Aku pun mengucapkan do'aku. 'Ya Allah, ampuni aku yang lupa padaMu. Aku lalai. Ampuni aku ya Allah,' ucapku. Aku ragu. Haruskah kusampaikan isi hatiku seperti anjuran Umi Fatma? Bukankah Allah Maha Tahu? Sudahlah! Allah Maha Tahu. Aku pun hanya mengucapkan 'Engkau Maha Tahu Ya Allah. Jadi, bantulah aku'. Aku pun mengucapkan aamiin dan mengusap wajahku dengan kedua tanganku.
Selesai sholat, aku naik ke kasurku. Ada rasa lega yang kurasakan. Tetapi juga ada rasa was-was dalam hatiku. Aku was-was karena ragu dengan yang kulakukan barusan. Aku tahu Allah Maha Mendengar walaupun tanpa kuucapkan. Aku pun percaya bahwa Dia yang Maha Segalanya. Entah apa yang mendorongku untuk mengatakannya. Aku pun berucap, "Ya Allah, jika ini jalan hijrahku dariMu, maka permudahlah. Yakinkan aku! Kuatkan hatiku! Kalau Kau ingin agar aku di jalanMu, maka berikanlah tanda itu,".
__ADS_1
Tanda yang kumaksud adalah tanda hidayah. Aku butuh keyakinan. Aku butuh penguat. Sebenarnya aku merasa Allah sudah mempermudah jalanku untuk belajar. Jika Allah memang ingin aku hijrah, aku berharap Dia yang berkuasa membolak-balikkan hati manusia, bisa membalikkan hatiku, meyakinkanku bahwa jalanku benar dan aku bisa kembali bersama Malik. Ketika aku berpikir soal Malik, entah kenapa ada sedikit keyakinan yang menggerayangi hatiku. Aku yakin aku bisa hijrah seperti yang Malik inginkan. Akan kutunjukkan nanti ketika aku benar-benar bisa berhijrah. Aku tersenyum dan mulai memejamkan mata. Tak lupa aku mengucapkan doa sebelum tidur. Aku pun menarik selimut hingga sebatas pinggang dan benar-benar memejamkan mata. Aku tak sabar melihat esok.
❤️❤️❤️
Zarra melangkahkan kakinya dengan ringan menuju perpustakaan. Tadi pagi ia telah janji ketemu dengan Asyifa di perpustakaan. Hari ini, ia ingin sedikit berdiskusi ringan dengan Asyifa. Entah kenapa, ia cepat sekali dekat dengan Asyifa. Padahal ia tak semudah itu akrab dengan seseorang.
Begitu memasuki perpustakaan, mata Zarra berkeliling mencari sosok mungil bercadar itu. Sosoknya terpaku dengan seseorang di pojok ruangan yang sedang membaca buku. Yupz! Itu Asyifa. Hari ini ia menggunakan gamis hitam, outer pink, hijab pink dan cadar hitam. Terlihat manis bagi Zarra. Ia pun berjalan mendekat ke Asyifa.
"Assalamu'alaikum, Ra. Ingat! Kalau ketemu sesama muslim ucapkan salam," jawab Asyifa mengingatkan. Ah! Zarra lupa lagi. Hari ini pun ia juga tak sholat subuh karena bangun kesiangan. Di hari pertamanya belajar banyak yang terlewat.
"Sorry, Fa!," ucap Zarra terlihat menyesal. Asyifa menatapnya. Ia memegang tangan Zarra lembut.
"Enggak apa-apa, Ra! Tetap istiqomah ya?," kata Asyifa lembut. Zarra menatap Asyifa. Ia pun mengangguk. "So, hari ini apa yang mau kamu tanyakan, ukhti cantik?," tanya Asyifa memecahkan keheningan mereka. Zarra terlihat antusias.
"Fa, kalo misal gue nggak sholat satu waktu aja gimana? Dalam artian gue nggak sengaja, misal ketiduran gitu?," tanya Zarra to the point.
__ADS_1
"Pasti kamu ketiduran tadi ya?," tebak Asyifa. Zarra tersipu malu. Itu sudah cukup jadi jawaban baginya. Ia menggelengkan kepala melihat tingkah Zarra. "Sholat fardhu itu wajib, Ra! Nggak ada alasan buat kamu ninggalinnya kecuali pada saat kamu haid. Entah itu ketiduran, dalam perjalanan jauh atau bahkan ketika kamu sakit. Allah sudah mempermudahnya untuk mengganti sholatmu yang tertinggal itu. Caranya ya digabung sholatnya atau biasa disebut dijamak," jelas Asyifa. Zarra pun mengangguk-angguk. Mulailah Asyifa menjelaskan tata cara mengganti sholat yang tertinggal. Zarra memperhatikan dengan seksama sampai Asyifa selesai menjelaskan.
"Makasih, Fa. By the way, lo temenin gue yuk!," ajak Zarra memelas.
"Kemana?," tanya Asyifa balik.
"Beli hijab," jawab Zarra. Mata Asyifa membulat sempurna. Antara terkejut dan senang. "Iya. Beli hijab. Soalnya gue malu ketemu umi polosan kayak kemarin. Mana pake celana jeans. Umi bahas soal adab berpakaian pula," kata Zarra.
"Kamu tersinggung?," tanya Asyifa. Ups! Zarra salah lagi. Tidak seharusnya ia mengucapkan hal itu di depan Asyifa. Ia pun menggeleng cepat. "Bukan begitu, Fa! Sorry, gue emang asal nyablak gini. Maksud gue, gue nggak enak banget sama Umi. Malu gue, Fa," jelas Zarra. Sungguh ia tak enak hati setelah mendengar Asyifa bertanya begitu.
"Ya sudah. Alhamdulillah sih kalo kamu mau pake hijab walaupun cuma ke rumahku. Oiya, Ra, ingat kata umi, sebagai wanita, jaga cara bicara kita, jaga sikap juga," kata Asyifa mengingatkan. Zarra mengangguk senyum. "Jangan cuma senyum aja, iya iya aja. Praktek!," seru Asyifa lagi. Zarra tertawa kecil dan mengiyakan ucapan Asyifa.
"Ya sudah. Ayok, Fa! Kamu nggak ada kelas lagi kan?," ajak Zarra. Asyifa mengangguk senyum.
"Tuh bisa 'aku kamu'," kata Asyifa lagi. Zarra tersipu malu. Mereka pun berjalan beriringan keluar dari perpus menuju parkiran. Mereka berjalan sembari mengobrol ringan soal kuliah. Tanpa sadar sepasang mata melihat ke arah mereka. Menatap mereka dengan senyuman tipis penuh kelegaan.
❤️❤️❤️
__ADS_1