
Tak terasa Zarra telah menyandang gelarnya sebagai Nyonya Akhtar Rahman selama 3 bulan. Selama 3 bulan itu juga bersama Fahri dan keluarganya, Zarra seperti menemukan keluarga baru. Ia tak pernah dianggap sebagai menantu, tetapi seperti anak sendiri.
Hari ini adalah hari bahagia bagi Asyifa. Asyifa akan dikhitbah oleh pria yang mengajaknya ta'aruf selama ini. Zarra benar-benar terkejut mengetahui selama beberapa bulan terakhir ternyata Asyifa menjalani ta'aruf. Kabarnya pria yang beruntung itu adalah anak salah satu dosen di kampus mereka. Entah kenapa, felling Zarra mengarah kepada Dani. Kalaupun benar, ia akan sangat bahagia sekali. Karena menurut Zarra keduanya cocok. Dulu pernah terlintas mengenalkan mereka, tetapi ia tak tahu bagaimana caranya, dan niat itupun terlupakan begitu saja. Kini, justru Allah sendiri yang mempertemukan mereka. Allah memang sebaik-baiknya pembuat rencana.
Zarra sedang menyiapkan makanan untuk keluarga pria yang akan melamar Asyifa. Ia memang menghendaki untuk membantu Umi Fatma walaupun hanya dalam menyiapkan makanan. Kabarnya, pria itu juga teman dekat Fahri. Teman sepengajian dengan Fahri.
"Yang, udah siap semuanya?," tanya Fahri menyusul Zarra yang sedang di dapur. Zarra mengangguk. Entah siapa yang memulai, mereka sudah menggunakan panggilan 'sayang' sejak 2 bulan terakhir.
Fahri melihat-lihat makanan yang telah dimasak istrinya itu. Semua terlihat menggoda. Sejak menikah dengan Zarra, berat badannya sudah naik hampir 3 kg. Itu karena apa yang Zarra buat, sukses menggoda nafsu makannya.
"Ngiler ya?," bisik Zarra dengan tawa gelinya. Fahri mengangguk manja. Zarra tertawa lirih. "Sabar ya?," bisiknya lagi. Fahri mencubit pipinya dengan gemas. "Sakit, Yang. Udah! Aku mau mandi! Bau dapur ini," kata Zarra melepaskan diri dari kegemasan Fahri. Zarra pun berlalu menuju kamar mandi rumah Asyifa.
Acara khitbah pun akhirnya dimulai setelah pria yang melamar Asyifa datang bersama keluarganya. Betapa terkejutnya Zarra saat melihat siapa yang melamar Asyifa, sahabatnya. Meskipun ia sudah menduga, tetapi begitu melihat kenyataannya tetap saja membuat Zarra terkejut bahagia. Iya! Pria yang ta'aruf dengan Asyifa adalah Dani, putra dari Pak Adi, dosennya. Bahkan, Fahri menyambutnya dengan sangat hangat seperti dengan saudara sendiri.
Acara khitbah berlangsung dengan lancar. Saat acara berlangsung, Zarra masih tak menyangka bahwa rencananya dikabulkan oleh Allah. Ketika mereka sedang makan bersama, sengaja Zarra duduk di samping Asyifa.
__ADS_1
"Fa, sejak kapan kalian ta'aruf?," tanya Zarra berbisik di telinga Asyifa. Asyifa tertawa kecil dan lirih.
"Udah lama sih, Ra. Dikenalin sama Bang Fahri waktu di kajian musawarahnya Ustadz Adi," jawab Asyifa lirih. Zarra masih heran. Kenapa ia tak pernah melihat Fahri di kajian.
"Kapan? Kok aku nggak pernah ketemu kamu atau Kak Fahri di kajian? Kan aku penelitian di kajian musawarah itu. Kak Dani malah yang bantu skripsi aku," kata Zarra.
"Oh, waktu itu masih belum, Ra. Kan Bang Fahri sama Abah umroh. Inget kan?," kata Asyifa. Zarra mengangguk tanda ia ingat. "Nah, begitu kamu udah selesai penelitian, pas banget Bang Fahri baru dateng umroh. Dia nawarin kita kenalan dan ta'aruf," lanjut Asyifa. Zarra hanya ber-oh saja.
"Kenapa kita lama ta'aruf, itu karena aku yang pengen kenalin kamu sama Bang Fahri dulu. Sebenernya pertemuan di bazar itu sudah kita rencanain. Cuma awalnya nggak gitu, nggak ada insiden Humaira. Ya, ternyata Allah mengenalkan kalian lewat insiden Humaira. Abis itu Kak Dani sibuk 2 bulan ini keluar kota ngurus kajian Ustadz Adi," ungkap Asyifa. Ah, Zarra baru teringat bahwa ia ingin menanyakan soal pertemuannya dengan Fahri di bazar. Asyifa sudah menjawabnya. Semuanya terjawab sudah. Ia juga ingat di resepsinya, Kak Dani tidak hadir. Jadi, ini semua jawabannya. Zarra benar-benar merasa Allah Maha Baik, benar-benar sebaik-baiknya perencana. Maka, iapun berdo'a agar Allah juga merencanakan yang baik bagi rumah tangganya.
❤️❤️❤️
"Yang, kamu kenal sama Kak Dani ya?," tanya Zarra. Fahri mengangguk. "Kenal dimana?," tanya Zarra lagi.
"Dani itu teman sekelas dari SMA. Waktu kuliah, kita beda kampus. Aku kan ke UIN, dia ke UNESA. Kita itu udah terlanjur deket. Jadi, walaupun beda kampus, main tetep bareng. Mainnya kita itu di masjid komplek sini. Nah, mungkin ini sudah kehendak Allah, Ramadhan dua tahun lalu, tiba-tiba dia bilang mau hijrah. Ya aku kenalin Abah trus dia sekarang alhamdulillah sudah jadi koordinator kajian musawarahnya Ustadz Adi, ustadz favoritnya dia," ungkap Fahri. Zarra mendengarkan dan mengangguk-angguk.
__ADS_1
Fahri berbaring di tempat tidurnya diikuti Zarra yang berbaring di sampingnya. Ia masih penasaran dengan cerita soal keterkaitan mereka semua.
"Waktu itu aku nawarin dia ta'aruf sama Asyifa karena kulihat-lihat dia anaknya baik trus taat juga. Mereka sempet ketemu pas ke kajian bareng aku dan Amira. Eh, bukannya ngomongin ta'aruf malah ngomongin kamu," kata Fahri mengingat-ingat kejadian itu. Ia tersenyum. Zarra masih menunggu kelanjutan cerita Fahri.
"Dani bilang ada gadis patah hati ditinggal hijrah pacarnya, terus gadis itu ikut hijrah. Ternyata si gadis bisa lebih istiqomah dan justru menemukan jalan kebaikan saat hijrah. Asyifa bilang aku ketemu dulu sama kamu di bazar. Awalnya Asyifa juga bingung gimana, eh Humaira bikin insiden yang bikin kita kenalan. Dari situ aku minta Asyifa untuk ngajak kamu ta'aruf," jelas Fahri lagi. Zarra mengernyitkan dahi. Tapi Asyifa tak pernah menyampaikan itu. Ia hanya pernah menawarkan waktu ngaji bersama Umi Fatma. Itu pun ia pikir bercanda.
"Tapi rasanya Asyifa belum pernah bilang," jawab Zarra setengah menggumam. Fahri tersenyum.
"Dia sudah bilang saat kamu ngaji sama Umi Fatma. Aku ada di sana. Tapi kayaknya kamu anggap Asyifa dan Amira bercanda," jawab Fahri. Ah, benar ternyata.
"Maaf, Yang. Karena kayaknya nggak mungkin aja, orang kayak kamu itu bakalan mau ta'aruf sama perempuan kayak aku. Aku yang masih dangkal ilmunya," ucap Zarra merendah. Fahri tersenyum.
"Ya itulah Allah yang membuat semuanya jadi mungkin. Mungkin karena do'a kedua orang tua kita, do'aku dan do'amu. Aku memutuskan melewati ta'aruf dan mau mengkhitbah kamu karena insiden dengan Malik. Aku nggak bisa lihat wanita disakiti karena ibu, kakakku dan adikku semua wanita," kata Fahri mengakhiri ceritanya.
Zarra hanya termenung mendengar semua itu. Memang kalau diingat-ingat Allah memang yang mempertemukan mereka lewat insiden Humaira. Lalu, insiden Malik di depan mata Fahri. Waktu itu, baru saja Zarra berfikir apakah mungkin lelaki seperti Fahri mau ta'aruf dengannya. Ternyata tak sampai satu jam, Allah menunjukkan kuasaNya. Membuat yang tak mungkin jadi mungkin. Bukan ta'aruf yang ditawarkan Abah, tetapi justru khitbah dan pernikahan. Allah memang pembuat rencana terbaik. Zarra benar-benar sangat bersyukur dengan apa yang didapatnya saat ini.
__ADS_1
"Sudah. Tidur yuk," ajak Fahri. Zarra mengangguk. Ia juga capek hari ini. Mereka berdo'a sebelum tidur. Fahri mengecup kening Zarra dan kemudian berbaring. Mereka pun tidur dengan tenang agar besok siap menyambut hari baru.
❤️❤️❤️