Temani Aku Berhijrah

Temani Aku Berhijrah
PERTEMUAN


__ADS_3

Matahari pagi bulan April tampak malu-malu mengintip dari balik awan putih. Langit hari ini sepertinya akan cerah. Memasuki bulan April, musim juga sudah mulai berganti. Hujan tak sesering bulan Januari atau Desember. Meskipun masih ada hujan deras.


Sudah masuk bulan April, itu artinya sudah sebulan lebih sejak Zarra memutuskan berhijrah. Kini, ia disibukkan oleh penelitiannya dan promosi usahanya. Waktunya banyak tercurah di sana. Beruntung sekali ada Asyifa dan Amira yang membantunya. Seperti hari ini, di kampusnya sedang diadakan bazar tahunan. Bazar tahunan ini, diperuntukkan bagi mahasiswa yang memiliki usaha sampingan, agar dapat mempromosikan usahanya. Tahun ini pesertanya ternyata membludak. Kebanyakan mereka membawa bisnis fashion. Hanya beberapa yang membawa bisnis kuliner. Salah satunya Zarra dengan mengusung tema street food yang ia namai 'Ukhti Street Food'.


Stand Zarra bisa dibilang menjual jajanan ringan seperti donat pandan, donat madu, cheese potato dan ayam popcorn. Sebenarnya ia ingin menambah menu minuman, tetapi mengingat ada mahasiswa lain yang membuka stand khusus minuman, ia mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin serakah dalam mencari rejeki. Ini yang ia pelajari dari ilmu berdagang Rasulullah. Akhir-akhir ini ia banyak mencari tahu tentang cara berdagang menurut Islam. Lagipula, ia tidak akan sanggup sendirian membuka stand dengan banyak menu.


Hari ini adalah hari pertama bazar dibuka. Zarra sudah memperkirakan akan ramai pengunjung. Dan benar saja, begitu mulai jam makan siang terlewat, pengunjung sudah mulai mencari standnya. Beberapa ada teman sekelas Zarra mampir ke stand.


"Waaahh, Zarra? Buka stand juga lo?," seru Agil. Ia takjub melihat stand Zarra. Gilang yang di sebelahnya langsung menyenggol lengan Agil. Itu isyarat agar Agil lebih sopan sedikit. Agil yang kesakitan sedikit menggerutu pada Gilang, tapi tersenyum kemudian pada Zarra.


"Alhamdulillah. Batu lompatan sebelum kita lulus," jawab Zarra. Ia kini sudah bisa bergaul dengan teman sekelasnya. Meskipun ia tetap membatasi pergaulannya.


"Keren tuh, Ra!," puji Gilang.


"Eh, kalian cobain ya? Mau yang apa nih?," tanya Zarra sembari menawarkan jualannya. Agil dan Gilang saling berpandangan. Pasalnya makanan Zarra terlihat menggoda.


"Potato cheesenya satu sama ayam popcorn aja, Ra," jawab Agil. Mereka duduk di depan stand Zarra sambil menunggu Zarra menggoreng pesanan mereka.


"Idaman gue banget ya?," gumam Gilang seolah pada dirinya sendiri. Matanya tak lepas menatap Zarra yang tengah mempersiapkan makanannya. Agil sontak memukul kepala Gilang namun tak keras.


"Ngimpi aja lu! Mana mau dia sama elu? Perbaiki iman lu dulu!," seru Agil. Keributan kecil antara Agil dan Gilang itu terhenti ketika Zarra datang membawa pesanan mereka.


"Ini pesanan kalian. Khusus buat kalian, aku bonusin masing-masing satu donat ya? Jangan rebutan!," kata Zarra seperti seorang ibu yang sedang memperingatkan anaknya. Agil dan Gilang mengangguk. Agil pamit sebentar memesan minuman di sebelah stand Zarra.


"Ra, kok lo eh kamu enggak jualan minuman sekalian, sih?," tanya Gilang. Ia mulai menggigit potato cheesenya. Mendadak ia terdiam ketika selesai satu gigitan. Enak ini, batinnya. Zarra tersenyum.


"Awalnya iya aku maunya jual minuman. Lagian di menu cateringku 'kan ada minuman sehat juga. Cuma, setelah aku tahu stand sebelahku khusus minuman, aku batalin. Bagi-bagi rezeki lah, Gil! 'Kan aku dapet kenalan baru, meningkatkan ukhuwah lah," cerita Zarra. Gilang hanya menggeleng-geleng karena kagum dengan kepribadian Zarra.


"Memang istri idaman kamu, Ra. Nyesel pasti si Malik ninggalin kamu," ujar Gilang. Zarra hanya tersenyum.


"Sudah, ah! Ada pembeli tuh! Aku ke stand dulu ya?," pamit Zarra. Ia beranjak kembali ke standnya dan melayani pembeli yang mulai mengantre di standnya. Bersamaan dengan perginya Zarra, Agil datang membawa minuman untuk ia dan Gilang. Mereka mulai menikmati kudapan itu sembari bercanda dan tertawa renyah bersama.


 


❤️❤️❤️


Hari sudah mulai petang. Zarra mengusap keringatnya dengan tisu yang ia bawa. Baru saja ia selesai melayani pembeli di standnya. Ia melihat botol airnya telah habis. Ia pun menghela napas.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Kak," sapa seseorang. Zarra menoleh. Ternyata penjaga stand minuman di sebelahnya. Ia adalah seorang perempuan cantik khas chinese. Ia juga memakai hijab yang diikat ke belakang lehernya.


"Wa'alaikumsalam. Iya, Kak?," jawab Zarra dengan senyum manisnya.


"Ini buat kakak," katanya sambil menyodorkan segelas ice cappucino. Zarra benar-benar terkejut. Seolah ia tahu kalau Zarra sedang haus dan kehabisan air minum.


"Alhamdulillah. Makasih, Kak," kata Zarra menerima pemberian gadis itu. Ia pun ingin membalas pemberiannya gadis itu dengan mengambilkan donat pandan dan madu masing-masing dua, karena ia melihat gadis itu berjaga berdua.


"Nama saya Irina," kata gadis itu memperkenalkan diri. "Temen saya itu Farida," tunjuknya. Gadis yang bernama Farida itu mencakupkan tangannya dari stand mereka. Zarra mengangguk senyum.


"Saya Zarra," kata Zarra. Irina tersenyum.


"Kakak panggil kita nama aja, kita mahasiswi angkatan tahun ini kok," kata Irina. Zarra mengangguk senyum. Ternyata mereka adik kelasnya. "By the way kita mau mengucapkan terima kasih karena kakak mau berbagi rezeki dengan kami," sambung Irina.


Zarra tersenyum. Dalam hatinya ia berterima kasih kepada Allah. Ia tak perlu mengatakan niat baiknya, Allah sudah tahu. Bahkan, lewat tangan kedua gadis ini, Allah memberi berkahNya hari ini.


"Ini sekedar untuk ngemil di stand ya?," kata Zarra menyodorkan paper bag berisi donat yang tadi dia ambilkan.


"Waah, alhamdulillah. Makasih Kak Zarra," seru Irina senang. Zarra tertawa melihat senangnya Irina akan pemberiannya. "Kak, makasih sekali lagi ya? Aku balik ke stand dulu," pamit Irina kemudian. Zarra mengangguk. Irina kembali ke standnya.


"Assalamu'alaikum, ukhti cantik," seru Amira.


"Wa'alaikumsalam," jawab Zarra. Mereka saling berpelukan.


"Gimana jualannya, Ra?," tanya Asyifa.


"Alhamdulillah, Fa. Kayaknya sebelum jam 9, bisa tutup ini," jawab Zarra. Asyifa melihat stok jualan Zarra yang memang sudah tinggal sedikit.


"Kamu nggak sholat?," tanya Asyifa lagi.


"Ini baru mau aku tinggal sholat, kalian udah datang. Ya sudah, sholat dulu, yuk!," ajak Zarra.


"Ayo! Amira biar nunggu stand kamu sebentar. Dia lagi enggak boleh sholat," jawab Asyifa. Amira mengacungkan jempolnya. Zarra sudah beranjak dari standnya dan berjalan bersama Asyifa. Tiba-tiba seorang anak kecil berlari ke arahnya dan menabraknya. Anak perempuan itu jatuh bersama dengan permen lolipop yang dibawanya.


"Maaf Tante, Humaira enggak sengaja. Tante enggak apa-apa?," tanya anak itu. Zarra tersenyum. Padahal yang jatuh dia, yang ditanya Zarra yang tak bergeming sedikit pun saat ditabrak. Zarra berjongkok membantu anak itu berdiri. Ia bisa menebak, Humaira masih berumur sekitar 4 tahunan. Wajahnya cantik dengan pipi chubbynya. Anak itu memakai jilbab berwarna pink.


"Jadi, namamu Humaira ya?," tanya Zarra. Ia masih berjongkok supaya bisa sejajar dengan Humaira. Humaira mengangguk tanpa melihat Zarra karena sibuk mencari permennya. Begitu menemukannya, ternyata permen itu sudah kotor.

__ADS_1


"Yah, sudah kotor," gumamnya. Zarra tersenyum melihat kelucuan tingkah Humaira. Anak ini sudah sangat lancar berbicara.


"Humaira, kamu mau donat enggak?," tanya Zarra kemudian. Humaira menoleh dan mengangguk pada Zarra. Zarra tertawa melihatnya.


"Nah, ini Tante punya donat pandan sama donat madu. Humaira mau yang mana?," tanya Zarra. Tangan Zarra sebelah kanan menunjuk donatnya dan sebelah kiri menggandeng tangan Humaira. Anak itu tampak berpikir. Zarra semakin gemas melihatnya. Ia pun mengambil dua donat, satu pandan dan satu madu. Dimasukkannya dalam paper bag dan diberikannya pada Humaira.


"Nih, Tante kasih dua-duanya. Habisnya Humaira lama milihnya," kata Zarra gemas. Mata Humaira berbinar menerima donat itu.


"Makasih, Tante," kata Humaira.


"Sama-sama, Humaira," jawab Zarra. Asyifa yang menyaksikan itu semua tersenyum. Ia memandang ke arah Amira. Amira mengangguk senyum.


"Humaira," sebuah suara seorang laki-laki membuyarkan keheningan mereka. Zarra menoleh. Seorang laki-laki muda nampak berjalan mendekati Humaira.


"Kamu kemana aja? Abi cari-cari," seru laki-laki itu. Ia melihat donat di tangan Humaira. Kemudian ia melihat ke arah Zarra. Zarra menundukkan sedikit pandangannya.


"Maafin ponakan saya ya? Dia pasti bikin masalah ya? Emm..itu donatnya berapa?," tanya laki-laki itu sembari mengeluarkan dompetnya. Zarra tersenyum. Ternyata itu keponakan laki-laki itu. Ia kira karena memanggil 'Abi' laki-laki itu adalah ayah Humaira.


" Nggak usah, Kak. Saya ikhlas kok! Lagipula Humaira enggak bikin masalah apa-apa. Saya aja yang enggak tahan lihat tingkahnya yang menggemaskan ini," jawab Zarra sambil mencubit lembut pipi Humaira.


"Fahri. Nama saya Fahri," kata laki-laki itu memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangannya. Zarra meliriknya sedikit untuk melihat wajah Fahri. Fahri terlihat tampan dengan potongan rambut yang rapi dan gamis khas laki-laki. Perawakannya juga lumayan tinggi, sampai-sampai Zarra harus sedikit mengangkat kepalanya.


"Nama saya Zarra, Kak," jawab Zarra kemudian. Ia kembali menundukkan pandangannya. Begitu juga Fahri.


"Ini stand kamu?," tanya Fahri mengalihkan pandangannya. Zarra mengangguk. Fahri juga hanya mengangguk-angguk senyum.


"Okay, makasih ya untuk donatnya Humaira?," kata Fahri lagi. Zarra mengangguk senyum. "Assalamu'alaikum," ucap Fahri sebelum pergi sembari menggendong Humaira.


"Wa'alaikumsalam," jawab mereka bertiga hampir bersamaan. Sejenak mereka terdiam. Namun, adzan maghrib membuyarkan lamunan Zarra.


"Eh, ayo sholat dulu!," ajak Zarra kemudian. Ia menarik tangan Asyifa. Sebelum pergi, Asyifa masih sempat mengedipkan mata pada Amira. Diam-diam Asyifa berdo'a agar Allah meringankan jodoh Zarra kali ini.


 


❤️❤️❤️


 

__ADS_1


__ADS_2