
Siang di pertengahan April lumayan terik. Matahari sedang gagahnya bersinar. Pengunjung bazar banyak berteduh di stand-stand guna menghindari teriknya panas matahari. Zarra yang membuka stand siang tampak sedang mempersiapkan jualannya. Ia sedang menulis di sebuah papan kecil dengan kapur warna warni. Hari ini minggu kedua sekaligus hari terakhir bazar tahunan Universitas Nusantara. Spesial di hari terakhirnya membuka stand, Zarra mempersiapkan menu-menu istimewa. Antara lain mendoan saus kacang, cheese stik, pisang kriuk dan udang rambutan. Harganya juga spesial. Bahkan ia membundling menunya dengan minuman dari stand Irina dan Farida. Tentu atas ijin mereka berdua. Keduanya malah senang dan merasa terbantu.
Hari penutupan bazar, pengunjung yang datang lebih ramai. Itu karena kampus mendatangkan artis ibukota Judika dan Virgoun. Acara penutupan bazar akan diadakan nanti malam. Zarra sudah mempersiapkan cukup stok untuk standnya kali ini. Di tengah kesibukannya mempersiapkan peralatan, ia dikagetkan dengan kedatangan duo A alias Asyifa dan Amira.
"Assalamu'alaikum, Ukhti," sapa keduanya bersamaan. Zarra menoleh dan tertawa melihat kedua sahabatnya itu.
"Wa'alaikumsalam. Kalian kesini? Mau nonton Judika ya?," tanya Zarra. Tanpa diperintah atau dimintai tolong oleh Zarra, Asyifa dan Amira meletakkan tasnya dan segera membantu Zarra di stand. "Eh, kalian ngapain nih?," tanya Zarra lagi.
"Kita itu dateng spesial buat bantuin kamu," jawab Asyifa. Ia mencubit pipi Zarra gemas.
"Syifa, sakit," keluh Zarra manja. Asyifa tertawa. Ia tahu Zarra hanya bercanda.
"Jadi, hari ini menunya apa?," tanya Amira.
"Tuh," tunjuk Zarra ke arah papan menu. Amira dan Asyifa membaca sejenak dan mengangguk-angguk. "Nah, ini bahan mendoannya, saus kacangnya itu di plastik item. Sisanya ada di kotak pink itu," tunjuk Zarra. Mereka segera membantu Zarra bersiap. Zarra mulai membersihkan meja dan kursi-kursi standnya.
"Assalamu'alaikum," suara laki-laki mengejutkan Zarra yang sedang membersihkan meja. Zarra menengadah mencoba melihat siapa yang datang. Orang yang sangat ia kenal. Malik.
"Wa'alaikumsalam," jawab Zarra lirih. Amira dan Asyifa saling berpandangan. Zarra terdiam melihat kedatangan Malik. Hatinya tak karuan. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana. Hanya istighfar yang bisa ia lantunkan dalam hatinya.
"Kamu buka stand?," tanya Malik. Zarra mengangguk senyum. Malik tersenyum. "Keren, Ra. Akhirnya kamu mulai memenuhi impian kamu. Dulu, kamu sering bilang pengen punya usaha makanan 'kan? Sekarang sudah terwujud," sambung Malik. Zarra tersenyum lagi tetapi kemudian disembunyikannya senyuman itu.
"Duduk, Malik. Kinar nggak ikut?," tanya Zarra.
"Kinar ada. Dia lagi lihat-lihat hijab di ujung," jawab Malik. Matanya menatap Zarra dalam-dalam. Tetapi Zarra hanya menunduk. Hanya sesekali ia menengadah, yaitu saat bicara.
"Kamu mau pesan?," tanya Zarra. Malik mengangguk. "Pesan apa?," tanya Zarra lagi.
"Kamu," jawab Malik. Mata Zarra membulat. Dahinya mengernyit. Ia menatap Malik tajam. Sungguh ia tidak suka Malik mengatakan itu. Selain itu tidak pantas diucapkan oleh pria beristri, Zarra tidak suka dengan pengucapan seolah-olah Malik memesan dirinya.
__ADS_1
"Jangan salah paham, Ra. Maksud aku, aku hanya ingin duduk di sini dan kamu temani," kata Malik menjelaskan. Ia tahu, perubahan raut wajah Zarra menandakan ia salah pengertian.
"Maaf, Malik. Rasanya enggak pantas kita begini. Kamu sudah menikah. Nanti akan timbul fitnah," jawab Zarra tegas namun lembut. Asyifa dan Amira yang melihatnya ikut tegang.
"Fine, I'm sorry. Kinar udah cerita soal pertemuan kalian waktu itu. Kinar juga udah mengatakan perihal keinginannya padaku. Soal menikah denganmu. Aku akan mengkhitbah kamu, Ra kalau kamu mau," kata Malik. Zarra tertawa sinis.
"Telat! Kenapa baru sekarang kamu ngomong itu?," sergah Zarra. Sedetik kemudian ia menyesal mengatakan itu. Ia beristighfar dalam hati.
"Apa sudah ada orang lain?," tanya Malik menyelidik. Zarra tertawa. Dalam hatinya ia sudah tidak mengharapkan Malik. Apa ini salah satu ujian Allah?, batinnya. Ia menghela napas.
"Sudahlah, Malik. Kita sudah usai. Kamu sudah sama Kinar, dan aku ikhlas. I'm just moving on. Jalani saja semuanya sesuai pilihan kita masing-masing. Semua sudah ditakdirkan oleh Allah," jawab Zarra. Malik terdiam. Tak berselang lama, Kinar pun datang.
"Zarra? Kamu buka stand?," tanya Kinar takjub. Matanya menyiratkan ketulusan. Zarra mengangguk senyum. "Kamu udah pesan, Yang?," tanya Kinar pada Malik. Malik menggeleng.
"Dia mau nunggu kamu, Ki. Enggak mau pesan sebelum istrinya datang. Dia mau kamu yang pesenin makanan buat dia," kata Zarra setengah menggoda. Kinar tersenyum.
"Ya sudah, aku pesan mendoan sama udang rambutan ya?," pinta Kinar. Zarra mengangguk dan beranjak dari kursinya.
Setelah memastikan Asyifa dan Amira tentang pesanan Kinar dan Malik, Zarra meninggalkan stand tanpa melihat ke arah Malik dan Kinar. Ia berjalan menuju mushola. Kakinya terasa ringan. Sambil berjalan ia tersenyum.
'Kamu pernah mengisi hari-hariku. Aku pernah jatuh cinta sedalam-dalamnya padamu. Tapi kamu juga yang mengajarkan bahwa aku telah salah menyandarkan cintaku. Aku pernah terluka dan sakit hati, tapi Dialah yang menemani dan menyembuhkannya. Dan sekarang berkat Dia, aku bisa mengikhlaskanmu bersama impianku hidup bersamamu. Terima kasih Malik. Terima kasih Kinar. Terima kasih Ya Rabbku'.
❤️❤️❤️
Hari semakin gelap. Namun, pengunjung bazar semakin ramai. Mendekati acara, stand Zarra juga semakin ramai. Mereka bertiga hampir tak dapat duduk sedari lepas isya'. Meski begitu, ketiganya sangat bersyukur sekali dengan rezeki hari ini.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Mereka bertiga baru saja menyelesaikan pesanan terakhir. Sesuai instruksi Zarra, mereka tidak menerima pesanan lagi. Sisa bahan masih lumayan, tetapi Zarra berniat untuk memakannya bersama-sama dengan sahabat-sahabatnya itu. Sebuah suara mengagetkan mereka bertiga ketika mereka sedang membersihkan beberapa peralatan.
"Mau pesan mendoannya, Dik," suara seorang perempuan terdengar.
"Maaf, sudah ha...," Zarra ternganga melihat siapa yang datang. Asyifa dan Amira saling melempar pandang. "Mama?," seru Zarra menghambur ke wanita yang sedang berdiri di depan stand nya itu. Ternyata itu Mama Zarra. Di belakang Mama Zarra, muncul seorang pria setengah baya dengan jenggot ala ustadz. Belum selesai keterkejutan Zarra, surprise sudah datang lagi, yaitu Papanya. Padahal ia tahu, papanya itu orang yang super sibuk.
"Papa?," seru Zarra. Ia mencium tangan papanya dan memeluknya.
"Sudah. Malu dilihat banyak orang," kata Papa Zarra. Zarra melepas pelukannya dan cemberut.
"Aku 'kan kangen, Pa," Zarra bersungut kesal. Papa Zarra hanya tertawa dan mengelus kepala putri semata wayangnya itu. "Mama sama Papa duduk dulu disitu ya? Zarra kenalin sama temen-temen Zarra. Sekalian kita nikmatin acara penutupan bazarnya," kata Zarra. Ia menggabungkan dua meja dan beberapa kursi dengan bantuan Amira. Asyifa mengeluarkan makanan yang khusus di sediakan Zarra tadi. Zarra juga tak lupa memanggil Irina dan Farida. Ia memesan minuman untuk peneman santai mereka kali ini.
"Mama, Papa, kenalin sahabat-sahabat Zarra. Ini Asyifa, Ini Amira, Ini Irina dan yang itu Farida. Asyifa sama Amira ini yang bimbing Zarra bersama Umi Fatma. Irina sama Farida ini adik tingkat Zarra, dan mereka buka stand di sebelah," kata Zarra memperkenalkan sahabat-sahabatnya. Tak berapa lama berkenalan, mereka sudah terlibat obrolan seru. Mereka membicarakan banyak hal. Mulai dari keluarga dan sharing ilmu agama. Teman-teman Zarra tidak menyangka bahwa Papa Zarra ternyata pernah belajar tafsir Al Qur'an. Mereka benar-benar terlibat percakapan yang seru tetapi tetap sopan.
"Ya sudah. Mama sama Papa pulang duluan ya? Kasihan, Papa tadi habis rakor langsung kesini," kata Mama Zarra. Zarra mengangguk senyum.
"Assalamu'alaikum," ucap Papa Zarra.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serentak. Sepeninggal orang tua Zarra, mereka kembali membahas cerita seru masing-masing. Entah siapa yang memulai, mereka membahas tentang impian.
"Pernah nggak sih kepikiran impian kalian akan berubah?," celetuk Zarra. Semua menggeleng. Zarra tertawa kecil. "Aku pernah. Dan sedang mengalaminya. Aku pernah pacaran. Impianku adalah bisa hidup bersamanya. Kerja. Tetapi sehebat apapun rencanaku, semua diputar balik sama Allah. Impianku kandas. Tapi aku menemukan cinta-cinta baru. Orang tuaku, sahabat-sahabat baru yang alhamdulillah super baik, keluarga kedua, punya usaha kecil-kecilan. Alhamdulillah impianku kemarin hancur. Kalau tidak, aku nggak akan kenal Allah. Aku nggak mungkin jatuh cinta padaNya. Sekarang aku punya impian baru, untuk orang tuaku, sahabatku dan jodohku kelak. Semua itu aku sandarkan pada Allah," ungkap Zarra. Saat bercerita mata Zarra menerawang. Asyifa kemudian memeluknya. Amira pun. Irina dan Farida terharu melihat persahabatan mereka.
DDARRR DARRR
Suara kembang api terdengar riuh menutup acara bazar tahunan Universitas Nusantara. Zarra dan teman-temannya menatap ke arah langit. Benar-benar luar biasa indahnya. Zarra, Asyifa dan Amira saling berangkulan. Zarra berbisik kepada mereka berdua, "Insha Allah sampai jannah". Asyifa dan Amira pun mengucapkan hal yang sama. Mereka pun menggandeng Irina dan Farida.
❤️❤️❤️
__ADS_1