
Senja telah berlalu, tergantikan oleh gelapnya malam. Meskipun gelap, tetapi rumah Zarra terlihat terang dan lebih ramai dari biasanya. Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Fahri maupun Zarra. Hari dimana Fahri akan melakukan khitbah pada Zarra. Khitbah atau biasa dikenal dengan 'melamar', dimana keluarga laki-laki akan meminta izin keluarga perempuan untuk menikahi anak gadis mereka. Ini keinginan dari Fahri sendiri untuk mengajak Zarra menikah tanpa melalui ta'aruf. Walaupun hanya beberapa kali bertemu, ia yakin Zarra adalah wanita yang dia inginkan untuk menemaninya sampai akhir hayatnya.
Fahri datang bersama ibunya, abah, Umi Fatma dan Amira. Sedangkan Asyifa menemani Husna dan Humaira di rumah. Abah datang menemani menggantikan ayah Fahri, yang telah meninggal. Mereka datang ba'da isya'. Mereka disambut baik oleh keluarga Zarra. Papa dan Mama Zarra tampak sangat kagum dengan Fahri. Selain ia tampan, menurut Mama Zarra, ternyata Fahri memiliki hobi yang sama dengan Papa Zarra, yaitu touring dengan motor. Bahkan juga memiliki latar belakang pendidikan yang sama di UIN. Setelah dibuka dengan perkenalan, akhirnya Abah pun menyampaikan maksud kedatangan mereka.
"Jadi, Pak Zaky, maksud dan kedatangan kami kemari adalah untuk meminta, melamar atau khitbah anak bapak, yaitu Zarra untuk kami jadikan menantu keluarga kami," kata Abah. Papa Zarra terdiam sejenak.
"Maaf, Bah. Saya tidak mau anak saya dijadikan menantu di keluarga Abah," jawab Papa Zarra. Zarra tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Tak hanya Zarra, tetapi seluruh keluarga yang hadir. Mama Zarra menepuk pelan bahu suaminya. Abah menunggu kata-kata Papa Zarra selanjutnya.
"Saya tidak mau anak saya hanya diambil sebagai menantu di keluarga Nak Fahri. Tapi saya ingin dan mohon, jika berkenan jadikan ia seperti anak di keluarga Abah. Karena Zarra anak saya satu-satunya. Kalau dia terluka, saya dan Mamanya pasti juga akan terluka. Saya ingin Zarra bahagia, Bah," kata Papa Zarra kemudian. Ada air mata yang menggenang di ujung mata laki-laki setengah baya itu. Baginya Zarra memang segalanya. Ia tak rela jika anak yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang harus menderita di rumah orang lain.
Abah tersenyum dan mengangguk-angguk mengerti. Ia memandang Fahri. Fahri mengangguk. Ia kembali memandang kedua orang tua Zarra. Sedangkan Zarra yang duduk di samping mamanya sedang menyembunyikan air mata yang menetes di pipinya. Abah sangat mengerti akan kekhawatiran Papa Zarra, karena ia sendiri juga memiliki anak perempuan, Asyifa. Satu-satunya sama seperti Zarra.
"Saya sangat mengerti kekhawatiran Pak Zaky dan Ibu Rania. Saya sendiri juga memiliki anak perempuan, semata wayang. Sama seperti Zarra. Dan selama ini Zarra sudah seperti anak kami, sudah seperti saudara bagi Asyifa. Insya Allah, saya akan memegang amanah dari Pak Zaky dan Ibu Rania," jawab Abah bijak. Entah kenapa, Abah merasa ikut sedih. Ia membayangkan bagaimana ketika Asyifa juga di khitbah nantinya.
"Pak, Bu, insya Allah Fahri bisa pegang amanah bapak dan ibu. Kedua saudara saya perempuan. Ibu saya pun perempuan yang amat saya sayangi, bagaimana saya akan menyakiti perempuan yang akan menjadi ibu bagi anak-anak saya kelak?," kata Fahri. Papa Zarra tersenyum. Ia puas mendengar jawaban Fahri.
"Baik, Bah, Nak Fahri. Bapak menerima khitbah dari Nak Fahri. Bagaimana Zarra?," tanya Papa Zarra. Ia melihat ke arah anak perempuan satu-satunya itu. Zarra mengangguk senyum.
"Alhamdulillah," ucap semua yang hadir di sana. Kemudian, mereka segera menentukan tanggal pernikahan Zarra dan Fahri. Mereka sepakat pernikahan akan dilakukan setelah acara wisuda. Fahri juga memberitahu bahwa 3 bulan setelah menikah, kemungkinan akan ke Kairo untuk melanjutkan S2nya. Acara pun dilanjutkan dengan makan malam bersama.
❤️❤️❤️
Pagi ini Zarra bangun dengan hati yang bahagia. Sejak Fahri datang ke rumah semalam, hatinya terasa ringan dan bahagia. Ia terus bertanya dalam hatinya, apakah ia sedang jatuh cinta. Karena rasanya begitu berbeda dengan perasaan jatuh cinta yang sebelumnya.
Hari ini ia diantarkan oleh Papanya ke kampus. Jadwal sidang skripsinya dimulai jam 9 pagi dan dia adalah mahasiswi terakhir pada periode sidang kali ini. Ia berharap ia akan lulus sidang dan bisa mendaftar wisuda tahun ini. Di perjalanan menuju kampus, ia tak henti berdo'a.
"Mulai sekarang, Papa akan antar kamu kemanapun kamu pergi. Kamu nggak boleh pergi sendirian tanpa Papa ya?," kata Papa dari balik kemudinya. Zarra tersenyum. Ia begitu mengerti perasaan Papanya. Sebentar lagi ia akan menjadi istri Fahri, yang artinya tanggung jawab Papanya akan berpindah ke Fahri. Ia juga mengerti alasan Papanya mengantarkannya kemanapun ia pergi. Itu karena hanya Papa saat ini satu-satunya mahramnya. Papa sudah menerima khitbah dari Fahri, dan Papa mau menjaga kepercayaan keluarga Fahri.
Selama sidang skripsi berlangsung, Papa Zarra menunggu di luar ruangan sidang. Beberapa kali mahasiswa memperhatikan dirinya saat berjalan melewatinya. Bahkan sejak mereka turun dari mobil dan berjalan menuju ruang sidang, mereka telah menjadi pusat perhatian. Sebagian merasa aneh karena sudah kuliah masih diantar oleh orang tua, sedangkan sebagian lainnya merasa itu sweet karena bentuk kasih sayang orang tua kepada anaknya. Sedangkan Zarra berjalan dengan bangga beriringan dengan Papanya menuju ruang sidang. Sebelum masuk ruangan ia menyempatkan diri untuk mencium tangan laki-laki yang telah membesarkannya itu, memohon do'a agar semuanya berjalan lancar.
Kriiiieeett...
Terdengar suara pintu ruangan dibuka. Papa Zarra langsung berdiri. Zarra keluar dengan wajah yang sumringah. Diikuti para dosen penguji yang langsung berjalan meninggalkan mereka, kecuali Pak Adi. Pak Adi berdiri di belakang Zarra. Zarra berlari mendekati Papanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, skripsi Zarra diterima, Pa. Zarra lulus, Pa," seru Zarra lirih. Papa Zarra pun mengucapkan alhamdulillah dan memeluk anaknya itu. Pak Adi tersenyum melihat keakraban mereka. Ia pun berjalan mendekati mereka.
Melihat Pak Adi datang ke arahnya, Papa Zarra melepas pelukan anaknya itu. Ia tersenyum antara terharu, bangga dan penuh terima kasih kepada dosen yang telah membimbing anaknya itu.
"Selamat ya, Pak. Selamat ya, Ra? Akhirnya kamu wisuda juga tahun ini. Pisah deh kita!," kata Pak Adi setengah bercanda. Zarra tertawa, begitupula Papanya.
"Terima kasih, Pak sudah membimbing anak saya selama kuliah di sini. Maaf kalau dia kemarin-kemarin nakal," ucap Papa Zarra juga setengah bercanda. Pak Adi tertawa mendengar candaan Papa Zarra. Zarra hanya tertawa kecil.
"Sebenarnya saya mau ambil anak bapak sebagai menantu, tetapi sepertinya belum jodohnya," kata Pak Adi kemudian. Zarra tertunduk tidak enak hati karena mengingat percakapan mereka kapan hari.
"Maaf, Pak. Anak saya sudah di khitbah oleh orang lain," jawab Papa Zarra masih dengan senyum sopannya. Pak Adi terkejut. Ia tak menyangka secepat itu Zarra mendapatkan jodohnya.
"Wah, alhamdulillah. Saya tidak enak hati, Pak karena beberapa waktu lalu sempat menawarkan Zarra ta'aruf dengan anak saya, Dani. Tapi ternyata Dani sudah mengajak seseorang ta'aruf," kata Pak Adi.
"Alhamdulillah," bisik Zarra. Ternyata bukan hanya dia yang merasa tak enak hati. Pak Adi juga. Mungkin memang dia dengan Dani berjodoh sebagai teman. Zarra menghela napas lega. Kemudian, ia dan ayahnya pamit untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang, Papa Zarra bertanya soal Dani. Zarra pun menceritakan siapa Dani dan bagaimana ia mengenalnya. Papa Zarra hanya mengangguk senyum. Baginya sekarang sangat penting menjaga hubungan baik dengan calon besannya. Ia tak mau mengecewakan calon besannya, karena ia juga tak mau Zarra diperlakukan tidak baik di sana.
TRIIINNGGG
- Malik -
Gimana? Kapan khitbahnya? Bentar lagi wisuda.
Zarra kesal sekali membacanya. Kenapa Malik menjadi orang yang terobsesi begini. Dia sendiri yang meninggalkan Zarra dengan alasan hijrah. Dia pula yang memilih menikahi Kinar, sahabat Zarra. Ketika Zarra sudah ikhlas melepaskannya, dia kembali ingin bersama dengan Zarra. Dia bilang hijrah, tapi adabnya sama sekali bukan seperti orang yang hijrah. Bahkan tak ada salam pun yang ia ketik. Zarra malas sekali untuk membalasnya. Zarra memilih membiarkannya.
TRIIINGG
Chat dari Fahri masuk. Zarra membukanya. Ada rasa aneh di dadanya. Ia merasa berdebar membuka pesan dari Fahri.
- Fahri -
Assalamu'alaikum, Ra
Gimana sidangnya?
Tak ada kata-kata romantis yang terketik di sana. Tetapi itu cukup membuat Zarra tersenyum. Ia pun membalas chat Fahri.
__ADS_1
- **Zarra -
Wa'alaikumsalam Kak
Alhamdulillah lancar sidangnya. Cuma dikit revisinya. Minggu depan aku daftar wisuda
- Fahri -
Alhamdulillah
Ya sudah, jangan lupa makan dan sholatnya
Kakak masih di toko, ngecek barang datang
Salam buat Papa dan Mama dik
- Zarra -
Iya Kak nanti aku sampein
Kakak juga jangan lupa makan & sholat
Semangat ya Kak kerjanya
Salam buat keluarga semua
Zarra kangen semuanya**
Zarra mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobilnya. Ternyata Fahri sedang di toko. Toko yang dimaksud adalah minimarket keluarga Fahri. Usaha yang ditinggalkan ayah Fahri. Biasanya umi dan Husna yang menjaganya. Tetapi hari ini mungkin Fahri ingin membantu mengurusnya. Fahri sendiri memiliki usaha kopi. Ia menyalurkan kopi dengan brand nya sendiri ke minimarket dan toko-toko di seluruh Indonesia. Zarra mengetahuinya dari Asyifa.
Chat dengan Fahri tidak seromantis dengan Malik dulu. Tidak ada emoticon love atau cium. Itu karena Fahri tidak mau mengundang zina. Iya! zina hati, pikiran dan mata. Tetapi entah kenapa Zarra lebih nyaman seperti ini. Ia merasa dihormati dan dihargai sebagai perempuan. Dalam hati ia berdo'a semoga Fahri memang yang terbaik dari Allah.
❤️❤️❤️
__ADS_1