
Sebulan telah berlalu. Tak terasa sudah sebulan Zarra belajar bersama Asyifa dan Umi Fatma. Tidak hanya belajar tentang adab seorang perempuan dalam Islam, kini ia juga mulai belajar membaca Al Qur'an. Zarra yang sebenarnya sudah bisa membacanya, hanya perlu memperbaiki bacaannya sedikit. Meskipun begitu sampai saat ini Zarra belum memutuskan sepenuhnya berhijab. Ia hanya berhijab ketika datang ke pengajian atau belajar Al Qur'an.
Jika ditanya apakah ia tak ingin berhijab, ia ingin. Tetapi ia masih ragu dan takut untuk memulainya. Takut jika suatu saat nanti akan berubah kembali dan membuka hijabnya. Atau orang akan menilainya berlebihan karena berhijab. Namun, Zarra tak mengungkapkannya pada Asyifa ataupun Umi Fatma.
Dalam hati Zarra berjanji. Kelak jika ia benar-benar siap, ia tak akan menunda untuk menutup auratnya. Saat ini ia ingin lebih fokus memantaskan diri menjadi pribadi yang lebih baik.
❤️❤️❤️
- Rumah Asyifa -
Pengajian sudah dimulai sejak 30 menit yang lalu. Zarra nampak kikuk dan salah tingkah. Ini karena ia merasa jadi bahan perbincangan beberapa peserta pengajian. Bagaimana tidak? Pengajian sederhana itu dihadiri oleh para ibu-ibu dan remaja putri di sekitar rumah Asyifa, dan diantara mereka semua hanya Zarra yang mengenakan hijab dengan model dan aksen yang berlebihan. Peserta pengajian hanya menggunakan kerudung-kerudung sederhana dan syar'i.
"Ingat ya saudari-saudari muslimah sekalian, hijab itu wajib! Dan hijab yang baik adalah hijab yang mampu menutupi aurat kita. Jadi, panjangkan! Julurkan hijabmu untuk menutupi auratmu. Berhijab tidak perlu menunggu hidayah, atau kesiapan hati atau menunggu perilaku menjadi baik. Berhijablah dari saat ini juga! Kalau sudah berhijab, hati dan perilaku perlahan akan mengikuti ke arah yang baik. Ada pertanyaan saudari sekalian?," seru Umi Fatma. Zarra pun mengangkat tangan. Umi Fatma tersenyum dan mempersilahkan Zarra bertanya.
"Maaf sebelumnya, apa ada alasan lain kita untuk berhijab selain karena itu wajib? Maksud saya alasan logisnya," tanya Zarra. Semua mata tertuju padanya. Umi Fatma tersenyum, begitu pula Asyifa yang duduk di samping Umi Fatma.
"Pertanyaan yang bagus. Saya jawab dulu ya? Adek seorang perempuan 'kan?," tanya Umi Fatma. Zarra mengangguk. "Adek suka tidak, jika digoda atau dilecehkan oleh orang lain?," tanya Umi Fatma lagi. Zarra menggeleng cepat. "Itulah mengapa hijab diwajibkan. Kita ini perempuan, diberi anugerah keindahan oleh Allah. Kita ini makhluk yang istimewa. Oleh karena itu, perlu dijaga. Kalau sesuatu yang istiemwa sudah dinikmati banyak orang, apakah ia akan tetap istimewa? Tentu saja tidak! Permata yang mahal akan diletakkan dalam kotak yang tebal dan dilindungi dengan baik. Begitulah kita ibarat sebagai wanita," jelas Umi Fatma lagi. Zarra pun mengangguk-angguk tanda mengerti. Umi Fatma tersenyum pada Zarra.
"Dan ingat, ketika kita lalai akan kewajiban ini, yang akan menerima sanksi di akhirat bukan hanya diri kita sendiri, tetapi juga orang tua terutama ayah dan suami kita. Karena kita sebagai perempuan adalah tanggung jawab dari laki-laki, baik ayah maupun suami. Mereka punya kewajiban menuntun kita di jalan Allah," kata Umi Fatma lagi.
DEGG
Rasanya jantung Zarra seolah berhenti. Ia teringat kembali betapa ayahnya selalu mengingatkannya untuk memakai hijab ketika keluar rumah. Dulu, semasa ayahnya masih tinggal serumah dengannya, ia menjadi anak yang rajin. Namun, begitu ayahnya ditugaskan keluar pulau, ia seakan mendapat angin segar. Ia seakan mendapat kebebasan berpakaian. Meskipun Zarra bukan tergolong cewek yang suka berpakaian seksi, tetapi ia sudah tak pernah lagi berhijab. Padahal mamanya berhijab.
"Ada pertanyaan lagi?," tanya Umi Fatma. Suaranya membuyarkan lamunan Zarra. Karena tidak ada pertanyaan, Umi Fatma menutup pengajian hari ini dengan salam. Jama'ah pun bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Sebagian masih ada yang mengobrol. Zarra mencari-cari Asyifa. Matanya tak menemukan Asyifa di dalam masjid. Zarra pun keluar masjid. Ternyata Asyifa sedang berbincang dengan beberapa muslimah lainnya.
__ADS_1
Zarra ingin mendekati Asyifa. Tetapi ia ragu, akan mengganggu perbincangan mereka atau tidak. Alhasil, ia terdiam di depan pintu masjid sembari melihat Asyifa. Salah satu teman Asyifa yang melihatnya, memberitahu Asyifa. Asyifa menoleh. Dia pun berjalan mendekat ke arah Zarra.
"Ra, ayo sini! Aku kenalkan sama teman-temanku," ajak Asyifa menarik tangan Zarra. Zarra menahan tangan Asyifa.
"Fa, kamu selesaikan aja dulu. Aku tunggu disini. Enggak enak sama mereka," jawab Zarra. Ia merasa tak enak hati.
"Zarra, enggak apa-apa. Semakin banyak teman, kamu akan semakin termotivasi. Tenang, mereka enggak nggigit kok!," ujar Asyifa bercanda. Zarra tak kuasa lagi menolak ajakan Asyifa.
"Temen-temen, kenalin. Ini Zarra, sahabat kita yang baru. Zarra ini satu kampus lho sama kita cuma beda jurusan. Dia dari jurusan fisip," kata Asyifa. Teman-teman Asyifa pun dengan antusias bergantian berkenalan dengan Zarra. Ternyata mereka juga satu kampus, dan sekelas dengan Zarra. Hanya ada satu yang beda jurusan. Walaupun berbeda jurusan, mereka sering berkumpul. Tidak melulu membahas agama, mereka juga membahas banyak hal khas gadis-gadis seumuran mereka.
Zarra pun terlarut dalam pembicaraan mereka. Mereka sangat ramah. Tidak berkomentar apapun tentang Zarra. Bahkan ketika Asyifa mengatakan Zarra sedang belajar agama dan hijrah, mereka justru menyemangati Zarra.
"Zarra, semangat ya? Tetap istiqomah. Kalau perlu apa-apa cari kita-kita aja. Insha Allah, kita akan bantu kamu sebisa kami," kata Amira, salah satu diantara mereka. Zarra mengangguk senang. Sekali lagi, ia baru menyadari mendapatkan teman itu semudah ini. Ia begitu bahagia dengan apa yang sudah ia dapatkan hari ini.
❤️❤️❤️
"Kamu cantik pakai hijab," terdengar suara lembut Asyifa. Zarra terkejut. Ia tidak tahu kalau Asyifa sudah duduk di sebelahnya. Zarra tersenyum lemah kepada Asyifa.
"Kamu nggak apa-apa, Ra?," tanya Asyifa melihat raut wajah Zarra yang sepertinya sedih. Zarra menggeleng. Tapi Asyifa tak percaya begitu saja. "Kamu mau cerita?," tanya Asyifa lagi dengan menyentuh bahu Zarra. Zarra menatap Asyifa sejenak, kemudian membetulkan duduknya.
"Fa, kenapa kamu berhijab dan bahkan bercadar kayak gini? Bukannya tadi Umi bilang kalau hijab wajib dan cadar sunnah?," tanya Zarra. Asyifa tertawa kecil mendengar pertanyaan Zarra. Asyifa dapat memahami kegundahan hati Zarra. Diam-diam dalam hatinya ia berdo'a agar Allah benar-benar memantapkan hati sahabatnya itu untuk segera berhijab dan bisa istiqomah.
"Ra, alasan aku berhijab jelas kan? Satu karena aku takut sama Allah. Kedua, aku enggak mau orang tuaku menanggung dosaku terlalu banyak. Kalau soal cadar, itu adalah keinginanku sendiri. Sunnah itu mendatangkan pahala, Ra kalau kita kerjakan," jawab Asyifa. Zarra mengangguk mengerti.
"Dan sudah seharusnya perempuan itu punya rasa malu. Sesuatu yang sudah dinikmati banyak orang, akan hilang keistimewaannya. Jadi, aku memang hanya ingin orang tuaku dan suamiku saja yang melihatku," imbuh Asyifa lagi. Matanya menerawang jauh dan berbinar. Zarra pun terdiam. Hening untuk beberapa saat.
__ADS_1
"Fa, kamu udah punya calon suami?," tanya Zarra tiba-tiba. Asyifa tersentak dan sedetik kemudian tertawa kecil.
"Kamu ini, Ra! Kuliah aja belum kelar sudah mikir calon suami. Aku maunya S2 dulu nanti. Kalau soal jodoh biar Allah saja yang atur," jawab Asyifa.
"Ya siapa tahu aja kamu ada yang disukain gitu?," jawab Zarra setengah menggoda Asyifa.
"Nggak, Ra. Dalam Islam kan nggak boleh pacaran. Yang ada ta'aruf, khitbah dan nikah deh," jawab Asyifa. Zarra terdiam. Dalam hati, ia membenarkan pernyataan Asyifa barusan. "Kenapa? Kamu berharap dikhitbah sama Malik ya?," goda Asyifa kemudian. Mata Zarra membelalak tanda dia marah. Tetapi ia tak benar-benar marah.
"Apaan sih, Fa? Tahu ah! Aku pulang aja!," kata Zarra sambil beranjak dari tempat duduknya. Asyifa tertawa melihat tingkah laku Zarra yang seperti anak kecil.
"Ya Allah cepet amat ngambeknya! Ya udah, hati-hati ya?," pesan Asyifa. Zarra mengacungkan jempolnya.
"Assalamu'alaikum," ucapnya sebelum pergi.
"Wa'alaikumsalam," jawab Asyifa. Ia termangu melihat kepergian sahabatnya itu. Dalam hati ia terus mendoakan agar Zarra tetap istiqomah.
❤️❤️❤️
Zarra menatap dirinya di cermin. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia masih belum tertidur. Pikirannya melayang ke topik pengajian tadi siang dan kata-kata Asyifa. 'Perempuan harus punya malu. Sesuatu yang sudah dinikmati banyak orang, akan hilang keistimewaannya,' kata Asyifa itu terus terngiang di telinganya. Malu? Ia mencoba mengingat kembali kapan terakhir ia menggunakan baju yang terbuka. Sepertinya masih sebulan lalu, sebelum putus dari Malik dan ketemu Asyifa, di acara pertunangan sepupunya. Ia masih ingat, ia menjadi pusat perhatian karena gaun yang ia kenakan. Tanpa lengan dengan bagian punggung terbuka. Ia juga masih ingat beberapa pasang mata yang menatapnya iri, sebagian lagi menggoda. Ah, kenapa baru sekarang terasa malunya, batin Zarra.
Lalu, ia teringat perkataan Umi Fatma bahwa hijab bukan untuk ikut tren atau agar tampil modis. Hijab adalah penutup aurat dan wajib hukumnya. Jika ia tak menutup auratnya, ia tak sanggup membayangkan siksa neraka yang ditanggung ayahnya. Ia pun terisak lirih. Sembari menatap dirinya di cermin dengan hijabnya, ia berbisik, "Ya Allah, aku ingin hijrah. Kuatkan aku dan yakinkan hatiku, Ya Allah". Ia mengusap wajahnya dan mengucapkan aamiin.
Sepertinya sebelah hatinya mengatakan, 'kalau kamu tidak sanggup dengan panasnya dunia, bagaimana kamu sanggup dengan panasnya neraka?'. Zarra semakin terdiam. Iya membenarkan pikiran itu. Rasanya seperti pernah mendengar kata-kata itu. Ia pun segera membereskan hijabnya dan naik ke tempat tidurnya. Ia tak ingin besok terlambat bangun untuk sholat subuh. "Bismillah," bisiknya pelan menguatkan niatnya esok hari.
❤️❤️❤️
__ADS_1