Temani Aku Berhijrah

Temani Aku Berhijrah
SAHABAT SAMPAI JANNAH


__ADS_3

Matahari pagi ini nampaknya sudah lelah terus berada di peraduannya. Hari masih pagi, tetapi sinar mentari sudah menerangi kota Surabaya, menyisakan titik-titik air hujan bekas semalam. Zarra mengejapkan matanya. Ia perlahan mengamati dirinya sendiri. Ternyata ia tertidur sehabis sholat subuh tadi. Di tangannya bahkan masih ada tasbih untuknya berdzikir.


Perlahan Zarra bangun dari sajadahnya dan melepas mukenanya. Ia merapikannya kembali dan menaruhnya di kursi. Ia membuka korden kamarnya dan membuka jendelanya. Brrrr...dia kedinginan. Ia lupa ac di kamarnya masih menyala. Ia segera mematikannya. Ia rapikan kamarnya. Saat merapikan buku-buku yang berserakan di meja, ia terpaku pada sebuah foto berpigura yang ia pajang di meja belajarnya. Diambilnya foto itu. Itu foto Zarra, Kinar dan Malik saat liburan ke Singapura. Tampak Kinar dan Malik dengan bahagianya memeluk Zarra.


Zarra menghela napas panjang. Ia ingat betapa bahagianya mereka saat itu. Tampak Kinar di foto itu belum mengenakan hijab. Rambut panjang keritingnya terurai. Kemudian, ia memutuskan untuk menyimpan foto itu ke dalam lacinya dan melanjutkan bersih-bersih. Dalam hatinya, meskipun sakit, ia tetap berusaha mendo'akan yang terbaik bagi mereka berdua.


"Semoga kalian bahagia," bisiknya sembari menerawang keluar jendela. Ia menghela napas pendek. "It's time to move on, Zarra," ucapnya pada diri sendiri. Ia pun memasukkan foto itu ke laci mejanya.


Hari ini hari minggu, jadi Zarra tidak ada kegiatan di kampus. Ia sudah merencanakan setelah bersih-bersih kamar, ia akan mencoba membuat camilan churros untuk sahabat-sahabatnya, Asyifa dan Amira. Asyifa dan Amira akan datang hari ini untuk berkunjung. Rasanya tak sabar Zarra memberitahu mereka akan ide usahanya itu.


Setelah dirasa cukup bersih dan rapi, Zarra turun menuju dapurnya. Di sana ada Bi Asih yang baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk Zarra.


"Bi, bantuin Zarra masak ya? Temen-temen Zarra mau datang," kata Bi Asih.


"Siap, Neng," sambut Bi Asih senang. Sambil menggigit roti sarapannya, ia meminta tolong agar Bi Asih menyiapkan bahan. Sedangkan ia mengupas bawang dan beberapa bumbu lainnya. Rencananya hari ini Zarra akan masak ayam bumbu woku dan sayur terancam yang segar. Menurut Zarra akan nikmat jika ayam woku yang aromatic dan pedas itu dimakan dengan sayur terancam yang segar. Tak lupa ia membuatkan sambalnya. Begitu masakan utama selesai, Bi Asih yang menyiapkannya di meja makan. Sedangkan Zarra melanjutkan membuat churros. Selesai mengaduk adonannya, ia memperlihatkan caranya menggoreng churros kepada Bi Asih.


"Bi, ini gorengin ya. Kayak gini caranya," kata Zarra sambil menunjukkan cara menggoreng churros. "Nah nanti kalau sudah selesai, langsung taruh di piring panjang itu dan taburi sama gula halus dan bubuk kayu manis itu ya, Bi? Jangan banyak-banyak kayu manisnya," pinta Zarra.


"Baik, Neng," jawab Bi Asih.


"Saya mau mandi dulu, Bi. Bentar lagi mereka datang. Bibi jangan lupa ambil churrosnya juga buat Bibi nyemil," kata Zarra sambil berlalu. Bi Asih tersenyum melihat perubahan dalam diri Zarra sekarang. Zarra menjadi gadis yang dulu ia kenal. Zarra yang rajin dan care dengan siapapun, termasuk pembantunya. Dari dulu memang Zarra terlihat bakat memasaknya. Waktu baru masuk SMA dia sering sekali membuat kue, sampai-sampai mamanya harus membagikan kue-kue itu ke tetangga mereka. Jika ingat itu, Bi Asih tertawa.


Zarra kembali dengan penampilan yang berbeda dari tadi. Kini ia menggunakan tunik panjang semata kaki dengan dalamannya legging wudhu favoritnya. Ia juga sudah menggunakan khimarnya. Beberapa hari lalu, ia belanja cukup banyak gamis, tunik panjang, legging wudhu, kaos kaki dan hijab syar'i. Yang menarik baginya adalah french khimar. Khimar yang langsung ada cadarnya. Cadar itu bisa dinaikturunkan. Jadi, ketika ia tak ingin menggunakan cadarnya, ia tinggal melepasnya. Ia membeli untuk dirinya sendiri 3 warna, untuk Asyifa dan Amira serta untuk mamanya. Seperti sekarang ia memakai khimar warna milonya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum". Terdengar suara salam dari luar


"Wa'alaikumsalam," jawab Zarra dan Bi Asih hampir bersamaan. Zarra mengenal suara itu. Asyifa dan Amira sudah ada di depan pintu. Zarra mempersilahkan mereka masuk. Mereka pun duduk di ruang keluarga Zarra. Bi Asih menghidangkan churros yang telah dibuat Zarra tadi.


"Mau minum apa?," tanya Zarra.


"Apa aja," jawab Amira. Zarra kemudian meminta tolong pada Bi Asih untuk membuatkan es cappucino untuk mereka bertiga. Di rumah Zarra selalu menyediakan cappucino instan untuk minumannya.


"Makasih, Bi," kata Zarra ketika Bi Asih mengantarkan minuman kepada mereka.


"Eh, ayo dicicipi churrosnya. Aku buat sendiri lho tadi," kata Zarra. Amira dan Asyifa takjub mendengar itu. Mereka mengambil satu dan mencobanya.


"Masya Allah, Ra. Kamu pinter masak ya ternyata," puji Amira. Zarra tersipu malu.


"Sudah, sudah! Jangan muji terus! Nanti aku malah tambah ge er. Kalian suka aja sudah alhamdulillah aku," jawab Zarra. Asyifa dan Amira tertawa melihat Zarra seperti itu.


"Aku mau minta pendapat kalian, nih. Aku rencananya buka usaha yang sesuai sama hobiku, masak. Tapi, aku bingung mau usaha apa. Catering, cemilan atau makanan beku ya?," tanya Zarra kemudian. Amira dan Asyifa nampak saling berpandangan.


"Menurutku sih, buat cemilan, kue-kue gitu aja Ra. Satu, karena simple, begitu ada pesanan kamu bisa jalanin sendiri dan nggak ribet. Tetapi untuk catering, kamu tetap promosikan, siapa tahu ada. Sedangkan makanan beku bisa juga sih," usul Amira. Zarra terdiam mendengarnya. Usul Amira justru membuatnya bingung.


"Kalau menurutku tiga-tiganya bisa kamu jalanin. Sementara kamu tetap jualan cemilan yang nggak ribet buatnya. Catering itu kan musiman, enggak setiap hari ada. Di waktu-waktu luang kamu bisa buat makanan beku, selain memudahkan buat kamu masaknya saat ada pesanan, kamu bisa jual juga," usul Asyifa. Zarra manggut-manggut. Usul Asyifa tampaknya lebih jelas arahnya.


"By the way, kuliah kamu bagaimana, Neng?," tanya Amira. Ia tidak mau Zarra terlalu fokus usaha, malah lupa dengan kuliahnya. Padahal tinggal sedikit lagi.

__ADS_1


"Selasa besok, keluar surat penelitianku," jawab Zarra. Amira ternganga. Padahal seminggu yang lalu, Zarra bilang belum ada ide apapun. "Ini berkat kalian semua, sahabatku. Alhamdulillah setelah kukejar seminggu ini, langsung acc. Makasih ya kalian berdua," sambung Zarra kemudian.


"Kita kan enggak ngelakuin apa-apa, Ra," kta Asyifa.


"Siapa bilang? Kalian yang getol ngingetin kuliahku, kalian juga menenangkanku saat aku down soal Malik dan Kinar. Kalian juga yang membimbingku sampai seperti ini. Kalau nggak ada kalian, entah jadi apa aku ini," kata Zarra. Ada air mata di sudut matanya. Amira bahkan sudah meleleh.


"Ngapain sih kamu naruh bawang di churrosnya," seru Amira memecah kesunyian diantara mereka. Zarra dan Asyifa tertawa. Kemudian mereka berpelukan sejenak.


"Oiya, aku ada sesuatu buat kalian," kata Zarra. Ia memberikan french khimar kepada Amira dan Asyifa. Asyifa sangat menyukai warna pink, Zarra memberinya warna dusty pink. Sedangkan untuk Amira, ia berikan warna biru pastel yang lembut sesuai warna favoritnya.


"Masya Allah, Zarra. Makasih banyak, Ra," kata Amira. Asyifa menyentuh tangan Zarra.


"Ra, kami bersahabat dengan kamu tulus, Ra. Kami bahagia bisa membantu dalam proses hijrahmu. Dan kami, insha Allah akan terus mendukung kamu dalam kebaikan. Karena sahabat sampai jannah akan saling mengingatkan dalam kebaikan," kata Asyifa. Zarra mengangguk senyum.


"Aahhh, kalian so sweet!," seru Amira kemudian memeluk mereka berdua. Mereka tertawa lepas.


"Kalian makan di sini ya? Aku udah masakin buat kalian," kata Zarra. Amira mengangguk senang. Ia pun beranjak dan menyiapkan piring bagi teman-temannya itu. Zarra bahagia. Rasa sakitnya pelan-pelan memudar. Ia bersyukur bisa bersahabat dengan Asyifa dan Amira. 'Alhamdulillah, Ya Allah. Makasih sudah Kau kirimkan sahabat sebaik mereka. Ssmoga persahabatan kami sampai jannah. Aamiiiin,' ucap Zarra dalam hati sambil memandangi kedua sahabatnya itu. Kemudian ia tersenyum. Senyum yang sempat hilang itu kembali. Dalam hati ia berjanji untuk menjaga persahabatan ini. Sampai jannah.


 


❤️❤️❤️


 

__ADS_1


__ADS_2