Temani Aku Berhijrah

Temani Aku Berhijrah
PENYESALAN YANG BERBEDA


__ADS_3

Hujan tiba-tiba mengguyur kota Surabaya sore ini. Tidak terlalu deras tapi cukup untuk membuat basah jika nekat menerobosnya. Sore yang dingin itu sedingin hati Kinar dan Malik. Di kamar mereka, Kinar sedang duduk bersandar di tempat tidur mereka. Kondisinya masih lemah pasca operasi pengangkatan rahim karena keguguran. Sedangkan Malik diam berdiri di samping jendela kaca kamarnya menatap hujan dengan sendu. Sesekali dilihatnya ponsel yang sedang ia pegang.


Matanya nanar memandang keluar jendela kamarnya. Hatinya gusar karena tak ada balasan dari Zarra. Sudah hampir 4 jam yang lalu ia mengirimkan pesan whatsapp. Tetapi hanya centang biru tanda telah dibaca dari Zarra. Tak ada balasan bahkan satu emoticon atau satu huruf sekalipun. Hatinya terasa sakit, secepat itu Zarra move on darinya. Ia tahu ia salah. Tapi Zarra akan selalu memaafkannya. Apalagi Kinar adalah sahabatnya. Iya, itu adalah pemikirannya sebelum mengambil semua keputusan ini.


Sekarang, ada sedikit rasa sesal yang menelusup di hatinya. Zarra tak mau kembali padanya. Tak ada lagi impian hidup bersama dengannya. Ia menoleh dan menatap Kinar sayu. Diam-diam, wanita itu juga telah mencuri perhatiannya sejak ia memutuskan hijrah. Ia ingat ketika kedua orang tuanya mempertemukan mereka berdua untuk dijodohkan. Ada rasa tak nyaman, kikuk dan rasa bersalah terhadap Zarra. Demi keinginan ibunya, Malik pun menikahi Kinar. Dibandingkan rasa bersalahnya pada Zarra, ia justru lebih merasa bersalah terhadap Kinar.


Awalnya ketika Kinar memintanya untuk menikahi Zarra juga untuk menebus rasa bersalah mereka, ia tak setuju. Karena baginya tak akan sanggup berlaku adil jika istri keduanya adalah Zarra. Namun, kini mereka dihadapkan pada satu kenyataan bahwa Kinar tak bisa memberikannya keturunan. Sedangkan keluarganya mengharapkan keturunan darinya. Ia tak tahu bagaimana akan memberitahu keluarganya, terutama ibunya. Kinar meminta agar Malik menemui Zarra dan menceritakan kondisi mereka. Tetapi, Zarra masih tetap tak mau kembali ke sisinya. Hatinya benar-benar kacau saat ini.


"Malik," panggil Kinar lembut. Suaranya terdengar masih lemah. Malik menoleh dan tersenyum kepada Kinar. Kinar memberi isyarat agar Malik mendekat, dengan menepuk kasurnya. Malik berjalan mendekat dan duduk di sisi Kinar. Kinar menatap suaminya itu dengan senyuman lemah. Wajahnya masih sedikit pucat. Malik tersenyum sedih.


"Maaf ya?," kata Kinar lirih. Air matanya perlahan mengalir di pipinya. Malik menggeleng. Ia memegang tangan Kinar.


"Enggak. Aku yang harusnya minta maaf. Aku yang menempatkanmu di posisi ini. Aku yang membuatmu jadi seperti ini," kata Malik. Air matanya jatuh.


"Zarra masih keukeuh ya?," tanya Kinar lagi. Malik diam tertunduk. Kinar sudah tahu jawabannya dengan melihat ekspresi Malik. "Dia masih marah ya? Dia pasti nggak maafin kita ya? Aku emang pantas dapat karma begini. Mungkin ini bisa jadi penggugur dosaku," lanjut Kinar.


"Zarra sudah maafin kita, Ki. Tapi untuk kembali bersama kita pasti nggak mudah baginya," jawab Malik. Kemudian, ia menceritakan pertemuannya dengan Zarra beberapa waktu yang lalu. Kinar sedikit terkejut ketika mendengar ternyata Zarra telah menjalani ta'aruf. Biasanya, Zarra akan cerita padanya. Tetapi sejak pengakuannya itu, Zarra memang tak pernah lagi menghubunginya. Bahkan pada saat acara bazar tahunan kemarin pun sepertinya Zarra memang sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang. Ia melihat bagaimana sahabat-sahabat Zarra membantunya. Ia juga sangat menyesal tak bisa menemani sahabatnya itu dalam prosesnya. Harusnya sebagai sahabat, ia ada untuk Zarra. Tetapi justru meninggalkan Zarra yang kebingungan mencari arah saat itu.


"Kita kasih tahu Mama aja, Ki. Aku nggak melihat ada jalan selain ini. Lagipula benar kata Zarra, harusnya aku menemanimu. Bukan mengejar bintang yang sudah menjauh dari kita," kata Malik. Kinar mengernyitkan dahinya.


"Malik, tapi Mama belum sehat benar. Nanti malah terbebani. Mengejar Zarra itu permintaanku bukan keinginanmu" sergah Kinar. Malik tersenyum haru. Bahkan di saat seperti ini pun Kinar masih memikirkan Mamanya.


"Nggak apa-apa, Ki. Lebih baik jujur sekarang. Kamu juga harus memikirkan kebahagiaanmu sendiri. Aku menerima kamu apa adanya. Masalah anak, kita bisa angkat anak. Mereka jauh lebih membutuhkan kasih sayang kita, dibandingkan aku harus menduakan kamu," kata Malik. Matanya menunjukkan ketulusan. Kinar tersenyum haru. Ia menangis dan memeluk Malik. Malik memeluknya juga.


"Kok pada tetangisan, sih?," suara seorang perempuan mengagetkan keduanya. Mereka menoleh. Ada Mama Malik di sana. Malik berjalan mendekat ke mamanya.


"Mama, ada yang mau kita omongin," kata Malik. Malik menutup pintu kamarnya. Akhirnya mereka pun berbicara dan menceritakan semuanya. Mama Malik hanya mendengarkan saja. Begitu mereka selesai bercerita dan mengutarakan maksud mereka, Mama Malik beranjak perlahan dan berjalan keluar kamar. Kinar dan Malik hanya bisa berpandangan. Kinar terlihat sedih, namun Malik menenangkannya dengan memeluknya. Mereka melepas beban mereka bersama dengan hujan deras sore ini.


 

__ADS_1


❤️❤️❤️


 


Di sisi lain kota Surabaya, hujan telah reda. Menyisakan rintik dan genangan air di beberapa tempat. Zarra baru saja menyelesaikan sholat asharnya. Masih menggunakan mukena, ia berdiri di dekat jendela kamarnya. Ia melihat hujan yang turun rintik-rintik membasahi dedaunan di sekitar rumahnya.


Setiap hujan turun, banyak kenangan yang bangkit di memori Zarra. Kenangan masa kecilnya, kenangan bersama Malik juga. Ada rasa penyesalan di dalam hatinya yang belum bisa ia ungkapkan sampai saat ini. Bahkan ia belum berani mengatakan kepada siapapun. Ia menyesal harus berbohong pada Malik soal ta'aruf, khitbah dan pernikahannya. Mungkin benar pepatah yang mengatakan bahwa omongan adalah do'a. Dan sekarang terbukti ia telah memiliki calon suami. Tepat beberapa hari setelah mengucapkan kebohongan itu pada Malik.


Zarra sempat berfikir bahwa Allah memang tidak menghendaki ia berbohong, maka dikabulkanlah omongannya itu. Tetapi di sisi lain, Zarra tak ingin Fahri berfikir kalau ia memanfaatkan Fahri untuk membuktikan pada Malik kebenaran kata-katanya tempo hari. Jauh di lubuk hatinya, ia tertarik pada Fahri karena kebaikan Fahri. Cara Fahri memperlakukan perempuan di rumahnya, itulah yang membuatnya menerima khitbah dari Fahri.


Mungkin nanti, setelah mereka menikah, ia ingin jujur kepada Fahri. Soal Malik, ia menyesal tak bersimpati pada Kinar. Tetapi bukan maksudnya seperti itu. Ia hanya ingin Malik mencintai Kinar apa adanya. Ia ingin Malik mengerti bahwa setiap keputusan ada konsekuensinya.


Setiap penyesalan selalu datang terakhir. Ia menyesal karena baru mengenal agama yang sudah dianutnya dari lahir itu. Namun, ia bersyukur bisa belajar dan berhijrah sebelum Allah menidurkannya untuk selamanya. Ia bersyukur dipertemukan dengan Asyifa dan keluarganya. Tiba-tiba ia merasa rindu pada sahabatnya itu. Selama masa menunggu hari pernikahan, Zarra memang dipingit orang tuanya. Kemana-mana diantar papanya. Ia belum boleh ke rumah Asyifa karena Fahri sekarang ada di sana. Di tengah-tengah rindunya, tiba-tiba ponselnya berdering.


- Asyifa -


Apa kabar ukhti yang baru di khitbah ini?


kita kangen kamu


Zarra tersenyum membaca pesan Asyifa itu. Seperti ada ikatan batin saja dia, batin Zarra senang. Ia pun mengetik membalas pesan Asyifa.


- **Zarra -


Wa'alaikumsalam, Fa


Alhamdulillah aku baik. Tau aja aku kangen kalian.


- Asyifa -

__ADS_1


Oiya, gimana sidangnya tadi?


- Zarra -


Alhamdulillah lancar. Sukses. Ini revisi sedikit aja, tapi udah dilulusin.


- Asyifa -


Alhamdulillah


Kita wisuda bareng, nih?


- Zarra -


Iya.


Makasih ya, Fa. Makasih sudah nemenin aku sampai saat ini


- Asyifa -


Udah, jangan bikin kita nangis. Sholat dulu sana! Aku mau ngaji. Kamu juga jangan lupa ngaji**


Zarra tersenyum membaca chat sahabatnya itu. Ia tahu Asyifa akan menyeka air matanya di sana. Membayangkan itu ia tertawa kecil. Ia pun segera melepas mukenanya dan merapikannya kembali. Ia mau membantu mama dan Bi Asih menyiapkan makan malam.


 


❤️❤️❤️


 

__ADS_1


__ADS_2