
Matahari telah bersinar terang pagi ini. Jam baru saja menunjukkan pukul delapan pagi. Namun, Kampus Nusantara telah penuh dengan mahasiswa dan orang tua masing-masing. Hari yang ditunggu-tunggu mahasiswa tingkat akhir telah tiba. Wisuda. Hari ini mereka semua akan dinyatakan lulus di hadapan kedua orang tua mereka. Terlihat wajah-wajah sumringah mereka memasuki aula Kampus Nusantara.
Zarra sedari tadi menggandeng tangan Mamanya. Papa Zarra berjalan di samping Mamanya. Ia dengan bangga berjalan beriringan menuju aula. Begitu sampai di aula, Zarra mengantarkan kedua orang tuanya duduk di tempat duduk khusus orang tua. Setelah itu menuju kursinya sendiri di deretan mahasiswa depan. Setelah mengambil tempat duduk, matanya berkeliling mencari keberadaan Asyifa dan Amira. Tak susah menemukan keduanya. Asyifa melambai kepada Zarra. Ia dengan cadar hitamnya duduk di bangku pojok bersama dengan beberapa mahasiswa dari jurusannya. Begitu pula Amira.
Acara pun dimulai dengan sambutan dari Rektor Kampus Nusantara. Kemudian dilanjutkan sambutan dekan fakultas yang diwakilkan pada dekan fakultas sastra. Dan momen yang ditunggu-tunggu telah tiba, yaitu mahasiswa dipanggil satu per satu ke depan.
"Asyifa Alfathunissa," tampak MC memanggil nama Asyifa. Asyifa tampak berjalan maju ke depan.
"Amira Fatimah Khana," nama Amira adalah penutup mahasiswa dari Sastra Inggris. Kemudian dilanjutkan dengan jurusan Fisip. Sampai di nama Zarra yang dipanggil.
"Zarra Tsabita Khairunnida," saat MC membacakan namanya, Zarra beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ke depan. Ia begitu grogi berjalan maju ke depan. Seperti mimpi baginya bisa wisuda hari ini, karena last minute sekali ia mengejar untuk selesai skripsinya. Tepuk tangan riuh menyertai langkah Zarra saat turun dari panggung. Ia melihat ke arah orang tuanya. Ayahnya mengacungkan jempolnya. Ia menunjukkan tanda kelulusannya kepada ayahnya. Atahnha mengangguk.
Begitu acara selesai, mereka melakukan foto bersama per jurusan. Kemudian foto bersama keluarga. Saat Zarra berbincang dengan kedua orang tuanya, Asyifa dan Amira serta keluarga mereka berjalan mendekati Zarra.
"Assalamu'alaikum," sapa Asyifa.
"Wa'alaikumsalam," jawab Zarra. Ia kemudian memeluk Asyifa dan Amira. "Selamat ya?," ucapnya.
"Sama-sama. Selamat juga akhirnya di khitbah Bang Fahri," bisik Asyifa setengah menggoda. Zarra tertawa kecil dan melirik ke arah Fahri. Fahri ternyata juga sedang melihatnya. Ia pun salah tingkah.
"Selamat ya, Kakak ipar," ucap Amira. Zarra memeluknya.
"Sama-sama, Adik ipar," balas Zarra. Semua tertawa melihat kedekatan mereka. Kemudian Fahri mendekat mengulurkan buket bunga mawar merah. Zarra benar-benar terkejut dengan hadiah itu. Zarra menerimanya tanpa menyentuh tangan Fahri. Fahri tersenyum melihat binar bahagia di wajah calon istrinya itu.
"Makasih, Kak," ucap Zarra tersipu.
"Selamat ya, Ra," ucap Fahri. Zarra mengangguk malu. Fahri pun mundur karena Humaira ingin mengucapkan selamat kepada Tante Donatnya. Dengan tetap digendong Husna, Humaira mencium pipi Zarra.
"Selamat Tante Donat udah lulus,"ucapnya menggemaskan.
"Makasih, Humaira sayang," jawab Zarra sembari mencium pipi chubby anak itu. Husna juga memeluk Zarra dan mengucapkan selamat atas kelulusannya. Zarra mengucapkan terima kasih kepada Husna.
__ADS_1
"Oh iya, kalian sudah cek baju dan undangan?," tanya Amira kepada Zarra. Zarra baru ingat belum sempat ke percetakan untuk melihat undangan. Ia menepuk jidatnya.
"Udah, gapapa, Ra. Undangannya kemarin aku udah cek, besok sudah bisa kita ambil dan bagikan," ujar Fahri. Zarra tersenyum lega.
"Makasih, Kak. Maaf ya Zarra sampai lupa ke percetakan kemarin. Abis cek baju Zarra pulang," ucap Zarra. Fahri mengangguk senyum. Begitulah Fahri, selalu bisa diandalkan. Hari semakin sore dan mereka pun sepakat untuk berpisah untuk hari ini. Besok Asyifa akan menemani Zarra membagikan undangan ke teman-teman mereka. Hari ini pun berakhir dengan kebahagiaan masing-masing.
❤️❤️❤️
Keesokan harinya Zarra dan Asyifa bersiap menyebar undangan pernikahan Zarra dan Fahri, ketika Mama Zarra memanggil mereka.
"Ingat ya, jangan pulang sore-sore. Ati-ati di jalan," kata Mama Zarra. Papa Zarra sudah kembali ke Banjarmasin sejak semalam. Dan akan datang lagi minggu depan saat akad nikah Zarra. Zarra dan Asyifa mengiyakan pesan Mama Zarra. Mereka berangkat pukul sebelas siang.
Undangan Zarra dan Fahri memang tak terlalu banyak. Hanya teman dan kerabat. Zarra hanya mengundang teman sekelasnya. Malik? Tentu saja dia undang sesuai dengan permintaan Malik tempo hari. Ia tahu Malik masih aktif di kampus, sedangkan Kinar tengah mengambil cuti. Makanya ia memutuskan untuk membagikan undangan di kampus karena hari ini juga pengambilan ijazah dan nilai.
"Assalamu'alaikum," sapa Zarra. Agil dan Gilang menoleh.
"Wa'alaikumsalam, Ra," jawab mereka serempak. Zarra mengeluarkan setumpuk undangan dan memberikannya kepada Gilang. Gilang yang menerimanya tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Begitu juga teman-teman yang lain.
"Wah, nikah kamu, Ra? Hebat! Abis wisuda langsung nikah," seru Agil.
"Alhamdulillah, Gil," jawab Zarra.
"Fahri? Ini nama calon suami lo? Gue kira lo bakalan nikah sama Malik," celetuk April. April memang terkenal ceplas ceplos orangnya. Gilang yang kebetulan duduk di samping April, langsung menyikut lengan April. April kesakitan tapi ia kemudian menutup mulutnya.
"Gapapa, Gilang," sahut Zarra dengan senyum manisnya. April mencibir ke arah Gilang begitu mendapat pembelaan dari Zarra.
"Biarin, Ra! Biar nggak kebiasaan mulutnya anak ini. Perempuan tapi mulutnya comel banget," gerutu Gilang. April lagi-lagi mencibirnya. Zarra dan Asyifa tertawa melihat tingkah laku teman-teman mereka.
__ADS_1
Sedang asyik-asyiknya bercanda, mata April menangkap sosok lelaki yang baru saja mereka bicarakan. Malik. Ia berjalan mendekat ke arah mereka. Spontan April dan Gilang berhenti tertawa dan memberitahu Zarra bahwa Malik sudah datang. Zarra menoleh. Ia melihat Malik berjalan mendekatinya.
"Ada apa, Ra?," tanya Malik begitu sampai di hadapan Zarra. Zarra menghela napas panjang. Malik selalu lupa mengucap salam saat bertemu dengannya.
"Assalamu'alaikum, Lik," ucap Zarra. Malik menghela napas menyadari kesalahannya lagi.
"Wa'alaikumsalam," jawab Malik cepat. Ia menatap Zarra dengan gusar. "Aku nggak ada waktu banyak. Bisa dipercepat?," tanya Malik lagi. Dingin, begitu kesan yang ditangkap Zarra.
"Tenang, Malik. Aku cuma mau menepati janjiku," jawab Zarra menyodorkan undangan pernikahannya. Malik ragu-ragu menerimanya. Ia membacanya. Undangan pernikahan, Fahri dan Zarra, bacanya dalam hati. Kemudian ia tertawa. Zarra mengernyitkan dahinya. Entah apa yang Malik tertawakan, Zarra tak mau ambil pusing. Ia berbalik hendak kembali ke teman-temannya bersama Asyifa.
"Tunggu, Ra!," cegah Malik. Zarra terdiam, tanpa menoleh ke arah Malik. Asyifa terdiam melihat pemandangan itu. Ia tegang melihat drama yang terjadi antara Zarra dan Malik. "Bisa kita bicara sebentar?," tanya Malik. Zarra berbalik dan tertawa sinis.
"Bukannya waktumu nggak banyak?," Zarra balik bertanya. Malik menghela napas.
"Sorry to say that," ucap Malik kemudian. See? sekarang siapa yang nggak punya waktu. Zarra mengajak Asyifa untuk mengikuti Malik duduk di ujung kantin.
"Nggak bisakah kita ngomong empat mata?," tanya Malik begitu melihat Asyifa mengikuti mereka. Jujur, saat itu Asyifa tersinggung. Tapi kata-kata Zarra membuatnya sedikit lebih tenang. Zarra menggenggam tangan Asyifa.
"Maaf, kamu bukan mahramku. Aku nggak mau ada fitnah diantara kita," jawab Zarra. Malik kembali menghela napas. Mau tak mau ia harus mengatakan di depan Asyifa. Ia melihat undangan itu sekali lagi. Memainkannya. Membukanya dan membacanya sekilas.
"Akhirnya kamu menikah ya, Ra? Dan ini jadi undangan perpisahan kita. Padahal dulu, kamu sering banget lihat design kartu undangan yang ingin kamu isi dengan nama kita," kata Malik lebih mirip menggumam. Ia tersenyum memandang undangan itu. Zarra menghela napas panjang.
"Yah, setidaknya aku masih memberitahu perpisahan kita secara jujur dan terang-terangan," jawab Zarra setengah menyindir. Malik tersenyum sendu. Ia menatap Zarra. Begitu banyak perubahan pada wanita yang dulu setia menemaninya itu. Ia melihat Zarra lebih cantik walaupun dengan make up yang tipis. Ia menyesal mengingat apa yang dilakukannya pada wanita ini. Wanita yang bermimpi hanya bersanding dengannya, tetapi ia tinggalkan karena alasan yang sebenarnya sepele. Jika saja saat itu ia bisa dan berani jujur pada ibunya tentang Zarra, dan jika saja pada saat itu ia bukan hanya menyuruh, tetapi juga menemani Zarra hijrah, mungkin saat ini namanya yang bersanding dengan Zarra di kartu undangan itu.
"Nggak perlu menyesali apa yang sudah terjadi. Lebih baik kamu dan Kinar fokus pada masa depan kalian. Kamu fokus pada Kinar. Sayangi dia apa adanya. Walaupun gimana, dia istri yang kamu pilih. Belajarlah komitmen. Kinar lagi butuh kamu banget. Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi dan maaf aku belum bisa menemui Kinar. Kalau kamu mau datang ke acaraku, ajaklah Kinar juga," kata Zarra seolah paham apa yang sedang dipikirkan mantan kekasihnya itu. Malik tersenyum mengangguk.
"Makasih, Ra. Aku minta maaf soal tempo hari. Kinar sampai saat ini masih merasa bersalah sama kamu. Kemarin kami juga sudah ngomong sama mamaku. Yah, beliau masih belum terima, tapi itu resiko kami. Insya Allah, aku dan Kinar akan datang di acara kalian. Selamat ya, Ra," kata Malik dengan senyuman tulus. Zarra mengangguk senyum juga. Tiba-tiba di hatinya ada rasa tak tega mendengar cerita Malik. Tetapi mereka juga harus belajar komitmen. Karena pernikahan harus dilandasi komitmen yang kuat. Kemudian Zarra pun pamit bersama Asyifa. Malik menatap kepergian Zarra dengan termangu.
"*Makasih, Ra, sudah mengajari apa artinya setia, komitmen dan kehilangan. Aku pernah jatuh cinta sedalam-dalamnya padamu. Bahkan rasa itu masih ada sampai sekarang. Kamu pernah mengisi hari-hariku dengan kasih sayang dan kesetiaan. Tapi sayangnya, Allah menghendaki kita berpisah. Mungkin benar inilah yang terbaik. Terbaik untuk kita. Aku pernah menyakitimu, tapi aku bahagia kamu bisa bangkit dari itu semua. Sekarang, aku benar-benar kehilanganmu. Kamu sudah menemukan bahagiamu meski tak bersamaku. Semoga Allah melimpahkan berkahnya kepadamu dan menjagamu selalu. Selamat tinggal mantan terindahku".
- Malik Ibrahim* -
__ADS_1