Temani Aku Berhijrah

Temani Aku Berhijrah
HADIAH DAN UJIAN


__ADS_3

Sebulan sudah berlalu. Suasana Cairo ternyata membuat Zarra betah di sana. Apalagi ada Umi dan Abi yang sering datang ke apartemen. Fahri juga sering pulang membawa buku-buku tentang Islam. Sebenarnya untuk sarana belajarnya, tetapi Zarra sangat tertarik membacanya. Seperti hari ini ia merengek agar Fahri membawa pulang buku lagi.


"Pinjemin ya, Yang?," pinta Zarra dengan manja. Fahri yang sedang siap-siap berangkat, hanya tersenyum melihat istrinya manja. Ia berbalik dan melihat wajah sok imut Zarra. Ia tertawa kecil. Zarra benar-benar menggemaskan baginya.


"Insha Allah ya, Sayang," jawab Fahri. Fahri mengerutkan keningnya melihat Zarra yang nampak tidak sehat. "Kamu nggak apa-apa, Yang?," tanya Fahri. Ia memegang kening Zarra. Hangat yang tidak seperti biasanya.


"Aku nggak apa-apa, Yang. Kayaknya masuk angin. Kemarin kita pulang belanja itu kepalaku pusing," jawab Zarra. Fahri menggelengkan kepalanya.


"Semalam kamu diem aja, Yang? Langsung tidur malah! Tahu kamu gini kan aku pijitin dulu. Apa aku temenin di rumah aja sekarang?," tanya Fahri. Zarra yang sedang di dapur itu menggeleng cepat.


"Udah, kamu kuliah aja. Kamu juga lagi siapkan tesis kan? Nggak apa-apa. Umi sama Abi bentar lagi dateng bawain aku nasi briyani katanya," jawab Zarra. Fahri menghela napas mengalah dengan Zarra.


"Ya sudah, aku berangkat dulu. Kamu jangan terlalu capek ya?," pesan Fahri sembari mengangkat tasnya. Zarra mengangguk senyum. Kemudian, ia mencium tangan suaminya itu dan Fahri juga mengecup keningnya.


Sepeninggal Fahri, Zarra menggosokkan minyak kayu putih ke pelipis dan perutnya. Mencium tangan yang terbalut minyak itu sambil menggosok tangannya. Beberapa hari ini, Zarra kerap merasakan dingin di tangan dan kakinya. Angin malam Kairo juga lebih dingin dibandingkan angin malam Jakarta.


Tak berapa lama, Umi dan Abi datang ke apartemennya. Mereka membawa nasi briyani lengkap dengan daging kambing khas mesir. Ketika membuka nasi itu, perut Zarra berubah menjadi sangat keroncongan. Bau nasi briyani dan bumbu daging itu membuatnya benar-benar lapar.


"Ra, pelan-pelan makannya," Umi mengingatkannya. Abi dan Umi saling berpandangan dengan senyum. "Kata Fahri kamu lagi nggak enak badan," kata Umi lagi.


"Cuma masuk angin kayaknya, Umi. Kemarin kita agak malam pulangnya dari belanja," jawab Zarra. Seusai makan, Zarra membereskan piring di dapur. Umi membantunya. Entah kenapa kepala Zarra bertambah pusing. Perutnya mulai bergejolak. Kakinya lemas. Dan ia tak ingat apapun lagi.


Ketika ia membuka matanya, ia tengah berada di ruangan serba putih. Ada infus yang tergantung di sampingnya. Kepalanya masih pusing dan perutnya sakit. Ia tidak melihat Umi atau Abi. Ia ingat tadi ia pingsan di apartemennya. Sekarang ia bisa menebak ia ada dimana.


"Zarra, sudah sadar? Abiii, Zarra sudah sadar," Umi memanggil Abi. Keduanya mendekat ke ranjang Zarra. "Gimana keadaan kamu, Nak?," tanya Umi begitu berada di samping Zarra. Zarra hanya mencoba tersenyum.


"Zarra kenapa, Mi?," Zarra balik bertanya dengan suara yang lemah.


"Kami masih belum tahu. Fahri sedang bersama dokter yang memeriksamu tadi," jawab Umi. Ternyata Fahri datang juga. Ah, Zarra merasa tak enak hati. Seharusnya ia bisa menjaga kesehatannya agar Fahri bisa konsentrasi untuk kuliah.


"Zarra? Alhamdulillah sudah sadar," seru Fahri. Ia masuk mendekati ranjang Zarra. Zarra tersenyum melihat Fahri. Entah kenapa ia begitu ingin terus bersama Fahri.


"Gimana, Nak? Zarra nggak apa-apa kan?," tanya Abi khawatir. Fahri tersenyum ke arah mereka. Matanya bergantian memandang Zarra, Umi dan Abi dengan binar kebahagiaan, membuat mereka semakin bingung.


"Alhamdulillah, Zarra nggak kenapa-napa, Mi, Bi. Zarra hamil, Mi, Bi. Kandungannya sudah 4 minggu. Tapi, Zarra harus menjaga kondisinya karena kandungannya agak lemah dan posisi janin berada di bawah," jawab Fahri terharu. Abi dan Umi pun mengucapkan Alhamdulillah bersamaan. Zarra mengucapkan alhamdulillah lirih.


"Selamat ya, Nak. Jaga kesehatan dan kondisi kamu," kata Umi mengecup kening Zarra. Zarra mengangguk senyum. Tangannya masih tak lepas dari tangan Fahri. Umi dan Abi pamit hendak pulang. Sedangkan Zarra harus tinggal sampai kondisinya sedikit lebih baik. Fahri terus berada di sampingnya.


"Kamu kuat ya, Nak," bisik Fahri di perut Zarra. Zarra tersenyum. Hatinya kembali dilanda keraguan. Apakah anak ini akan bertahan? Apalagi kata dokter kandungannya lemah dan berada di bawah, tidak di puncak rahim.

__ADS_1


"Kamu nggak boleh beraktivitas terlalu berat, Yang. Apa perut kamu sakit?," tanya Fahri. Zarra mengangguk dan berbisik, "sedikit. Tapi nggak apa-apa". Fahri menghela napas panjang. Sebenarnya ia menyembunyikan satu hal yang dikatakan dokter padanya. Kandungan Zarra mungkin rawan dengan keguguran mengingat posisinya berada di rahim bawah. Tetapi melihat dokter akan memantau perkembangan janinnya selama 2 minggu ke depan.


"Maaf ya, Yang? Kamu harus melewatkan kuliah hari ini karena aku," kata Zarra lirih. Fahri menghela napas dan tersenyum.


"Jangan meminta maaf untuk hal kecil seperti ini. Lagipula bukan salahmu, Yang. Ini tanggung jawabku," jawab Fahri. Zarra tersenyum. Sangat beruntung ia memiliki suami seperti Fahri. Ia berdo'a agar Allah menjaga kandungannya, buah hatinya bersama Fahri.


 


❤️❤️❤️


 


Adzan isya baru selesai dikumandangkan. Zarra dan Fahri juga telah menyelesaikan sholatnya. Zarra telah diperbolehkan pulang sekitar pukul 5 sore tadi. Mereka sepakat untuk tidak memberitahu keluarga mereka dahulu. Apalagi kondisi Zarra sedang lemah akibat ngidamnya. Mereka tak ingin keluarga di Indonesia khawatir.


Zarra sholat dari atas tempat tidur dengan posisi duduk. Ia melepas mukenanya dibantu oleh Fahri. Pusing di kepalanya sudah sedikit berkurang. Namun, kondisi badannya masih lemah. Ia tersenyum ketika Fahri melipatkan mukenanya dan mengambilkan makanan untuknya. Melihat nasi briyani yang dibawakan Fahri, selera makan Zarra tiba-tiba naik begitu saja.


"Sekarang kita makan dulu ya?," kata Fahri. Zarra mengangguk senang. Mereka pun berdo'a sebelum memulai suapan pertama kali. Disuapi Fahri dengan penuh kasih sayang, membuat Zarra ingin makan lagi. Di tengah makan malam mereka tiba-tiba ponsel Zarra berbunyi.


TRIIINNGG...


Tanda sebuah chat masuk ke dalam ponselnya. Zarra melihat ponselnya. Sebuah nomor baru mengirimkan chat padanya dalam bahasa Indonesia. Ia merasa aneh karena ada yang mengetahui nomor whatsappnya. Padahal ia tak memiliki teman. Selain Fahri, hanya Umi dan Abi yang tahu nomor whatsappnya.


"Yang, kamu ada ngasih nomor whatsapp aku ke temenmu?," tanya Zarra. Fahri mengernyitkan dahi mencoba mengingat. Kemudian ia mengangguk.


- +20 88890875 -


Assalamu'alaikum Zarra


Ini Meisya. Gimana keadaan kamu?


Zarra menghela napas lega. Itu Meisya. Mungkin ia mendapatkan nomornya dari Moza atau Raina. Zarra pun membalas pesan Meisya selagi Fahri sedang membuatkan teh hangat di dapur.


- **Zarra -


Wa'alaikumsalam, Meisya.


Alhamdulillah aku baik


- Meisya -

__ADS_1


Katanya kamu masuk rumah sakit.


Are you okay**?


Zarra sejenak berpikir. Siapa yang memberitahu Meisya kalau ia masuk rumah sakit?, batinnya. Sedangkan kampus putra dan putri terpisah dan berjauhan. Tidak mungkin mereka bertemu di kampus dan mengobrol. Fahri memberitahu Meisya?


- **Zarra -


Tahu darimana Mei?


- Meisya -


Firhan. Dia tadi kasi tahu aku kalo Fahri langsung ke rs. Kita tadinya mau ketemu tapi nggak jadi karena Fahri mau lihat kamu**


Zarra kembali menghela napas panjang. Jadi, mereka sudah janjian untuk ketemuan, batin Zarra. Tetapi menyebut nama Firhan, artinya mereka tidak bertemu berdua saja. Ia hanya mengedikkan bahunya. Ini bukan suatu hal yang harus dicurigai. Mereka berteman. Mungkin saja ada diskusi untuk tesis Fahri. Ia memilih membalas chat Meisya.


- *Zarra -


Gapapa kok Mey. I'm fine, thanks*


- Meisya -


Okay. I'm happy to hear that. Besok aku mampir ke apartemen ya


- Zarra -


Boleh**


Mereka pun mengakhiri chat mereka dengan saling mengucap salam. Tepat saat Fahri masuk membawakan air hangat dan obat Zarra. Fahri sempat melihat Zarra seperti berpikir saat mengetik di ponselnya, dan itu membuatnya penasaran. Belum sempat ia bertanya, tiba-tiba Zarra memeluknya. Sedikit terkejut sampai air yang dipegangnya tumpah sedikit. Namun, Zarra tak mempedulikannya. Ia memeluk Fahri erat.


"Yang, aku kangen kamu," kata Zarra sambil mencium bahu Fahri. Aroma wangi musk parfum Fahri begitu segar di hidungnya. Fahri hanya mengernyitkan dahinya. Ia merasa hanya berpisah dengan Zarra beberapa jam saja.


"Kita itu nggak ketemu cuma sejam lebih sedikit. Seharian aku sama kamu, Yang," jawab Fahri. Zarra melepaskan pelukannya. Ia memandang Fahri. Entah kenapa ia suka sekali berlama-lama menatap Fahri.


"Nggak tahu eh, Yang. Kok aku pengen deket-deket kamu terus," jawab Zarra. Ia sendiri juga bingung dengan perubahan sikapnya. Fahri terkekeh. Mungkin ini yang namanya ngidam. "Kok ketawa sih?," protes Zarra.


"Nggak apa-apa. Kayaknya kamu ngidam deh. Baguslah ngidamnya deket-deket sama aku," ujar Fahri. Zarra hanya mengangguk-angguk. Ia juga berpikir kalau beberapa hari ini dia memang sedikit lebih malas, cepat lelah dan ingin makan nasi briyani saja. Jadi ini namanya ngidam, batin Zarra geli. Ia tersenyum sendiri.


"Udah, kamu minum obat dulu," kata Fahri. Zarra meminum obatnya. Dokter memberikan vitamin, penambah darah dan penguat kandungan. Setelah Zarra meminum obat, Fahri memegang tangan Zarra. Ia ingin menyampaikan apa yang disampaikan dokter padanya. Ia berharap Zarra akan berhati-hati dan menjaga kondisinya.

__ADS_1


"Ra, Kakak harap kamu dengerin Kakak. Tadi dokter bilang kandungan kamu rawan keguguran," kata Fahri lembut. Zarra terdiam sendu. "Kakak ngerti perasaan kamu, Sayang. Tapi Kakak harap kamu nggak boleh suudzon sama Allah. Kalau Allah sudah percayakan, insya Allah bayi ini akan tumbuh. Percaya dan berdo'a saja sama Allah. Dan jangan lupa jaga kondisi kamu," lanjut Fahri. Lembut namun tegas. Begitulah Fahri setiap memberi nasehat kepada Zarra. Zarra mengangguk pelan dan tersenyum menyembunyikan gundah hatinya.


Seperti yang Fahri katakan, ia tak boleh suudzon. Harus senantiasa berpikir positif dan optimis. Ia juga harus menjaga kondisinya. Ia berjanji akan menjaga kandungannya dengan baik. Ia juga memohon yang terbaik kepada Allah. Ini hadiah sekaligus ujian bagi mereka


__ADS_2