
Zarra telah diizinkan pulang oleh dokter. Meskipun begitu, ia harus tetap kontrol dan menjaga kondisinya. Ia pulang ke apartemennya bersama Fahri. Di apartemen sudah menunggu Abi dan Umi. Mereka menyambut Zarra dengan bahagia. Zarra masih berjalan perlahan karena masih pusing.
"Nah, khusus hari ini, Umi bawakan nasi kebuli khusus buat calon cucu Umi," kata Umi sembari menghidangkan nasi kebuli lengkap. Melihat nasi kebuli lengkap dengan dagingnya membuat perut Zarra keroncongan. Baunya yang lezat membuat Zarra tak sabar untuk menikmatinya. Baru saja tangannya menyendok nasi di depannya, tangannya dicegah oleh Fahri.
"Bismillah dulu," ucap Fahri lembut. Zarra tersenyum dan mengangguk. Setelah berdo'a, Zarra menyuapkan sesuap nasi kebuli dan sepotong daging. Rasanya begitu lezat di lidahnya. Di tengah kebahagiaan mereka, tiba-tiba bel apartemen mereka berbunyi. Semua saling pandang. Akhirnya Fahri berinisiatif membuka pintu.
"Assalamu'alaikum," sapa seorang wanita setengah baya. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki yang umurnya kurang lebih sama. Fahri tertegun melihat kedua orang tau Meisya ada di hadapannya.
"Wa'alaikumsalam, Ma, Pa," jawab Fahri masih dengan wajah terkejutnya.
"Kamu pasti kaget dengan kedatangan kami. Meisya memberitahu alamat kamu," kata Mama Meisya. Fahri terdiam.
"Silahkan masuk, Ma, Pa," kata Fahri. Keduanya pun masuk dan duduk di sofa tamu. Umi, Abi dan Zarra berdiri menyambut mereka. Umi dan Abi duduk di kursi sebelah Fahri. Sedangkan Zarra duduk dekat Fahri. Fahri menggenggam tangannya erat. Melihat itu, kedua orang tua Meisya tahu itu adalah Zarra. Mama Meisya memperhatikan Zarra dari kepala hingga kaki.
"Kami di sini mau menyampaikan permohonan maaf atas apa yang dilakukan Meisya. Kami nggak tahu kalau dia ke Kairo bertujuan untuk mengejarmu, Fahri. Ia tidak tahu kalau kamu menikah. Dan memang kejadian dengan Meira juga belum setahun berlalu. Kami lalai nggak memperhatikan kondisi psikis Meisya sebelum memberinya izin berangkat," ungkap Papa Meisya. Fahri hanya bisa mengangguk dan menghela napas panjang. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Maafin Meisya, Fahri. Dia hanya terpukul dengan kehilangan Meira serta kabar kamu menikah. Dia itu terlanjur jatuh cinta sama kamu. Bisakah...," belum sempat Mama Meisya melanjutkan perkataannya, Papa Meisya memegang tangan istrinya itu dan menggeleng. Mama Meisya akhirnya terdiam.
__ADS_1
"Maaf, Ma. Dulu, cinta saya memang untuk Meira. Sampai saat ini pun Meira masih dalam ingatan saya. Namun, saya sudah menemukan pendamping yang saya pilih menemani sampai akhir hayat saya," jawab Fahri sopan. Ia menegaskan perkataannya dengan menggenggam tangan Zarra penuh kasih sayang. Papa Meisya mengangguk mengerti. Mama Meisya menghela napas panjang dan akhirnya tersenyum.
"Baiklah, Fahri. Kami sekali lagi mohon maaf atas perbuatan Meisya. Hari ini kami membawa Meisya pulang ke Indonesia. Ini ada surat yang dititipkan Meisya untuk kamu," kata Mama Meisya. Ia menyerahkan surat itu kepada Fahri. Fahri dan Zarra saling berpandangan. Zarra mengangguk senyum. Kemudian kedua orang tua Meisya memutuskan pamit karena harus segera ke bandara.
Sepeninggal mereka, Fahri dan Zarra membuka surat Meisya. Surat itu hanya satu lembar, tulisannya rapi.
Dear Fahri
Assalamu'alaikum
Hari ini aku kembali ke Indonesia. Aku tidak menemuimu karena Papa dan Mamaku melarangku. Katanya kamu lagi sibuk. Tapi aku tahu mereka tak ingin aku membuat keributan lagi. Maafkan aku, Fahri. Aku sudah jatuh cinta padamu. Maafkan cintaku yang buta, yang membuatmu dan Meira berpisah. Aku hanya ingin menebus kesalahanku pada Meira dengan menjadikanmu bagian dari keluarga kami. Tapi, semua itu tidak mungkin ya? Karena aku yang tak sadar diri dengan kekurangan sendiri.
Terima kasih Fahri sudah menerimaku walaupun hanya sebagai teman dan sementara. Do'akan jalan hijrahku. Terima kasih. Sampai jumpa. Semoga Allah merahmati kamu dan keluarga kecilmu
Wassalamu'alaikum
Fahri menghela napas panjang membaca surat itu. Zarra mengusap punggung Fahri dengan lembut. Mereka saling berpandangan dan tersenyum. Dalam hati mereka bersyukur bisa melalui masalah ini dengan baik. Semua karena kuasa Allah. Kemudian, Fahri mengecup kening Zarra dengan penuh kasih sayang. Ia berharap semua akan berjalan baik-baik saja. Insya Allah, batinnya.
__ADS_1
...❤️❤️❤️...
Zarra sedang membaca sebuah buku tentang tafsir hadist yang dibawa Fahri sambil bersandar di tempat tidurnya. Fahri yang menyaksikan itu hanya geleng-geleng kepala. Ia pun mengambil buku itu dengan lembut.
"Saatnya istirahat, Sayang. Minum obat dulu ya?," kata Fahri sambil meletakkan buku itu di meja. Zarra tersenyum melihat tingkah suaminya yang benar-benar perhatian itu. Ia meminum obat yang disodorkan Fahri. Ia memegang tangan Fahri.
"Yang, kalau aku mengizinkanmu menikahi Meisya, apakah kamu akan menikahinya?," tanya Zarra dengan menatap mata Fahri lekat. Fahri sedikit terkejut dengan pertanyaan Zarra tersebut. Kini, ia berbalik yang memegang tangan Zarra.
"Ra, poligami itu bukan soal keikhlasan hati seorang istri. Tetapi juga kesiapan hati seorang laki-laki untuk bisa adil berbagi. Poligami tujuannya baik, Ra, menyambung tali silaturahmi. Jika sang suami tidak bisa adil, dan istri tidak ridho', bukankah silaturahmi itu rusak? Jika silaturahmi rusak, hidup juga nggak tenang. Tanpa izinmu pun, kalau aku mau, aku bisa menikah lagi. Tapi perkara itu bisa jadi haram karena tidak ada uzurnya. Artinya, menikah lagi atau poligami harus didasari alasan yang kuat," jelas Fahri. Zarra mengangguk mengerti dengan penjelasan suaminya itu. Tetapi, itu tak menjawab pertanyaannya. Ia sudah membuka mulutnya hendak bertanya lagi, tapi Fahri seperti sudah tahu apa yang akan diucapkan istrinya itu, maka ia melanjutkan kata-katanya.
"Aku bukan siapa-siapa, Ra. Aku belum sanggup berbuat adil. Aku cuma Fahri, manusia biasa yang bisa membahagiakan istrinya," kata Fahri. Zarra menatapnya dalam.
"Apa suatu saat jika Kakak sudah merasa sanggup adil, Kakak akan nikah lagi? Ada kemungkinan poligami?," tanya Zarra lagi. Fahri tersenyum lembut dan menggeleng.
"Bagiku cukup satu istri. Aku sudah berjanji padamu dan pada diriku sendiri untuk membangun rumah tangga denganmu, membahagiakanmu, menemanimu berhijrah di jalan Allah. Bagiku, kamu, Zarra, sudah cukup satu bagiku," jawab Fahri lembut. Zarra menitikkan air matanya. Ia terharu, setulus itu Fahri padanya.
__ADS_1
"Iya, Kak. Aku bersyukur bertemu Kakak. Bersyukur Allah kirim Kakak jadi pendampingku. Tetap di sisiku. Jangan di depanku atau di belakangku. Kita hijrah bersama. Tuntun aku," kata Zarra kemudian. Fahri mengangguk senyum. Ia memeluk Zarra dengan penuh kasih sayang. Malam itu keduanya sama-sama mensyukuri apa yang telah terjadi. Dalam hati masing-masing berjanji untuk tetap istiqomah menjalani kehidupan berdua di jalan Allah. Memohon tuntunan Allah agar rumah tangga mereka sakinah, mawaddah dan wa rahmah.
❤️❤️❤️