Temani Aku Berhijrah

Temani Aku Berhijrah
PERNIKAHAN dan KOMITMEN


__ADS_3

Hari telah berganti. Tak terasa hari penting yang ditunggu Zarra dan Fahri telah tiba. Bertempat di masjid Nurul Iman, Surabaya, akad nikah akan dilangsungkan pagi ini. Zarra sangat berdebar-debar menunggu waktu akad. Ia duduk di belakang ayahnya bersama Mama, Asyifa, Amira dan Husna. Tangannya terus menggenggam erat tangan mamanya.


"Sabar. Tenang. Berdo'a," kata Mama Zarra menenangkan anaknya. Mereka masih menunggu penghulu yang akan menikahkan mereka. Papa Zarra mendekati anak gadisnya itu. Tiba-tiba ia memeluk anak semata wayangnya itu. Zarra merasakan sesak penuh haru di dadanya. Sebentar lagi ia akan menjadi istri Fahri. Air matanya mulai menetes. Papa Zarra melepas pelukannya. Ia menyeka air mata anaknya itu. Dipandanginya Zarra dalam-dalam. Gadis kecil yang dulu suka ia timang-timang, sekarang sudah sebesar ini. Dan kini ia akan menikah. Hatinya berat melepas putrinya menikah. Tetapi ia tak boleh egois. Menikah adalah sunnah Rasul yang harus dijalankan setiap umat Islam.


"Assalamu'alaikum," sebuah suara memecah suasana haru diantara mereka.


"Wa'alaikumsalam," jawab semua yang hadir di sana. Mereka menoleh ke arah sumber suara. Ternyata penghulu sudah datang. Asyifa menyodorkan tisu kepada Zarra. Zarra mengambilnya satu dan mengucapkan terima kasih pada Asyifa. Mereka pun bersiap untuk memulai acara akad nikah. Zarra tetap duduk di belakang papanya selama akad nikah. Ia mengenakan kebaya putih dengan kerudung senada. Wajahnya hanya dipoles dengan make up flawless. Semua terlihat sederhana.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Fahri Akhtar Rahman bin Zainal Rahman dengan anakku, Zarra Tsabita Khairunnida bin Zaky Bahar dengan mas kawin seperangkat alat sholat, uang tunai sebesar satu juta dan cincin sebesar 4 gram dibayar tunai," ucap Papa Zarra dengan menjabat tangan Fahri.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Zarra Tsabita Khairunnida bin Zaky Bahar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," jawab Fahri mantap. Ia mengucapkan ijab qabulnya dengan satu kali tarikan napas. Lancar. Dan ketika semua saksi serta penghulu mengatakan sah, maka mereka pun mengucap alhamdulillah bersama. Mereka mempersilahkan Zarra dan Fahri berhadapan satu sama lain. Fahri menyerahkan mas kawinnya satu per satu dan terakhir memakaikan cincin di jari manis Zarra. Zarra mencium tangan Fahri dan Fahri mencium keningnya. Kemudian mereka mencium tangan Papa dan Mama Zarra. Kemudian mencium tangan Abah, Umi Fatma dan Ibu Fahri. Asyifa, Amira dan Husna bergantian memeluk Zarra. Terakhir mereka diberikan sedikit wejangan oleh Pak Penghulu.


"Pernikahan ini bukan hanya perihal cinta, tetapi juga komitmen untuk hidup bersama sampai akhir hayat kalian. Pernikahan juga ibadah, ibadah yang paling lama dalam hidup manusia. Jadi, apapun yang kalian lakukan nanti, niatkan semuanya karena Allah semata, insya Allah ketika suami istri mendekat kepada Allah rumah tangganya sakinah, mawwadah, warahhmah," kata penghulu itu mengakhiri nasehatnya. Kemudian acara ditutup dengan do'a bersama. Setelah semuanya selesai, mereka pun menuju hotel untuk persiapan resepsi nanti malam.


 


❤️❤️❤️


 


Sesampainya di hotel, mereka diantarkan ke kamar masing-masing. Zarra diantarkan ke kamar khusus bagi pengantin. Hari belum terlalu siang saat mereka memasuki kamar hotel.


Zarra sedikit grogi ketika ia ditinggalkan berdua saja dengan Fahri. Meskipun mereka telah sah menjadi suami istri, tetapi baik Zarra maupun Fahri masih sedikit canggung. Zarra mengeluarkan kotak make upnya dan mengeluarkan sebotol micellar water untuk membersihkan make up nya. Sedangkan Fahri berdiri di samping jendela menatap ke arah luar jendela.


Zarra mulai melepas kerudungnya menyisakan dalaman kerudung warna putih menutup rambutnya. Ia menatap Fahri dari cermin meja rias. Kemudian menoleh.

__ADS_1


"Kak," panggilnya setengah ragu. Fahri menoleh dan tersenyum. "Boleh Zarra buka kerudung dan dalaman ini di sini?," tanyanya polos. Fahri tertawa kecil. Kemudian, berjalan mendekati Zarra. Ia berjongkok agar bisa sejajar dengan Zarra. Ia juga memegang tangan Zarra. Jantung Zarra kembali berdegup kencang.


"Boleh, Sayang. Ini kamar kita berdua. Hanya ada aku, suamimu sebagai mahrammu," jawab Fahri lembut. Zarra tersenyum. "Perlu Kakak bantu?," tanya Fahri lagi. Zarra mengangguk. Fahri membantu membuka resleting ciput itu. Kemudian, tergerailah rambut panjang Zarra. Zarra mengambil sisir dan menyisirnya pelan.


"Kak, aku mau ngomong jujur. Soal Malik," kata Zarra menatap Fahri yang kini berdiri di belakangnya. Fahri memegang bahu Zarra dan tersenyum mengangguk agar Zarra nyaman menceritakan apa yang ingin ia katakan. "Kak, aku minta maaf sebelumnya soal insiden di Tunjungan kapan hari itu. Aku menerima khitbah Kak Fahri bukan karena ingin membuktikan kepada Malik. Aku sama Malik emang pernah pacaran dan kita putus, lebih tepatnya aku diputusin dengan alasan hijrah. Itu juga yang jadi alasan awalku hijrah. Tapi begitu aku tahu dia nikah sama sahabatku, aku sudah mengikhlaskan dia, Kak. Aku sudah mengubur dia bersama masa laluku," ungkap Zarra. Ia terdiam dan menatap Fahri.


Fahri terdiam mendengar cerita Zarra. Ia sudah tahu cerita ini dari Asyifa dan Amira. Karena memang Asyifa yang menawarkan untuk mencoba ta'aruf dengan Zarra. Bahkan merancang sebuah rencana untuk mempertemukan dan mengenalkannya kepada gadis yang kini telah menjadi istrinya itu.


Zarra yang melihat Fahri terdiam menatapnya dari cermin, menoleh. Ia kini menengadah menatap ke arah Fahri yang masih berdiri. Ia takut Fahri salah paham soal pernikahan ini. Ia menyentuh tangan Fahri. Fahri terhenyak. Ia pun berjongkok lagi agar bisa sejajar dengan istrinya itu. Zarra menatap Fahri dengan rasa bersalah. Namun, sedetik kemudian Fahri tersenyum dan merapikan rambut Zarra dan menyelipkannya di telinga Zarra. Kemudian, ia memegang kedua tangan Zarra.


"Apakah kamu masih punya perasaan sama Malik?," tanya Fahri. Zarra menggeleng cepat.


"Aku sudah mengikhlaskannya jauh sebelum kita bertemu. Dan sekarang aku ingin bersamamu di jalan Allah," jawab Zarra. Fahri tertawa kecil. Ia gemas sekali melihat wajah Zarra. Kalau sedang begini terlihat imutnya. "Kakak, nggak percaya?," tanya Zarra dengan wajah cemberut karena Fahri tertawa.


"Emang boleh?," tanya Zarra balik dengan polosnya. Ia tidak mengira kalau Fahri bisa seromantis ini. Padahal, ia berpikir bahwa orang setaat Fahri tak akan bisa bercanda apalagi romantis. Ternyata Zarra salah. Fahri benar-benar berbeda. Ia mengerti dengan sikap Zarra yang kadang-kadang bisa sangat manja.


"Sini Kakak peluk," rengkuh Fahri. Fahri memeluknya dan mengecup kepala istrinya itu. Zarra membalas pelukan Fahri seperti anak kecil. Ia tersenyum. Jadi ini rasanya pacaran setelah nikah, batinnya.


"Kak, jangan tinggalin Zarra ya? Kemanapun Kakak pergi, ajak Zarra bersama Kakak. Jangan marah kalau Zarra manja," ucap Zarra dalam pelukan Fahri. Fahri mengangguk. Ia berjanji akan berusaha membahagiakan Zarra.


❤️❤️❤️


Resepsi pernikahan Fahri dan Zarra dimulai dari pukul delapan malam. Tamu undangan sudah mulai berdatangan dari pukul setengah 8. Zarra nampak cantik dengan balutan gaun syar'i warna putih. Fahri dengan setelan jas hitamnya. Mata Fahri tak lepas dari Zarra sepanjang resepsi. Bahkan tangannya terus menggenggam tangan kanan Zarra.


Para undangan mulai naik ke atas untuk berfoto bersama kedua mempelai. Yang pertama naik adalah Agil dan beberapa teman sekelas Zarra. Agil bahkan menyalami tangan Fahri dan berkata, "selamat ya, bro. Jaga baik-baik ukhti kami. Kami akan jadi sahabat buat kalian. Nanti ajak kita-kita ngaji bareng lah, bro". Agil memang selalu sok kenal sok dekat dengan pasangan sahabat-sahabatnya. Fahri melirik ke arah Zarra. Zarra hanya mengangguk dengan tawanya.

__ADS_1


"Siap, bro. Nanti kita info-info lah," jawab Fahri. Agil mengangguk antusias. Ia kini beralih kepada Zarra dan hanya mencakupkan tangan dan berbisik, "suami kamu keren!". Zarra mengacungkan jempolnya. Kemudian di susul Gilang dan April serta teman-teman Zarra lainnya. Seusai foto bersama, Fahri dan Zarra turun untuk menyapa para tamu. Fahri mengenalkan kepada beberapa kerabatnya. Saat mereka sedang mengobrol, mata Zarra menangkap sosok Malik dan Kinar yang baru datang. Mata mereka bertemu. Zarra menyentuh bahu Fahri mencoba memberitahu apa yang dilihatnya. Fahri mengikuti arah pandangan Zarra. Dengan sekali pandang ia mengerti. Fahri pun permisi untuk menyambut tamu mereka.


Malik dan Kinar berjalan mendekat ke arah Fahri dan Zarra. Kinar melingkarkan tangan di lengan Malik. Sedangkan Fahri sedari tadi menggenggam tangan Zarra.


"Assalamu'alaikum," sapa Malik.


"Wa'alaikumsalam," jawab Fahri datar. Mereka saling bertatapan dan tersenyum dengan arti yang berbeda. Fahri tersenyum dengan tulus dan Malik tersenyum pahit melihat kenyataan yang ada di depannya ini. Apalagi melihat cara Fahri menggenggam tangan Zarra dan sebaliknya.


"Selamat ya?," ucap Malik sembari mengulurkan tangan kepada Fahri. Fahri menyambutnya dan mengucapkan terima kasih. "Tolong, jaga sahabat kami dengan baik. Jangan sakiti dia seperti kami menyakitinya," ucap Malik kemudian. Ia melepas tangan Fahri. Kinar pun mengangguk dan tanpa terasa air matanya menggenang di ujung matanya.


"Maafin keegoisan kita, Ra," kata Kinar. Zarra merasa iba melihat Kinar yang sekarang. Badannya sedikit lebih kurus dan matanya jug terlihat sembab. Zarra mengangguk senyum.


"Duduk dulu," kata Zarra mempersilahkan mereka duduk di meja kosong terdekat. Kemudian, mereka menuju meja kosong tersebut. Fahri menarik kursi untuk Zarra dan Malik juga melakukannya untuk Kinar.


"Kalian silahkan nikmatin pestanya. Kami menyambut tamu dulu ya?," ujar Zarra. Ia sebenarnya hanya merasa canggung dan tidak nyaman harus berhadapan dengan Malik dan Kinar. Bukan karena cemburu atau masih memiliki perasaan dengan Malik. Hanya saja ia tak tahu harus bagaimana. Sebelum Zarra beranjak, tangan Fahri mencegahnya untuk pergi. Ia bahkan tak beranjak dari kursinya.


"Mereka juga tamu kita. Wajib bagi kita untuk menyambut mereka juga," bisik Fahri. Zarra menatap Fahri dalam-dalam. Anggukan dari Fahri membuat Zarra yakin untuk stay dan menemani Kinar dan Malik.


"Maafin Malik yang tempo hari minta kamu balikan. Itu atas permintaanku. Aku dan Malik nggak tahu kalau kalian sudah berencana untuk menikah," ungkap Kinar. Zarra tak bisa menjawab apapun. Ia juga tak ingin mengatakan apa yang di dengar Malik saat itu adalah bohong. Baginya itu yang terbaik.


"Nggak apa-apa, Ki. Lupakan aja yang kemarin-kemarin. Fokus sama masa depan kita masing-masing aja. Aku sudah ikhlasin semuanya. Ini jalan terbaik dari Allah untuk kita," jawab Zarra bijak. Fahri menatapnya dengan rasa bangga. Ia tersenyum menatap Zarra. "Dan aku juga sudah memilih masa depanku, Kak Fahri. Do'ain ya?," sambung Zarra lagi. Ia menatap Fahri sejenak dengan penuh rasa sayang. Kemudian kembali menatap Malik dan Kinar.


Malik dan Kinar pun tersenyum melihat kebahagiaan Zarra. Mereka bersyukur sahabat mereka telah menemukan kebahagiaannya. Apapun yang terjadi di masa lalu, biarlah jadi kenangan dan pelajaran. Malam ini pun hati semua orang dipenuhi bahagianya masing-masing.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2