Temani Aku Berhijrah

Temani Aku Berhijrah
KHITBAH


__ADS_3

Waktu sidang skripsi semakin dekat. Ini benar-benar membuat Zarra sibuk. Beruntungnya, di saat-saat seperti ini, Mamanya datang untuk menemaninya. Papanya akan menyusul saat wisuda nanti. Asyifa dan Amira juga ikut membantunya. Seperti hari ini, Zarra sedang membaca kembali presentasinya dibantu Asyifa, ketika Fahri datang berkunjung ke rumah Asyifa.


"Assalamu'alaikum," sapa Fahri.


"Wa'alaikumsalam," jawab Zarra dan Asyifa. "Amira dan Humaira nggak ikut, Kak?," tanya Zarra.


"Enggak. Aku tahu kamu mau belajar di sini, kalau ada mereka, berisik," gurau Fahri. Zarra tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. "Abah mana, Fa?," tanyanya kemudian pada Asyifa.


"Ke dalam aja, Bang! Udah ditunggu Abah sama Umi," jawab Asyifa. Fahri mengangguk dan segera masuk. Zarra memperhatikan Fahri yang berlalu.


"Fa, Kak Fahri itu pinter banget ya sampai dapet beasiswa ke Kairo?," kata Zarra tiba-tiba. Asyifa tersenyum dibalik cadarnya. Ia menyadari bahwa sahabatnya itu tengah tertarik dengan kakak sepupunya itu. Itu tandanya rencananya bersama Amira berhasil.


Sudah jauh-jauh hari, mereka ingin mengenalkan Zarra kepada Fahri. Ini karena Fahri sudah cukup umur untuk berumahtangga. Ibu Fahri meminta tolong Abah untuk mencarikan jodoh untuk Fahri. Dan setelah berunding, mereka sepakat untuk mengenalkan Fahri dengan Zarra. Mulai dari pertemuan di bazar tahunan yang mereka atur, tetapi ternyata justru Allah yang mempertemukan mereka tanpa sengaja. Kemudian pada saat kunjungan ke panti asuhan. Semuanya ternyata berjalan sesuai dengan rencana. Allah Maha Baik.


"By the way, waktu di bazar tahunan kok kalian nggak saling sapa," gumam Zarra lagi. Asyifa tertawa lirih.


"Nggak apa-apa. Karena aku nggak deket banget sama dia. Bang Fahri itu emang pinter banget, Ra. Kuliahnya nggak pernah bayar, dibayarin semuanya. Dia juga baik dan bertanggung jawab. Ya karena dia kehilangan ayahnya pas masuk kuliah. Suami Kak Husna juga meninggal, jadi ia bertanggung jawab kepada semua perempuan di rumahnya. Ia sayang banget sama Humaira dan rela menggantikan sosok ayah bagi gadis kecil itu," jelas Asyifa. Zarra terdiam mendengar cerita Asyifa tentang Fahri. Dalam hatinya muncul rasa penasaran terhadap sosok Fahri. Ia ingin mengenal Fahri lebih dalam lagi. Tapi apa iya Fahri akan mau menikah dengannya yang bahkan baru tahu cara wudhu yang benar ini. Pikirannya terus melayang.


"Nah, ini anaknya masih di sini," suara Abah membuyarkan lamunan mereka. Abah keluar dari rumah diikuti Umi Fatma dan Fahri. Ia mengambil kursi dan duduk di depan Zarra dan Asyifa.


"Nak Zarra, Abah mau tanya sama Zarra. Saat ini Zarra ada yang mengajak ta'aruf atau sedang ta'aruf dengan seseorang?," tanya Abah. Zarra menggeleng.


"Enggak, Bah. Belum ada," jawab Zarra. Abah tersenyum melirik Fahri yang berdiri di samping kursinya.

__ADS_1


"Jadi gini, Abah selaku orang tua Fahri ingin menemui wali kamu atau ayahmu untuk meminang atau meng khitbah Zarra," kata Abah. Zarra ternganga. Antara senang dan terkejut dengan pendengarannya sendiri. Padahal baru saja ia memikirkan bahwa tak mungkin Fahri akan meminangnya, dan kini dalam sekian menit, ia malah dilamar oleh Fahri. Maha Besar Allah dengan kuasanya membolak balikkan hati manusia.


"Jadi kira-kira kapan Abah bisa ketemu sama ayah kamu?," tanya Abah lagi. Zarra terhenyak dari lamunannya.


"Saat ini Papa sedang di Banjarmasin. Beliau akan datang sebelum wisuda. Tapi nanti malam, Zarra akan coba hubungi Papa mengatakan ini semua," jawab Zarra malu-malu. Abah mengangguk-angguk dengan senyum. Matanya beralih pada Fahri yang sedari tadi memasang senyum bahagia.


"Nah, Fahri ada yang ingin disampaikan?," tanya Abah. Fahri mengangguk. Abah mempersilahkan duduk. Fahri akhirnya mengambil kursi dan duduk di samping Abah.


"Zarra, aku mau tanya. Apa kamu benar-benar mau menerima pinanganku?," tanya Fahri. Zarra tersenyum.


"Kak, bagiku tak ada alasan untuk menolak Kak Fahri. Tetapi, boleh Zarra minta sesuatu dari Kak Fahri?," Zarra balik bertanya. Fahri mengangguk. Zarra pun menghela napas panjang. "Kak, Zarra minta Kak Fahri untuk menemani Zarra berhijrah di jalan Allah. Dengan ilmu agama yang Kak Fahri miliki, aku yakin kakak akan jadi imam yang baik. Zarra juga minta, apapun kesalahan Zarra, dan bagaimanapun kondisi Zarra, jangan pernah tinggalin Zarra. Itu aja, Kak," kata Zarra.


Permintaan Zarra lebih mirip sebuah persyaratan. Syarat yang diajukan Zarra itu berdasarkan kemampuan Fahri. Dengan ilmu agamanya, tentu Fahri akan bisa membimbingnya. Syarat kedua Zarra merupakan bentuk rasa traumanya terhadap hubungannya dengan Malik. Ia terbayang Kinar yang harus kehilangan anak dan kesempatannya untuk memiliki anak. Ia takut Fahri akan meninggalkannya jika kondisinya seperti itu. Namun, Zarra salah. Fahri menyanggupinya.


 


❤️❤️❤️


 


Zarra sampai di rumah sebelum maghrib. Setelah mandi, sholat maghrib, ia pun lanjut mengaji sambil menunggu isya. Mamanya pun memperhatikan Zarra yang sedang mengaji di depannya. Ia melihat gadis manjanya kini telah berubah menjadi gadis mandiri kebanggaannya. Sebentar lagi akan lulus kuliah. Tak terasa 21 tahun berlalu sejak ia melahirkan Zarra. Ia melihat betapa bahagianya keluarga menyambut kelahiran Zarra. Terutama suaminya, Papa Zarra. Setelah melahirkan Zarra, entah kenapa ia tidak bisa hamil lagi. Meskipun dokter menyatakan keduanya sehat. Sehingga, Zarra menjadi putri semata wayang mereka.


"Mama," panggil Zarra lembut. Mama sedikit terhenyak. Ia melihat Zarra telah selesai mengaji.

__ADS_1


"Iya, Nak," jawab Mama Zarra. Zarra terlihat bingung mau memulai kata-katanya darimana. "Kenapa, Sayang? Cerita, dong!," kata Mama Zarra lagi. Zarra menghela napas.


"Ma, maaf sebelumnya. Tadi Abahnya Asyifa ngomong sama Zarra," kata Zarra. Ia tak berani menatap Mamanya.


"Terus?," Mama Zarra menunggu Zarra melanjutkan kata-katanya. Zarra terlihat bingung. Mama Zarra memegang tangan anaknya, mencoba membuat anaknya itu tenang dan yakin untuk menyampaikan maksudnya.


"Abahnya Asyifa mau ketemu Papa. Mereka mau...mau...meng khitbah Zarra," ucap Zarra terbata-bata. Melihat keterkejutan Mamanya, Zarra tertunduk. Tapi sedetik kemudian, Mama Zarra tersenyum. Air matanya meleleh.


"Mama? Mama kok nangis? Maaf, Ma. Tadi Abah bilang kalo Kak Fahri ingin meng khitbah Zarra. Zarra memang baru kenal Kak Fahri sebulan yang lalu, dan ia berasal dari keluarga yang baik di bawah didikan Abah, Ma. Makanya Zarra terima pinangannya Kak Fahri," jelas Zarra. Ia takut menyakiti perasaan Mamanya. Mama Zarra tertawa melihat anaknya mendadak lancar menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Mama Zarra mengusap air matanya masih dengan tawa kecilnya.


"Mama enggak apa-apa, Sayang. Nanti Mama yang akan ngomong sama Papa. Kapan Abah mau datang?," tanya Mama Zarra. Zarra tersenyum.


"Sementara ini, kami ta'aruf sampai selesai wisuda, Ma. Selesai wisuda, kita akan atur jadwal lagi," jawab Zarra. Mama Zarra mengangguk senyum.


"Ya sudah, sudah adzan isya ini. Sholat dulu terus kita makan malam ya?," kata Mama Zarra. Zarra mengangguk senyum.


"Makasih, Ma," ucap Zarra lirih. Mama mengangguk dan mengelus kepala anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Kemudian mereka berdiri dan segera melaksanakan sholat isya' dengan do'a dan harapan yang hampir sama pada Sang Maha Kuasa.


 


❤️❤️❤️


 

__ADS_1


__ADS_2