Temani Aku Berhijrah

Temani Aku Berhijrah
PERUBAHAN


__ADS_3

Hari ini cuaca benar-benar membuat Zarra dongkol. Hujan yang turun kemudian reda, namun tak lama hujan lagi. Zarra benar-benar harus menahan kedongkolannya itu. Rambut panjangnya sedikit basah terkena air hujan saat ia berjalan dari parkiran kampus menuju gedung jurusannya. Baru sampai di depan pintu, hujan sudah berhenti. Benar-benar kesal Zarra dibuatnya.


Ia mengetuk pintu ruangan kelasnya. Tak ada sahutan. Bahkan tak terdengar suara dosen mengajar. Sepi. Zarra mencoba membuka pintunya. Tak ada siapapun. Hanya ada Kinar disana, sendirian. Sebulan tak bersua, tak menghubunginya membuat Zarra merasa kikuk dan salah tingkah melihatnya.


"Zarra?," seru Kinar. Zarra tersenyum.


"Assalamu'alaikum, Ki. Ini kok pada sepi ya?," sapa Zarra. Kinar tersenyum.


"Wa'alaikumsalam. Kamu nggak baca group chat ta? Hari ini Pak Adi keluar kota. Asdosnya lagi ada acara, jadi nggak ada kuliah kita," jawab Kinar. Zarra hanya ber-oh saja dan mengangguk-angguk.


"Ngopi yuk!," ajak Kinar. Zarra mengiyakan. Mereka pun berjalan keluar ruangan. Menuju Cafe Romano, cafe favorit mereka. Cafe terletak di seberang kampus mereka. Jadi, mereka berjalan kaki. Hujan juga sudah reda.


"Kamu pesen apa?," tanya Kinar.


"Seperti biasa," jawab Zarra. Kinar pun memesan cappucino untuk Zarra dan cafe latte untuknya. Setelah waitress itu pergi, Kinar dan Zarra kembali pada perbincangan mereka.


"Enggak kerasa ya, udah sebulan nggak ketemu kamu," ujar Kinar. Zarra hanya mengangguk senyum. "Apa kabar, Ra?," tanya Kinar lagi.


"Yah seperti yang kamu lihat, Ki. Kamu sendiri?," Zarra balik bertanya masih dengan senyumnya.


"Iya, aku baik," jawab Kinar cepat. Kemudian, semuanya menjadi hening hingga waitress mengantarkan pesanan mereka. Zarra meminum kopi pesanannya. Begitupun dengan Kinar.


"Sekarang sudah enggak pake 'lo-gue' lagi?," tanya Kinar setengah menggoda. Zarra pun mengangguk senyum. "*Good job*!," puji Kinar.


"Thanks," hanya itu yang keluar dari mulut Zarra dan seberkas senyuman. Ingin rasanya ia bertanya kemana saja sahabatnya itu. Sudah tak pernah lagi terlihat di kampus. Bahkan, Zarra baru pertama kali melihat Kinar hari ini.


"Kok kamu jarang ke kampus sekarang?," tanya Zarra akhirnya. Kinar menghela napas.

__ADS_1


"Iya nih! Aku mau cuti kuliah satu semester depan," jawab Kinar. Zarra terhenyak. Cuti kuliah di semester akhir? Pasti sesuatu yang mendesak dan penting banget sampai Kinar harus cuti kuliah di semester akhir.


"Ini 'kan udah semester akhir, Ki. Enggak sayang apa, Ki?," ujar Zarra lagi. Kinar hanya mengedikkan bahu. Tiba-tiba terdengar suara ponsel Kinar berbunyi. Kinar melihat siapa yang menelponnya. Kemudian mematikannya. Zarra memicingkan matanya. "Siapa, Ki? Kok nggak diangkat?," tanya Zarra lagi.


"Enggak apa-apa kok, Ra! Biarin aja!," kata Kinar. Zarra merasa curiga dengan Kinar sekarang. Bukan seperti Kinar sahabatnya yang selalu terbuka padanya. Ada hal yang Kinar tutupi. Zarra kemudian menghela napas mencoba menenangkan hatinya. Ternyata sebulan sudah cukup membuat Kinar berubah. Bukan seperti Kinar yang dulu. Tetapi Zarra tak bisa berbuat apa-apa. Itu haknya Kinar.


"By the way, kamu sudah nemu ustadzah belum?," tanya Kinar mengalihkan pembicaraan. Zarra mengangguk senyum. "Alhamdulillah. Tapi kok belum berhijab?," tanya Kinar kemudian. Zarra salah tingkah sendiri.


"Udah aku duga kamu pasti belum siap. Ra, Ra, mau sampai kapan kamu begini? Sampai ditinggal nikah Malik?," ucap Kinar. Zarra terhenyak.


"Malik mau nikah?," tanya Zarra kaget.


"Emm...enggak...maksud aku itu kapan kamu mau nutup auratmu? Kalau kelamaan nunggu, Malik nikah sama orang lain. Cuma bercanda, Ra," jawab Kinar sedikit terbata. Ia mengutuk dirinya sendiri sampai kelepasan membicarakan Malik di depan Zarra. Sedangkan Zarra hanya mengangguk walaupun terbersit rasa curiga akan ucapan Kinar. Suasana menjadi canggung. Tetapi tak bertahan lama.


TRINGG


"Ki, ikut yuk! Bareng temenku di kantin," ajak Zarra. Kinar menatap Zarra. Ia merasa heran. Sejak kapan Zarra memiliki teman selain dirinya. Kemudian, ia menggeleng cepat. Zarra mengernyitkan dahinya.


"Aku ada janji, Ra. Enggak apa-apa, kamu duluan aja," kata Kinar tanpa melihat Zarra. Ia terlihat sedang membalas pesan seseorang. Zarra pun mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya.


"Assalamu'alaikum," kata Zarra mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam," jawab Kinar. Zarra pun akhirnya meninggalkan Kinar sendiri di cafe itu. Ia berjalan setengah berlari menuju kantin. Begitu sampai di kantin matanya berkeliling mencari keberadaan Asyifa dan teman-temannya.


Tak susah menemukan mereka. Mereka berada di pojok kantin. Disana ada Asyifa dan Amira. Mereka tengah asyik membahas sesuatu. Zarra pun berjalan mendekati mereka.


"Assalamu'alaikum," sapa Zarra.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," jawab Asyifa dan Amira bersamaan. Mereka tersenyum melihat Zarra. Begitupun Zarra.


"Asyik banget, nih! Lagi bahas apa?," tanya Zarra mengambil tempat duduk di sebelah Asyifa.


"Ini lagi bahas proposal penelitiannya Amira," jawab Asyifa. Mata Zarra membulat sempurna. Ia takjub melihat Amira sudah hampir menyelesaikan proposal penelitiannya, padahal mereka satu angkatan.


"Kamu sudah, Ra?," tanya Amira. Zarra menggeleng malu.


"Kamu gimana, Fa?," tanya Zarra. Belum sempat Asyifa menjawab, Amira sudah menimpali pertanyaan Zarra.


"Aduh, kalau Syifa sudah selesai, Ra. Dia sudah penelitian malah," sahut Amira. Zarra memandang takjub Asyifa. Dibalik semua kegiatannya yang padat, Asyifa tetap fokus pada kuliahnya.


"Ayo, kamu kapan, Ra? Ingat lho! Sudah semester akhir. Kamu 'kan bisa 'tuh mengajukan proposalnya dari sekarang," kata Asyifa.


"Belum ada ide aku mau penelitian apa," jawab Zarra. Asyifa dan Amira geleng-geleng kepala. Asyifa mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah bingkisan.


"Oiya, ini hadiah dari Umi buat kamu," kata Asyifa menyodorkan bingkisan itu. Tidak besar. Zarra mengernyitkan dahinya. Hari ini bukan ulang tahunnya. Dan memang tidak ada hari spesial.


"Buka, dong!," seru Amira. Tampaknya Amira juga tahu apa yang diberikan Umi Fatma padanya. Zarra mengangguk dan mulai membuka bingkisan itu. Betapa terpukaunya ia ketika melihat isi bingkisan itu. Sebuah baju terusan panjang lengkap dengan hijabnya yang menutup dada. Baju itu berwarna merah maroon dan bermotif bunga-bunga kecil. Satu lagi, warna navy polos dengan hijab warna senada.


"Kata Umi, kamu pasti terlihat manis kalau pakai ini," kata Asyifa. Ia berpandangan dengan Amira. Zarra yang masih terkejut belum dapat memahami maksud dari hadiah ini.


"Dicoba aja dulu, Ra. Nggak perlu malu atau mikirin pendapat orang lain," kata Amira. Zarra mengangguk senyum.


"Makasih ya Syifa, Mira," kata Zarra sembari memeluk keduanya. Tak terasa air matanya meleleh. "Oiya, Fa. Sampaikan terima kasihku sama Umi ya?," pinta Zarra sembari melepas pelukannya.


"Enggak mau. Sampein aja sendiri! Nanti sore datang ke rumah, ada acara di rumah," kata Asyifa. Zarra mengangguk senyum. Ia memeluk Asyifa sekali lagi. Baginya ini sudah cukup tanda dari Allah bahwa ia benar-benar harus menutup auratnya. Dalam hati ia berkata, 'iya, Ya Allah! Aku siap,'.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2