Temani Aku Berhijrah

Temani Aku Berhijrah
BERSYUKUR


__ADS_3

Sudah hampir seminggu berlalu sejak Zarra bertemu Kinar terakhir kalinya. Zarra menatap langit pagi ini sebelum masuk ke dalam mobilnya. Hari ini tak seperti biasanya. Meskipun matahari masih berselimut mendung, tetapi angin yang berhembus terasa berbeda. Angin pagi ini bagi Zarra terasa seperti angin perubahan.


Seminggu yang lalu, setelah pertemuannya dengan Kinar, ia masih menangis. Hatinya terasa sakit. Boleh dibilang ia belum siap menerima kenyataan itu. Tetapi Asyifa dan Amira menyemangatinya. Lagipula ia sudah berjanji untuk ikhlas dengan apapun rencana Allah. Selama dua hari, ia menangis. Setelah itu, ia mulai tak menangis lagi meskipun hatinya masih sakit jika mengingat mereka berdua.


Zarra mencoba mengalihkan dunianya kepada kesibukan barunya. Ia mulai menyusun proposalnya. Sebenarnya ia termasuk siswa berprestasi dulunya. Hanya saja banyak kenyamanan yang ia dapatkan setelah kuliah membuatnya sedikit malas. Kini ia harus memperbaiki itu semua. Proposalnya hampir siap. Hari ini ia juga sudah membuat janji dengan Pak Adi, sebagai dosen pembimbingnya untuk berkonsultasi soal proposalnya.


"Bagus ide penelitian kamu, Zarra. Saya akan acc ini. Untuk teori yang kamu gunakan kamu sudah yakin?," tanya Pak Adi setelah membaca proposalnya.


"Untuk sementara saya yakin, Pak. Kalaupun nanti ada perubahan, saya akan konsultasikan ke Bapak lagi," jawab Zarra yakin. Pak Adi mengangguk senyum.


"Kamu memilih pesantren sebagai lokasi penelitian kamu?," tanya Pak Adi menaikkan alisnya. Zarra mengangguk. "Menurut saya, di pesantren kamu tidak akan banyak mendapatkan objek penelitiannya. Hasilnya tidak akan efektif. Menurut saya, kamu melakukan penelitian di kajian Ustadz Adi. Lebih cocok dan kamu akan menemukan banyak objek penelitian disana. Saya kenal dengan koordinatornya. Sebulan biasanya dua kali Beliau datang ke Surabaya. Nanti saya kasih kalau kamu mau mengubahnya," jelas Pak Adi memberi saran. Spontan Zarra mengangguk cepat, menyetujui saran Pak Adi. 'Alhamdulillah,' bisiknya dalam hati. Kemudian Pak Adi mengirimkan contact person koordinator kajian Ustadz Adi. Tak lupa Zarra mengucapkan terima kasih, sebelum kemudian pamit.


 


❤️❤️❤️


 


"Assalamu'alaikum," sapa Zarra begitu membuka pintu rumahnya. Tak ada sahutan. Ia pun berjalan masuk menuju kamarnya. Ia berhenti di dapur, dan mengambil air dingin. Entah kenapa, begitu sampai di dapur, perutnya keroncongan minta diisi. Ia tahu Bi Asih pasti sedang sholat dzuhur. Terlintas ide untuk membuatkan masakan juga untuk Bi Asih. Ia pun mulai mengeluarkan bahan-bahan makanan dari kulkas.


Semenjak ia memutuskan untuk hijrah, banyak hal yang ia syukuri. Salah satunya adalah ia kembali kepada hobinya, yaitu memasak. Bahkan ia sudah memutuskan untuk memulai usaha makanan rumahan bagi anak kos, pegawai dan siapapun yang tak sempat memasak. Bisa dikatakan bisnis catering dengan harga ramah.


Sambil memasak, Zarra kembali mengingat banyak hal yang terjadi dalam kehidupannya. Dalam sekejap Allah membalik hidupnya. Ia kehilangan Malik, kekasihnya dan Kinar, sahabat satu-satunya. Walaupun hatinya sempat galau luar biasa, tetapi ia bersyukur. Ia bersyukur dengan dikeluarkannya Malik dan Kinar dari hidupnya, Allah menggantinya dengan sahabat baru yang membimbingnya hingga ada di posisi sekarang.

__ADS_1


"Neng, Neng Zarra sudah pulang?," tanya Bi Asih membuyarkan lamunan Zarra. Zarra yang sudah hampir menyelesaikan masakannya itu merapikan dapur. "Aduh, Neng! Kenapa nggak nunggu Bibi? Bisa dipecat deh kalau semua kerjaan Bibi Neng ambil," celoteh Bi Asih begitu melihat Zarra mengambil pekerjaannya.


"Enggak apa-apa, Bi. Sesekali," jawab Zarra. Bi Asih melihat apa yang dimasak oleh Zarra dan mencicipinya sedikit. Zarra menunggu reaksi Bi Asih. Bi Asih mengacungkan jempolnya tanda masakan Zarra enak. Zarra tersenyum bahagia. "Alhamdulillah," ucapnya.


"Ya sudah, Neng sudah sholat dzuhur?," tanya Bi Asih. Zarra mengangguk. Ia tadi sudah sholat di kampusnya seusai bimbingan dengan dosennya. "Kalau gitu, Neng Zarra duduk dulu disana, biar Bibi yang siapkan semuanya," kata Bi Asih lagi. Zarra menurut.


Siang itu ia dan Bi Asih makan satu meja. Ia memasak tumis daun singkong dan ayam kecap. Bi Asih membuatkan jus tomat kesukaan Zarra. Mereka berdo'a sebelum menyantap makanan tersebut.


"Neng, masakan Neng Zarra enak sekali. Beruntung sekali Mas Malik ya?," seru Bi Asih. Zarra yang sedang mengunyah makanannya terdiam sejenak. Ia tidak menjawab Bi Asih dan memilih melanjutkan makannya.


"Nggak usah ngomongin dia, Bi," kata Zarra kemudian. Melihat raut wajah Zarra yang berubah dingin, cukup memberitahu bahwa terjadi sesuatu dalam hubungan mereka.


"Neng, sabar ya? Semua akan indah pada saatnya. Berdo'a saja sama Allah, Neng," kata Bi Asih. Zarra menatap Bi Asih sejenak, dan mengangguk. Mereka melanjutkan makan mereka dalam keheningan.


 


❤️❤️❤️


 


"Assalamu'alaikum, Nak," sapa Mamanya. Zarra tersenyum melihat mamanya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Zarra lirih. Tiba-tiba air matanya tak bisa lagi dibendung. Rasa rindu yang teramat sangat kepada kedua orang tuanya itu.

__ADS_1


"Loh, loh, kenapa gadis kesayangan mama menangis?," tanya Mamanya. Zarra menyeka air matanya. Ia mulai menceritakan insiden dengan Malik dan Kinar. Kemudian soal hijrahnya. Mamanya mengangguk-angguk. Ketika Zarra menyudahi ceritanya, Mamanya menghela napas dan tersenyum.


"Sudah, Zarra. Kalau begitu, lupakan Malik. Insha Allah memberimu pengganti yang lebih baik. Percaya sama janji Allah, Nak. Sekarang Zarra harusnya bersyukur, dapat sahabat seperti Asyifa dan Amira, bahkan Zarra sudah memutuskan hijrah. Alhamdulillah, Mama bersyukur anak mama sudah menutup auratnya," kata Mama Zarra. Zarra mengangguk senyum.


"Ma, kalau Zarra buka usaha catering, Mama setuju nggak?," tanya Zarra kemudian. Mamanya terlihat senang sekali.


"Setuju dong! Akhirnya ada yang nurunin bakat nenek kamu. Tapi ingat sama kuliah kamu. Selesaikan dulu," kata mamanya. Kata-kata mamanya itu lebih mirip perintah komandan ke anak buahnya.


"Iya, iya Mamaku sayang. Zarra udah acc proposal penelitiannya. Tinggal tunggu surat penelitian, seminggu lagi Zarra akan mulai penelitian," jawab Zarra. Mamanya mengacungkan jempolnya. "Papa mana, Ma?," tanya Zarra lagi. Ia kangen sekali dengan papanya. Mamanya menghela napas kesal.


"Tahu sendirilah jam segini masih di kantor. Mama suka kesal sama Papamu itu. Kalau kerja itu suka enggak ingat waktu. Apalagi kalau sudah rakor, bisa jam satu pulang. Tahu gitu, mama tinggal pulang aja nemenin kamu," jawab Mama Zarra dengan nada curhatnya yang ngegas. Zarra tertawa cekikikan.


"Sabar, Ma. Papa mah gitu orangnya," kata Zarra masih dengan tawanya.


"Ah, sudah ah! Mama mau sholat dulu ini. Tadi nunggu sinetron favorit mama selesai," ujar Mama Zarra. Zarra mengangguk dan tertawa kecil mendengar mamanya masih suka menunda sholat demi sinetron favoritnya.


"Jaga kesehatan ya, Nak. Jangan lupa kuliahnya. Mama percaya Zarra bisa melewati semuanya. Jangan lupa sholatnya ya, Nak," pesan Mama Zarra. Zarra mengangguk senyum.


"Salam buat Papa ya, Ma?," pinta Zarra. Mamanya mengangguk. Ia pun menutup percakapan mereka dengan salam dan dijawab pula oleh mamanya. Setelah menutup panggilan video itu, Zarra membuka laptopnya. Sebelum mengetik perbaikan proposalnya ia menerawang jauh ke luar kamarnya. Benar kata mamanya. Seharusnya ia bersyukur. Bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Orang tua yang siap Meskipun perih, ia harus bertahan. Ia ingat pesan Umi Fatma, tidaklah Allah mengambil sesuatu dari kita, kecuali Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.


Zarra menghela napas panjang. Sudah seharusnya ia berterima kasih kepada Allah karena telah memberitahunya lebih cepat tentang Malik dan Kinar. Mungkin ia harus belajar tidak berharap pada manusia lagi. Ya! Ia akan mulai belajar ikhlas dan bersyukur serta hanya menyandarkan harapan pada Allah. Ia menghirup napas dalam-dalam dan membuangnya pelan-pelan dengan senyuman tersungging di bibir manisnya.


 

__ADS_1


❤️❤️❤️


 


__ADS_2