
Di lift, Sandra masih mencoba menenangkan debaran jantungnya, satu ketakutannya sekarang adalah, soal magangnya, bagaimana kalau Sandra di pecat, dia bisa dicap sebagai mahasiswa buruk, karena selama bertahun-tahunn belum ada mahasiswa dikeluarkan dari kantor magang. Bisa-bisa Sandra akan di tegur oleh kedua orang tuanya. Namun, Sandra masih mencoba menghilangkan ingatannya di ruangan Rayyan tadi, Sandra tidak habis pikir ternyata Rayyan memiliki hubungan dengan sekretaris nya sendiri.
'Sial, bisa-bisa gue denger suara laknat itu,' batin Sandra seraya menghentakkan kakinya kesal, dia mengibaskan telinganya seolah menepis suara-suara Glenca tadi.
Sedangkan Raka, kini masuk ke dalam ruangan Rayyan, dan menunggu sang atasan yang baru saja melakukan olahraga panas, saat ini tengah mandi. Raka jelas tahu, apa saja yang terjadi di ruangan ini, bahkan Raka memberikan pengharum menyemprotkan penharum ruangan di sofa dan dan di atas meja kerja Rangga, supaya menghilangkan bau khas aroma bercinta.
"Kau sudah datang?" tanya Rayyan yang baru selesai mandi, dia kini sudah berpakaian formal kembali, bahkanberganti pakaian.
"Saya baru saja sampai, Tuan," jawab Raka dengan sopan.
"Ada apa? Apa ada informasi yang menarik?" Tanya Rayyan, kini dia sudah duduk di kursi kebesaran nya kembali.
"Saya mendapat titipan berkas dari salah satu anak magang, Tuan," Raka memberikan 3 map tadi kepada Rayyan.
"Kapan dia datang? Dan kenapa tidak ke Glenca?" tanya Rayyan heran.
"Tadi Glenca tidak ada di mejanya, Tuan. Dia sedang mengurus anda," ujar Raka. Rayyan jelas tahu apa maksud sindiran Raka.
"Jadi, dia melihat semuanya?" Tanya Rayyan memastikan.
"Bukan melihat, Tuan, tapi mendengar," jawab Raka merivisi perkataan sang atasan. Rayyan pun hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Siapa yang datang, Rissa atau Sandra?" Tanya Rayyan penasaran.
"Anda pasti sangat menyukainya, yang datang adalah Sandra," jawab Raka seraya tersenyum..
Mendengar jawaban Raka, seketika Rayyan memegang pelipisnya, raut wajahnya berubah. "Sial, kenapa Sandra harus mendengarnya?" ucap Rayyan.
"Anda ingin saya melakukan sesuatu Tuan?" Tanya Raka menawarkan.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku bisa mengurusnya," tolak Rayyan.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi," merasa sudah tidak ada kepentingan dengan sang atasan, Raka pun memutuskan untuk keluar.
Rayyan mengambil salah satu berkas yang ada di laci meja kerjanya, dibukalah berkas itu, dan Rayyan menyandarkan punggungnnya. "Sandra, mahasiswi yang bekerja sebagai DJ," ucap Rayyan membaca laporan soal Sandra. DI wajahnya terlukis senyuman yang begitu tipis.
Flashback on
Rayyan yang mendapatkan pendaftaran pemintaan magang di kantornya, membaca biodata mahasiswi yang akan magang. Saat Rayyan membaca biodata Sandra, dia menatap foto itu dan merasa tidak asing, dia merasa wajah Sandra begitu familiar diingatannya dan Rayyan yakin dia pernah bertemu dengan Sandra. Tapi, akhirnya Rayyan meminta Raka untuk mencarikan informasi seputar Sandra. Tidak butuh waktu lama, hanya butuh waktu satu hari, Raka berhasil mengumpulkan informasi seputar siapa Cassandra, dan benar saja apa feeling Rayyan. Dia pernah melihat Sandra di club yang biasa dia kunjungi bersama teman-temannya yang lain, ya Rayyan ingat bahwa Sandra adalah Dj itu.
"Jadi dia DJ? Dan salah satu DJ terbarik di club' malam tersebut?" Tanya Rayyan pada Raka, seraya tidak lepas menatap lekat foto Sandra.
"Dari informasi yang saya dapat, begitu Tuan," jawab Raka.
"Apa dia biasa melakukan one night stand?" Tanya Rayyan lagi begitu penasaran.
"Menurut infomasi, tidak Tuan, Sandra hanya bekerja dan dia juga jarang menyentuh minuman alkohol. Jadi bisa dipastikan Sandra tidak pernah melakukan one night stand dengan siapapun, meskipun ada yang sempat menawarnya dengan harga tinggi, tapi Sandra tidak pernah berminat sama sekali," jelas Raka.
Flashback off
"Aku sangat tertarik dengan dunia kamu, dan aku pastikan kamu akan jatuh ke pelukan ku, dan akan berakhir di ranjang ku," ucap Raka dengan begitu bangga.
-//-
Hampir jam 13.00 siang, Sandra dan teman-teman satu divisinya baru kembali ke kantor, mereka baru saja makan siang, di luar kantor. Saat hampir sampai di ruangan, Sandra ingin ke toilet.
"Gue ke toilet dulu ya," Pamit Sandra pada teman-temannya.
"Oke," Jawab Natalie. Sandra pun bergegas pergi ke toilet. Saat dia telah usai dari toilet, Sandra melihat ada seorang wanita yang tengah menangis di depan cermin besar. Dan Sandra tahu siapa dia.
__ADS_1
"Tissuenya, Bu Soffia." Sandra memberikan tissue miliknya, kepada Soffia. Soffia sempat teerkejut, karena mungkin mereka belum berkenalan, tapi Sandra sudah mengetahui namanya.
"Terimakasih," ucap Soffia, dia pun menghapus air matanya menggunakan tissue yang diberikan oleh Sandra. "Kamu mengenal ku?" tanya Soffia.
Sandra tersenyum dan menatap. "Siapa sih, di kantor ini yang nggak kenal, Ibu. Tunangan dari CEO perusahaan ini," jawab Sandra, Soffia pun menatap Sandra, karena dia merasa asing dengan wajahnya.
"Kamu karyawan baru ya di sini? Karena saya merasa asing dengan wajah kamu," ucap Soffia lagi.
Sandra mengulurkan tangannya. "Sebelumnya perkenalkan Bu, saya Cassandra, Ibu bisa panggil saya Sandra, saya adalah mahasiswi yang sedang magang di sini," jelas Sandra, memperkenalkan diri dengan sopan.
Soffia menerima uluran tangan Sandra. "Pantas aku baru lihat kamu," ucapnya.
Sandra hanya tersenyum tipis seraya menganggukkan kepalanya, Sandra teringat dengan apa yang dilihatnya di ruangan Rayyan, hal itu membuat Sandra menatap iba Soffia, yang nampak kacau. Sandra pun berpikir apakah mungkin, kalau sebenarnya Soffia sudah mengetahui soal kelakuan Rayyan?
"Ibu Soffia baik-baik aja?" tanya Sandra.
"Saya baik, kok," jawab Soffia nampak menyembunyikan sesuatu.
"Kalau baik, lalu kenapa menangis, Bu? Jangan ditahan sendirian, kalau memang menyakitkan kenapa harus dipertahankan?" tanya Sandra membuat dahi Soffia mengernyit.
"Maksudnya?" tanya Soffia.
"Maaf Bu, bukan saya lancang ingin ikut campur urusan Ibu Soffia dan pak Rayyan, akan tetapi apa Ibu tidak risih dengan penampilan sekretaris pak Rayyan?" Tanya Sandra memancing.
"Langsung terus terang saja, San. Pasti kamu sudah tahu apa yang sudah terjadi antara Rayyan dan Glenca," tebak Soffia dan diangguki oleh Sandra.
"Maaaf ya Bu, saya tidak sengaja mendengarnya, tapi hanya sekedar mendnegar tidak lebih, Bu," ucap Sandra bersungguh-sungguh.
"Iya, saya percaya kok sama kamu," ucap Soffia seraya tersenyum, kemudian Soffia menghela napasnya. "Entahlah, hari ini sudah berapa kali mereka melakukannya di ruangan Rayyan. Aku sampai risih untuk sekedar duduk di atas sofa, aku membayangkan tempat itu sudah bercampur peluh mereka," ujar Soffia dengan tersenyum getir.
__ADS_1
"Aku melihatnya di depan mataku, mereka tengah bercumbu mesra Sandra, " lagi lagi Soffia terisak. "Aku terkadang bingung, bukankah Glenca juga wanita, kenapa dia begitu tega menyakiti perasaanku?" ujar Soffia.