
Di hari pertama Gita bekerja, dia sudah bekerja dengan baik, karena memang dia sudah memiliki pengalaman, sebelumnya. Jadi, tidak sulit bagi Gita untuk bersosialisasi dengan pekerjaannya yang baru. Sandra sendiri merasa terbantu, karena dia justru banyak belajar dari Gita.
“San, ini mau kamu atau aku yang anter ke ruangan pak Rayyan?” tanya Gita, sembari menunjukkan beberapa berkas.
“Oh, ya sudah,” jawab Gita, Sandra berpikir, mungkin Gita hanya sebentar, jadi Sandra memutuskan untuk pergi juga, dia tidak sabar untuk hanya mengobrol sebentar di tim divisi kreatif, di mana ada Rissa, Natalie, dan juga yang lainnya. Dan seperti saat ini, Sandra mengobrol sebentar dengn tim divisi kreatif, untuk membahas acara mereka nanti malam, apalagi kalau bukan soal club malam.
“Eh, gue balik dulu ya? udah cukup lama di sini,” Sandra harus ingat waktu, dia juga tidak enak dengan Gita, jika Sandra terlalu lama meninggalkan Gita, padahal dia hanya mengantarkan berkas, yang sebenarnya bisa saja dari divisi kreatif mendatangi Sandra langsung.
“Ya udah, makan siang nanti ajak ajah sekretaris baru itu sekalian,” ujar Natalie, dan diangguki oleh Sandra. Sandra memang sudah menceritakan soal Gita kepada teman-temannya. Sandra bergegas kembali ke ruangannya, namun saat dia sampai di sana, Sandra menemukan meja sekretaris masih kosong, Sandra pikir seharunya Gita sudah kembali.
“Loh, kok sepi?” lirih Sandra, dia tidak melihat keberadaan Gita di meja sekretaris, harusnya Gita sudah kembali, karena Sandra saja berada di divisi kreativ cukup lama.
Saat Sandra semakin dekat dengan meja sekretaris, Sandra membelalakkan matanya terkejut, dengan jelas Sandra mendengar suara ******* dari dalam ruangan Rayyan, bahkan Sandra semakin dibuat terkejut, saat gordeyn ruangan Rayyan tak tertutup sempurna. Entah sengaja atau tidak, jendela itu hanya ditutup menggunkan gordeyn putih yang buram, di mana dari luar masih bisa melihat ke arah dalam. Seingat Sandra, Rayyan memiliki remot control di mana dia bisa mengatur kaca menjadi gelap, sehingga dari luar tidak bisa melihat keadaan di dalam ruangan Rayyan, namun Rayyan masih bisa melihat dengan jelas kearah luar.
“Gila,” lirih Sandra, dia pikir Gita berbeda, namun ternyata sama saja. Rayyan dan Gita memang tidak melepas pakaian mereka, bahkan mereka masih berpakaian lengkap satu sama lain, hanya saja, saat ini Rayyan dan Gita tengah bercumpu, bertukar ludah satu sama lain. Tangan Rayyan juga tidak tinggal diam, dia bermain di daerah dada Gita, membuat ******* dari bibir Gita tercipta. Sandra memundurkan kakinya perlahan, dia tidak bisa berada di sana dan melihat pemandangan itu terus menerus, apalagi meja Sandra sangat berhadapan dengan jendela Rayyan.
“Mau ke mana?” suara berat itu, membuat Sandra tersentak kaget.
“Pak Raka?” lirih Sandra, dia terkejut, karena Raka berada di belakangnya dan masih memasang wajah datarnya.
“Sa-saya mau pergi dulu Pak,” Sandra benar-benar jijik mendengar suara ******* dua orang yang ada di dalam ruangan Rayyan, dia hendak pergi namun suara Raka kembali terdengar, membuat Sandra menghentikkan langkahnya.
__ADS_1
“Kembali ke tempatmu,” titah Raka, “bukankah pekerjaanmu masih banyak?” Raka mengingatkan Sandra dengan tanggung jawabnya.
“Dengan keadaan seperti ini?” tanya Sandra tak percaya, dia tidak menyangka dengan Raka yang nampak tak perduli, bahkan acuh dengan apa yang tengah dipebuat oleh Rayyan di ruangannya. Sandra sangat yakin, kalau Raka jelas tahu.
“Yang harus kita lakukan di sini adalah bekerja, tidak perduli apa yang Tuan Rayyan lakukan, itu bukan urusan kita sebagai bawahannya, lakukan saja pekerjaan mu dan anggap saja kau tidak mendengar atau melihat apapun,” jawab Raka dengan tegas, “sekarang kembalilah ke tempatmu,” titah Raka lagi, membuat Sandra kesal, dia menghentakkan kakinya kasar. Tapi, saat Sandra sudah duduk di tempatnya, Raka mendekat dan menaruh sesuatu di atas meja.
"Earphone?" lirih Sandra, dia hanya melihat pungguh Raka yang semakin menjauh.
'Makasih, Pak Rak." kata Sandra lirih, dia tahu Raka setidaknya masih perduli dengannya.
Sekilas, saat Sandra duduk, dia melihat Gita yang nampak sudah tidak sabar, dia bahkan nampak memaksa Rayyan membuka bajunya, namun entah perasaan Sandra saja atau memang Rayyan sengaja, Rayyan nampak menahan tangan Gita, seolah tahu bahwa perbuatan mereka terlihat oleh Sandra. Namun Sandra tidak ambil pusing, dia fokus pada layar monitor, dan dia memilih memasang earphone pemberian Raka untuk menyamarkan suara-suara laknat itu.
Di hari pertama Gita bekerja, dia sudah bekerja dengan baik, karena memang dia sudah memiliki pengalaman, sebelumnya. Jadi, tidak sulit bagi Gita untuk bersosialisasi dengan pekerjaannya yang baru. Sandra sendiri merasa terbantu, karena dia justru banyak belajar dari Gita.
“San, ini mau kamu atau aku yang anter ke ruangan pak Rayyan?” tanya Gita, sembari menunjukkan beberapa berkas.
“Oh, ya sudah,” jawab Gita, Sandra berpikir, mungkin Gita hanya sebentar, jadi Sandra memutuskan untuk pergi juga, dia tidak sabar untuk hanya mengobrol sebentar di tim divisi kreatif, di mana ada Rissa, Natalie, dan juga yang lainnya. Dan seperti saat ini, Sandra mengobrol sebentar dengn tim divisi kreatif, untuk membahas acara mereka nanti malam, apalagi kalau bukan soal club malam.
“Eh, gue balik dulu ya? udah cukup lama di sini,” Sandra harus ingat waktu, dia juga tidak enak dengan Gita, jika Sandra terlalu lama meninggalkan Gita, padahal dia hanya mengantarkan berkas, yang sebenarnya bisa saja dari divisi kreatif mendatangi Sandra langsung.
“Ya udah, makan siang nanti ajak ajah sekretaris baru itu sekalian,” ujar Natalie, dan diangguki oleh Sandra. Sandra memang sudah menceritakan soal Gita kepada teman-temannya. Sandra bergegas kembali ke ruangannya, namun saat dia sampai di sana, Sandra menemukan meja sekretaris masih kosong, Sandra pikir seharunya Gita sudah kembali.
__ADS_1
“Loh, kok sepi?” lirih Sandra, dia tidak melihat keberadaan Gita di meja sekretaris, harusnya Gita sudah kembali, karena Sandra saja berada di divisi kreativ cukup lama.
Saat Sandra semakin dekat dengan meja sekretaris, Sandra membelalakkan matanya terkejut, dengan jelas Sandra mendengar suara ******* dari dalam ruangan Rayyan, bahkan Sandra semakin dibuat terkejut, saat gordeyn ruangan Rayyan tak tertutup sempurna. Entah sengaja atau tidak, jendela itu hanya ditutup menggunkan gordeyn putih yang buram, di mana dari luar masih bisa melihat ke arah dalam. Seingat Sandra, Rayyan memiliki remot control di mana dia bisa mengatur kaca menjadi gelap, sehingga dari luar tidak bisa melihat keadaan di dalam ruangan Rayyan, namun Rayyan masih bisa melihat dengan jelas kearah luar.
“Gila,” lirih Sandra, dia pikir Gita berbeda, namun ternyata sama saja. Rayyan dan Gita memang tidak melepas pakaian mereka, bahkan mereka masih berpakaian lengkap satu sama lain, hanya saja, saat ini Rayyan dan Gita tengah bercumpu, bertukar ludah satu sama lain. Tangan Rayyan juga tidak tinggal diam, dia bermain di daerah dada Gita, membuat ******* dari bibir Gita tercipta. Sandra memundurkan kakinya perlahan, dia tidak bisa berada di sana dan melihat pemandangan itu terus menerus, apalagi meja Sandra sangat berhadapan dengan jendela Rayyan.
“Mau ke mana?” suara berat itu, membuat Sandra tersentak kaget.
“Pak Raka?” lirih Sandra, dia terkejut, karena Raka berada di belakangnya dan masih memasang wajah datarnya.
“Sa-saya mau pergi dulu Pak,” Sandra benar-benar jijik mendengar suara ******* dua orang yang ada di dalam ruangan Rayyan, dia hendak pergi namun suara Raka kembali terdengar, membuat Sandra menghentikkan langkahnya.
“Kembali ke tempatmu,” titah Raka, “bukankah pekerjaanmu masih banyak?” Raka mengingatkan Sandra dengan tanggung jawabnya.
“Dengan keadaan seperti ini?” tanya Sandra tak percaya, dia tidak menyangka dengan Raka yang nampak tak perduli, bahkan acuh dengan apa yang tengah dipebuat oleh Rayyan di ruangannya. Sandra sangat yakin, kalau Raka jelas tahu.
“Yang harus kita lakukan di sini adalah bekerja, tidak perduli apa yang Tuan Rayyan lakukan, itu bukan urusan kita sebagai bawahannya, lakukan saja pekerjaan mu dan anggap saja kau tidak mendengar atau melihat apapun,” jawab Raka dengan tegas, “sekarang kembalilah ke tempatmu,” titah Raka lagi, membuat Sandra kesal, dia menghentakkan kakinya kasar. Tapi, saat Sandra sudah duduk di tempatnya, Raka mendekat dan menaruh sesuatu di atas meja.
"Earphone?" lirih Sandra, dia hanya melihat pungguh Raka yang semakin menjauh.
'Makasih, Pak Rak." kata Sandra lirih, dia tahu Raka setidaknya masih perduli dengannya.
__ADS_1
Sekilas, saat Sandra duduk, dia melihat Gita yang nampak sudah tidak sabar, dia bahkan nampak memaksa Rayyan membuka bajunya, namun entah perasaan Sandra saja atau memang Rayyan sengaja, Rayyan nampak menahan tangan Gita, seolah tahu bahwa perbuatan mereka terlihat oleh Sandra. Namun Sandra tidak ambil pusing, dia fokus pada layar monitor, dan dia memilih memasang earphone pemberian Raka untuk menyamarkan suara-suara laknat itu.