
Hari ini, Sandra berangkat ke kantor dengan perasaan yang tidak menentu, dia berulang kali menyemangati dirinya agar bisa bertahan di kantor Rayyan untuk magang. Akan tetapi, Sandra akui, semenjak dia pindah menjadi sekretaris Rayyan, Sandra merasa dirinya sangat malas untuk berangkat, karena dia selalu was-was dengan bos mesumnya itu.
“Yang semangat dong San,” Risaa tahu, kalau Sandra saat ini tengah diterpa perasaan malas dan kesal, jadi dia mencoba menghibur Sandra, berharap perasaan hatinya akan sedikit berubah.
“Gue tau San, pasti nggak enak banget kalau kita harus kerja dalam keadaan terpaksa begitu. Fokus ajah, sama kerjaan, gue yakin kok loe nggak bakal kerasan nanti,” Rissa memberikan saran, karena biasanya dia juga melakukan hal itu. Sandra dan Rissa memasuki kantor, dan mereka berpisah setelah Rissa sampai di lantai di mana ruangannya berada.
‘Ini punya siapa?’ batin Sandra, saat dia sampai, sudah ada tas milik seseorang. Dia menolah kanan dan kiri, masih nampak sepi.
“Hai,” tiba-tiba saja dari arah toilet, seorang wanita menyapa Sandra.
“Kamu pasti kaget ya?” wanita itu seolah tahu dengan raut wajah keterkejutan Sandra.
“Perkenalkan, aku Gita, aku sekretaris baru pak Rayyan,” wanita bernama Gita itu memperkenalkan dirinya. Mendengar wanita itu yang menjadi sekretaris baru, tentu saja Sandra terkejut juga senang. Dengan semangat, Sandra menyambut uluran tangan Gita.
“Aku Sandra, mahasiswi magang di sini,” Sandra juga memperkenalkan dirinya.
‘Bagus, karena udah ada sekretaris pengganti Glenca, jadi itu berarti aku nggak perlu di sini lagi dong,’ batin Sandra.
“Ya sudah, karena sudah ada kak Gita di sini, jadi aku pamit kembali ke ruangan aku ya Kak,” Sandra sangat senang, karena akhirnya dia kembali ke ruangan awalnya. Dia langsung berbalik badan, dan tuk! seseorang memegang jidatnya dengan jari telunjuk.
“Awww,” pekik Sandra.
“Mau ke mana? hmmm,” Rayyan tiba-tiba saja sudah berada di depan Sandra, padahal biasanya Rayyan akan datang satu jam lagi.
“Oh my Good," Sandra begitu terkejut, karena melihat Rayyan yang sudah ada di hadapannya.
“Pak Rayyan?” lirih Sandra.
“Iya lah, siapa lagi?” Rayyan memasang wajah datarnya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Rayyan sekali lagi, karena pertanyaannya tadi, belum mendapatkan jawaban.
“Kembali ke ruangan saya Pak,” jawab Sandra dengan enteng, bahkan kali ini disertai dengan senyuman.
“Emang saya ada bilang begitu?” tanya Rayyan, dan sontak membuat Sandra diam setelah dia menyadari sesuatu.
“Tapi, kan Bapak bilang, saya jadi sekretaris cuman sementara, sebagai ganti Glenca, sekarang udah ada Kak Gita, jadi saya boleh pergi dong," untuk ingatan Sandra kuat, dia pun mengatakan apa yang pernah dikatakan oleh Rayyan sebelumnya.
“Tapi, saya tidak mengizinkan kamu untuk kembali ke ruangan kamu yang lama,” jawaban Rayyan tentu saja membuat Sandra terkejut juga tidak terima.
"Loh, nggak bisa gitu dong Pak, Bapak ingkar janji kalau gitu," ucap Sandra protes.
“Ini sudah menjadi keputusan saya. Kamu tetap di sini, bersama dengan Gita,” putus Rayyan tanpa diganggu gugat, dan setelah itu dia langsung masuk ke dalam ruangannya, membuat Sandra bersungut kesal.
"Dasar bos dzalim," kata Sandra lirih.
Hari ini, Sandra berangkat ke kantor dengan perasaan yang tidak menentu, dia berulang kali menyemangati dirinya agar bisa bertahan di kantor Rayyan untuk magang. Akan tetapi, Sandra akui, semenjak dia pindah menjadi sekretaris Rayyan, Sandra merasa dirinya sangat malas untuk berangkat, karena dia selalu was-was dengan bos mesumnya itu.
“Yang semangat dong San,” Risaa tahu, kalau Sandra saat ini tengah diterpa perasaan malas dan kesal, jadi dia mencoba menghibur Sandra, berharap perasaan hatinya akan sedikit berubah.
“Gue tau San, pasti nggak enak banget kalau kita harus kerja dalam keadaan terpaksa begitu. Fokus ajah, sama kerjaan, gue yakin kok loe nggak bakal kerasan nanti,” Rissa memberikan saran, karena biasanya dia juga melakukan hal itu. Sandra dan Rissa memasuki kantor, dan mereka berpisah setelah Rissa sampai di lantai di mana ruangannya berada.
‘Ini punya siapa?’ batin Sandra, saat dia sampai, sudah ada tas milik seseorang. Dia menolah kanan dan kiri, masih nampak sepi.
“Hai,” tiba-tiba saja dari arah toilet, seorang wanita menyapa Sandra.
“Kamu pasti kaget ya?” wanita itu seolah tahu dengan raut wajah keterkejutan Sandra.
“Perkenalkan, aku Gita, aku sekretaris baru pak Rayyan,” wanita bernama Gita itu memperkenalkan dirinya. Mendengar wanita itu yang menjadi sekretaris baru, tentu saja Sandra terkejut juga senang. Dengan semangat, Sandra menyambut uluran tangan Gita.
__ADS_1
“Aku Sandra, mahasiswi magang di sini,” Sandra juga memperkenalkan dirinya.
‘Bagus, karena udah ada sekretaris pengganti Glenca, jadi itu berarti aku nggak perlu di sini lagi dong,’ batin Sandra.
“Ya sudah, karena sudah ada kak Gita di sini, jadi aku pamit kembali ke ruangan aku ya Kak,” Sandra sangat senang, karena akhirnya dia kembali ke ruangan awalnya. Dia langsung berbalik badan, dan tuk! seseorang memegang jidatnya dengan jari telunjuk.
“Awww,” pekik Sandra.
“Mau ke mana? hmmm,” Rayyan tiba-tiba saja sudah berada di depan Sandra, padahal biasanya Rayyan akan datang satu jam lagi.
“Oh my Good," Sandra begitu terkejut, karena melihat Rayyan yang sudah ada di hadapannya.
“Pak Rayyan?” lirih Sandra.
“Iya lah, siapa lagi?” Rayyan memasang wajah datarnya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Rayyan sekali lagi, karena pertanyaannya tadi, belum mendapatkan jawaban.
“Kembali ke ruangan saya Pak,” jawab Sandra dengan enteng, bahkan kali ini disertai dengan senyuman.
“Emang saya ada bilang begitu?” tanya Rayyan, dan sontak membuat Sandra diam setelah dia menyadari sesuatu.
“Tapi, kan Bapak bilang, saya jadi sekretaris cuman sementara, sebagai ganti Glenca, sekarang udah ada Kak Gita, jadi saya boleh pergi dong," untuk ingatan Sandra kuat, dia pun mengatakan apa yang pernah dikatakan oleh Rayyan sebelumnya.
“Tapi, saya tidak mengizinkan kamu untuk kembali ke ruangan kamu yang lama,” jawaban Rayyan tentu saja membuat Sandra terkejut juga tidak terima.
"Loh, nggak bisa gitu dong Pak, Bapak ingkar janji kalau gitu," ucap Sandra protes.
“Ini sudah menjadi keputusan saya. Kamu tetap di sini, bersama dengan Gita,” putus Rayyan tanpa diganggu gugat, dan setelah itu dia langsung masuk ke dalam ruangannya, membuat Sandra bersungut kesal.
"Dasar bos dzalim," kata Sandra lirih.
Hari ini, Sandra berangkat ke kantor dengan perasaan yang tidak menentu, dia berulang kali menyemangati dirinya agar bisa bertahan di kantor Rayyan untuk magang. Akan tetapi, Sandra akui, semenjak dia pindah menjadi sekretaris Rayyan, Sandra merasa dirinya sangat malas untuk berangkat, karena dia selalu was-was dengan bos mesumnya itu.
“Yang semangat dong San,” Risaa tahu, kalau Sandra saat ini tengah diterpa perasaan malas dan kesal, jadi dia mencoba menghibur Sandra, berharap perasaan hatinya akan sedikit berubah.
“Gue tau San, pasti nggak enak banget kalau kita harus kerja dalam keadaan terpaksa begitu. Fokus ajah, sama kerjaan, gue yakin kok loe nggak bakal kerasan nanti,” Rissa memberikan saran, karena biasanya dia juga melakukan hal itu. Sandra dan Rissa memasuki kantor, dan mereka berpisah setelah Rissa sampai di lantai di mana ruangannya berada.
‘Ini punya siapa?’ batin Sandra, saat dia sampai, sudah ada tas milik seseorang. Dia menolah kanan dan kiri, masih nampak sepi.
“Hai,” tiba-tiba saja dari arah toilet, seorang wanita menyapa Sandra.
“Kamu pasti kaget ya?” wanita itu seolah tahu dengan raut wajah keterkejutan Sandra.
“Perkenalkan, aku Gita, aku sekretaris baru pak Rayyan,” wanita bernama Gita itu memperkenalkan dirinya. Mendengar wanita itu yang menjadi sekretaris baru, tentu saja Sandra terkejut juga senang. Dengan semangat, Sandra menyambut uluran tangan Gita.
“Aku Sandra, mahasiswi magang di sini,” Sandra juga memperkenalkan dirinya.
‘Bagus, karena udah ada sekretaris pengganti Glenca, jadi itu berarti aku nggak perlu di sini lagi dong,’ batin Sandra.
“Ya sudah, karena sudah ada kak Gita di sini, jadi aku pamit kembali ke ruangan aku ya Kak,” Sandra sangat senang, karena akhirnya dia kembali ke ruangan awalnya. Dia langsung berbalik badan, dan tuk! seseorang memegang jidatnya dengan jari telunjuk.
“Awww,” pekik Sandra.
“Mau ke mana? hmmm,” Rayyan tiba-tiba saja sudah berada di depan Sandra, padahal biasanya Rayyan akan datang satu jam lagi.
“Oh my Good," Sandra begitu terkejut, karena melihat Rayyan yang sudah ada di hadapannya.
“Pak Rayyan?” lirih Sandra.
__ADS_1
“Iya lah, siapa lagi?” Rayyan memasang wajah datarnya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Rayyan sekali lagi, karena pertanyaannya tadi, belum mendapatkan jawaban.
“Kembali ke ruangan saya Pak,” jawab Sandra dengan enteng, bahkan kali ini disertai dengan senyuman.
“Emang saya ada bilang begitu?” tanya Rayyan, dan sontak membuat Sandra diam setelah dia menyadari sesuatu.
“Tapi, kan Bapak bilang, saya jadi sekretaris cuman sementara, sebagai ganti Glenca, sekarang udah ada Kak Gita, jadi saya boleh pergi dong," untuk ingatan Sandra kuat, dia pun mengatakan apa yang pernah dikatakan oleh Rayyan sebelumnya.
“Tapi, saya tidak mengizinkan kamu untuk kembali ke ruangan kamu yang lama,” jawaban Rayyan tentu saja membuat Sandra terkejut juga tidak terima.
"Loh, nggak bisa gitu dong Pak, Bapak ingkar janji kalau gitu," ucap Sandra protes.
“Ini sudah menjadi keputusan saya. Kamu tetap di sini, bersama dengan Gita,” putus Rayyan tanpa diganggu gugat, dan setelah itu dia langsung masuk ke dalam ruangannya, membuat Sandra bersungut kesal.
"Dasar bos dzalim," kata Sandra lirih.
Hari ini, Sandra berangkat ke kantor dengan perasaan yang tidak menentu, dia berulang kali menyemangati dirinya agar bisa bertahan di kantor Rayyan untuk magang. Akan tetapi, Sandra akui, semenjak dia pindah menjadi sekretaris Rayyan, Sandra merasa dirinya sangat malas untuk berangkat, karena dia selalu was-was dengan bos mesumnya itu.
“Yang semangat dong San,” Risaa tahu, kalau Sandra saat ini tengah diterpa perasaan malas dan kesal, jadi dia mencoba menghibur Sandra, berharap perasaan hatinya akan sedikit berubah.
“Gue tau San, pasti nggak enak banget kalau kita harus kerja dalam keadaan terpaksa begitu. Fokus ajah, sama kerjaan, gue yakin kok loe nggak bakal kerasan nanti,” Rissa memberikan saran, karena biasanya dia juga melakukan hal itu. Sandra dan Rissa memasuki kantor, dan mereka berpisah setelah Rissa sampai di lantai di mana ruangannya berada.
‘Ini punya siapa?’ batin Sandra, saat dia sampai, sudah ada tas milik seseorang. Dia menolah kanan dan kiri, masih nampak sepi.
“Hai,” tiba-tiba saja dari arah toilet, seorang wanita menyapa Sandra.
“Kamu pasti kaget ya?” wanita itu seolah tahu dengan raut wajah keterkejutan Sandra.
“Perkenalkan, aku Gita, aku sekretaris baru pak Rayyan,” wanita bernama Gita itu memperkenalkan dirinya. Mendengar wanita itu yang menjadi sekretaris baru, tentu saja Sandra terkejut juga senang. Dengan semangat, Sandra menyambut uluran tangan Gita.
“Aku Sandra, mahasiswi magang di sini,” Sandra juga memperkenalkan dirinya.
‘Bagus, karena udah ada sekretaris pengganti Glenca, jadi itu berarti aku nggak perlu di sini lagi dong,’ batin Sandra.
“Ya sudah, karena sudah ada kak Gita di sini, jadi aku pamit kembali ke ruangan aku ya Kak,” Sandra sangat senang, karena akhirnya dia kembali ke ruangan awalnya. Dia langsung berbalik badan, dan tuk! seseorang memegang jidatnya dengan jari telunjuk.
“Awww,” pekik Sandra.
“Mau ke mana? hmmm,” Rayyan tiba-tiba saja sudah berada di depan Sandra, padahal biasanya Rayyan akan datang satu jam lagi.
“Oh my Good," Sandra begitu terkejut, karena melihat Rayyan yang sudah ada di hadapannya.
“Pak Rayyan?” lirih Sandra.
“Iya lah, siapa lagi?” Rayyan memasang wajah datarnya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Rayyan sekali lagi, karena pertanyaannya tadi, belum mendapatkan jawaban.
“Kembali ke ruangan saya Pak,” jawab Sandra dengan enteng, bahkan kali ini disertai dengan senyuman.
“Emang saya ada bilang begitu?” tanya Rayyan, dan sontak membuat Sandra diam setelah dia menyadari sesuatu.
“Tapi, kan Bapak bilang, saya jadi sekretaris cuman sementara, sebagai ganti Glenca, sekarang udah ada Kak Gita, jadi saya boleh pergi dong," untuk ingatan Sandra kuat, dia pun mengatakan apa yang pernah dikatakan oleh Rayyan sebelumnya.
“Tapi, saya tidak mengizinkan kamu untuk kembali ke ruangan kamu yang lama,” jawaban Rayyan tentu saja membuat Sandra terkejut juga tidak terima.
"Loh, nggak bisa gitu dong Pak, Bapak ingkar janji kalau gitu," ucap Sandra protes.
__ADS_1
“Ini sudah menjadi keputusan saya. Kamu tetap di sini, bersama dengan Gita,” putus Rayyan tanpa diganggu gugat, dan setelah itu dia langsung masuk ke dalam ruangannya, membuat Sandra bersungut kesal.
"Dasar bos dzalim," kata Sandra lirih.