
“San, kamu pergilah, saya cuman mau berdua dengan Soffia,” ujar Rayyan tiba-tiba saat mereka baru keluar dari lift. Seolah mendapatkan durian runtuh, Sandra mendapatkan bantuan dari Rayyan. Sandra hampir tidak percaya, namun dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
“Oh baik Pak,” jawab Sandra, dia pun langsung berpamitan, sedangkan Soffia nampak keberatan.
“Biarkan Sandra menikmati waktu istirahatnya, kamu apa nggak malu, kalau sampai dia melihat kita yang sama sekali tidak terlihat seperti pasangan?” sebenarnya Rayyan merasa kasihan dengan Sandra, Rayyan tahu Sandra masih terkejut dengan posisinya saat ini, jadi Rayyan yakin, kalau pertemuan Sandra dengan teman-temannya setidaknya bisa mengobati perasaan Sadnra saat ini.
.
.
“San, kok tiba-tiba lo jadi gabung sama kita, bukannya katanya loe makan sama pak Rayyan dan bu Soffia? Lo nggak jadi ikut?” tanya Natalie kepada Sandra.
“Iya Kak, tadi bu Soffia maksa aku buat ikut, aku udah nolak tapi nggak enak juga, untungnya pak Rayyan bilang katanya dia cuman mau sama bu Soffia, jadi saya nggak mau sia-siakan kesempatan.” jawab Sandra seraya tersenyum.
"Bu Soffia, kayaknya mau akrab sama lo, San," timpal Rissa, dan dibenarkan juga oleh rekannya yang lain.
"Masa sih?" tanya Sandra tidak percaya.
"Iya, San. Mungkin bu Soffia berpikir, bahwa kamu pasti beda dari wanita lain, kamu nggak akan pernah seperti Gita, jadi dia mau deketin kamu dan minta kamubuat mata-matain pak Rayyan," timpal Nisa, memang mereka tengah makan siang bersama Nisa juga saat ini.
Sandara pun mencoba memikirkan perkataan Nisa. 'Masa iya? Tapi aku nggak mau terlibat dalam hubungan rumit mereka, aku cuman mau menjalani kehidupan magangku dengan baik,' batin Sandra kesal.
-/-
Di sisi lain, Rayyan dan Soffia sekarang berada di salah satu restaurant, mereka sudah memesan ruang VIP. Tapi, meski Soffia berhasil mengajak Rayyan makan siang bersamanya, tetap saja pikiran Rayyan tidak bersama Soffia, terbukti dengan Rayyan yang masih saja sibuk dengan ponsel miliknya, bahkan sesekali Rayyan tersenyum.
“Rayyan, bisa nggak sih, kamu bersikap lembut sedikit sama aku? Bisa nggak kamu perhatikan aku, dan anggap aku ini ada di hidup kamu?” pinta Soffia, hal yang biasa dan selalu diminta oleh Soffia. Soffia ingin, saat makan siang bersamanya, Rayyan bisa mempedulikannya, mereka dekat tapi terasa jauh.
“Sof, bukannya sedari awal aku udah bilang, aku nggak bisa, tapi kamu tetap maksa buat bertahan sama aku,” jawab Rayyan dengan acuh seraya menyantap makan siangnya.
"Ray, aku minta kamu juga untuk berjuang dan belajar mencintai aku, tapi selama ini kamu nggak pernah lakuin itu," kata Soffia, menatap Rayyan penuh kecewa.
“Apa aku harus menjadi wanita yang kamu sukai, yang bisa menemani kamu di ranjang?” tanya Soffia, dia jelas tahu kelakuan Rayyan, yang paling tidak bisa jauh dengan wanita seksi, dan pasti berakhir di ranjang panas.
“Aku juga bisa Rayyan, aku bisa melakukan semua itu, demi kamu!” ucap Soffia dengan menggebu.
“Kau bukan tipeku,” jawab Rayyan dengan dingin.
“Kau harus bisa menerima ku, mau tidak mau dan suka tidak suka kamu harus menerima ku Rayyan, karena aku adalah calon istri kamu,” Soffia selalu menekankan dan mengingatkan Rayyan, soal posisinya dan soal hubungan mereka berdua, yang mana mereka berdua sudah dijodohkan bahkan status mereka sudah bertunangan.
“San, kamu pergilah, saya cuman mau berdua dengan Soffia,” ujar Rayyan tiba-tiba saat mereka baru keluar dari lift. Seolah mendapatkan durian runtuh, Sandra mendapatkan bantuan dari Rayyan. Sandra hampir tidak percaya, namun dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
“Oh baik Pak,” jawab Sandra, dia pun langsung berpamitan, sedangkan Soffia nampak keberatan.
“Biarkan Sandra menikmati waktu istirahatnya, kamu apa nggak malu, kalau sampai dia melihat kita yang sama sekali tidak terlihat seperti pasangan?” sebenarnya Rayyan merasa kasihan dengan Sandra, Rayyan tahu Sandra masih terkejut dengan posisinya saat ini, jadi Rayyan yakin, kalau pertemuan Sandra dengan teman-temannya setidaknya bisa mengobati perasaan Sadnra saat ini.
.
.
“San, kok tiba-tiba lo jadi gabung sama kita, bukannya katanya loe makan sama pak Rayyan dan bu Soffia? Lo nggak jadi ikut?” tanya Natalie kepada Sandra.
“Iya Kak, tadi bu Soffia maksa aku buat ikut, aku udah nolak tapi nggak enak juga, untungnya pak Rayyan bilang katanya dia cuman mau sama bu Soffia, jadi saya nggak mau sia-siakan kesempatan.” jawab Sandra seraya tersenyum.
"Bu Soffia, kayaknya mau akrab sama lo, San," timpal Rissa, dan dibenarkan juga oleh rekannya yang lain.
"Masa sih?" tanya Sandra tidak percaya.
"Iya, San. Mungkin bu Soffia berpikir, bahwa kamu pasti beda dari wanita lain, kamu nggak akan pernah seperti Gita, jadi dia mau deketin kamu dan minta kamubuat mata-matain pak Rayyan," timpal Nisa, memang mereka tengah makan siang bersama Nisa juga saat ini.
Sandara pun mencoba memikirkan perkataan Nisa. 'Masa iya? Tapi aku nggak mau terlibat dalam hubungan rumit mereka, aku cuman mau menjalani kehidupan magangku dengan baik,' batin Sandra kesal.
-/-
Di sisi lain, Rayyan dan Soffia sekarang berada di salah satu restaurant, mereka sudah memesan ruang VIP. Tapi, meski Soffia berhasil mengajak Rayyan makan siang bersamanya, tetap saja pikiran Rayyan tidak bersama Soffia, terbukti dengan Rayyan yang masih saja sibuk dengan ponsel miliknya, bahkan sesekali Rayyan tersenyum.
“Rayyan, bisa nggak sih, kamu bersikap lembut sedikit sama aku? Bisa nggak kamu perhatikan aku, dan anggap aku ini ada di hidup kamu?” pinta Soffia, hal yang biasa dan selalu diminta oleh Soffia. Soffia ingin, saat makan siang bersamanya, Rayyan bisa mempedulikannya, mereka dekat tapi terasa jauh.
“Sof, bukannya sedari awal aku udah bilang, aku nggak bisa, tapi kamu tetap maksa buat bertahan sama aku,” jawab Rayyan dengan acuh seraya menyantap makan siangnya.
"Ray, aku minta kamu juga untuk berjuang dan belajar mencintai aku, tapi selama ini kamu nggak pernah lakuin itu," kata Soffia, menatap Rayyan penuh kecewa.
“Apa aku harus menjadi wanita yang kamu sukai, yang bisa menemani kamu di ranjang?” tanya Soffia, dia jelas tahu kelakuan Rayyan, yang paling tidak bisa jauh dengan wanita seksi, dan pasti berakhir di ranjang panas.
“Aku juga bisa Rayyan, aku bisa melakukan semua itu, demi kamu!” ucap Soffia dengan menggebu.
“Kau bukan tipeku,” jawab Rayyan dengan dingin.
“Kau harus bisa menerima ku, mau tidak mau dan suka tidak suka kamu harus menerima ku Rayyan, karena aku adalah calon istri kamu,” Soffia selalu menekankan dan mengingatkan Rayyan, soal posisinya dan soal hubungan mereka berdua, yang mana mereka berdua sudah dijodohkan bahkan status mereka sudah bertunangan.
__ADS_1
“San, kamu pergilah, saya cuman mau berdua dengan Soffia,” ujar Rayyan tiba-tiba saat mereka baru keluar dari lift. Seolah mendapatkan durian runtuh, Sandra mendapatkan bantuan dari Rayyan. Sandra hampir tidak percaya, namun dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
“Oh baik Pak,” jawab Sandra, dia pun langsung berpamitan, sedangkan Soffia nampak keberatan.
“Biarkan Sandra menikmati waktu istirahatnya, kamu apa nggak malu, kalau sampai dia melihat kita yang sama sekali tidak terlihat seperti pasangan?” sebenarnya Rayyan merasa kasihan dengan Sandra, Rayyan tahu Sandra masih terkejut dengan posisinya saat ini, jadi Rayyan yakin, kalau pertemuan Sandra dengan teman-temannya setidaknya bisa mengobati perasaan Sadnra saat ini.
.
.
“San, kok tiba-tiba lo jadi gabung sama kita, bukannya katanya loe makan sama pak Rayyan dan bu Soffia? Lo nggak jadi ikut?” tanya Natalie kepada Sandra.
“Iya Kak, tadi bu Soffia maksa aku buat ikut, aku udah nolak tapi nggak enak juga, untungnya pak Rayyan bilang katanya dia cuman mau sama bu Soffia, jadi saya nggak mau sia-siakan kesempatan.” jawab Sandra seraya tersenyum.
"Bu Soffia, kayaknya mau akrab sama lo, San," timpal Rissa, dan dibenarkan juga oleh rekannya yang lain.
"Masa sih?" tanya Sandra tidak percaya.
"Iya, San. Mungkin bu Soffia berpikir, bahwa kamu pasti beda dari wanita lain, kamu nggak akan pernah seperti Gita, jadi dia mau deketin kamu dan minta kamubuat mata-matain pak Rayyan," timpal Nisa, memang mereka tengah makan siang bersama Nisa juga saat ini.
Sandara pun mencoba memikirkan perkataan Nisa. 'Masa iya? Tapi aku nggak mau terlibat dalam hubungan rumit mereka, aku cuman mau menjalani kehidupan magangku dengan baik,' batin Sandra kesal.
-/-
Di sisi lain, Rayyan dan Soffia sekarang berada di salah satu restaurant, mereka sudah memesan ruang VIP. Tapi, meski Soffia berhasil mengajak Rayyan makan siang bersamanya, tetap saja pikiran Rayyan tidak bersama Soffia, terbukti dengan Rayyan yang masih saja sibuk dengan ponsel miliknya, bahkan sesekali Rayyan tersenyum.
“Rayyan, bisa nggak sih, kamu bersikap lembut sedikit sama aku? Bisa nggak kamu perhatikan aku, dan anggap aku ini ada di hidup kamu?” pinta Soffia, hal yang biasa dan selalu diminta oleh Soffia. Soffia ingin, saat makan siang bersamanya, Rayyan bisa mempedulikannya, mereka dekat tapi terasa jauh.
“Sof, bukannya sedari awal aku udah bilang, aku nggak bisa, tapi kamu tetap maksa buat bertahan sama aku,” jawab Rayyan dengan acuh seraya menyantap makan siangnya.
"Ray, aku minta kamu juga untuk berjuang dan belajar mencintai aku, tapi selama ini kamu nggak pernah lakuin itu," kata Soffia, menatap Rayyan penuh kecewa.
“Apa aku harus menjadi wanita yang kamu sukai, yang bisa menemani kamu di ranjang?” tanya Soffia, dia jelas tahu kelakuan Rayyan, yang paling tidak bisa jauh dengan wanita seksi, dan pasti berakhir di ranjang panas.
“Aku juga bisa Rayyan, aku bisa melakukan semua itu, demi kamu!” ucap Soffia dengan menggebu.
“Kau bukan tipeku,” jawab Rayyan dengan dingin.
“Kau harus bisa menerima ku, mau tidak mau dan suka tidak suka kamu harus menerima ku Rayyan, karena aku adalah calon istri kamu,” Soffia selalu menekankan dan mengingatkan Rayyan, soal posisinya dan soal hubungan mereka berdua, yang mana mereka berdua sudah dijodohkan bahkan status mereka sudah bertunangan.
“San, kamu pergilah, saya cuman mau berdua dengan Soffia,” ujar Rayyan tiba-tiba saat mereka baru keluar dari lift. Seolah mendapatkan durian runtuh, Sandra mendapatkan bantuan dari Rayyan. Sandra hampir tidak percaya, namun dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
“Oh baik Pak,” jawab Sandra, dia pun langsung berpamitan, sedangkan Soffia nampak keberatan.
“Biarkan Sandra menikmati waktu istirahatnya, kamu apa nggak malu, kalau sampai dia melihat kita yang sama sekali tidak terlihat seperti pasangan?” sebenarnya Rayyan merasa kasihan dengan Sandra, Rayyan tahu Sandra masih terkejut dengan posisinya saat ini, jadi Rayyan yakin, kalau pertemuan Sandra dengan teman-temannya setidaknya bisa mengobati perasaan Sadnra saat ini.
.
.
“San, kok tiba-tiba lo jadi gabung sama kita, bukannya katanya loe makan sama pak Rayyan dan bu Soffia? Lo nggak jadi ikut?” tanya Natalie kepada Sandra.
“Iya Kak, tadi bu Soffia maksa aku buat ikut, aku udah nolak tapi nggak enak juga, untungnya pak Rayyan bilang katanya dia cuman mau sama bu Soffia, jadi saya nggak mau sia-siakan kesempatan.” jawab Sandra seraya tersenyum.
"Bu Soffia, kayaknya mau akrab sama lo, San," timpal Rissa, dan dibenarkan juga oleh rekannya yang lain.
"Masa sih?" tanya Sandra tidak percaya.
"Iya, San. Mungkin bu Soffia berpikir, bahwa kamu pasti beda dari wanita lain, kamu nggak akan pernah seperti Gita, jadi dia mau deketin kamu dan minta kamubuat mata-matain pak Rayyan," timpal Nisa, memang mereka tengah makan siang bersama Nisa juga saat ini.
Sandara pun mencoba memikirkan perkataan Nisa. 'Masa iya? Tapi aku nggak mau terlibat dalam hubungan rumit mereka, aku cuman mau menjalani kehidupan magangku dengan baik,' batin Sandra kesal.
-/-
Di sisi lain, Rayyan dan Soffia sekarang berada di salah satu restaurant, mereka sudah memesan ruang VIP. Tapi, meski Soffia berhasil mengajak Rayyan makan siang bersamanya, tetap saja pikiran Rayyan tidak bersama Soffia, terbukti dengan Rayyan yang masih saja sibuk dengan ponsel miliknya, bahkan sesekali Rayyan tersenyum.
“Rayyan, bisa nggak sih, kamu bersikap lembut sedikit sama aku? Bisa nggak kamu perhatikan aku, dan anggap aku ini ada di hidup kamu?” pinta Soffia, hal yang biasa dan selalu diminta oleh Soffia. Soffia ingin, saat makan siang bersamanya, Rayyan bisa mempedulikannya, mereka dekat tapi terasa jauh.
“Sof, bukannya sedari awal aku udah bilang, aku nggak bisa, tapi kamu tetap maksa buat bertahan sama aku,” jawab Rayyan dengan acuh seraya menyantap makan siangnya.
"Ray, aku minta kamu juga untuk berjuang dan belajar mencintai aku, tapi selama ini kamu nggak pernah lakuin itu," kata Soffia, menatap Rayyan penuh kecewa.
“Apa aku harus menjadi wanita yang kamu sukai, yang bisa menemani kamu di ranjang?” tanya Soffia, dia jelas tahu kelakuan Rayyan, yang paling tidak bisa jauh dengan wanita seksi, dan pasti berakhir di ranjang panas.
“Aku juga bisa Rayyan, aku bisa melakukan semua itu, demi kamu!” ucap Soffia dengan menggebu.
“Kau bukan tipeku,” jawab Rayyan dengan dingin.
“Kau harus bisa menerima ku, mau tidak mau dan suka tidak suka kamu harus menerima ku Rayyan, karena aku adalah calon istri kamu,” Soffia selalu menekankan dan mengingatkan Rayyan, soal posisinya dan soal hubungan mereka berdua, yang mana mereka berdua sudah dijodohkan bahkan status mereka sudah bertunangan.
__ADS_1
“San, kamu pergilah, saya cuman mau berdua dengan Soffia,” ujar Rayyan tiba-tiba saat mereka baru keluar dari lift. Seolah mendapatkan durian runtuh, Sandra mendapatkan bantuan dari Rayyan. Sandra hampir tidak percaya, namun dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
“Oh baik Pak,” jawab Sandra, dia pun langsung berpamitan, sedangkan Soffia nampak keberatan.
“Biarkan Sandra menikmati waktu istirahatnya, kamu apa nggak malu, kalau sampai dia melihat kita yang sama sekali tidak terlihat seperti pasangan?” sebenarnya Rayyan merasa kasihan dengan Sandra, Rayyan tahu Sandra masih terkejut dengan posisinya saat ini, jadi Rayyan yakin, kalau pertemuan Sandra dengan teman-temannya setidaknya bisa mengobati perasaan Sadnra saat ini.
.
.
“San, kok tiba-tiba lo jadi gabung sama kita, bukannya katanya loe makan sama pak Rayyan dan bu Soffia? Lo nggak jadi ikut?” tanya Natalie kepada Sandra.
“Iya Kak, tadi bu Soffia maksa aku buat ikut, aku udah nolak tapi nggak enak juga, untungnya pak Rayyan bilang katanya dia cuman mau sama bu Soffia, jadi saya nggak mau sia-siakan kesempatan.” jawab Sandra seraya tersenyum.
"Bu Soffia, kayaknya mau akrab sama lo, San," timpal Rissa, dan dibenarkan juga oleh rekannya yang lain.
"Masa sih?" tanya Sandra tidak percaya.
"Iya, San. Mungkin bu Soffia berpikir, bahwa kamu pasti beda dari wanita lain, kamu nggak akan pernah seperti Gita, jadi dia mau deketin kamu dan minta kamubuat mata-matain pak Rayyan," timpal Nisa, memang mereka tengah makan siang bersama Nisa juga saat ini.
Sandara pun mencoba memikirkan perkataan Nisa. 'Masa iya? Tapi aku nggak mau terlibat dalam hubungan rumit mereka, aku cuman mau menjalani kehidupan magangku dengan baik,' batin Sandra kesal.
-/-
Di sisi lain, Rayyan dan Soffia sekarang berada di salah satu restaurant, mereka sudah memesan ruang VIP. Tapi, meski Soffia berhasil mengajak Rayyan makan siang bersamanya, tetap saja pikiran Rayyan tidak bersama Soffia, terbukti dengan Rayyan yang masih saja sibuk dengan ponsel miliknya, bahkan sesekali Rayyan tersenyum.
“Rayyan, bisa nggak sih, kamu bersikap lembut sedikit sama aku? Bisa nggak kamu perhatikan aku, dan anggap aku ini ada di hidup kamu?” pinta Soffia, hal yang biasa dan selalu diminta oleh Soffia. Soffia ingin, saat makan siang bersamanya, Rayyan bisa mempedulikannya, mereka dekat tapi terasa jauh.
“Sof, bukannya sedari awal aku udah bilang, aku nggak bisa, tapi kamu tetap maksa buat bertahan sama aku,” jawab Rayyan dengan acuh seraya menyantap makan siangnya.
"Ray, aku minta kamu juga untuk berjuang dan belajar mencintai aku, tapi selama ini kamu nggak pernah lakuin itu," kata Soffia, menatap Rayyan penuh kecewa.
“Apa aku harus menjadi wanita yang kamu sukai, yang bisa menemani kamu di ranjang?” tanya Soffia, dia jelas tahu kelakuan Rayyan, yang paling tidak bisa jauh dengan wanita seksi, dan pasti berakhir di ranjang panas.
“Aku juga bisa Rayyan, aku bisa melakukan semua itu, demi kamu!” ucap Soffia dengan menggebu.
“Kau bukan tipeku,” jawab Rayyan dengan dingin.
“Kau harus bisa menerima ku, mau tidak mau dan suka tidak suka kamu harus menerima ku Rayyan, karena aku adalah calon istri kamu,” Soffia selalu menekankan dan mengingatkan Rayyan, soal posisinya dan soal hubungan mereka berdua, yang mana mereka berdua sudah dijodohkan bahkan status mereka sudah bertunangan.
“San, kamu pergilah, saya cuman mau berdua dengan Soffia,” ujar Rayyan tiba-tiba saat mereka baru keluar dari lift. Seolah mendapatkan durian runtuh, Sandra mendapatkan bantuan dari Rayyan. Sandra hampir tidak percaya, namun dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
“Oh baik Pak,” jawab Sandra, dia pun langsung berpamitan, sedangkan Soffia nampak keberatan.
“Biarkan Sandra menikmati waktu istirahatnya, kamu apa nggak malu, kalau sampai dia melihat kita yang sama sekali tidak terlihat seperti pasangan?” sebenarnya Rayyan merasa kasihan dengan Sandra, Rayyan tahu Sandra masih terkejut dengan posisinya saat ini, jadi Rayyan yakin, kalau pertemuan Sandra dengan teman-temannya setidaknya bisa mengobati perasaan Sadnra saat ini.
.
.
“San, kok tiba-tiba lo jadi gabung sama kita, bukannya katanya loe makan sama pak Rayyan dan bu Soffia? Lo nggak jadi ikut?” tanya Natalie kepada Sandra.
“Iya Kak, tadi bu Soffia maksa aku buat ikut, aku udah nolak tapi nggak enak juga, untungnya pak Rayyan bilang katanya dia cuman mau sama bu Soffia, jadi saya nggak mau sia-siakan kesempatan.” jawab Sandra seraya tersenyum.
"Bu Soffia, kayaknya mau akrab sama lo, San," timpal Rissa, dan dibenarkan juga oleh rekannya yang lain.
"Masa sih?" tanya Sandra tidak percaya.
"Iya, San. Mungkin bu Soffia berpikir, bahwa kamu pasti beda dari wanita lain, kamu nggak akan pernah seperti Gita, jadi dia mau deketin kamu dan minta kamubuat mata-matain pak Rayyan," timpal Nisa, memang mereka tengah makan siang bersama Nisa juga saat ini.
Sandara pun mencoba memikirkan perkataan Nisa. 'Masa iya? Tapi aku nggak mau terlibat dalam hubungan rumit mereka, aku cuman mau menjalani kehidupan magangku dengan baik,' batin Sandra kesal.
-/-
Di sisi lain, Rayyan dan Soffia sekarang berada di salah satu restaurant, mereka sudah memesan ruang VIP. Tapi, meski Soffia berhasil mengajak Rayyan makan siang bersamanya, tetap saja pikiran Rayyan tidak bersama Soffia, terbukti dengan Rayyan yang masih saja sibuk dengan ponsel miliknya, bahkan sesekali Rayyan tersenyum.
“Rayyan, bisa nggak sih, kamu bersikap lembut sedikit sama aku? Bisa nggak kamu perhatikan aku, dan anggap aku ini ada di hidup kamu?” pinta Soffia, hal yang biasa dan selalu diminta oleh Soffia. Soffia ingin, saat makan siang bersamanya, Rayyan bisa mempedulikannya, mereka dekat tapi terasa jauh.
“Sof, bukannya sedari awal aku udah bilang, aku nggak bisa, tapi kamu tetap maksa buat bertahan sama aku,” jawab Rayyan dengan acuh seraya menyantap makan siangnya.
"Ray, aku minta kamu juga untuk berjuang dan belajar mencintai aku, tapi selama ini kamu nggak pernah lakuin itu," kata Soffia, menatap Rayyan penuh kecewa.
“Apa aku harus menjadi wanita yang kamu sukai, yang bisa menemani kamu di ranjang?” tanya Soffia, dia jelas tahu kelakuan Rayyan, yang paling tidak bisa jauh dengan wanita seksi, dan pasti berakhir di ranjang panas.
“Aku juga bisa Rayyan, aku bisa melakukan semua itu, demi kamu!” ucap Soffia dengan menggebu.
“Kau bukan tipeku,” jawab Rayyan dengan dingin.
“Kau harus bisa menerima ku, mau tidak mau dan suka tidak suka kamu harus menerima ku Rayyan, karena aku adalah calon istri kamu,” Soffia selalu menekankan dan mengingatkan Rayyan, soal posisinya dan soal hubungan mereka berdua, yang mana mereka berdua sudah dijodohkan bahkan status mereka sudah bertunangan.
__ADS_1