Tentang Luka Dan Cinta

Tentang Luka Dan Cinta
Ajakan makan siang


__ADS_3

“Bukankah kau sudah tahu sejak lama, bagaimana sikapku? Kalau kau tidak nyaman, kenapa masih bertahan?” kali ini Rayyan menatap Soffia dengan tajam.


“Karena aku mencintai kamu,” jawaban Soffia masih saja sama, dia bertahan karena cintanya.


“Itu lah sebabnya aku bertahan, aku tidak mau kamu dimiliki oleh orang lain. Dan aku akan berusaha menjauhkan orang lain itu dengan sekuat ku. Aku nggak akan perduli, mau kamu bilang aku egosi atau apapun, tapi yang aku tahu, sekarang aku sudah berhasil melakukannya bukan?” Soffia merasa rencananya sudah berhasil, karena dia sudah berhasil menyingkirkan Glenca.


“Kenapa kau begitu yakin? Bukankah aku bisa saja melakukannya juga dengan Sandra?” tantang Rayyan, namun kali ini Rayyan agak terkejut, karena Soffia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah was-was.


“Aku yakin, itu semua tidak akan terjadi,” jawab Soffia dengan keyakinan penuh. Dan itu membuat Rayyan bertanya dalam hati.


“Kau baru bertemu dengannya, tapi kau sudah sangat percaya dengan Sandra?” tanya Rayyan tersenyum miring.


“Karena aku sangat yakin, Sandra adalah wanita yang berbeda, dia tidak seperti wanita lain, yang bisa merebut kebahagiaan wanita lain, demi dirinya sendiri. Sandra wanita yang punya pendirian, berbeda dengan wanita yang sudah kamu kencani itu,” jawab Soffia, dan lagi-lagi Rayyan hanya tersenyum smirk. Rayyan pun memilih untuk tidak membalas apapun lagi, dia memilih kembali fokus pada pekerjaannya. Sedangkan Soffia duduk menunggu Rayyan seraya sibuk dengan ponselnya.


“Ayo kita makan siang.” ajak Soffia, karena ini sudah masuk jam makan siang.


“Hm,” hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Rayyan.


“Ajak Sandra juga ya?” pinta Soffia, dan hanya dijawab anggukan oleh Rayyan. Mereka berdua keluar dari ruangan Rayyan, dan langsung mendekati Sandra.


“Sandra, ayo makan siang.” Ajak Soffia dengan ramah. Sandra yang mendapat ajakan mendadak dari Soffia, tentu saja terkejut.


“Oh iya Bu, terimakasih atas ajakan makan siangnya. Tapi, Bu Soffia dan Pak Rayyan bisa duluan, nanti saya sama teman-teman saja,” tolak Sandra dengan sopan.


“Enggak, siang ini aku sengaja ajak kamu untuk makan siang bersama kami, sebagai ucapan selamat, karena kamu sudah menjadi sekretarus,” Soffia masih saja bersikeras, membuat Sandra kelimpungan. Sandra mencoba meminta bantuan Rayyan lewat sorot matanya, namun Rayyan seolah acuh dan dia memilih tidak menghiraukan Sandra.


“Sa-saya Bu?” tanya Sandra meyakinkan.


“Iya,” jawab Ellen dengan yakin.


“Aduh Bu, nggak usah, nanti saya ganggu waktu Pak Rayyan dan Ibu lagi,” Sandra berharap, dengan begini alasan ini, Soffia mau berubah pikiran, dan tidak mengajaknya. Sungguh Sandra tidak ingin diposisi sekarang ini.


“Nggak kok San, kan aku yang ajak. Ayo dong, Sandra, please ya kamu mau ikut,” pinta Soffia dengan nada memohon, akhirnya Sandr yang merasa tidak enak, dia pun mengiyakan ajakan Soffia. Padahal hari ini dia dan teman-temannya akan mencoba restaurant yang baru, namun pupus sudah harapan Sandra.


Sandra berjalan di belakang Rayyan dan Soffia, di samping Sandra ada juga Raka, dengan wajahnya yang tampan namun datar. Sandra benar-benar menghela napas kesal karena jam istirahatnya pun tidak bisa dia gunakan dengan bebas.


“San, kamu pergilah, saya cuman mau berdua dengan Soffia,” ujar Rayyan tiba-tiba saat mereka baru keluar dari lift. Seolah mendapatkan durian runtuh, Sandra mendapatkan bantuan dari Rayyan. Sandra hampir tidak percaya, namun dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.


“Oh baik Pak,” jawab Sandra, dia pun langsung berpamitan, sedangkan Soffia nampak keberatan.


“Rayyan, kok-,” Soffia hendak protes, tapi langsung di sanggah oleh Rayyan.


“Biarkan Sandra menikmati waktu istirahatnya, kamu apa nggak malu, kalau sampai dia melihat kita yang sama sekali tidak terlihat seperti pasangan?” sebenarnya Rayyan merasa kasihan dengan Sandra, Rayyan tahu Sandra masih terkejut dengan posisinya saat ini, jadi Rayyan yakin, kalau pertemuan Sandra dengan teman-temannya setidaknya bisa mengobati perasaan Sadnra saat ini.


“Bukankah kau sudah tahu sejak lama, bagaimana sikapku? Kalau kau tidak nyaman, kenapa masih bertahan?” kali ini Rayyan menatap Soffia dengan tajam.


“Karena aku mencintai kamu,” jawaban Soffia masih saja sama, dia bertahan karena cintanya.


“Itu lah sebabnya aku bertahan, aku tidak mau kamu dimiliki oleh orang lain. Dan aku akan berusaha menjauhkan orang lain itu dengan sekuat ku. Aku nggak akan perduli, mau kamu bilang aku egosi atau apapun, tapi yang aku tahu, sekarang aku sudah berhasil melakukannya bukan?” Soffia merasa rencananya sudah berhasil, karena dia sudah berhasil menyingkirkan Glenca.


“Kenapa kau begitu yakin? Bukankah aku bisa saja melakukannya juga dengan Sandra?” tantang Rayyan, namun kali ini Rayyan agak terkejut, karena Soffia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah was-was.


“Aku yakin, itu semua tidak akan terjadi,” jawab Soffia dengan keyakinan penuh. Dan itu membuat Rayyan bertanya dalam hati.


“Kau baru bertemu dengannya, tapi kau sudah sangat percaya dengan Sandra?” tanya Rayyan tersenyum miring.


“Karena aku sangat yakin, Sandra adalah wanita yang berbeda, dia tidak seperti wanita lain, yang bisa merebut kebahagiaan wanita lain, demi dirinya sendiri. Sandra wanita yang punya pendirian, berbeda dengan wanita yang sudah kamu kencani itu,” jawab Soffia, dan lagi-lagi Rayyan hanya tersenyum smirk. Rayyan pun memilih untuk tidak membalas apapun lagi, dia memilih kembali fokus pada pekerjaannya. Sedangkan Soffia duduk menunggu Rayyan seraya sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


“Ayo kita makan siang.” ajak Soffia, karena ini sudah masuk jam makan siang.


“Hm,” hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Rayyan.


“Ajak Sandra juga ya?” pinta Soffia, dan hanya dijawab anggukan oleh Rayyan. Mereka berdua keluar dari ruangan Rayyan, dan langsung mendekati Sandra.


“Sandra, ayo makan siang.” Ajak Soffia dengan ramah. Sandra yang mendapat ajakan mendadak dari Soffia, tentu saja terkejut.


“Oh iya Bu, terimakasih atas ajakan makan siangnya. Tapi, Bu Soffia dan Pak Rayyan bisa duluan, nanti saya sama teman-teman saja,” tolak Sandra dengan sopan.


“Enggak, siang ini aku sengaja ajak kamu untuk makan siang bersama kami, sebagai ucapan selamat, karena kamu sudah menjadi sekretarus,” Soffia masih saja bersikeras, membuat Sandra kelimpungan. Sandra mencoba meminta bantuan Rayyan lewat sorot matanya, namun Rayyan seolah acuh dan dia memilih tidak menghiraukan Sandra.


“Sa-saya Bu?” tanya Sandra meyakinkan.


“Iya,” jawab Ellen dengan yakin.


“Aduh Bu, nggak usah, nanti saya ganggu waktu Pak Rayyan dan Ibu lagi,” Sandra berharap, dengan begini alasan ini, Soffia mau berubah pikiran, dan tidak mengajaknya. Sungguh Sandra tidak ingin diposisi sekarang ini.


“Nggak kok San, kan aku yang ajak. Ayo dong, Sandra, please ya kamu mau ikut,” pinta Soffia dengan nada memohon, akhirnya Sandr yang merasa tidak enak, dia pun mengiyakan ajakan Soffia. Padahal hari ini dia dan teman-temannya akan mencoba restaurant yang baru, namun pupus sudah harapan Sandra.


Sandra berjalan di belakang Rayyan dan Soffia, di samping Sandra ada juga Raka, dengan wajahnya yang tampan namun datar. Sandra benar-benar menghela napas kesal karena jam istirahatnya pun tidak bisa dia gunakan dengan bebas.


“San, kamu pergilah, saya cuman mau berdua dengan Soffia,” ujar Rayyan tiba-tiba saat mereka baru keluar dari lift. Seolah mendapatkan durian runtuh, Sandra mendapatkan bantuan dari Rayyan. Sandra hampir tidak percaya, namun dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.


“Oh baik Pak,” jawab Sandra, dia pun langsung berpamitan, sedangkan Soffia nampak keberatan.


“Rayyan, kok-,” Soffia hendak protes, tapi langsung di sanggah oleh Rayyan.


“Biarkan Sandra menikmati waktu istirahatnya, kamu apa nggak malu, kalau sampai dia melihat kita yang sama sekali tidak terlihat seperti pasangan?” sebenarnya Rayyan merasa kasihan dengan Sandra, Rayyan tahu Sandra masih terkejut dengan posisinya saat ini, jadi Rayyan yakin, kalau pertemuan Sandra dengan teman-temannya setidaknya bisa mengobati perasaan Sadnra saat ini.


“Bukankah kau sudah tahu sejak lama, bagaimana sikapku? Kalau kau tidak nyaman, kenapa masih bertahan?” kali ini Rayyan menatap Soffia dengan tajam.


“Karena aku mencintai kamu,” jawaban Soffia masih saja sama, dia bertahan karena cintanya.


“Itu lah sebabnya aku bertahan, aku tidak mau kamu dimiliki oleh orang lain. Dan aku akan berusaha menjauhkan orang lain itu dengan sekuat ku. Aku nggak akan perduli, mau kamu bilang aku egosi atau apapun, tapi yang aku tahu, sekarang aku sudah berhasil melakukannya bukan?” Soffia merasa rencananya sudah berhasil, karena dia sudah berhasil menyingkirkan Glenca.


“Kenapa kau begitu yakin? Bukankah aku bisa saja melakukannya juga dengan Sandra?” tantang Rayyan, namun kali ini Rayyan agak terkejut, karena Soffia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah was-was.


“Aku yakin, itu semua tidak akan terjadi,” jawab Soffia dengan keyakinan penuh. Dan itu membuat Rayyan bertanya dalam hati.


“Kau baru bertemu dengannya, tapi kau sudah sangat percaya dengan Sandra?” tanya Rayyan tersenyum miring.


“Karena aku sangat yakin, Sandra adalah wanita yang berbeda, dia tidak seperti wanita lain, yang bisa merebut kebahagiaan wanita lain, demi dirinya sendiri. Sandra wanita yang punya pendirian, berbeda dengan wanita yang sudah kamu kencani itu,” jawab Soffia, dan lagi-lagi Rayyan hanya tersenyum smirk. Rayyan pun memilih untuk tidak membalas apapun lagi, dia memilih kembali fokus pada pekerjaannya. Sedangkan Soffia duduk menunggu Rayyan seraya sibuk dengan ponselnya.


“Ayo kita makan siang.” ajak Soffia, karena ini sudah masuk jam makan siang.


“Hm,” hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Rayyan.


“Ajak Sandra juga ya?” pinta Soffia, dan hanya dijawab anggukan oleh Rayyan. Mereka berdua keluar dari ruangan Rayyan, dan langsung mendekati Sandra.


“Sandra, ayo makan siang.” Ajak Soffia dengan ramah. Sandra yang mendapat ajakan mendadak dari Soffia, tentu saja terkejut.


“Oh iya Bu, terimakasih atas ajakan makan siangnya. Tapi, Bu Soffia dan Pak Rayyan bisa duluan, nanti saya sama teman-teman saja,” tolak Sandra dengan sopan.


“Enggak, siang ini aku sengaja ajak kamu untuk makan siang bersama kami, sebagai ucapan selamat, karena kamu sudah menjadi sekretarus,” Soffia masih saja bersikeras, membuat Sandra kelimpungan. Sandra mencoba meminta bantuan Rayyan lewat sorot matanya, namun Rayyan seolah acuh dan dia memilih tidak menghiraukan Sandra.


“Sa-saya Bu?” tanya Sandra meyakinkan.

__ADS_1


“Iya,” jawab Ellen dengan yakin.


“Aduh Bu, nggak usah, nanti saya ganggu waktu Pak Rayyan dan Ibu lagi,” Sandra berharap, dengan begini alasan ini, Soffia mau berubah pikiran, dan tidak mengajaknya. Sungguh Sandra tidak ingin diposisi sekarang ini.


“Nggak kok San, kan aku yang ajak. Ayo dong, Sandra, please ya kamu mau ikut,” pinta Soffia dengan nada memohon, akhirnya Sandr yang merasa tidak enak, dia pun mengiyakan ajakan Soffia. Padahal hari ini dia dan teman-temannya akan mencoba restaurant yang baru, namun pupus sudah harapan Sandra.


Sandra berjalan di belakang Rayyan dan Soffia, di samping Sandra ada juga Raka, dengan wajahnya yang tampan namun datar. Sandra benar-benar menghela napas kesal karena jam istirahatnya pun tidak bisa dia gunakan dengan bebas.


“San, kamu pergilah, saya cuman mau berdua dengan Soffia,” ujar Rayyan tiba-tiba saat mereka baru keluar dari lift. Seolah mendapatkan durian runtuh, Sandra mendapatkan bantuan dari Rayyan. Sandra hampir tidak percaya, namun dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.


“Oh baik Pak,” jawab Sandra, dia pun langsung berpamitan, sedangkan Soffia nampak keberatan.


“Rayyan, kok-,” Soffia hendak protes, tapi langsung di sanggah oleh Rayyan.


“Biarkan Sandra menikmati waktu istirahatnya, kamu apa nggak malu, kalau sampai dia melihat kita yang sama sekali tidak terlihat seperti pasangan?” sebenarnya Rayyan merasa kasihan dengan Sandra, Rayyan tahu Sandra masih terkejut dengan posisinya saat ini, jadi Rayyan yakin, kalau pertemuan Sandra dengan teman-temannya setidaknya bisa mengobati perasaan Sadnra saat ini.


“Bukankah kau sudah tahu sejak lama, bagaimana sikapku? Kalau kau tidak nyaman, kenapa masih bertahan?” kali ini Rayyan menatap Soffia dengan tajam.


“Karena aku mencintai kamu,” jawaban Soffia masih saja sama, dia bertahan karena cintanya.


“Itu lah sebabnya aku bertahan, aku tidak mau kamu dimiliki oleh orang lain. Dan aku akan berusaha menjauhkan orang lain itu dengan sekuat ku. Aku nggak akan perduli, mau kamu bilang aku egosi atau apapun, tapi yang aku tahu, sekarang aku sudah berhasil melakukannya bukan?” Soffia merasa rencananya sudah berhasil, karena dia sudah berhasil menyingkirkan Glenca.


“Kenapa kau begitu yakin? Bukankah aku bisa saja melakukannya juga dengan Sandra?” tantang Rayyan, namun kali ini Rayyan agak terkejut, karena Soffia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah was-was.


“Aku yakin, itu semua tidak akan terjadi,” jawab Soffia dengan keyakinan penuh. Dan itu membuat Rayyan bertanya dalam hati.


“Kau baru bertemu dengannya, tapi kau sudah sangat percaya dengan Sandra?” tanya Rayyan tersenyum miring.


“Karena aku sangat yakin, Sandra adalah wanita yang berbeda, dia tidak seperti wanita lain, yang bisa merebut kebahagiaan wanita lain, demi dirinya sendiri. Sandra wanita yang punya pendirian, berbeda dengan wanita yang sudah kamu kencani itu,” jawab Soffia, dan lagi-lagi Rayyan hanya tersenyum smirk. Rayyan pun memilih untuk tidak membalas apapun lagi, dia memilih kembali fokus pada pekerjaannya. Sedangkan Soffia duduk menunggu Rayyan seraya sibuk dengan ponselnya.


“Ayo kita makan siang.” ajak Soffia, karena ini sudah masuk jam makan siang.


“Hm,” hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Rayyan.


“Ajak Sandra juga ya?” pinta Soffia, dan hanya dijawab anggukan oleh Rayyan. Mereka berdua keluar dari ruangan Rayyan, dan langsung mendekati Sandra.


“Sandra, ayo makan siang.” Ajak Soffia dengan ramah. Sandra yang mendapat ajakan mendadak dari Soffia, tentu saja terkejut.


“Oh iya Bu, terimakasih atas ajakan makan siangnya. Tapi, Bu Soffia dan Pak Rayyan bisa duluan, nanti saya sama teman-teman saja,” tolak Sandra dengan sopan.


“Enggak, siang ini aku sengaja ajak kamu untuk makan siang bersama kami, sebagai ucapan selamat, karena kamu sudah menjadi sekretarus,” Soffia masih saja bersikeras, membuat Sandra kelimpungan. Sandra mencoba meminta bantuan Rayyan lewat sorot matanya, namun Rayyan seolah acuh dan dia memilih tidak menghiraukan Sandra.


“Sa-saya Bu?” tanya Sandra meyakinkan.


“Iya,” jawab Ellen dengan yakin.


“Aduh Bu, nggak usah, nanti saya ganggu waktu Pak Rayyan dan Ibu lagi,” Sandra berharap, dengan begini alasan ini, Soffia mau berubah pikiran, dan tidak mengajaknya. Sungguh Sandra tidak ingin diposisi sekarang ini.


“Nggak kok San, kan aku yang ajak. Ayo dong, Sandra, please ya kamu mau ikut,” pinta Soffia dengan nada memohon, akhirnya Sandr yang merasa tidak enak, dia pun mengiyakan ajakan Soffia. Padahal hari ini dia dan teman-temannya akan mencoba restaurant yang baru, namun pupus sudah harapan Sandra.


Sandra berjalan di belakang Rayyan dan Soffia, di samping Sandra ada juga Raka, dengan wajahnya yang tampan namun datar. Sandra benar-benar menghela napas kesal karena jam istirahatnya pun tidak bisa dia gunakan dengan bebas.


“San, kamu pergilah, saya cuman mau berdua dengan Soffia,” ujar Rayyan tiba-tiba saat mereka baru keluar dari lift. Seolah mendapatkan durian runtuh, Sandra mendapatkan bantuan dari Rayyan. Sandra hampir tidak percaya, namun dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.


“Oh baik Pak,” jawab Sandra, dia pun langsung berpamitan, sedangkan Soffia nampak keberatan.


“Rayyan, kok-,” Soffia hendak protes, tapi langsung di sanggah oleh Rayyan.

__ADS_1


“Biarkan Sandra menikmati waktu istirahatnya, kamu apa nggak malu, kalau sampai dia melihat kita yang sama sekali tidak terlihat seperti pasangan?” sebenarnya Rayyan merasa kasihan dengan Sandra, Rayyan tahu Sandra masih terkejut dengan posisinya saat ini, jadi Rayyan yakin, kalau pertemuan Sandra dengan teman-temannya setidaknya bisa mengobati perasaan Sadnra saat ini.


__ADS_2