
“Gue paham di posisi lo, San,” Bima mengusap punggung Sandra, mencoba memberikan dukungan untuk sahabat terbaiknya.
“Gue juga paham perasaan kedua orangtua lo,” ujar Bima lagi, dia tidak sepenuhnya menyalahkan kedua orang tua Sandra, “mereka khawatir dengan anak gadisnya, karena biar bagaimanapun pekerjaan ini tidak bisa dianggap enteng. Mungkin, kalau gue jadi orangtua lo, gue juga bakal lakuin hal yang sama," tutur Bima.
“Gue saat ini masih nyaman dengan pekerjaan ini, karena ini bisa mengikis rasa kesepian gue. Setidaknya, untuk sekarang gue bisa menjadikan pekerjaan gue sebagai pelarian, Bim," ucap Sandra.
"Tapi lo juga bener, gue punya cita-cita dan nggak akan selamanya gue ada di sini, akan ada masanya gue keluar dari zona nyaman gue, dan gue mulai mencari jalan untuk menggapai semua mimpi gue. Gue udah punya tujuan kok, dan gue udah punya gambaran, gue mau apa dan seperti apa, tinggal lihat nanti, apakah Yang Maha Kuasa akan memudahkan jalannya?” terang Sandra.
“Sama seperti lo San, gue juga nggak pernah saranin siapapun untuk bekerja dengan cara yang nggak baik. Gue punya keinginan dan harapan, bahwa suatu saat gue bisa bekerja di kantor, menjadi pengacara dan bikin bokap gue bangga. Gue udah susun rencana masa depan gue, tapi itu semua masih belum pasti,” ujar Bima seraya menundukkan wajahnya sendu.Sandra jelas paham, apa yang Bima inginkan. Bima memang mengambil jurusan hukum, dan dia berjanji dia akan keluar dari club dan berharap ayahnya juga tidak lagi menjalankan bisnis ini. Bima adalah lelaki pekerja keras, dia akan selalu berusaha untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan. Termasuk cita-citanya untuk menjadi pengacara ternama.
“Bokap terus minta gue untuk lanjutin bisnis ini, padahal gue bener-bener udah muak banget. Ini sangat bertentangan sama hati nurani gue, San.” Bima, yang memang selalu berkata, bahwa Bima ingin suatu saat, ketika dia sudah berhasil mengejar cita-citanya, Bima ingin membawa ayahnya serta merta ikut dengannya, menatao kehidupan yang lebih baik di masa tua sang ayah. Bima tahu, apapun yang didapatkan ayahnya dari club, bukanlah hal baik.
Malihat Bima, yang juga memiliki keinginan begitu besar, untuk mengubah jalan hidupnya, membuat Sandra semakin yakin, dirinya pun kelak akan bisa keluar dari zona nyamannya sekarang ini. Namun, Sandra paham, dia masih ingin menikmati semuanya, sebelum akhirnya harus melepaskan semua ini.
“Gue harap, apa yang loe cita-citakan bisa segera terwujud. Lo adalah orang yang pekerja keras, gue yakin banget suatu saat semua yang lo rencanakan, akan bisa lo lakuin. Lo bisa bangkit dan bawa bokap lo keluar dari sini,” hanya itu yang bisa Sandra katakan kepada Bima. Kata-kata penyemangat dari seorang sahabat, Sandra yakin, BIma akan bisa menggapai apa yang dia inginkan. Karena BIma, adalah orang yang tidak mudah menyerah. Setelah bercerita dengan Bima, setidaknya sekarang ini suasana hati Sandra menjadi lebih baik, dia bahkan dia juga seakan lupa dengan apa yang tengah direncanakan oleh Rayyan.
Sandra mulai melakukan pekerjaannya, ketika sudah mulai memegang alat DJ, Sandra seolah lupa sejenak dengan permasalahan hidup, dia melampiaskan semuanya dengan music yang dia mainkan. Melihat semua orang menikmati musiknya, membuat Sandra ikut senang.
.
.
Hari ini, Sandra berangkat ke kantor seperti biasa. Sandra sudah tidak perduli dengan apa yang akan Rayyan lakukan, jika memang Rayyan akan mengeluarkanna dari kantor ini, maka Sandra sudah memiliki rencana, untuk pindah ke kantor Gema. Tanpa beban sama sekali, dia melangkah menuju ruangan yang sudah dia tempati seperti biasa.
“San, lo dipanggil sama pak Rayyan,” ujar Natalie dengan cemas. Mendengar nama Rayyan, membuat Sandra teringat dengan pertemuannya kemarin sore.
‘Kira-kira ngapain coba gue disuruh ke sana,’ batin Sandra was-was, akhirnya dengan langkah beratnya. Sandra menuju ke lift dan menekan lantai di mana ruangan CEO berada. Saat sampai, Sandra menatap meja sekretaris yang kosong, bahkan barang-barang milik Glenca pun tidak ada.
"Bersih banget nih meja, sampai nggak ada berkas sama sekali," gumam Sandra.
“Kau sudah datang?” Sandra berjingkat kaget, saat suara yang tidak asing menyapa pendengarannya.
“Pak Raka?” lirih Sandra.
“Masuklah, Tuan Rayyan sudah menunggumu,” ujar Raka seraya memberikan jalan untuk Sandra. Sandra melangkah dengan perlahan, dan saat dia sudah masuk ke dalam ruangan CEO, dapat Sandra lihat, Rayyan yang tengah sibuk, atau mungkin hanya pura-pura sibuk?
“Kau sudah datang?” tanya Rayyan, tanpa menoleh sedikitpun kearah Sandra.
“Duduklah di sini,” Rayyan menunjuk kursi di hadapannya, akhirnya Sandra pun melangkah, lalu menarik kursi di hadadapan Rayyan. Jarak mereka hanya dibatasi oleh meja kerja Rayyan.
'Ok tenang Sandra, lo harus kuatin batin lo, mungkin dia mau mengeluarkan surat buat ngeluarin lo dari kantor ini,' batin Sandra.
“Bagaimana tidurmu semalam? Apakah nyenyak?” tanya Rayyan basa-basi, dan itu membuat Sandra begitu muak. Rayyan seolah mengulur waktu, membuat Sandra mati penasaran, tentang apa yang ingin dikatakan oleh Rayyan.
“Sudahlah Pak, langsung to the point aja,” pinta Sandra, dia tahu kalau saat ini Rayyan hanya sedang mengulur waktu. Rayyan tertawa mendengar ucapan Rayyan, dia sama sekali tidak marah dengan Sandra.
“Baiklah, aku akan langsung pada akar masalahnya, aku mengizinkan kamu tetap magang di sini, tapi kamu akan ditempatkan sebagai sekretarisku,” sontak saja, Sandra langsung membulatkan matanya terkejut.
“Gue paham di posisi lo, San,” Bima mengusap punggung Sandra, mencoba memberikan dukungan untuk sahabat terbaiknya.
“Gue juga paham perasaan kedua orangtua lo,” ujar Bima lagi, dia tidak sepenuhnya menyalahkan kedua orang tua Sandra, “mereka khawatir dengan anak gadisnya, karena biar bagaimanapun pekerjaan ini tidak bisa dianggap enteng. Mungkin, kalau gue jadi orangtua lo, gue juga bakal lakuin hal yang sama," tutur Bima.
“Gue saat ini masih nyaman dengan pekerjaan ini, karena ini bisa mengikis rasa kesepian gue. Setidaknya, untuk sekarang gue bisa menjadikan pekerjaan gue sebagai pelarian, Bim," ucap Sandra.
"Tapi lo juga bener, gue punya cita-cita dan nggak akan selamanya gue ada di sini, akan ada masanya gue keluar dari zona nyaman gue, dan gue mulai mencari jalan untuk menggapai semua mimpi gue. Gue udah punya tujuan kok, dan gue udah punya gambaran, gue mau apa dan seperti apa, tinggal lihat nanti, apakah Yang Maha Kuasa akan memudahkan jalannya?” terang Sandra.
“Sama seperti lo San, gue juga nggak pernah saranin siapapun untuk bekerja dengan cara yang nggak baik. Gue punya keinginan dan harapan, bahwa suatu saat gue bisa bekerja di kantor, menjadi pengacara dan bikin bokap gue bangga. Gue udah susun rencana masa depan gue, tapi itu semua masih belum pasti,” ujar Bima seraya menundukkan wajahnya sendu.Sandra jelas paham, apa yang Bima inginkan. Bima memang mengambil jurusan hukum, dan dia berjanji dia akan keluar dari club dan berharap ayahnya juga tidak lagi menjalankan bisnis ini. Bima adalah lelaki pekerja keras, dia akan selalu berusaha untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan. Termasuk cita-citanya untuk menjadi pengacara ternama.
“Bokap terus minta gue untuk lanjutin bisnis ini, padahal gue bener-bener udah muak banget. Ini sangat bertentangan sama hati nurani gue, San.” Bima, yang memang selalu berkata, bahwa Bima ingin suatu saat, ketika dia sudah berhasil mengejar cita-citanya, Bima ingin membawa ayahnya serta merta ikut dengannya, menatao kehidupan yang lebih baik di masa tua sang ayah. Bima tahu, apapun yang didapatkan ayahnya dari club, bukanlah hal baik.
Malihat Bima, yang juga memiliki keinginan begitu besar, untuk mengubah jalan hidupnya, membuat Sandra semakin yakin, dirinya pun kelak akan bisa keluar dari zona nyamannya sekarang ini. Namun, Sandra paham, dia masih ingin menikmati semuanya, sebelum akhirnya harus melepaskan semua ini.
“Gue harap, apa yang loe cita-citakan bisa segera terwujud. Lo adalah orang yang pekerja keras, gue yakin banget suatu saat semua yang lo rencanakan, akan bisa lo lakuin. Lo bisa bangkit dan bawa bokap lo keluar dari sini,” hanya itu yang bisa Sandra katakan kepada Bima. Kata-kata penyemangat dari seorang sahabat, Sandra yakin, BIma akan bisa menggapai apa yang dia inginkan. Karena BIma, adalah orang yang tidak mudah menyerah. Setelah bercerita dengan Bima, setidaknya sekarang ini suasana hati Sandra menjadi lebih baik, dia bahkan dia juga seakan lupa dengan apa yang tengah direncanakan oleh Rayyan.
__ADS_1
Sandra mulai melakukan pekerjaannya, ketika sudah mulai memegang alat DJ, Sandra seolah lupa sejenak dengan permasalahan hidup, dia melampiaskan semuanya dengan music yang dia mainkan. Melihat semua orang menikmati musiknya, membuat Sandra ikut senang.
.
.
Hari ini, Sandra berangkat ke kantor seperti biasa. Sandra sudah tidak perduli dengan apa yang akan Rayyan lakukan, jika memang Rayyan akan mengeluarkanna dari kantor ini, maka Sandra sudah memiliki rencana, untuk pindah ke kantor Gema. Tanpa beban sama sekali, dia melangkah menuju ruangan yang sudah dia tempati seperti biasa.
“San, lo dipanggil sama pak Rayyan,” ujar Natalie dengan cemas. Mendengar nama Rayyan, membuat Sandra teringat dengan pertemuannya kemarin sore.
‘Kira-kira ngapain coba gue disuruh ke sana,’ batin Sandra was-was, akhirnya dengan langkah beratnya. Sandra menuju ke lift dan menekan lantai di mana ruangan CEO berada. Saat sampai, Sandra menatap meja sekretaris yang kosong, bahkan barang-barang milik Glenca pun tidak ada.
"Bersih banget nih meja, sampai nggak ada berkas sama sekali," gumam Sandra.
“Kau sudah datang?” Sandra berjingkat kaget, saat suara yang tidak asing menyapa pendengarannya.
“Pak Raka?” lirih Sandra.
“Masuklah, Tuan Rayyan sudah menunggumu,” ujar Raka seraya memberikan jalan untuk Sandra. Sandra melangkah dengan perlahan, dan saat dia sudah masuk ke dalam ruangan CEO, dapat Sandra lihat, Rayyan yang tengah sibuk, atau mungkin hanya pura-pura sibuk?
“Kau sudah datang?” tanya Rayyan, tanpa menoleh sedikitpun kearah Sandra.
“Duduklah di sini,” Rayyan menunjuk kursi di hadapannya, akhirnya Sandra pun melangkah, lalu menarik kursi di hadadapan Rayyan. Jarak mereka hanya dibatasi oleh meja kerja Rayyan.
'Ok tenang Sandra, lo harus kuatin batin lo, mungkin dia mau mengeluarkan surat buat ngeluarin lo dari kantor ini,' batin Sandra.
“Bagaimana tidurmu semalam? Apakah nyenyak?” tanya Rayyan basa-basi, dan itu membuat Sandra begitu muak. Rayyan seolah mengulur waktu, membuat Sandra mati penasaran, tentang apa yang ingin dikatakan oleh Rayyan.
“Sudahlah Pak, langsung to the point aja,” pinta Sandra, dia tahu kalau saat ini Rayyan hanya sedang mengulur waktu. Rayyan tertawa mendengar ucapan Rayyan, dia sama sekali tidak marah dengan Sandra.
“Baiklah, aku akan langsung pada akar masalahnya, aku mengizinkan kamu tetap magang di sini, tapi kamu akan ditempatkan sebagai sekretarisku,” sontak saja, Sandra langsung membulatkan matanya terkejut.
“Gue paham di posisi lo, San,” Bima mengusap punggung Sandra, mencoba memberikan dukungan untuk sahabat terbaiknya.
“Gue juga paham perasaan kedua orangtua lo,” ujar Bima lagi, dia tidak sepenuhnya menyalahkan kedua orang tua Sandra, “mereka khawatir dengan anak gadisnya, karena biar bagaimanapun pekerjaan ini tidak bisa dianggap enteng. Mungkin, kalau gue jadi orangtua lo, gue juga bakal lakuin hal yang sama," tutur Bima.
“Gue saat ini masih nyaman dengan pekerjaan ini, karena ini bisa mengikis rasa kesepian gue. Setidaknya, untuk sekarang gue bisa menjadikan pekerjaan gue sebagai pelarian, Bim," ucap Sandra.
"Tapi lo juga bener, gue punya cita-cita dan nggak akan selamanya gue ada di sini, akan ada masanya gue keluar dari zona nyaman gue, dan gue mulai mencari jalan untuk menggapai semua mimpi gue. Gue udah punya tujuan kok, dan gue udah punya gambaran, gue mau apa dan seperti apa, tinggal lihat nanti, apakah Yang Maha Kuasa akan memudahkan jalannya?” terang Sandra.
“Sama seperti lo San, gue juga nggak pernah saranin siapapun untuk bekerja dengan cara yang nggak baik. Gue punya keinginan dan harapan, bahwa suatu saat gue bisa bekerja di kantor, menjadi pengacara dan bikin bokap gue bangga. Gue udah susun rencana masa depan gue, tapi itu semua masih belum pasti,” ujar Bima seraya menundukkan wajahnya sendu.Sandra jelas paham, apa yang Bima inginkan. Bima memang mengambil jurusan hukum, dan dia berjanji dia akan keluar dari club dan berharap ayahnya juga tidak lagi menjalankan bisnis ini. Bima adalah lelaki pekerja keras, dia akan selalu berusaha untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan. Termasuk cita-citanya untuk menjadi pengacara ternama.
“Bokap terus minta gue untuk lanjutin bisnis ini, padahal gue bener-bener udah muak banget. Ini sangat bertentangan sama hati nurani gue, San.” Bima, yang memang selalu berkata, bahwa Bima ingin suatu saat, ketika dia sudah berhasil mengejar cita-citanya, Bima ingin membawa ayahnya serta merta ikut dengannya, menatao kehidupan yang lebih baik di masa tua sang ayah. Bima tahu, apapun yang didapatkan ayahnya dari club, bukanlah hal baik.
Malihat Bima, yang juga memiliki keinginan begitu besar, untuk mengubah jalan hidupnya, membuat Sandra semakin yakin, dirinya pun kelak akan bisa keluar dari zona nyamannya sekarang ini. Namun, Sandra paham, dia masih ingin menikmati semuanya, sebelum akhirnya harus melepaskan semua ini.
“Gue harap, apa yang loe cita-citakan bisa segera terwujud. Lo adalah orang yang pekerja keras, gue yakin banget suatu saat semua yang lo rencanakan, akan bisa lo lakuin. Lo bisa bangkit dan bawa bokap lo keluar dari sini,” hanya itu yang bisa Sandra katakan kepada Bima. Kata-kata penyemangat dari seorang sahabat, Sandra yakin, BIma akan bisa menggapai apa yang dia inginkan. Karena BIma, adalah orang yang tidak mudah menyerah. Setelah bercerita dengan Bima, setidaknya sekarang ini suasana hati Sandra menjadi lebih baik, dia bahkan dia juga seakan lupa dengan apa yang tengah direncanakan oleh Rayyan.
Sandra mulai melakukan pekerjaannya, ketika sudah mulai memegang alat DJ, Sandra seolah lupa sejenak dengan permasalahan hidup, dia melampiaskan semuanya dengan music yang dia mainkan. Melihat semua orang menikmati musiknya, membuat Sandra ikut senang.
.
.
Hari ini, Sandra berangkat ke kantor seperti biasa. Sandra sudah tidak perduli dengan apa yang akan Rayyan lakukan, jika memang Rayyan akan mengeluarkanna dari kantor ini, maka Sandra sudah memiliki rencana, untuk pindah ke kantor Gema. Tanpa beban sama sekali, dia melangkah menuju ruangan yang sudah dia tempati seperti biasa.
“San, lo dipanggil sama pak Rayyan,” ujar Natalie dengan cemas. Mendengar nama Rayyan, membuat Sandra teringat dengan pertemuannya kemarin sore.
‘Kira-kira ngapain coba gue disuruh ke sana,’ batin Sandra was-was, akhirnya dengan langkah beratnya. Sandra menuju ke lift dan menekan lantai di mana ruangan CEO berada. Saat sampai, Sandra menatap meja sekretaris yang kosong, bahkan barang-barang milik Glenca pun tidak ada.
"Bersih banget nih meja, sampai nggak ada berkas sama sekali," gumam Sandra.
“Kau sudah datang?” Sandra berjingkat kaget, saat suara yang tidak asing menyapa pendengarannya.
__ADS_1
“Pak Raka?” lirih Sandra.
“Masuklah, Tuan Rayyan sudah menunggumu,” ujar Raka seraya memberikan jalan untuk Sandra. Sandra melangkah dengan perlahan, dan saat dia sudah masuk ke dalam ruangan CEO, dapat Sandra lihat, Rayyan yang tengah sibuk, atau mungkin hanya pura-pura sibuk?
“Kau sudah datang?” tanya Rayyan, tanpa menoleh sedikitpun kearah Sandra.
“Duduklah di sini,” Rayyan menunjuk kursi di hadapannya, akhirnya Sandra pun melangkah, lalu menarik kursi di hadadapan Rayyan. Jarak mereka hanya dibatasi oleh meja kerja Rayyan.
'Ok tenang Sandra, lo harus kuatin batin lo, mungkin dia mau mengeluarkan surat buat ngeluarin lo dari kantor ini,' batin Sandra.
“Bagaimana tidurmu semalam? Apakah nyenyak?” tanya Rayyan basa-basi, dan itu membuat Sandra begitu muak. Rayyan seolah mengulur waktu, membuat Sandra mati penasaran, tentang apa yang ingin dikatakan oleh Rayyan.
“Sudahlah Pak, langsung to the point aja,” pinta Sandra, dia tahu kalau saat ini Rayyan hanya sedang mengulur waktu. Rayyan tertawa mendengar ucapan Rayyan, dia sama sekali tidak marah dengan Sandra.
“Baiklah, aku akan langsung pada akar masalahnya, aku mengizinkan kamu tetap magang di sini, tapi kamu akan ditempatkan sebagai sekretarisku,” sontak saja, Sandra langsung membulatkan matanya terkejut.
“Gue paham di posisi lo, San,” Bima mengusap punggung Sandra, mencoba memberikan dukungan untuk sahabat terbaiknya.
“Gue juga paham perasaan kedua orangtua lo,” ujar Bima lagi, dia tidak sepenuhnya menyalahkan kedua orang tua Sandra, “mereka khawatir dengan anak gadisnya, karena biar bagaimanapun pekerjaan ini tidak bisa dianggap enteng. Mungkin, kalau gue jadi orangtua lo, gue juga bakal lakuin hal yang sama," tutur Bima.
“Gue saat ini masih nyaman dengan pekerjaan ini, karena ini bisa mengikis rasa kesepian gue. Setidaknya, untuk sekarang gue bisa menjadikan pekerjaan gue sebagai pelarian, Bim," ucap Sandra.
"Tapi lo juga bener, gue punya cita-cita dan nggak akan selamanya gue ada di sini, akan ada masanya gue keluar dari zona nyaman gue, dan gue mulai mencari jalan untuk menggapai semua mimpi gue. Gue udah punya tujuan kok, dan gue udah punya gambaran, gue mau apa dan seperti apa, tinggal lihat nanti, apakah Yang Maha Kuasa akan memudahkan jalannya?” terang Sandra.
“Sama seperti lo San, gue juga nggak pernah saranin siapapun untuk bekerja dengan cara yang nggak baik. Gue punya keinginan dan harapan, bahwa suatu saat gue bisa bekerja di kantor, menjadi pengacara dan bikin bokap gue bangga. Gue udah susun rencana masa depan gue, tapi itu semua masih belum pasti,” ujar Bima seraya menundukkan wajahnya sendu.Sandra jelas paham, apa yang Bima inginkan. Bima memang mengambil jurusan hukum, dan dia berjanji dia akan keluar dari club dan berharap ayahnya juga tidak lagi menjalankan bisnis ini. Bima adalah lelaki pekerja keras, dia akan selalu berusaha untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan. Termasuk cita-citanya untuk menjadi pengacara ternama.
“Bokap terus minta gue untuk lanjutin bisnis ini, padahal gue bener-bener udah muak banget. Ini sangat bertentangan sama hati nurani gue, San.” Bima, yang memang selalu berkata, bahwa Bima ingin suatu saat, ketika dia sudah berhasil mengejar cita-citanya, Bima ingin membawa ayahnya serta merta ikut dengannya, menatao kehidupan yang lebih baik di masa tua sang ayah. Bima tahu, apapun yang didapatkan ayahnya dari club, bukanlah hal baik.
Malihat Bima, yang juga memiliki keinginan begitu besar, untuk mengubah jalan hidupnya, membuat Sandra semakin yakin, dirinya pun kelak akan bisa keluar dari zona nyamannya sekarang ini. Namun, Sandra paham, dia masih ingin menikmati semuanya, sebelum akhirnya harus melepaskan semua ini.
“Gue harap, apa yang loe cita-citakan bisa segera terwujud. Lo adalah orang yang pekerja keras, gue yakin banget suatu saat semua yang lo rencanakan, akan bisa lo lakuin. Lo bisa bangkit dan bawa bokap lo keluar dari sini,” hanya itu yang bisa Sandra katakan kepada Bima. Kata-kata penyemangat dari seorang sahabat, Sandra yakin, BIma akan bisa menggapai apa yang dia inginkan. Karena BIma, adalah orang yang tidak mudah menyerah. Setelah bercerita dengan Bima, setidaknya sekarang ini suasana hati Sandra menjadi lebih baik, dia bahkan dia juga seakan lupa dengan apa yang tengah direncanakan oleh Rayyan.
Sandra mulai melakukan pekerjaannya, ketika sudah mulai memegang alat DJ, Sandra seolah lupa sejenak dengan permasalahan hidup, dia melampiaskan semuanya dengan music yang dia mainkan. Melihat semua orang menikmati musiknya, membuat Sandra ikut senang.
.
.
Hari ini, Sandra berangkat ke kantor seperti biasa. Sandra sudah tidak perduli dengan apa yang akan Rayyan lakukan, jika memang Rayyan akan mengeluarkanna dari kantor ini, maka Sandra sudah memiliki rencana, untuk pindah ke kantor Gema. Tanpa beban sama sekali, dia melangkah menuju ruangan yang sudah dia tempati seperti biasa.
“San, lo dipanggil sama pak Rayyan,” ujar Natalie dengan cemas. Mendengar nama Rayyan, membuat Sandra teringat dengan pertemuannya kemarin sore.
‘Kira-kira ngapain coba gue disuruh ke sana,’ batin Sandra was-was, akhirnya dengan langkah beratnya. Sandra menuju ke lift dan menekan lantai di mana ruangan CEO berada. Saat sampai, Sandra menatap meja sekretaris yang kosong, bahkan barang-barang milik Glenca pun tidak ada.
"Bersih banget nih meja, sampai nggak ada berkas sama sekali," gumam Sandra.
“Kau sudah datang?” Sandra berjingkat kaget, saat suara yang tidak asing menyapa pendengarannya.
“Pak Raka?” lirih Sandra.
“Masuklah, Tuan Rayyan sudah menunggumu,” ujar Raka seraya memberikan jalan untuk Sandra. Sandra melangkah dengan perlahan, dan saat dia sudah masuk ke dalam ruangan CEO, dapat Sandra lihat, Rayyan yang tengah sibuk, atau mungkin hanya pura-pura sibuk?
“Kau sudah datang?” tanya Rayyan, tanpa menoleh sedikitpun kearah Sandra.
“Duduklah di sini,” Rayyan menunjuk kursi di hadapannya, akhirnya Sandra pun melangkah, lalu menarik kursi di hadadapan Rayyan. Jarak mereka hanya dibatasi oleh meja kerja Rayyan.
'Ok tenang Sandra, lo harus kuatin batin lo, mungkin dia mau mengeluarkan surat buat ngeluarin lo dari kantor ini,' batin Sandra.
“Bagaimana tidurmu semalam? Apakah nyenyak?” tanya Rayyan basa-basi, dan itu membuat Sandra begitu muak. Rayyan seolah mengulur waktu, membuat Sandra mati penasaran, tentang apa yang ingin dikatakan oleh Rayyan.
“Sudahlah Pak, langsung to the point aja,” pinta Sandra, dia tahu kalau saat ini Rayyan hanya sedang mengulur waktu. Rayyan tertawa mendengar ucapan Rayyan, dia sama sekali tidak marah dengan Sandra.
“Baiklah, aku akan langsung pada akar masalahnya, aku mengizinkan kamu tetap magang di sini, tapi kamu akan ditempatkan sebagai sekretarisku,” sontak saja, Sandra langsung membulatkan matanya terkejut.
__ADS_1