Tentang Luka Dan Cinta

Tentang Luka Dan Cinta
Berbohong


__ADS_3

"Ray, aku minta kamu juga untuk berjuang dan belajar mencintai aku, tapi selama ini kamu nggak pernah lakuin itu," kata Soffia, menatap Rayyan penuh kecewa.


“Apa aku harus menjadi wanita yang kamu sukai, yang bisa menemani kamu di ranjang?” tanya Soffia, dia jelas tahu kelakuan Rayyan, yang paling tidak bisa jauh dengan wanita seksi, dan pasti berakhir di ranjang panas.


“Aku juga bisa Rayyan, aku bisa melakukan semua itu, demi kamu!” ucap Soffia dengan menggebu.


“Kau bukan tipeku,” jawab Rayyan dengan dingin.


“Kau harus bisa menerima ku, mau tidak mau dan suka tidak suka kamu harus menerima ku Rayyan, karena aku adalah calon istri kamu,” Soffia selalu menekankan dan mengingatkan Rayyan, soal posisinya dan soal hubungan mereka berdua, yang mana mereka berdua sudah dijodohkan bahkan status mereka sudah bertunangan.


“Masih calon istri, belum jadi istri,” sanggahRayyan. DiacSelalu bisa menjawab semua perkataan Soffia, bahkan kali ini juga. Soffia mendesah kesal, dia lelah dengan sikap Rayyan yang terus acuh padanya.


“Aku pergi,” Soffia tidak mau terus berdebat bersama Rayyan, dia menghindari hubungannya dengan Rayyan semakin memuruk. Soffia tahu,  nantinya Rayyan pasti akan berkata supaya Soffia membatalkan perjodohan ini. Rayyan sama sekali tidak menahan Soffia pergi, bahkan dia sama sekali tidak menatap kepergian tunangannya itu, dia masih bersikap acuh dan seolah masa bodo dengan apa yang akan dilakukan Soffia.


Setelah Soffia pergi, Rayyan pun pergi bersama dengan Raka. Setiap kali, Rayyan bersama dengan Soffia, pasti suasana hatinya akan berakhir buruk, jika dia mengingat bahwa cintanya sudah tidak bisa bebas lagi, dia selalu merasa lemah, karena dia tidak bisa memilih sendiri tambatan hatinya. Kehidupannya sudah diatur oleh keluarga, bahkan soal jodoh.


“Raka, kapan sekretaris baru akan datang?” tanya Rayyan tak sabar.

__ADS_1


“Besok Tuan,” jawab Raka dengan yakin, dia memang sudah mencarikan sekretaris pengganti Glenca, dan besok sudah mulai bekerja.


“Baguslah,” hanya itu tanggapan Rayyan.


-//-


Alby tengah mengurus restaurantnya, dia menatap wajahnya lewat cermin, masih ada jejak wajah babak belurnya hasil pukulan dari Gema, dan masih terasa sakit juga ketika dipegang. Alby kembali mengingat bagaimana kemarin Sandra yang bersikeras dengan kesaksiannya seputar pergaulan Kayla.


‘Apa benar? Kayla wanita yang seperti itu?’ batin Alby bimbang.


“Sayang,” Alby yang tengah melamun, dikejutkan dengan kedatangan Kayla.


“Loh, wajah kamu kenapa?” Kayla begitu terkejut, ketika dia melihat wajah Alby yang nampak memar, memang sejak 2 hari lalu, Kayla menginap di kediaman kedua orang tuanya, karena alasan ngidam. Sedangkan Alby tidak bisa bersama dengan Kayla, karena dia harus mengurus bisnisnya.


“Aku, nggak apa-apa kok,” Alby mencoba mengelak, dia tidak mau kalau sampai Kayla tahu, bahwa Alby menemui Sandra sampai akhirnya dipukul dengan membati buta oleh ayah sambung Sandra.


“Nggak apa-apa gimana sih, wajah kamu babak belur begini. Jujur sama aku, Mas. Apa yang terjadi selama aku nggak ada?" Kayla terus mendesak Alby, su[aya mau jujur dengannya, dia tahu Alby bukan lelaki yang urakan, jadi sangat aneh jika tiba-tiba Alby langsung dipukuli oleh orang. Kayla yakin, ada percekcokan antara Alby dengan pelaku yang sudah memukul suaminya itu.

__ADS_1


“Jawab aku Mas, siapa yang buat kamu begini?” desak Kayla, namun Alby enggan untuk mengatakannya.


“Ini cuman salah paham, sama orang di jalan, kamu nggak perlu khawatir, ya?” Alby tidak mau jujur, dia tidak mau kalau nantinya Kayla marah padanya. Alby yakin, Kayla akan kecewa jika tahu dirinya masih saja mencoba untuk menemui Sandra.


“Beneran, Mas?” tanya Kayla ragu.


“Iya, masa Mas bohong sama istri Mas sendiri, udah kamu nggak usah mikirin yang engak-enggak, pokoknya aku baik-baik aja, dan aku sudah menyelesaikan masalah aku sendiri,” Alby menunjukkan sikap tenangnya, berharap Kayla mau percaya.


“Ya sudah kalau begitu, kalau memang kamu sudah menyelesaikannya, aku tenang, Mas.”  Kayla menunjukkan bahwa dirinya percaya dengan semua penjelasan Alby, meskipun sebenarnya Kayla masih belum sepenuhnya percaya, apalagi setelah dia melirik tangan Alby, dan tidak menemukan luka memar sedikitpun, itu berarti Alby tidak membalas pemukulan itu.


‘Siapa orang yang sudah berbuat begini kepada Alby? Masa Sandra?’ batin Kayla, namun dia langsung menepisnya, dan merasa tidak akan mungkin kalau Sandra yang melakukannya.


"Ini , beneran nggak ada sangkut pautnya sama Sandra, kan Mas?" tanya Kayla, membuat Alby seketika terkejut, dia tidak menyangka kalau Kayla akan berpikir sampai ke sana.


“Ya enggak sayang, ngapain aku nemuin Sandra. Antara aku dan dia sudah selesai, jadi nggak perlu ada yang dibicarakan lagi,” jawab Alby bohong.


“Ya,  bisa aja kan Mas kamu nemuin Sandra saat aku nggak di rumah, kan kamu  sama Sandra punya kisah yang belum selesai,” ujar Kayla, membuat Alby semakin gelisah, tapi dia berusaha keras untuk menutupi rasa gelisahnya itu.

__ADS_1


“Sama sekali enggak kok, bagi aku, karena aku sudah menikah jadi aku rasa nggak ada kisah yang belum selesai, aku sudah menutup semua buku kisah aku dengan Sandra, dan sekarang aku sudah membuka buku milikku yang lain. Dimana buku itu hanya berkisah tentang kita,” Alby menggenggam jemari Kayla dan menatap manik mata Kayla dengan teduh, membuat Kayla percaya dengan kata-kata manis Alby.


‘Aku harap kamu percaya Kayla. Maafkan aku karena harus berbohong, dan maaf aku memang belum bisa melupakan Sandra sepenuhnya, aku masih memendam rasa untuknya. Bahkan, jika dalam waktu dekat dia sudah memiliki lelaki pengganti ku, aku yakin aku akan merasakan patah hati yang teramat dalam,’ batin Alby.


__ADS_2