
"Sandra tahu kok, Pah. Kenapa dan apa alasan papah Dion terus melarang Sandra, karena papah Sandra khawatir, dulu juga Mamah dan Papah Gema khawatir, tapi kalian memberikan Sandra kesempatan dan kepercayaan. Buktinya, sampai sekarang Sandra baik-baik aja, kan?" ujar Sandra.
“Sandra, kalau boleh jujur, terkadang Mamah juga berpikir, bahwa memang sebaiknya, kamu mulai fokus pada pendidikan Nak. Mamah percaya kok sama Sandra, kamu nggak mungkin melakukan hal di luar batas, akan tetapi bukankah lebih baik kamu lebih fokus pada pendidikan? Atau mungkin kamu mau usaha kecil-kecilan, cafe mungkin, itu akan lebih baik, sayang. Dan kalau kamu butuh biaya, kamu tinggal bilang sama kami,” ujar Ayu memberikan pendapat yang sebenarnya tidak buruk, justru itu menjadi jalan keluar yang baik untuk Sandra. Sebagai seorang Ibu, bohong rasanya kalau Masayu tidak khawatir, dia juga sama khawatirnya dengan Dion, namun Ayu hanya mencoba menutupinya.
“Tapi Nak, mungkin Mamah Ayu khawatir dengan kamu, karena kamu perempuan, dan pandangan orang di luaran sana terhadap kamu, juga pasti berbeda. Meskipun kamu tidak melakukan hal-hal yang mereka pikirkan, tapi belum tentu mereka percaya. Kami sebagai orang tua, tidak akan terima jika ada yang mengatakan hal buruk soal kamu, Nak.” Gema mencoba untuk memberikan pengertian kepada putri sambungnya.
“Mamah dan Papah Gema nggak perlau takut soal itu, ketika Sandra sudah memutuskan untuk terjun menjadi seorang DJ, Sandra sudah memikirkan sampai ke sana, Mah. Sandra nggak mau ambil pusing soal omongan orang lain terhadap Sanrda. Sandra nggak perduli, mau mereka nggak percaya sama Sandra, atau apapun itu, yang penting Mamah dan Papah Gema, bisa percaya dan yakin sama Sandra, bahwa Sandra nggak akan bertindak terlalu jauh," ucap Sandra dengan tatapan sendu.
"Apakah, hanya dengan memberikan kepercayaan begitu sulit buat Mamah? Apa yang Sandra lakukan sekarang, itu karena Sandra merasa hampa dengan kehidupan Sandra. Sandra, sudah bisa berdamai dengan keadaan ini sekarang, setidaknya, tolong kalian juga mengerti, dan memahami keadaan Sandra," lanjut Sandra lagi.
"San," Masayu hendak menjawab perkataan Sandra, namun Sandra langsung memotongnya.
“Sandra rasa, obrolan kita sudah cukup sampai di sini, maaf Mah, tapi Sandra harus bersiap untuk pergi. Terimakasih untuk makanannya,” ujar Sandra, dia langsung masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintu. Sandra masih bersandar di pintu kamar, samar-samar dia mendengar suara Gema yang masih menenangkan Ayu, dan mengatakan supaya Ayu harus bisa lebih bersabar.
“Kita pulang yuk. Sandra sepertinya ada kepentingan,” ajak Gema dan Ayu pun bangkit dari tempat duduknya. Ditatapnya kamar sang putri, ada perasaan bersalah yang bersarang di hati Ayu. Susah payah Ayu menyeka air matanya.
‘Maafin Mamah sayang, karena Mamah, sifat kamu berubah seperti ini. Maaf, karena korban yang sebenarnya dalam gagalnya rumah tangga Mamah dan Papah kamu, itu adalah kamu, Nak.’ batin Ayu merasa bersalah, Ayu merasa kalau Sandra menjadi pribadi yang dingin sekaran, sifatnya yang hangat sudah tidak ada lagi dalam diri Sandra. Perubahan Sandra terlihat semenjak Masayu dan Dion memutuskan untuk berpisah. Setelah mencoba untuk menguatkan diri, akhirnya, Ayu dan Gema memutuskan pergi, sedangkan Sandra diam-diam terisak dalam kamarnya.
**
Malam ini semuanya sudah berkumpul di club malam, sesuai janji Sandra sudah datang, bahkan dia datang lebih awal. Sedari Sandra sampai, Bima yang memang sudah ada di sana terus memperhatikan sahabat perempuan yang satunya itu. Sandra terlihat tengah murung, dan Bima yakini ada masalah yang terjadi, yang jelas bukan masalah Alby. Meskipun sesekali Sandra masih ikut berbaur dan bercanda dengan teman-teman yang lain untuk menutupi rasa sedihnya, namun Sandra tidak bisa menutupi raut wajah kesedihannya itu.
"Minum dulu." Bima menaruh sekaleng minuman bersoda di hadapan Sandra, dan diterima dengan senang hati oleh Sandra.
“Lo kenapa?” akhirnya Bima berani bertanya.
“Gue? Kenapa emangnya, orang nggak kenapa-napa,” jawab Sandra berbohong.
“Gue jadi temen loe bukan sehari dua hari, jadi lo nggak bisa bohongin gue,” tukas Bima dengan nada santai namun penuh penekanan, bahkan Bima juga menatap Sandra dengan tatapan intimidasi.
“Mata loe sembab, meskipun udah ditutupin makeup, tapi gue masih bisa jeli lihatnya,” ujar Bima lagi, membuat Sandra terkekeh pelan.
“Tadi sore Alby dateng,” akhirnya Sandra buka suara, dia menceritakan dengan detail soal kedatangan Alby, sampai akhirnya Alby harus babak belur karena pukulan Gema. Sandra juga menceritakan bahwa tadi sore, dia makan dengan Masaya juga Gema di apartement, sampai akhirnya mereka berbincang soal pekerjaan Sandra.
“Gue, ngerasa sampai saat ini, orangtua gue nggak paham apa maksud gue bekerja jadi DJ. Mereka pikir, gue kekurangan uang, padahal bukan itu alasannya. Ya mungkin, gue juga salah karena kurang terbuka soal perasaan gue ke mereka," ucap Sandra dengan perasaan campur aduk.
"Gue paham kok, masalah materi gue nggak kekurangan, tapi satu hal, gue ngerasa hampa dan kosong, dan gue butuh sesuatu yang bisa ngisi kekosongan gue dan kehampaan gue,” Sandra menyeka sudut matanya yang sudah mulai basah.
“Gue paham di posisi lo, San,” Bima mengusap punggung Sandra, mencoba memberikan dukungan untuk sahabat terbaiknya.
“Gue juga paham perasaan kedua orangtua lo,” ujar Bima lagi, dia tidak sepenuhnya menyalahkan kedua orang tua Sandra, “mereka khawatir dengan anak gadisnya, karena biar bagaimanapun pekerjaan ini tidak bisa dianggap enteng. Mungkin, kalau gue jadi orangtua lo, gue juga bakal lakuin hal yang sama," tutur Bima.
"Semua orang tua, pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, dan di sini memang bukan pilihannya, San. Tapi karena gue udah paham di posisi lo, jadi gue juga udah tahu, kalau lo nggak akan selamanya ada di sini, gue yakin seorang Cassandra pasti sudah punya planning kedepannya,” Bima, secara tidak langsung memberikan dukungan untuk Sandra. Mendapatkan dukungan dari orang terdekat, tentu menjadi semangat tersendiri untuk Sandra.
"Sandra tahu kok, Pah. Kenapa dan apa alasan papah Dion terus melarang Sandra, karena papah Sandra khawatir, dulu juga Mamah dan Papah Gema khawatir, tapi kalian memberikan Sandra kesempatan dan kepercayaan. Buktinya, sampai sekarang Sandra baik-baik aja, kan?" ujar Sandra.
“Sandra, kalau boleh jujur, terkadang Mamah juga berpikir, bahwa memang sebaiknya, kamu mulai fokus pada pendidikan Nak. Mamah percaya kok sama Sandra, kamu nggak mungkin melakukan hal di luar batas, akan tetapi bukankah lebih baik kamu lebih fokus pada pendidikan? Atau mungkin kamu mau usaha kecil-kecilan, cafe mungkin, itu akan lebih baik, sayang. Dan kalau kamu butuh biaya, kamu tinggal bilang sama kami,” ujar Ayu memberikan pendapat yang sebenarnya tidak buruk, justru itu menjadi jalan keluar yang baik untuk Sandra. Sebagai seorang Ibu, bohong rasanya kalau Masayu tidak khawatir, dia juga sama khawatirnya dengan Dion, namun Ayu hanya mencoba menutupinya.
“Tapi Nak, mungkin Mamah Ayu khawatir dengan kamu, karena kamu perempuan, dan pandangan orang di luaran sana terhadap kamu, juga pasti berbeda. Meskipun kamu tidak melakukan hal-hal yang mereka pikirkan, tapi belum tentu mereka percaya. Kami sebagai orang tua, tidak akan terima jika ada yang mengatakan hal buruk soal kamu, Nak.” Gema mencoba untuk memberikan pengertian kepada putri sambungnya.
“Mamah dan Papah Gema nggak perlau takut soal itu, ketika Sandra sudah memutuskan untuk terjun menjadi seorang DJ, Sandra sudah memikirkan sampai ke sana, Mah. Sandra nggak mau ambil pusing soal omongan orang lain terhadap Sanrda. Sandra nggak perduli, mau mereka nggak percaya sama Sandra, atau apapun itu, yang penting Mamah dan Papah Gema, bisa percaya dan yakin sama Sandra, bahwa Sandra nggak akan bertindak terlalu jauh," ucap Sandra dengan tatapan sendu.
"Apakah, hanya dengan memberikan kepercayaan begitu sulit buat Mamah? Apa yang Sandra lakukan sekarang, itu karena Sandra merasa hampa dengan kehidupan Sandra. Sandra, sudah bisa berdamai dengan keadaan ini sekarang, setidaknya, tolong kalian juga mengerti, dan memahami keadaan Sandra," lanjut Sandra lagi.
"San," Masayu hendak menjawab perkataan Sandra, namun Sandra langsung memotongnya.
“Sandra rasa, obrolan kita sudah cukup sampai di sini, maaf Mah, tapi Sandra harus bersiap untuk pergi. Terimakasih untuk makanannya,” ujar Sandra, dia langsung masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintu. Sandra masih bersandar di pintu kamar, samar-samar dia mendengar suara Gema yang masih menenangkan Ayu, dan mengatakan supaya Ayu harus bisa lebih bersabar.
__ADS_1
“Kita pulang yuk. Sandra sepertinya ada kepentingan,” ajak Gema dan Ayu pun bangkit dari tempat duduknya. Ditatapnya kamar sang putri, ada perasaan bersalah yang bersarang di hati Ayu. Susah payah Ayu menyeka air matanya.
‘Maafin Mamah sayang, karena Mamah, sifat kamu berubah seperti ini. Maaf, karena korban yang sebenarnya dalam gagalnya rumah tangga Mamah dan Papah kamu, itu adalah kamu, Nak.’ batin Ayu merasa bersalah, Ayu merasa kalau Sandra menjadi pribadi yang dingin sekaran, sifatnya yang hangat sudah tidak ada lagi dalam diri Sandra. Perubahan Sandra terlihat semenjak Masayu dan Dion memutuskan untuk berpisah. Setelah mencoba untuk menguatkan diri, akhirnya, Ayu dan Gema memutuskan pergi, sedangkan Sandra diam-diam terisak dalam kamarnya.
**
Malam ini semuanya sudah berkumpul di club malam, sesuai janji Sandra sudah datang, bahkan dia datang lebih awal. Sedari Sandra sampai, Bima yang memang sudah ada di sana terus memperhatikan sahabat perempuan yang satunya itu. Sandra terlihat tengah murung, dan Bima yakini ada masalah yang terjadi, yang jelas bukan masalah Alby. Meskipun sesekali Sandra masih ikut berbaur dan bercanda dengan teman-teman yang lain untuk menutupi rasa sedihnya, namun Sandra tidak bisa menutupi raut wajah kesedihannya itu.
"Minum dulu." Bima menaruh sekaleng minuman bersoda di hadapan Sandra, dan diterima dengan senang hati oleh Sandra.
“Lo kenapa?” akhirnya Bima berani bertanya.
“Gue? Kenapa emangnya, orang nggak kenapa-napa,” jawab Sandra berbohong.
“Gue jadi temen loe bukan sehari dua hari, jadi lo nggak bisa bohongin gue,” tukas Bima dengan nada santai namun penuh penekanan, bahkan Bima juga menatap Sandra dengan tatapan intimidasi.
“Mata loe sembab, meskipun udah ditutupin makeup, tapi gue masih bisa jeli lihatnya,” ujar Bima lagi, membuat Sandra terkekeh pelan.
“Tadi sore Alby dateng,” akhirnya Sandra buka suara, dia menceritakan dengan detail soal kedatangan Alby, sampai akhirnya Alby harus babak belur karena pukulan Gema. Sandra juga menceritakan bahwa tadi sore, dia makan dengan Masaya juga Gema di apartement, sampai akhirnya mereka berbincang soal pekerjaan Sandra.
“Gue, ngerasa sampai saat ini, orangtua gue nggak paham apa maksud gue bekerja jadi DJ. Mereka pikir, gue kekurangan uang, padahal bukan itu alasannya. Ya mungkin, gue juga salah karena kurang terbuka soal perasaan gue ke mereka," ucap Sandra dengan perasaan campur aduk.
"Gue paham kok, masalah materi gue nggak kekurangan, tapi satu hal, gue ngerasa hampa dan kosong, dan gue butuh sesuatu yang bisa ngisi kekosongan gue dan kehampaan gue,” Sandra menyeka sudut matanya yang sudah mulai basah.
“Gue paham di posisi lo, San,” Bima mengusap punggung Sandra, mencoba memberikan dukungan untuk sahabat terbaiknya.
“Gue juga paham perasaan kedua orangtua lo,” ujar Bima lagi, dia tidak sepenuhnya menyalahkan kedua orang tua Sandra, “mereka khawatir dengan anak gadisnya, karena biar bagaimanapun pekerjaan ini tidak bisa dianggap enteng. Mungkin, kalau gue jadi orangtua lo, gue juga bakal lakuin hal yang sama," tutur Bima.
"Semua orang tua, pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, dan di sini memang bukan pilihannya, San. Tapi karena gue udah paham di posisi lo, jadi gue juga udah tahu, kalau lo nggak akan selamanya ada di sini, gue yakin seorang Cassandra pasti sudah punya planning kedepannya,” Bima, secara tidak langsung memberikan dukungan untuk Sandra. Mendapatkan dukungan dari orang terdekat, tentu menjadi semangat tersendiri untuk Sandra.
"Sandra tahu kok, Pah. Kenapa dan apa alasan papah Dion terus melarang Sandra, karena papah Sandra khawatir, dulu juga Mamah dan Papah Gema khawatir, tapi kalian memberikan Sandra kesempatan dan kepercayaan. Buktinya, sampai sekarang Sandra baik-baik aja, kan?" ujar Sandra.
“Sandra, kalau boleh jujur, terkadang Mamah juga berpikir, bahwa memang sebaiknya, kamu mulai fokus pada pendidikan Nak. Mamah percaya kok sama Sandra, kamu nggak mungkin melakukan hal di luar batas, akan tetapi bukankah lebih baik kamu lebih fokus pada pendidikan? Atau mungkin kamu mau usaha kecil-kecilan, cafe mungkin, itu akan lebih baik, sayang. Dan kalau kamu butuh biaya, kamu tinggal bilang sama kami,” ujar Ayu memberikan pendapat yang sebenarnya tidak buruk, justru itu menjadi jalan keluar yang baik untuk Sandra. Sebagai seorang Ibu, bohong rasanya kalau Masayu tidak khawatir, dia juga sama khawatirnya dengan Dion, namun Ayu hanya mencoba menutupinya.
“Tapi Nak, mungkin Mamah Ayu khawatir dengan kamu, karena kamu perempuan, dan pandangan orang di luaran sana terhadap kamu, juga pasti berbeda. Meskipun kamu tidak melakukan hal-hal yang mereka pikirkan, tapi belum tentu mereka percaya. Kami sebagai orang tua, tidak akan terima jika ada yang mengatakan hal buruk soal kamu, Nak.” Gema mencoba untuk memberikan pengertian kepada putri sambungnya.
“Mamah dan Papah Gema nggak perlau takut soal itu, ketika Sandra sudah memutuskan untuk terjun menjadi seorang DJ, Sandra sudah memikirkan sampai ke sana, Mah. Sandra nggak mau ambil pusing soal omongan orang lain terhadap Sanrda. Sandra nggak perduli, mau mereka nggak percaya sama Sandra, atau apapun itu, yang penting Mamah dan Papah Gema, bisa percaya dan yakin sama Sandra, bahwa Sandra nggak akan bertindak terlalu jauh," ucap Sandra dengan tatapan sendu.
"Apakah, hanya dengan memberikan kepercayaan begitu sulit buat Mamah? Apa yang Sandra lakukan sekarang, itu karena Sandra merasa hampa dengan kehidupan Sandra. Sandra, sudah bisa berdamai dengan keadaan ini sekarang, setidaknya, tolong kalian juga mengerti, dan memahami keadaan Sandra," lanjut Sandra lagi.
"San," Masayu hendak menjawab perkataan Sandra, namun Sandra langsung memotongnya.
“Sandra rasa, obrolan kita sudah cukup sampai di sini, maaf Mah, tapi Sandra harus bersiap untuk pergi. Terimakasih untuk makanannya,” ujar Sandra, dia langsung masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintu. Sandra masih bersandar di pintu kamar, samar-samar dia mendengar suara Gema yang masih menenangkan Ayu, dan mengatakan supaya Ayu harus bisa lebih bersabar.
“Kita pulang yuk. Sandra sepertinya ada kepentingan,” ajak Gema dan Ayu pun bangkit dari tempat duduknya. Ditatapnya kamar sang putri, ada perasaan bersalah yang bersarang di hati Ayu. Susah payah Ayu menyeka air matanya.
‘Maafin Mamah sayang, karena Mamah, sifat kamu berubah seperti ini. Maaf, karena korban yang sebenarnya dalam gagalnya rumah tangga Mamah dan Papah kamu, itu adalah kamu, Nak.’ batin Ayu merasa bersalah, Ayu merasa kalau Sandra menjadi pribadi yang dingin sekaran, sifatnya yang hangat sudah tidak ada lagi dalam diri Sandra. Perubahan Sandra terlihat semenjak Masayu dan Dion memutuskan untuk berpisah. Setelah mencoba untuk menguatkan diri, akhirnya, Ayu dan Gema memutuskan pergi, sedangkan Sandra diam-diam terisak dalam kamarnya.
**
Malam ini semuanya sudah berkumpul di club malam, sesuai janji Sandra sudah datang, bahkan dia datang lebih awal. Sedari Sandra sampai, Bima yang memang sudah ada di sana terus memperhatikan sahabat perempuan yang satunya itu. Sandra terlihat tengah murung, dan Bima yakini ada masalah yang terjadi, yang jelas bukan masalah Alby. Meskipun sesekali Sandra masih ikut berbaur dan bercanda dengan teman-teman yang lain untuk menutupi rasa sedihnya, namun Sandra tidak bisa menutupi raut wajah kesedihannya itu.
"Minum dulu." Bima menaruh sekaleng minuman bersoda di hadapan Sandra, dan diterima dengan senang hati oleh Sandra.
“Lo kenapa?” akhirnya Bima berani bertanya.
“Gue? Kenapa emangnya, orang nggak kenapa-napa,” jawab Sandra berbohong.
__ADS_1
“Gue jadi temen loe bukan sehari dua hari, jadi lo nggak bisa bohongin gue,” tukas Bima dengan nada santai namun penuh penekanan, bahkan Bima juga menatap Sandra dengan tatapan intimidasi.
“Mata loe sembab, meskipun udah ditutupin makeup, tapi gue masih bisa jeli lihatnya,” ujar Bima lagi, membuat Sandra terkekeh pelan.
“Tadi sore Alby dateng,” akhirnya Sandra buka suara, dia menceritakan dengan detail soal kedatangan Alby, sampai akhirnya Alby harus babak belur karena pukulan Gema. Sandra juga menceritakan bahwa tadi sore, dia makan dengan Masaya juga Gema di apartement, sampai akhirnya mereka berbincang soal pekerjaan Sandra.
“Gue, ngerasa sampai saat ini, orangtua gue nggak paham apa maksud gue bekerja jadi DJ. Mereka pikir, gue kekurangan uang, padahal bukan itu alasannya. Ya mungkin, gue juga salah karena kurang terbuka soal perasaan gue ke mereka," ucap Sandra dengan perasaan campur aduk.
"Gue paham kok, masalah materi gue nggak kekurangan, tapi satu hal, gue ngerasa hampa dan kosong, dan gue butuh sesuatu yang bisa ngisi kekosongan gue dan kehampaan gue,” Sandra menyeka sudut matanya yang sudah mulai basah.
“Gue paham di posisi lo, San,” Bima mengusap punggung Sandra, mencoba memberikan dukungan untuk sahabat terbaiknya.
“Gue juga paham perasaan kedua orangtua lo,” ujar Bima lagi, dia tidak sepenuhnya menyalahkan kedua orang tua Sandra, “mereka khawatir dengan anak gadisnya, karena biar bagaimanapun pekerjaan ini tidak bisa dianggap enteng. Mungkin, kalau gue jadi orangtua lo, gue juga bakal lakuin hal yang sama," tutur Bima.
"Semua orang tua, pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, dan di sini memang bukan pilihannya, San. Tapi karena gue udah paham di posisi lo, jadi gue juga udah tahu, kalau lo nggak akan selamanya ada di sini, gue yakin seorang Cassandra pasti sudah punya planning kedepannya,” Bima, secara tidak langsung memberikan dukungan untuk Sandra. Mendapatkan dukungan dari orang terdekat, tentu menjadi semangat tersendiri untuk Sandra.
"Sandra tahu kok, Pah. Kenapa dan apa alasan papah Dion terus melarang Sandra, karena papah Sandra khawatir, dulu juga Mamah dan Papah Gema khawatir, tapi kalian memberikan Sandra kesempatan dan kepercayaan. Buktinya, sampai sekarang Sandra baik-baik aja, kan?" ujar Sandra.
“Sandra, kalau boleh jujur, terkadang Mamah juga berpikir, bahwa memang sebaiknya, kamu mulai fokus pada pendidikan Nak. Mamah percaya kok sama Sandra, kamu nggak mungkin melakukan hal di luar batas, akan tetapi bukankah lebih baik kamu lebih fokus pada pendidikan? Atau mungkin kamu mau usaha kecil-kecilan, cafe mungkin, itu akan lebih baik, sayang. Dan kalau kamu butuh biaya, kamu tinggal bilang sama kami,” ujar Ayu memberikan pendapat yang sebenarnya tidak buruk, justru itu menjadi jalan keluar yang baik untuk Sandra. Sebagai seorang Ibu, bohong rasanya kalau Masayu tidak khawatir, dia juga sama khawatirnya dengan Dion, namun Ayu hanya mencoba menutupinya.
“Tapi Nak, mungkin Mamah Ayu khawatir dengan kamu, karena kamu perempuan, dan pandangan orang di luaran sana terhadap kamu, juga pasti berbeda. Meskipun kamu tidak melakukan hal-hal yang mereka pikirkan, tapi belum tentu mereka percaya. Kami sebagai orang tua, tidak akan terima jika ada yang mengatakan hal buruk soal kamu, Nak.” Gema mencoba untuk memberikan pengertian kepada putri sambungnya.
“Mamah dan Papah Gema nggak perlau takut soal itu, ketika Sandra sudah memutuskan untuk terjun menjadi seorang DJ, Sandra sudah memikirkan sampai ke sana, Mah. Sandra nggak mau ambil pusing soal omongan orang lain terhadap Sanrda. Sandra nggak perduli, mau mereka nggak percaya sama Sandra, atau apapun itu, yang penting Mamah dan Papah Gema, bisa percaya dan yakin sama Sandra, bahwa Sandra nggak akan bertindak terlalu jauh," ucap Sandra dengan tatapan sendu.
"Apakah, hanya dengan memberikan kepercayaan begitu sulit buat Mamah? Apa yang Sandra lakukan sekarang, itu karena Sandra merasa hampa dengan kehidupan Sandra. Sandra, sudah bisa berdamai dengan keadaan ini sekarang, setidaknya, tolong kalian juga mengerti, dan memahami keadaan Sandra," lanjut Sandra lagi.
"San," Masayu hendak menjawab perkataan Sandra, namun Sandra langsung memotongnya.
“Sandra rasa, obrolan kita sudah cukup sampai di sini, maaf Mah, tapi Sandra harus bersiap untuk pergi. Terimakasih untuk makanannya,” ujar Sandra, dia langsung masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintu. Sandra masih bersandar di pintu kamar, samar-samar dia mendengar suara Gema yang masih menenangkan Ayu, dan mengatakan supaya Ayu harus bisa lebih bersabar.
“Kita pulang yuk. Sandra sepertinya ada kepentingan,” ajak Gema dan Ayu pun bangkit dari tempat duduknya. Ditatapnya kamar sang putri, ada perasaan bersalah yang bersarang di hati Ayu. Susah payah Ayu menyeka air matanya.
‘Maafin Mamah sayang, karena Mamah, sifat kamu berubah seperti ini. Maaf, karena korban yang sebenarnya dalam gagalnya rumah tangga Mamah dan Papah kamu, itu adalah kamu, Nak.’ batin Ayu merasa bersalah, Ayu merasa kalau Sandra menjadi pribadi yang dingin sekaran, sifatnya yang hangat sudah tidak ada lagi dalam diri Sandra. Perubahan Sandra terlihat semenjak Masayu dan Dion memutuskan untuk berpisah. Setelah mencoba untuk menguatkan diri, akhirnya, Ayu dan Gema memutuskan pergi, sedangkan Sandra diam-diam terisak dalam kamarnya.
**
Malam ini semuanya sudah berkumpul di club malam, sesuai janji Sandra sudah datang, bahkan dia datang lebih awal. Sedari Sandra sampai, Bima yang memang sudah ada di sana terus memperhatikan sahabat perempuan yang satunya itu. Sandra terlihat tengah murung, dan Bima yakini ada masalah yang terjadi, yang jelas bukan masalah Alby. Meskipun sesekali Sandra masih ikut berbaur dan bercanda dengan teman-teman yang lain untuk menutupi rasa sedihnya, namun Sandra tidak bisa menutupi raut wajah kesedihannya itu.
"Minum dulu." Bima menaruh sekaleng minuman bersoda di hadapan Sandra, dan diterima dengan senang hati oleh Sandra.
“Lo kenapa?” akhirnya Bima berani bertanya.
“Gue? Kenapa emangnya, orang nggak kenapa-napa,” jawab Sandra berbohong.
“Gue jadi temen loe bukan sehari dua hari, jadi lo nggak bisa bohongin gue,” tukas Bima dengan nada santai namun penuh penekanan, bahkan Bima juga menatap Sandra dengan tatapan intimidasi.
“Mata loe sembab, meskipun udah ditutupin makeup, tapi gue masih bisa jeli lihatnya,” ujar Bima lagi, membuat Sandra terkekeh pelan.
“Tadi sore Alby dateng,” akhirnya Sandra buka suara, dia menceritakan dengan detail soal kedatangan Alby, sampai akhirnya Alby harus babak belur karena pukulan Gema. Sandra juga menceritakan bahwa tadi sore, dia makan dengan Masaya juga Gema di apartement, sampai akhirnya mereka berbincang soal pekerjaan Sandra.
“Gue, ngerasa sampai saat ini, orangtua gue nggak paham apa maksud gue bekerja jadi DJ. Mereka pikir, gue kekurangan uang, padahal bukan itu alasannya. Ya mungkin, gue juga salah karena kurang terbuka soal perasaan gue ke mereka," ucap Sandra dengan perasaan campur aduk.
"Gue paham kok, masalah materi gue nggak kekurangan, tapi satu hal, gue ngerasa hampa dan kosong, dan gue butuh sesuatu yang bisa ngisi kekosongan gue dan kehampaan gue,” Sandra menyeka sudut matanya yang sudah mulai basah.
“Gue paham di posisi lo, San,” Bima mengusap punggung Sandra, mencoba memberikan dukungan untuk sahabat terbaiknya.
“Gue juga paham perasaan kedua orangtua lo,” ujar Bima lagi, dia tidak sepenuhnya menyalahkan kedua orang tua Sandra, “mereka khawatir dengan anak gadisnya, karena biar bagaimanapun pekerjaan ini tidak bisa dianggap enteng. Mungkin, kalau gue jadi orangtua lo, gue juga bakal lakuin hal yang sama," tutur Bima.
__ADS_1
"Semua orang tua, pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, dan di sini memang bukan pilihannya, San. Tapi karena gue udah paham di posisi lo, jadi gue juga udah tahu, kalau lo nggak akan selamanya ada di sini, gue yakin seorang Cassandra pasti sudah punya planning kedepannya,” Bima, secara tidak langsung memberikan dukungan untuk Sandra. Mendapatkan dukungan dari orang terdekat, tentu menjadi semangat tersendiri untuk Sandra.