
Kesabaran Sandra nampaknya sudah habis, Sandra mendesah kesal, dan dia pun berniat pindah ke tempat lain, namun Rayyan mencekal tangan Sandra. " Lepas Pak," ketus Sandra seraya mengibaskan tangannya.
"Saya nggak akan ngapa-ngapain kamu kok, saya cuman mau makan dan itu cuman sebentar. Kamu kembali duduk," titah Rayyan. Tidak mau menjadi pusat perhatian, Sandra pun memilih duduk meskipun dengan perasaan kesal yang teramat sangat.
"Senyum dong San, nggak usah di tekuk gitu mukanya," ujar Rayyan kepada Sandra, karena memang kini Sandra bersedekap dada dan wajahnya juga menyiratkan ketidak sukaannya terhadap kehadiran Rayyan.
"Gimana mungkin saya masih bisa senyum, saya udah capek Pak dengan pekerjaan di kantor, saya datang ke sini untuk menyegarkan kembali otak saya. Tapi, saya justru ketemu Bapak," ketus Sandra, dia menjawab dengan sangat terus terang.
"Jangan-jangan Bapak ngikutin saya ya?" tuduhnya.
Rayyan menyenderkan tubuhnya, dan bersedekap dada, menatap Sandra dengan tatapan penuh arti, kemudian dia menopang dagunya dengan satu tangannya.
“Sandra, apa kamu tahu, kalau kamu lagi marah malah kecantikan kamu semakin terpancar,” puji Rayyan. Bukannya menjawab pertanyaan Sandra, Rayyan justru mengalihkan pembicaraan, mencoba menggoda Sandra. Ya meskipun gombalan itu tidak mempan sama sekali untuk Sandra.
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan, Pak. Jawab pertanyaan saya, apa benar Bapak ngikutin saya?" tanya Sandra sekali lagi.
"Sandra, cafe ini selalu saya lewati setiap hari, jadi saya ingin datang ke sini, dan nggak sengaja saya ketemu kamu. Bukannya saya ngikutin kamu," elak Rayyan. Sandra tidak bisa berkata apapun lagi, dia hanya bisa bersabar sampai pesanannya datang. Tidak lama, pesanan mereka berdua pun datang, dan langsung tersaji di atas meja.
"Selamat menimati makanannya Sandra, jangan lupa berdoa ya?" ujar Rayyan dengan senyumannya yang tanpa dosa. Sandra sendiri hanya bisa mendengus kesal menatap Rayyan.
__ADS_1
"Makan berdua begini, kalau malam-malam enak ya San, berasa dinner," ucap Rayyan mulai kembali menggoda Sandra, namun Sandra nampak enggan meladeni semua ucapan Rayyan, Sandra seolah menulikan pendengarannya dan menyantap pesanannya.
“San? Kamu udah punya pacar?” tiba-tiba saja Rayyan menanyakan sesuatu hal yang bersifat pribadi kepada Sandra.
"Bapak sama saya cuman sekedar atasan dan bawahan, saya rasa pertanyaan itu bukan hal yang harus saya jawab," jawab Sandra tanpa menatap Rayyan dan lebih fokus pada makannya.
"San, bisa nggak sih, kamu jangan panggil saya Pak, saya berasa tua banget loh," protes Rayyan, namun Sandra nampak acuh.
"San, jadi kamu jomblo?" tanya Rayyan lagi.
"Kenapa Bapak sepertinya kepo sekali dengan urusan pribadi saya?" tanya Sandra, sekali lagi dia memanggil Rayyan dengan panggilan formal.
"San, kita nggak di kantor, nggak usah terlalu formal bisa, kan?" tanya Rayyan. Saat ini Rayyan begitu gemas dengan Sandra yang tidak mengindahkan permintaannya. Padahal Rayyan sangat menunggu Sandra meminta Rayyan di panggil apa olehnya, dan Rayyan sudah menyiapkan pangilan khusus.
"San, saya itu ganteng loh, tapi memangnya saya nggak masuk kategori cowok idaman kamu?" tanya Rayyan heran, baru kali ini dia ditolak oleh wanita.
"Jelas bukan, lelaki idaman saya adalah lelai setia, jadi jelas Bapak nggak masuk kategori," jawab Sandra dengan santai.
"Apa lelaki idaman kamu, juga harus bekerja sebagai Dj?" tanya Rayyan seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Sandra yang sudah mengangkat sendoknya, seketika terdiam, dia juga menaruh kembali sendoknya miliknya ke tempat semula.
__ADS_1
'Aku nggak pernah menulis profesi ku sebagai DJ di surat data diri ku, tapi kenapa Pak Rayyan bisa tahu?' batin Sandra, dia hanya taku kalau pekerjaannya ddibocorkan oleh teman kantor barunya. Sandra yakin bukan Rissa karena mereka sudah berteman sejak lama.
“Kenapa? Apa ada yang salah?” tanya Rayyan.
“Dari mana Pak Rayyan tahu?” tanya Sandra dengan raut wajah datar, "apa seseorang ada yang mengatakannya kepada Pak Rayyan?" tanya Sandra lagi, dia hanya tidak mau kalau dirinya berburuk sangka kepada teman barunya di kantor, hanya saja Sandra juga butuh informaso itu supaya dirinya bisa berjaga-jaga.
"Tidak, kamu ingat tawaran 200 juta, hanya untuk menemani minum?" tanya Rayyan, dan seketika Sandra teringat sesuatu. Beberapa waktu lalu, memang ada yang memberikan pesan lewat bartender, pesan itu memberikan sebuah penawaran. Sandra hanya diminta menemani minum dan akan mendapatkan bayaran fantastis, namun Sandra langsung menolaknya. Sandra membulatkan matanya, nampaknya dia tahu sekarang siapa yang memberikan penawaran itu.
"Apa itu anda?" tanya Sandra, dan hanya dijawab senyuman smirk oleh Rayyan.
"Aku adalah tamu VIP di club itu, jadi mudah bagiku mengenali kamu Sandra. Dulu kamu menolak aku bahkan tawaran 200 juta itu, sekarang kita bahkan makan bersama, dan mengobrol bersama, bukankah aku justru untung sekarang?" jawab Rayyan dengan angkuh. Sandra mulai was-was, dia takut kalau Rayyan akan mulai mengancamnya atau mungkin Rayyan akan mengeluarkan dia dari kantor, itu berarti Sandra akan di cap buruk karena dianggap membuat masalah di tempat magang. Sandra hanya ingin menyelesaikan masa magangnya dengan baik, tapi sepertinya hal itu hanya akan menjadi angan belaka.
“Lalu? Apa anda akan mengeluarkan saya?” tanya Sandra, dia masih memasang wajahnya yang begitu santai.
“Akan aku pikirkan,” jawab Rayyan, membuat Sandra tidak bisa menebak apa sebenarnya yang Rayyan inginkan. Rayyan bangkit dari tempat duduknya lalu menatap Sandra.
“Besok, datanglah ke ruanganku,” titah Rayyan sebelum meninggalkan Sandra yang masih belum menghabiskan makanannya, Sandra hanya diam membisu dengan pemikirannya.
"Terimakasih ya untuk sore ini, makanan kamu biar aku yang bayar," ucap Rayyan dengan penuh kemenangan. Mendengar perkataan Rayyan, entah kenapa Sandra merasa harga dirinya diinjak-injak, dia mengepalkan tangannya kuat.
__ADS_1
Setelah Rayyan pergi, Sandra menghela napasnya mencoba menenangkan perasaanya yang tadi sempat menegang. ‘Tuhan, aku tahu, aku bukanlah hamba yang baik, tapi aku benar-benar memohon pada- Mu bantu aku,’ batin Sandra, dia merasakan firasatnya tidak enak, apalagi mengingat Rayyan tahu bahwa Sandra sudah mengetahui semua soal Rayyan dan Glenca.
"Sial." Sandra memukul stir kemudi. "Kenapa sih, gue harus terjebak sama Direktur gila kaya dia, tahu begini mending gue terima tawaran papah Gema," ucap Sandra penuh sesal, sekarang dia hanya bisa menunggu, kiranya apa yang akan Rayyan lakukan dan apa yang akan Rayyan rencanakan untuk Sandra. Semua itu benar-benar menggangu pikiran Sandra, dan membuat moodnya berantakan.