Tentang Luka Dan Cinta

Tentang Luka Dan Cinta
Tak terduga


__ADS_3

"Aku melihatnya di depan mataku, mereka tengah bercumbu mesra Sandra, " lagi lagi Soffia terisak. "Aku terkadang bingung, bukankah Glenca juga wanita, kenapa dia begitu tega menyakiti perasaanku?" ujar Soffia.


"Aku tahu seperti apa Rayyan, kalau dia tidak digoda, pasti dia tidak akan membuka peluang. Aku yakin Glenca juga menggodanya, dengan pakaian yang ketat itu," ujarnya lagi.


Sandra hanya bisa menepuk bahu Soffia dengan pelan, semoga apa yang di lakukan bisa sedikit menenangkan Soffia. "Lalu kenapa  Ibu masih  tetap bertahan? Wanita seperti Ibu, pasti bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari pak Rayyan," ucap Soffia. Rasanya, terlalu bodoh bagi Sandra, melihat Soffia yang masih mau mempertahankan Rayyan yang jelas bukan tipe lelaki setia, jika sikap Rayyan terus begini, apakah tidak menutup kemungkinan bahwa setelah menikah pun Rayyan masih bisa berkhianat?


"Aku mencintainya, dan aku akan tetap berjuang mempertahankan Rayyan. Aku percaya, San. Kalau suatu saat nanti Rayyan akan berubah, dan dia hanya akan mencintaiku, dan menatap ke arah ku," jawab Soffia dengan penuh keyakinan. Di mata SOffia bisa Sandra lihat, dia begitu teguh dengan pendirian nya.


"Baiklah, itu adalah keputusan yang sudah Ibu buat. Aku yakin, Ibu sudah mengerti mempertimbangkan semuanya, dan sudah tahu konsekuensi apa yang akan Ibu dapat," ujar Sandra. Meskipun bagi Sandra, hal yang dilakukan oleh Soffia adalah sesuatu tindakan bodoh, namun Sandra tidak mau terlalau ikut campur dengan urusan mereka. Soffia sudah memutuskan, jadi Sandra hanya bisa berharap semoga kesabaran yang Soffia berikan kepada Rayyan, akhirnya bisa merubah sikap Rayyan.


"Aku memang sudah menyiapkan hati ku, aku sudah bertekad maka aku harus bisa bersabar lebih lagi untuk menghadapi Rayyan," jawab Soffia dengan tegar.


"Baiklah, semangat ya Bu, dan kalau begitu saya pamit karena harus kembali bekerja," ujar Sandra setelah melihat jam tangannya yang menunjukkan jam makan siang telah usai.


"Baiklah, terimakasih ya, karena kamu sudah mau mendengarkan semua ceritaku dan memberikan saran. Setelah berbagi cerita, perasaan dan  hatiku terasa lebih baik," ucap Soffia seraya tersenyum manis.


"Sama-sama, Bu," setelah mengatakan itu Sandra pun pergi. Menyisakan Soffia di sana. Soffia masih menatap punggung Sandra yang kian menjauh, entah kenapa Soffia berpikir dekat dengan Sandra dan berbicara dengan hati ke hati membuat perasannya semakin nyaman. Soffia ingin memiliki teman curhat, dan Soffia sudha menemukan orangnya.


Sandra yang sudah duduk di kursinya, justru kini tengah memikirkan soal Soffia. Sandra merasa iba, karena wanita sebaik Soffia masih bisa dikhinati oleh Rayyan. Sandra jadi gemas sendiri, karena Soffia masih mau bertahan dengan pria yang jelas tidak bisa puas dengan satu wanita.


"Woy!" seru Rissa tepat di telinga Sandra, membuat Sandra seketika terkejut.

__ADS_1


"Kaget gue," ucap Sandra seraya memegang dadanya karenamasih terkejut. Sedangkan Rissa hanya tertawa tanpa dosa.


"Mikirin apa sih lo,?  Sampai ngelamun gitu," tanya Rissa penasaran.


"Nggak mikirin apapun kok, cuman lagi pengen ngelamun," jawab Sandra berkilah, padahal jelas dia tengah memikirkan SOffia dan Rayyan.


"Bohong, lo pasti lagi mikirin Alby," tebak Rissa, dan mendapatkan pukulan di lengannya.


"Aawww!" pekik Rissa kesakitan.


"Punya mulut dijaga, suka ngada-ngada kalo ngomen," Sandra memperingatkan, dn hanya dibalas cengiran dari Natasha.


"Pulang kantor mampir dulu yuk?" ajak Sandra.


-//-


Pukul 16.30 para karyawan mulai keluar kantor karena sudah jam pulang kerja, begitupun Sandra. Kini Sandra tengah menunggu gilirannya menaiki lift. Memang, sudah menjadi kebiasaan kalau jam makan siang dan pulang kantor pasti antri. Karena karyawan pulang bersamaan. Setelah menunggu beberapa saat ,akhirnya Sandra dan Rissa mendapat giliran masuk lift, saat Sandra dan Rissa  keluar dari lift, secara tidak sengaja mereka berpapasan dengan Rayyan, Raka dan Glenca.


Sandra menundukkan wajahnya saat bertemu dengan Raka, dia takut kalau Raka akhirnya akan membocorkan semuanya kepada Rayyan soal dirinya yang tidak senegaja mendengar ******* di kantor Rayyan.


"Gue balik duluan ya, San?" pamit Rissa, saat ini Rissa dan Sandra sudah berada di parkiran mobil.

__ADS_1


"Iya duluan aja,," jawab Sandra, Rissa pun memasuki mobil lalu melajukan mobil nya.


Sandra segera melajukan mobinya, namun yang aneh adalah, karena Sandra tidak menuju ke kediamannya, melainkan tempat lain. Sampai akhirnya mobil Sandra berhenti di salah satu restauran dengan bangunan 2 lantai. Sandra langsung memilih meja yang ada di lantai dua, tepatnya di balkon. Karena di sana Sandra bisa melihat semuanya dari ketinggian. Sandra memesan makanan yang bisa mengganjal perutny yang memang sudah minta diisi. Saat Sandra tengah menunggu pesanan datang, tiba-tiba saja seseorang tanpa permisi duduk di hadapan Sandra. Terkejut pasti, namun yang lebih mengejutkan lagi, saat dia tahu siapa orang yang sudah dengan tidak sopan duduk dengannya.


"Pak Rayyan?" ucap Sandra sambil mengernyitkan dahinya.


"Iya, ini saya Sandra,  kenapa kaget gitu liat saya?" tanya Rayyan dengan santai, tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sandra menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa CEO perusahaan bisa memiliki sikap tidak tahu malu dan tidak sopan seperti Rayyan?


"Ngapain Bapak di sini?" tanya Sandra, dia menunjukkan raut wajah tidak sukanya.


"Loh kenapa kamu bertanya begitu? Ini, kan tempat umum dan siapa pun bebas dong di sini, nggak ada larangan juga buat saya ada di sini," jawab Rayyan enteng.


"Saya nggak menanyakan kenapa dan apa alasan Pak Rayyan di caffe ini, itu nggak penting buat saya. Yang saya tanyakan kenapa Bapak duduk di sini, ini tempat saya," tegas Sandra.


Rayyan menarik sudut bibirnya, dia merasa semakin menarik menggoda Sandra. "Karena nggak ada tempat lain," jawab Rayyan.


Sandra menolah di sekeliling, dan manik matanya melihat masih ada meja yang kosong.  "Itu ada, di sana," tunjuk Sandra di salah satu tempat yang kosong.


"Saya nggak mau, karena saya nggak suka tempatnya," singkat Rayyan.


"Bapak mau makan, atau cuman mau cicipin tempatnya? Saya nggak perduli Bapak suka atau enggak, yang jelas saya mau Bapak pindah," pinta Sandra, niatnya ingin menghabiskan waktu sendiri, justru dia mendapatkan gangguan dari orang yang sudah membuatnya terus kepikiran, gara-gara suara  laknat yang Sandra dengar.

__ADS_1


"Saya bilang nggak mau, ya nggak mau," Rayyan benar-benar keras kepala.


Kesabaran Sandra nampaknya sudah habis, Sandra mendesah kesal, dan dia pun berniat pindah ke tempat lain, namun Rayyan mencekal tangan Sandra. " Lepas Pak," ketus Sandra seraya mengibaskan tangannya.


__ADS_2