Tentang Luka Dan Cinta

Tentang Luka Dan Cinta
Mulai was-was


__ADS_3

Jam makan siang sudah berakhir, Cassandra kembali ke meja sekretaris, dan di sana masih kosong, Sandra sangat yakin kalau Gita belum kembali dari makan siangnya bersama Rayyan. Ya, tadi dia melihat Gita dan Rayyan pergi bersama dengan alasan akan bertemu dengan Client, tapi Cassandra yakin, itu hanyalah alibu.


“Hai San,” Sandra cukup terkejut, melihat kedatangan Soffia yang mendadak.


“Siang Bu Soffia,” sapa Sandra, dia mencoba berbicara setenang mungkin.


“Aku dengar, ada sekretaris baru ya?” Sandra cukup terkejut, karena ternyata Soffia sudah tahu soal Gita. Akan tetapi, apakah Soffia juga tahu soal bagaimana Rayyan dan Gita saat mereka berada di ruangan Rayyan hanya berdua?


“I-iya Bu,” jawab Sandra bingung.


“San, bisa kita bicara? Aku nggak tahu lagi harus bicara sama siapa,” nada suara Soffia, nampak pasrah dan bingung. Sandra jelas paham, pasti ini soal Rayyan.


“Silahkan Bu,” jawab Sandra, dia mempersilahkan Soffia untuk duduk di tempat Gita, karena mungkin Gita dan Rayyan akan kembali terlambat. Meskipun sudah diperingatkan oleh Raka, supaya dia tidak terlalu dekat dengan Soffia, tapi melihat bagaimana keadaan Soffia, membuat Sandra tidak tega.


“Kamu mungkin sekarang sudah tahu, bagaimana hubungan ku dengan Rayyan,” ujar Soffia sendu, “seperti yang kamu lihat, ini adalah kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan, di mana akulah yang paling mencintai Rayyan dan aku yang selalu berjuang untuk mendapatkan cinta dan perhatian Rayyan,” Soffia mulai menceritakan dan terbuka soal kisah cintanya dengan Rayyan yang sesungguhnya. Di mana semua keindahan yang dilihat oleh orang lain di antara mereka, sebenarnya tidak pernah ada, itu semua hanya bohong.


“Katakanlah aku bodoh, karena aku bertahan dengan cintaku, yang jelas Rayyan tidak akan pernah bisa mencintaku, dia bahkan terlalu sering menyakiti ku. Tapi, aku tetap bertahan dengan perasaan ku,” ujar Soffia sendu.


“Apa aku salah San? Apa aku salah mencintai Rayyan dan seolah aku mengurungnya dalam hubungan ini?” tanya Soffia.


“Cinta nggak pernah salah, kan Bu? Karena kita tidak pernah bisa tahu kemana hati akan bertaut. Hanya saja, kita masih punya logika bukan? Jangan sampai, hanya karena cinta, logika ikut terkubur Bu, mencintailah sewajarnya, karena terkadang, cinta itu juga bisa melukai bahkan menghancurkan perasaan kita sedalam-dalamnya,” jawab Sandra memberikan saran.


“Bu, saya tahu ada alasan kenapa Ibu masih bertahan dengan luka yang sudah pak Rayyan buat selama ini, tapi saya mohon, pikirkan lah lagi, menikah pun Ibu tidak bisa memungkiri bahwa bisa saja pak Rayyan akan mengulangi hal itu lagi,” Soffia masih diam, mendengar ucapan Sandra, semua yang Sandra katakan jelas benar.


“Terimakasih banyak ya San, sudah mau mendengarkan aku, mungkin ini bisa menjadi bahan renungan ku,” ucap Soffia lagi. Saat mereka berdua tengah mengobrol, telihat Rayyan, Gita dan Raka sudah kembali.


“Kamu datang?” Rayyan datang menyapa Soffia.


“Iya, kamu baru selesai makan siang?” Soffia langsung bergelayut manja di lengan Rayyan, seolah menunjukkan kepada Gita, bahwa dia adalah kekasih Rayyan.


“Iya, ayo ke ruanganku.” Rayyan mengajak Soffia masuk ke ruangannya, tentu saja Sofia dengan senang hati menerima ajakan itu.


“Itu, siapa San?” tanya Gita kepada Sandra.


“Itu? Bu Soffia, tunangan pak Rayyan,” jawab Sandra. Seketika Gita terdiam.


“Kenapa? Kaget ya? Emang pak Rayyan belum cerita apapun ke kamu?”ledek Sandra."Kalau memang belum, sudah jelas dong, kamu nggak begitu penting buat pak Rayyan," ucap Sandra semakin membuat Gta menundukkan wajahnya.


“Tahu nggak kenapa Glenca, sampe dipecat? Itu semua karena permintaan bu Soffia, secara nggak sengaja, bu Soffia lihat perbuatan pak Rayyan dan Glenca, ya sama lah seperti kamu,” Sandra sengaja memanasi Gita, supaya Gita merasa takut telah bermain api dengan pak Rayyan.


“Apa bu Soffia, tahu soal aku dan pak Rayyan?” tanya Gita, dari raut wajahnya terlihat kalau Gita ketakutan, membuat Sandra tersenyum devil.


“Mungkin,” jawab Sandra seraya berlalu menuju toilet.


.


.


“Sandra!” Sandra yang baru saja turun dari mobilnya, terkejut dengan suara yang memanggilnya, dia adalah Kayla. Melihat siapa orang yang memanggilnya saja, Sandra sudah tahu bahwa beberapa detik lagi, keadaannya tidak akan baik.


'Kenapa harus hari ini sih, gue capek banget sumpah,' batin Sandar mengeluh dalam hati.


"Wah mimpi apa gue disamperin sama ibu hamil satu ini, lo ngidam ketemu gue?" tanya Sandra dengan nada ejekan.

__ADS_1


Jam makan siang sudah berakhir, Cassandra kembali ke meja sekretaris, dan di sana masih kosong, Sandra sangat yakin kalau Gita belum kembali dari makan siangnya bersama Rayyan. Ya, tadi dia melihat Gita dan Rayyan pergi bersama dengan alasan akan bertemu dengan Client, tapi Cassandra yakin, itu hanyalah alibu.


“Hai San,” Sandra cukup terkejut, melihat kedatangan Soffia yang mendadak.


“Siang Bu Soffia,” sapa Sandra, dia mencoba berbicara setenang mungkin.


“Aku dengar, ada sekretaris baru ya?” Sandra cukup terkejut, karena ternyata Soffia sudah tahu soal Gita. Akan tetapi, apakah Soffia juga tahu soal bagaimana Rayyan dan Gita saat mereka berada di ruangan Rayyan hanya berdua?


“I-iya Bu,” jawab Sandra bingung.


“San, bisa kita bicara? Aku nggak tahu lagi harus bicara sama siapa,” nada suara Soffia, nampak pasrah dan bingung. Sandra jelas paham, pasti ini soal Rayyan.


“Silahkan Bu,” jawab Sandra, dia mempersilahkan Soffia untuk duduk di tempat Gita, karena mungkin Gita dan Rayyan akan kembali terlambat. Meskipun sudah diperingatkan oleh Raka, supaya dia tidak terlalu dekat dengan Soffia, tapi melihat bagaimana keadaan Soffia, membuat Sandra tidak tega.


“Kamu mungkin sekarang sudah tahu, bagaimana hubungan ku dengan Rayyan,” ujar Soffia sendu, “seperti yang kamu lihat, ini adalah kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan, di mana akulah yang paling mencintai Rayyan dan aku yang selalu berjuang untuk mendapatkan cinta dan perhatian Rayyan,” Soffia mulai menceritakan dan terbuka soal kisah cintanya dengan Rayyan yang sesungguhnya. Di mana semua keindahan yang dilihat oleh orang lain di antara mereka, sebenarnya tidak pernah ada, itu semua hanya bohong.


“Katakanlah aku bodoh, karena aku bertahan dengan cintaku, yang jelas Rayyan tidak akan pernah bisa mencintaku, dia bahkan terlalu sering menyakiti ku. Tapi, aku tetap bertahan dengan perasaan ku,” ujar Soffia sendu.


“Apa aku salah San? Apa aku salah mencintai Rayyan dan seolah aku mengurungnya dalam hubungan ini?” tanya Soffia.


“Cinta nggak pernah salah, kan Bu? Karena kita tidak pernah bisa tahu kemana hati akan bertaut. Hanya saja, kita masih punya logika bukan? Jangan sampai, hanya karena cinta, logika ikut terkubur Bu, mencintailah sewajarnya, karena terkadang, cinta itu juga bisa melukai bahkan menghancurkan perasaan kita sedalam-dalamnya,” jawab Sandra memberikan saran.


“Bu, saya tahu ada alasan kenapa Ibu masih bertahan dengan luka yang sudah pak Rayyan buat selama ini, tapi saya mohon, pikirkan lah lagi, menikah pun Ibu tidak bisa memungkiri bahwa bisa saja pak Rayyan akan mengulangi hal itu lagi,” Soffia masih diam, mendengar ucapan Sandra, semua yang Sandra katakan jelas benar.


“Terimakasih banyak ya San, sudah mau mendengarkan aku, mungkin ini bisa menjadi bahan renungan ku,” ucap Soffia lagi. Saat mereka berdua tengah mengobrol, telihat Rayyan, Gita dan Raka sudah kembali.


“Kamu datang?” Rayyan datang menyapa Soffia.


“Iya, kamu baru selesai makan siang?” Soffia langsung bergelayut manja di lengan Rayyan, seolah menunjukkan kepada Gita, bahwa dia adalah kekasih Rayyan.


“Iya, ayo ke ruanganku.” Rayyan mengajak Soffia masuk ke ruangannya, tentu saja Sofia dengan senang hati menerima ajakan itu.


“Itu, siapa San?” tanya Gita kepada Sandra.


“Itu? Bu Soffia, tunangan pak Rayyan,” jawab Sandra. Seketika Gita terdiam.


“Kenapa? Kaget ya? Emang pak Rayyan belum cerita apapun ke kamu?”ledek Sandra."Kalau memang belum, sudah jelas dong, kamu nggak begitu penting buat pak Rayyan," ucap Sandra semakin membuat Gta menundukkan wajahnya.


“Tahu nggak kenapa Glenca, sampe dipecat? Itu semua karena permintaan bu Soffia, secara nggak sengaja, bu Soffia lihat perbuatan pak Rayyan dan Glenca, ya sama lah seperti kamu,” Sandra sengaja memanasi Gita, supaya Gita merasa takut telah bermain api dengan pak Rayyan.


“Apa bu Soffia, tahu soal aku dan pak Rayyan?” tanya Gita, dari raut wajahnya terlihat kalau Gita ketakutan, membuat Sandra tersenyum devil.


“Mungkin,” jawab Sandra seraya berlalu menuju toilet.


.


.


“Sandra!” Sandra yang baru saja turun dari mobilnya, terkejut dengan suara yang memanggilnya, dia adalah Kayla. Melihat siapa orang yang memanggilnya saja, Sandra sudah tahu bahwa beberapa detik lagi, keadaannya tidak akan baik.


'Kenapa harus hari ini sih, gue capek banget sumpah,' batin Sandar mengeluh dalam hati.


"Wah mimpi apa gue disamperin sama ibu hamil satu ini, lo ngidam ketemu gue?" tanya Sandra dengan nada ejekan.

__ADS_1


Jam makan siang sudah berakhir, Cassandra kembali ke meja sekretaris, dan di sana masih kosong, Sandra sangat yakin kalau Gita belum kembali dari makan siangnya bersama Rayyan. Ya, tadi dia melihat Gita dan Rayyan pergi bersama dengan alasan akan bertemu dengan Client, tapi Cassandra yakin, itu hanyalah alibu.


“Hai San,” Sandra cukup terkejut, melihat kedatangan Soffia yang mendadak.


“Siang Bu Soffia,” sapa Sandra, dia mencoba berbicara setenang mungkin.


“Aku dengar, ada sekretaris baru ya?” Sandra cukup terkejut, karena ternyata Soffia sudah tahu soal Gita. Akan tetapi, apakah Soffia juga tahu soal bagaimana Rayyan dan Gita saat mereka berada di ruangan Rayyan hanya berdua?


“I-iya Bu,” jawab Sandra bingung.


“San, bisa kita bicara? Aku nggak tahu lagi harus bicara sama siapa,” nada suara Soffia, nampak pasrah dan bingung. Sandra jelas paham, pasti ini soal Rayyan.


“Silahkan Bu,” jawab Sandra, dia mempersilahkan Soffia untuk duduk di tempat Gita, karena mungkin Gita dan Rayyan akan kembali terlambat. Meskipun sudah diperingatkan oleh Raka, supaya dia tidak terlalu dekat dengan Soffia, tapi melihat bagaimana keadaan Soffia, membuat Sandra tidak tega.


“Kamu mungkin sekarang sudah tahu, bagaimana hubungan ku dengan Rayyan,” ujar Soffia sendu, “seperti yang kamu lihat, ini adalah kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan, di mana akulah yang paling mencintai Rayyan dan aku yang selalu berjuang untuk mendapatkan cinta dan perhatian Rayyan,” Soffia mulai menceritakan dan terbuka soal kisah cintanya dengan Rayyan yang sesungguhnya. Di mana semua keindahan yang dilihat oleh orang lain di antara mereka, sebenarnya tidak pernah ada, itu semua hanya bohong.


“Katakanlah aku bodoh, karena aku bertahan dengan cintaku, yang jelas Rayyan tidak akan pernah bisa mencintaku, dia bahkan terlalu sering menyakiti ku. Tapi, aku tetap bertahan dengan perasaan ku,” ujar Soffia sendu.


“Apa aku salah San? Apa aku salah mencintai Rayyan dan seolah aku mengurungnya dalam hubungan ini?” tanya Soffia.


“Cinta nggak pernah salah, kan Bu? Karena kita tidak pernah bisa tahu kemana hati akan bertaut. Hanya saja, kita masih punya logika bukan? Jangan sampai, hanya karena cinta, logika ikut terkubur Bu, mencintailah sewajarnya, karena terkadang, cinta itu juga bisa melukai bahkan menghancurkan perasaan kita sedalam-dalamnya,” jawab Sandra memberikan saran.


“Bu, saya tahu ada alasan kenapa Ibu masih bertahan dengan luka yang sudah pak Rayyan buat selama ini, tapi saya mohon, pikirkan lah lagi, menikah pun Ibu tidak bisa memungkiri bahwa bisa saja pak Rayyan akan mengulangi hal itu lagi,” Soffia masih diam, mendengar ucapan Sandra, semua yang Sandra katakan jelas benar.


“Terimakasih banyak ya San, sudah mau mendengarkan aku, mungkin ini bisa menjadi bahan renungan ku,” ucap Soffia lagi. Saat mereka berdua tengah mengobrol, telihat Rayyan, Gita dan Raka sudah kembali.


“Kamu datang?” Rayyan datang menyapa Soffia.


“Iya, kamu baru selesai makan siang?” Soffia langsung bergelayut manja di lengan Rayyan, seolah menunjukkan kepada Gita, bahwa dia adalah kekasih Rayyan.


“Iya, ayo ke ruanganku.” Rayyan mengajak Soffia masuk ke ruangannya, tentu saja Sofia dengan senang hati menerima ajakan itu.


“Itu, siapa San?” tanya Gita kepada Sandra.


“Itu? Bu Soffia, tunangan pak Rayyan,” jawab Sandra. Seketika Gita terdiam.


“Kenapa? Kaget ya? Emang pak Rayyan belum cerita apapun ke kamu?”ledek Sandra."Kalau memang belum, sudah jelas dong, kamu nggak begitu penting buat pak Rayyan," ucap Sandra semakin membuat Gta menundukkan wajahnya.


“Tahu nggak kenapa Glenca, sampe dipecat? Itu semua karena permintaan bu Soffia, secara nggak sengaja, bu Soffia lihat perbuatan pak Rayyan dan Glenca, ya sama lah seperti kamu,” Sandra sengaja memanasi Gita, supaya Gita merasa takut telah bermain api dengan pak Rayyan.


“Apa bu Soffia, tahu soal aku dan pak Rayyan?” tanya Gita, dari raut wajahnya terlihat kalau Gita ketakutan, membuat Sandra tersenyum devil.


“Mungkin,” jawab Sandra seraya berlalu menuju toilet.


.


.


“Sandra!” Sandra yang baru saja turun dari mobilnya, terkejut dengan suara yang memanggilnya, dia adalah Kayla. Melihat siapa orang yang memanggilnya saja, Sandra sudah tahu bahwa beberapa detik lagi, keadaannya tidak akan baik.


'Kenapa harus hari ini sih, gue capek banget sumpah,' batin Sandar mengeluh dalam hati.


"Wah mimpi apa gue disamperin sama ibu hamil satu ini, lo ngidam ketemu gue?" tanya Sandra dengan nada ejekan.

__ADS_1


__ADS_2