Tentang Luka Dan Cinta

Tentang Luka Dan Cinta
Ingin dihargai?


__ADS_3

“Hai Sandra," sapa Soffia dengan akrab.


“Ibu Soffia?” sapa Sandara dengan raut wajah sedikit terkejut, tidak jauh dengan Raka.


“Sekarang, Sandra yang jadi sekretaris?” tanya Soffia.


“Benar Bu, karena Glenca sudah dipecat, dan kami belum menemukan penggantinya, jadi sampai menunggu ada pengganti Glenca, kami tarik dari mahasiswi yang sedang magang,” ujar Raka menjelaskan.


“Baguslah, kalau memang wanita gatal itu sudah dipecat, aku lebih lega karena Sandra yang meggantikan wanita itu,” jawab Soffia dengan enteng, nampaknya Soffia benar-benar membenci Glenca. Padahal, apapun yang terjadi atara Glenca dan Rayyan, itu semua juga karena Rayyan memberikan peluang.


“Sandra aku masuk dulu ya?” pamit Soffia dengan begitu ramah, Sandra pun menjawab dengan anggukan dan senyum sopan kepada Soffia.


“Jangan terlalu dekat dengan bu Soffia,” Raka, langsung memperingatkan kepada Sandra, seolah dia memang sudah mengetahui tugasnya selain pekerjaan kantor.


"Saya tahu, Pak Raka. Saya cuman mahasiswi yang lagi magang, dengan cita-cita saya ingin magang dengan tenang dan tanpa masalah. Jadi, saya rasa, saya memang harus mengindari bu Soffia, supaya nggak ikut campur urusan mereka," jawab Sandra dengan jelas, dia nampaknya sangal malas jika berurusan dengan Rayyan.


"Baguslah, kalau kamu sudah berpikiran begitu. Berarti otakmu tidak terlalu dangkal," sarkas Raka, membuat Sandra mendelik tajam.


"Kerjakan ini, dan koreksi semua berkas itu, pelajari dengan benar, apa yang sudah aku contohkan, aku ada pekerjaan lain," tanpa rasa bersalah sudah mengatai Sandra, Raka pergi tanpa menoleh kepada Sandra lagi.


“Iya Pak Raka, terimakasih.” Sandra memaksakan bibirnya terangkat dan menyunggingkan senyum, padahal tatapan matanya benar-benar menatap sinis pada Raka/


‘Nggak bosnya, nggak asisten pribadinya, sama-sama ngeselin,’ batin Sandra kesal, bahkan Sandra sampai memukul angin untuk menumpahkan emosinya. Pada akhirnya, Sandra memilih untuk bersikap tenang, dan dia  kembali melanjutkan pekerjannya.


-//-


“Kamu sudah memecatnya?” tanya Soffia basa-basi setelah dia masuk ke dalam ruangan Rayyan, tunangannya.


“Bukankah, kau yang mengancamku?” Rayyan malah balik bertanya, namun sikap Rayyan selalu saja sama, acuh dan cuek, membuat Soffia merasa kesal.


“Tapi aku juga lega, karena kamu mencarikan ganti yang jauh lebih baik dari pada Glenca, yaitu Sandra,” ujar Soffia, membuat Rayyan tertarik. Bukan tertarik pada Soffia, namun tertarik pada pembahasan mereka, karena mereka membahas soal Sandra. Rayyan juga baru tahu, kalau ternyata Soffia mengenal Sandra.


“Kamu sudah berkenalan, cepat juga,” ujar Rayyan.


“Kami sudah saling kenal, karena kami pernah bertemu secara tidak sengaja, saat aku menangis di toilet, setelah menyaksikan perbuatan kamu dan Glenca,” Soffia sengaja menyindir Rayyan, berharap lelaki itu mengerti. Tapi, Soffia tahu, hanya karena sindirannya tidak akan membuat Rayyan sadar. Nyatanya Rayyan seolah tidak mendengar apa yang Soffia katakan, Rayyan masih saja acuh dan terus menatap laptopnya.


“Bisakah kamu menatap ku Rayyan, saat kita sedang bicara?” tanya Soffia. Soffia hanya ingin Rayyan bisa menghargainya, walaupaun hanya saat dia berbicara.


“Aku sibuk,” jawab Rayyan ketus.


“Saat kamu bersama Glenca, apa kau tidak pernah sibuk?” lagi-lagi Soffia memancing pertengkaran antara mereka.


“Bukankah kau sudah tahu sejak lama, bagaimana sikapku? Kalau kau tidak nyaman, kenapa masih bertahan?” kali ini Rayyan menatap Soffia dengan tajam.


“Karena aku mencintai kamu,” jawaban Soffia masih saja sama, dia bertahan karena cintanya.


“Tapi aku tidak mencintai kamu, bukahkan aku sudah sering mengatakannya?” kata-kata penolakan yang sudah sering Soffia dengar, sampai Soffia merasa bosan dengan semua itu.


“Hai Sandra," sapa Soffia dengan akrab.


“Ibu Soffia?” sapa Sandara dengan raut wajah sedikit terkejut, tidak jauh dengan Raka.


“Sekarang, Sandra yang jadi sekretaris?” tanya Soffia.


“Benar Bu, karena Glenca sudah dipecat, dan kami belum menemukan penggantinya, jadi sampai menunggu ada pengganti Glenca, kami tarik dari mahasiswi yang sedang magang,” ujar Raka menjelaskan.


“Baguslah, kalau memang wanita gatal itu sudah dipecat, aku lebih lega karena Sandra yang meggantikan wanita itu,” jawab Soffia dengan enteng, nampaknya Soffia benar-benar membenci Glenca. Padahal, apapun yang terjadi atara Glenca dan Rayyan, itu semua juga karena Rayyan memberikan peluang.


“Sandra aku masuk dulu ya?” pamit Soffia dengan begitu ramah, Sandra pun menjawab dengan anggukan dan senyum sopan kepada Soffia.


“Jangan terlalu dekat dengan bu Soffia,” Raka, langsung memperingatkan kepada Sandra, seolah dia memang sudah mengetahui tugasnya selain pekerjaan kantor.


"Saya tahu, Pak Raka. Saya cuman mahasiswi yang lagi magang, dengan cita-cita saya ingin magang dengan tenang dan tanpa masalah. Jadi, saya rasa, saya memang harus mengindari bu Soffia, supaya nggak ikut campur urusan mereka," jawab Sandra dengan jelas, dia nampaknya sangal malas jika berurusan dengan Rayyan.


"Baguslah, kalau kamu sudah berpikiran begitu. Berarti otakmu tidak terlalu dangkal," sarkas Raka, membuat Sandra mendelik tajam.


"Kerjakan ini, dan koreksi semua berkas itu, pelajari dengan benar, apa yang sudah aku contohkan, aku ada pekerjaan lain," tanpa rasa bersalah sudah mengatai Sandra, Raka pergi tanpa menoleh kepada Sandra lagi.


“Iya Pak Raka, terimakasih.” Sandra memaksakan bibirnya terangkat dan menyunggingkan senyum, padahal tatapan matanya benar-benar menatap sinis pada Raka/


‘Nggak bosnya, nggak asisten pribadinya, sama-sama ngeselin,’ batin Sandra kesal, bahkan Sandra sampai memukul angin untuk menumpahkan emosinya. Pada akhirnya, Sandra memilih untuk bersikap tenang, dan dia  kembali melanjutkan pekerjannya.


-//-


“Kamu sudah memecatnya?” tanya Soffia basa-basi setelah dia masuk ke dalam ruangan Rayyan, tunangannya.


“Bukankah, kau yang mengancamku?” Rayyan malah balik bertanya, namun sikap Rayyan selalu saja sama, acuh dan cuek, membuat Soffia merasa kesal.


“Tapi aku juga lega, karena kamu mencarikan ganti yang jauh lebih baik dari pada Glenca, yaitu Sandra,” ujar Soffia, membuat Rayyan tertarik. Bukan tertarik pada Soffia, namun tertarik pada pembahasan mereka, karena mereka membahas soal Sandra. Rayyan juga baru tahu, kalau ternyata Soffia mengenal Sandra.

__ADS_1


“Kamu sudah berkenalan, cepat juga,” ujar Rayyan.


“Kami sudah saling kenal, karena kami pernah bertemu secara tidak sengaja, saat aku menangis di toilet, setelah menyaksikan perbuatan kamu dan Glenca,” Soffia sengaja menyindir Rayyan, berharap lelaki itu mengerti. Tapi, Soffia tahu, hanya karena sindirannya tidak akan membuat Rayyan sadar. Nyatanya Rayyan seolah tidak mendengar apa yang Soffia katakan, Rayyan masih saja acuh dan terus menatap laptopnya.


“Bisakah kamu menatap ku Rayyan, saat kita sedang bicara?” tanya Soffia. Soffia hanya ingin Rayyan bisa menghargainya, walaupaun hanya saat dia berbicara.


“Aku sibuk,” jawab Rayyan ketus.


“Saat kamu bersama Glenca, apa kau tidak pernah sibuk?” lagi-lagi Soffia memancing pertengkaran antara mereka.


“Bukankah kau sudah tahu sejak lama, bagaimana sikapku? Kalau kau tidak nyaman, kenapa masih bertahan?” kali ini Rayyan menatap Soffia dengan tajam.


“Karena aku mencintai kamu,” jawaban Soffia masih saja sama, dia bertahan karena cintanya.


“Tapi aku tidak mencintai kamu, bukahkan aku sudah sering mengatakannya?” kata-kata penolakan yang sudah sering Soffia dengar, sampai Soffia merasa bosan dengan semua itu.


“Hai Sandra," sapa Soffia dengan akrab.


“Ibu Soffia?” sapa Sandara dengan raut wajah sedikit terkejut, tidak jauh dengan Raka.


“Sekarang, Sandra yang jadi sekretaris?” tanya Soffia.


“Benar Bu, karena Glenca sudah dipecat, dan kami belum menemukan penggantinya, jadi sampai menunggu ada pengganti Glenca, kami tarik dari mahasiswi yang sedang magang,” ujar Raka menjelaskan.


“Baguslah, kalau memang wanita gatal itu sudah dipecat, aku lebih lega karena Sandra yang meggantikan wanita itu,” jawab Soffia dengan enteng, nampaknya Soffia benar-benar membenci Glenca. Padahal, apapun yang terjadi atara Glenca dan Rayyan, itu semua juga karena Rayyan memberikan peluang.


“Sandra aku masuk dulu ya?” pamit Soffia dengan begitu ramah, Sandra pun menjawab dengan anggukan dan senyum sopan kepada Soffia.


“Jangan terlalu dekat dengan bu Soffia,” Raka, langsung memperingatkan kepada Sandra, seolah dia memang sudah mengetahui tugasnya selain pekerjaan kantor.


"Saya tahu, Pak Raka. Saya cuman mahasiswi yang lagi magang, dengan cita-cita saya ingin magang dengan tenang dan tanpa masalah. Jadi, saya rasa, saya memang harus mengindari bu Soffia, supaya nggak ikut campur urusan mereka," jawab Sandra dengan jelas, dia nampaknya sangal malas jika berurusan dengan Rayyan.


"Baguslah, kalau kamu sudah berpikiran begitu. Berarti otakmu tidak terlalu dangkal," sarkas Raka, membuat Sandra mendelik tajam.


"Kerjakan ini, dan koreksi semua berkas itu, pelajari dengan benar, apa yang sudah aku contohkan, aku ada pekerjaan lain," tanpa rasa bersalah sudah mengatai Sandra, Raka pergi tanpa menoleh kepada Sandra lagi.


“Iya Pak Raka, terimakasih.” Sandra memaksakan bibirnya terangkat dan menyunggingkan senyum, padahal tatapan matanya benar-benar menatap sinis pada Raka/


‘Nggak bosnya, nggak asisten pribadinya, sama-sama ngeselin,’ batin Sandra kesal, bahkan Sandra sampai memukul angin untuk menumpahkan emosinya. Pada akhirnya, Sandra memilih untuk bersikap tenang, dan dia  kembali melanjutkan pekerjannya.


-//-


“Kamu sudah memecatnya?” tanya Soffia basa-basi setelah dia masuk ke dalam ruangan Rayyan, tunangannya.


“Bukankah, kau yang mengancamku?” Rayyan malah balik bertanya, namun sikap Rayyan selalu saja sama, acuh dan cuek, membuat Soffia merasa kesal.


“Tapi aku juga lega, karena kamu mencarikan ganti yang jauh lebih baik dari pada Glenca, yaitu Sandra,” ujar Soffia, membuat Rayyan tertarik. Bukan tertarik pada Soffia, namun tertarik pada pembahasan mereka, karena mereka membahas soal Sandra. Rayyan juga baru tahu, kalau ternyata Soffia mengenal Sandra.


“Kamu sudah berkenalan, cepat juga,” ujar Rayyan.


“Kami sudah saling kenal, karena kami pernah bertemu secara tidak sengaja, saat aku menangis di toilet, setelah menyaksikan perbuatan kamu dan Glenca,” Soffia sengaja menyindir Rayyan, berharap lelaki itu mengerti. Tapi, Soffia tahu, hanya karena sindirannya tidak akan membuat Rayyan sadar. Nyatanya Rayyan seolah tidak mendengar apa yang Soffia katakan, Rayyan masih saja acuh dan terus menatap laptopnya.


“Bisakah kamu menatap ku Rayyan, saat kita sedang bicara?” tanya Soffia. Soffia hanya ingin Rayyan bisa menghargainya, walaupaun hanya saat dia berbicara.


“Aku sibuk,” jawab Rayyan ketus.


“Saat kamu bersama Glenca, apa kau tidak pernah sibuk?” lagi-lagi Soffia memancing pertengkaran antara mereka.


“Bukankah kau sudah tahu sejak lama, bagaimana sikapku? Kalau kau tidak nyaman, kenapa masih bertahan?” kali ini Rayyan menatap Soffia dengan tajam.


“Karena aku mencintai kamu,” jawaban Soffia masih saja sama, dia bertahan karena cintanya.


“Tapi aku tidak mencintai kamu, bukahkan aku sudah sering mengatakannya?” kata-kata penolakan yang sudah sering Soffia dengar, sampai Soffia merasa bosan dengan semua itu.


“Hai Sandra," sapa Soffia dengan akrab.


“Ibu Soffia?” sapa Sandara dengan raut wajah sedikit terkejut, tidak jauh dengan Raka.


“Sekarang, Sandra yang jadi sekretaris?” tanya Soffia.


“Benar Bu, karena Glenca sudah dipecat, dan kami belum menemukan penggantinya, jadi sampai menunggu ada pengganti Glenca, kami tarik dari mahasiswi yang sedang magang,” ujar Raka menjelaskan.


“Baguslah, kalau memang wanita gatal itu sudah dipecat, aku lebih lega karena Sandra yang meggantikan wanita itu,” jawab Soffia dengan enteng, nampaknya Soffia benar-benar membenci Glenca. Padahal, apapun yang terjadi atara Glenca dan Rayyan, itu semua juga karena Rayyan memberikan peluang.


“Sandra aku masuk dulu ya?” pamit Soffia dengan begitu ramah, Sandra pun menjawab dengan anggukan dan senyum sopan kepada Soffia.


“Jangan terlalu dekat dengan bu Soffia,” Raka, langsung memperingatkan kepada Sandra, seolah dia memang sudah mengetahui tugasnya selain pekerjaan kantor.


"Saya tahu, Pak Raka. Saya cuman mahasiswi yang lagi magang, dengan cita-cita saya ingin magang dengan tenang dan tanpa masalah. Jadi, saya rasa, saya memang harus mengindari bu Soffia, supaya nggak ikut campur urusan mereka," jawab Sandra dengan jelas, dia nampaknya sangal malas jika berurusan dengan Rayyan.

__ADS_1


"Baguslah, kalau kamu sudah berpikiran begitu. Berarti otakmu tidak terlalu dangkal," sarkas Raka, membuat Sandra mendelik tajam.


"Kerjakan ini, dan koreksi semua berkas itu, pelajari dengan benar, apa yang sudah aku contohkan, aku ada pekerjaan lain," tanpa rasa bersalah sudah mengatai Sandra, Raka pergi tanpa menoleh kepada Sandra lagi.


“Iya Pak Raka, terimakasih.” Sandra memaksakan bibirnya terangkat dan menyunggingkan senyum, padahal tatapan matanya benar-benar menatap sinis pada Raka/


‘Nggak bosnya, nggak asisten pribadinya, sama-sama ngeselin,’ batin Sandra kesal, bahkan Sandra sampai memukul angin untuk menumpahkan emosinya. Pada akhirnya, Sandra memilih untuk bersikap tenang, dan dia  kembali melanjutkan pekerjannya.


-//-


“Kamu sudah memecatnya?” tanya Soffia basa-basi setelah dia masuk ke dalam ruangan Rayyan, tunangannya.


“Bukankah, kau yang mengancamku?” Rayyan malah balik bertanya, namun sikap Rayyan selalu saja sama, acuh dan cuek, membuat Soffia merasa kesal.


“Tapi aku juga lega, karena kamu mencarikan ganti yang jauh lebih baik dari pada Glenca, yaitu Sandra,” ujar Soffia, membuat Rayyan tertarik. Bukan tertarik pada Soffia, namun tertarik pada pembahasan mereka, karena mereka membahas soal Sandra. Rayyan juga baru tahu, kalau ternyata Soffia mengenal Sandra.


“Kamu sudah berkenalan, cepat juga,” ujar Rayyan.


“Kami sudah saling kenal, karena kami pernah bertemu secara tidak sengaja, saat aku menangis di toilet, setelah menyaksikan perbuatan kamu dan Glenca,” Soffia sengaja menyindir Rayyan, berharap lelaki itu mengerti. Tapi, Soffia tahu, hanya karena sindirannya tidak akan membuat Rayyan sadar. Nyatanya Rayyan seolah tidak mendengar apa yang Soffia katakan, Rayyan masih saja acuh dan terus menatap laptopnya.


“Bisakah kamu menatap ku Rayyan, saat kita sedang bicara?” tanya Soffia. Soffia hanya ingin Rayyan bisa menghargainya, walaupaun hanya saat dia berbicara.


“Aku sibuk,” jawab Rayyan ketus.


“Saat kamu bersama Glenca, apa kau tidak pernah sibuk?” lagi-lagi Soffia memancing pertengkaran antara mereka.


“Bukankah kau sudah tahu sejak lama, bagaimana sikapku? Kalau kau tidak nyaman, kenapa masih bertahan?” kali ini Rayyan menatap Soffia dengan tajam.


“Karena aku mencintai kamu,” jawaban Soffia masih saja sama, dia bertahan karena cintanya.


“Tapi aku tidak mencintai kamu, bukahkan aku sudah sering mengatakannya?” kata-kata penolakan yang sudah sering Soffia dengar, sampai Soffia merasa bosan dengan semua itu.


“Hai Sandra," sapa Soffia dengan akrab.


“Ibu Soffia?” sapa Sandara dengan raut wajah sedikit terkejut, tidak jauh dengan Raka.


“Sekarang, Sandra yang jadi sekretaris?” tanya Soffia.


“Benar Bu, karena Glenca sudah dipecat, dan kami belum menemukan penggantinya, jadi sampai menunggu ada pengganti Glenca, kami tarik dari mahasiswi yang sedang magang,” ujar Raka menjelaskan.


“Baguslah, kalau memang wanita gatal itu sudah dipecat, aku lebih lega karena Sandra yang meggantikan wanita itu,” jawab Soffia dengan enteng, nampaknya Soffia benar-benar membenci Glenca. Padahal, apapun yang terjadi atara Glenca dan Rayyan, itu semua juga karena Rayyan memberikan peluang.


“Sandra aku masuk dulu ya?” pamit Soffia dengan begitu ramah, Sandra pun menjawab dengan anggukan dan senyum sopan kepada Soffia.


“Jangan terlalu dekat dengan bu Soffia,” Raka, langsung memperingatkan kepada Sandra, seolah dia memang sudah mengetahui tugasnya selain pekerjaan kantor.


"Saya tahu, Pak Raka. Saya cuman mahasiswi yang lagi magang, dengan cita-cita saya ingin magang dengan tenang dan tanpa masalah. Jadi, saya rasa, saya memang harus mengindari bu Soffia, supaya nggak ikut campur urusan mereka," jawab Sandra dengan jelas, dia nampaknya sangal malas jika berurusan dengan Rayyan.


"Baguslah, kalau kamu sudah berpikiran begitu. Berarti otakmu tidak terlalu dangkal," sarkas Raka, membuat Sandra mendelik tajam.


"Kerjakan ini, dan koreksi semua berkas itu, pelajari dengan benar, apa yang sudah aku contohkan, aku ada pekerjaan lain," tanpa rasa bersalah sudah mengatai Sandra, Raka pergi tanpa menoleh kepada Sandra lagi.


“Iya Pak Raka, terimakasih.” Sandra memaksakan bibirnya terangkat dan menyunggingkan senyum, padahal tatapan matanya benar-benar menatap sinis pada Raka/


‘Nggak bosnya, nggak asisten pribadinya, sama-sama ngeselin,’ batin Sandra kesal, bahkan Sandra sampai memukul angin untuk menumpahkan emosinya. Pada akhirnya, Sandra memilih untuk bersikap tenang, dan dia  kembali melanjutkan pekerjannya.


-//-


“Kamu sudah memecatnya?” tanya Soffia basa-basi setelah dia masuk ke dalam ruangan Rayyan, tunangannya.


“Bukankah, kau yang mengancamku?” Rayyan malah balik bertanya, namun sikap Rayyan selalu saja sama, acuh dan cuek, membuat Soffia merasa kesal.


“Tapi aku juga lega, karena kamu mencarikan ganti yang jauh lebih baik dari pada Glenca, yaitu Sandra,” ujar Soffia, membuat Rayyan tertarik. Bukan tertarik pada Soffia, namun tertarik pada pembahasan mereka, karena mereka membahas soal Sandra. Rayyan juga baru tahu, kalau ternyata Soffia mengenal Sandra.


“Kamu sudah berkenalan, cepat juga,” ujar Rayyan.


“Kami sudah saling kenal, karena kami pernah bertemu secara tidak sengaja, saat aku menangis di toilet, setelah menyaksikan perbuatan kamu dan Glenca,” Soffia sengaja menyindir Rayyan, berharap lelaki itu mengerti. Tapi, Soffia tahu, hanya karena sindirannya tidak akan membuat Rayyan sadar. Nyatanya Rayyan seolah tidak mendengar apa yang Soffia katakan, Rayyan masih saja acuh dan terus menatap laptopnya.


“Bisakah kamu menatap ku Rayyan, saat kita sedang bicara?” tanya Soffia. Soffia hanya ingin Rayyan bisa menghargainya, walaupaun hanya saat dia berbicara.


“Aku sibuk,” jawab Rayyan ketus.


“Saat kamu bersama Glenca, apa kau tidak pernah sibuk?” lagi-lagi Soffia memancing pertengkaran antara mereka.


“Bukankah kau sudah tahu sejak lama, bagaimana sikapku? Kalau kau tidak nyaman, kenapa masih bertahan?” kali ini Rayyan menatap Soffia dengan tajam.


“Karena aku mencintai kamu,” jawaban Soffia masih saja sama, dia bertahan karena cintanya.


“Tapi aku tidak mencintai kamu, bukahkan aku sudah sering mengatakannya?” kata-kata penolakan yang sudah sering Soffia dengar, sampai Soffia merasa bosan dengan semua itu.

__ADS_1


__ADS_2