Tentang Luka Dan Cinta

Tentang Luka Dan Cinta
Tidak tahu malu


__ADS_3

Sudah 15 menit lamanya, akhirnya Gita keluar dari ruangan Rayyan, dengan malu-malu Gita langsung menuju ke toilet, namun Sandra juga tidak ambil pusing dia tidak menyapa ataupun menanyakan soal apapun. Dia terus bekerja dan fokus dengan apa yang harus dikerjakannya, seperti apa yang disarankan oleh Rissa dan Raka.


“Hai San,” sapa Gita basa-basi.


“Kerjaan aku hampir selesai emang, kalau masalah kerjaan Kak Gita belum beres, itu sih urusan Kakak,” ucap Sandra dengan datar, karena memang dari awal mereka sudah membagi pekerjaan masing-masing, dengan adil. Padahal, di sini yang berpengalaman adalah Gita.


“Maksudnya?” Gita nampaknya berpikir, bahwa Sandra juga mengerjakan miliknya, namun itu salah.


“Ya aku kerjain berkas punyaku, Kakak kerjain punya Kakak, adil dong,” jawab Sandra dengan santai.


“Ta-tapi kan,- Gita nampak protes.


“Kenapa? mau bilang aku terlalu perhitungan? Kan di sini Kakak yang berpengalaman, harusnya Kakak memberikan contoh yang baik buat aku. Jadi, aku nggak salah dong, aku cuman kerjain kerjaan aku,” ujar Sandra lagi dengan tegas, membuat Gita terdiam.


“Bukannya Kakak udah dapet kerjaan plus-plus? Mungkin Pak Rayyan bisa kasih keringanan buat pekerjaan Kakak,” Sandra tersenyum sinis kepada Gita, membuat Gita semakin salah tingkah karena di sindir oleh Sandra.


“Ma-maksud kamu apa?” tanya Gita, pura-pura tidak paham.


“Itu,” Sandra menunjukkan dengan sorot matanya, ke arah jendela itu. Sontak saja, Gita langsung menutup bibirnya rapat.


“Kaget ya?” tanya Sandra dengan senyum sinisnya.


“Tenang Kak, ini bukan kali pertama aku lihat Pak Rayyan begitu, bahkan sebelumnya, ceweknya lebih hot, lebih sexy, dan lebih menantang,” Sandra sengaja memanasi keadaan, dia ingin melihat bagaimana respone Gita.


“Bodynya? Bahkan lebih wow, pokoknya Kak Gita masih kalah jauh,” terang Sandra semakin menjadi, sontak Gita menatap dadanya, dia padahal sudah merasa kalau miliknya cukup besar dan menantang, namun mendengar ucapan Sandra, membuat Gita yakin, kalau wanita yang sebelumnya bersama Rayyan lebih baik darinya dalam urusan ranjang. Karena malu, akhirnya Gita berpamitan lebih dulu ke toilet. Melihat Gita yang nampak salah tingkah, membuat Sandra tertawa, dia benar-benar puas sudah mengerjai Gita.


.


.


“Serius loe San?” semua mata menatap Sandra dengan tatapan terkejut, mereka adalah teman-temannya di divisi kreatif, saat ini Sandra tengah  menceritakan kejadian menyenangkan hari ini kepada mereka.


“Serius lah, gue kerjain aja dia,” jawab Sandra dengan senyum jahilnya.


“Pantes lo nggak ajak dia,” ujar Natalie, padahal mereka berniat mengajak Gita untuk ikut mereka makan siang hari ini sekaligus untuk berkenalan.


“Nggak usah, paling cewek kaya dia bakal adu cantik, males gue dengernya,” ujar Dimas langsung menolak.


“Tapi gue kasihan sama bu Soffia,” jika ingat dengan bagaimana baiknya Soffia, ingin sekali Sandra memukul dan membalaskan rasa sakit Soffia, tapi apa daya, itu hanya haluannya semata.


"Tapi, di sini juga gue heran sih sama bu Soffia, kok ya masih mau sama pak Rayyan, yang notabennya gonta-ganti perempuan dan sering ajak perempuan manapun ke ranjangnya. Emang bu Soffia yakin kalau pak Rayyan bakalan tobat setelah nikah? Bukannya di sini, bu Soffia juga cuman nyakitin perasaannya dan perasaan pak Rayyan? Kan pak Rayyan nggak pernah cinta," ujar Rissa, entah kenapa saat ini pembicaraannya sedang begitu baik.


“Benar, kalau aja bu Soffia nggak egois, dan lebih mementingkan kebahagiannya dan kesehatan batinnya, harusnya dia lebih memilih mundur,” Bagas pun berpendapat demikian.


“Mungkin, bu Soffia salah satu orang yang memiliki tekad besar, dia mencintai pak Rayyan, sampai mengesampingkan rasa sakit hatinya, dia tetap berjuang dan bertahan dengan pak Rayyan, gue rasa pak Rayyan harusnya bersyukur sih kalau dia bisa sama bu Soffia. Karena di sini, bisa jadi bu Soffia menimang tentang dua keluarga yang sudah dekat satu sama lain,” dan Natalie memiliki pendapatnya sendiri pula.


“Bener, coba bu Soffia kurang apa? cantik iya, dia juga pewaris tunggal, dia juga terlihat sabar banget. Kalau pak Rayyan nikah sama bu Soffia, gue yakin keluarganya bakal adem, asal pak Rayyan mau berubah,” timpal Dimas. Sandra yang mendengar jawaban masing-masing dari teman-temannya, membenarkan jawaban mereka. Bagi Sandra, semua jawaban itu benar, namun kembali lagi, kepada Soffia. Wanita itu lebih memilih bertahan dan sangat yakin, kalau Rayyan adalah jodohnya.


“San, lo tiap hari ketemu sama pak Rayyan dan deket sama pak Rayyan, nggak takut kepincut?” tiba-tiba saja Rissa menanyakan hal demikian dan membuat Sandra justru tertawa lucu.


“Gue suka sama Pak Rayyan? Modelan cowok kaya dia? Cuma bikin makan hati,” jawab Sandra dengan santai. Mungkin Sandra bisa menahan perasaannya agar tidak jatuh cinta dengan atasannya itu, namun bagaimana dengan Rayyan, lelaki itu yang justru semakin tertarik dengan sikap Sandra yang acuh dan selalu menghindari Rayyan. Sikap Sandra yang berbanding terbalik dan  jauh berbeda dengan wanita lain. Biasanya Rayyan akan selalu dipuja dan dikejar oleh kaum hawa, bahkan mereka rela antri demi bisa berada di bawah kungkungan Rayyan, menikmati ranjang panasnya, akan tetapi hal yang berbeda justru terjadi pada Sandra. Rayyan justru harus punya banyak alasan supaya Sandra bisa dekat dengannya.


Sudah 15 menit lamanya, akhirnya Gita keluar dari ruangan Rayyan, dengan malu-malu Gita langsung menuju ke toilet, namun Sandra juga tidak ambil pusing dia tidak menyapa ataupun menanyakan soal apapun. Dia terus bekerja dan fokus dengan apa yang harus dikerjakannya, seperti apa yang disarankan oleh Rissa dan Raka.


“Hai San,” sapa Gita basa-basi.


“Kerjaan aku hampir selesai emang, kalau masalah kerjaan Kak Gita belum beres, itu sih urusan Kakak,” ucap Sandra dengan datar, karena memang dari awal mereka sudah membagi pekerjaan masing-masing, dengan adil. Padahal, di sini yang berpengalaman adalah Gita.


“Maksudnya?” Gita nampaknya berpikir, bahwa Sandra juga mengerjakan miliknya, namun itu salah.


“Ya aku kerjain berkas punyaku, Kakak kerjain punya Kakak, adil dong,” jawab Sandra dengan santai.


“Ta-tapi kan,- Gita nampak protes.


“Kenapa? mau bilang aku terlalu perhitungan? Kan di sini Kakak yang berpengalaman, harusnya Kakak memberikan contoh yang baik buat aku. Jadi, aku nggak salah dong, aku cuman kerjain kerjaan aku,” ujar Sandra lagi dengan tegas, membuat Gita terdiam.


“Bukannya Kakak udah dapet kerjaan plus-plus? Mungkin Pak Rayyan bisa kasih keringanan buat pekerjaan Kakak,” Sandra tersenyum sinis kepada Gita, membuat Gita semakin salah tingkah karena di sindir oleh Sandra.


“Ma-maksud kamu apa?” tanya Gita, pura-pura tidak paham.


“Itu,” Sandra menunjukkan dengan sorot matanya, ke arah jendela itu. Sontak saja, Gita langsung menutup bibirnya rapat.


“Kaget ya?” tanya Sandra dengan senyum sinisnya.


“Tenang Kak, ini bukan kali pertama aku lihat Pak Rayyan begitu, bahkan sebelumnya, ceweknya lebih hot, lebih sexy, dan lebih menantang,” Sandra sengaja memanasi keadaan, dia ingin melihat bagaimana respone Gita.


“Bodynya? Bahkan lebih wow, pokoknya Kak Gita masih kalah jauh,” terang Sandra semakin menjadi, sontak Gita menatap dadanya, dia padahal sudah merasa kalau miliknya cukup besar dan menantang, namun mendengar ucapan Sandra, membuat Gita yakin, kalau wanita yang sebelumnya bersama Rayyan lebih baik darinya dalam urusan ranjang. Karena malu, akhirnya Gita berpamitan lebih dulu ke toilet. Melihat Gita yang nampak salah tingkah, membuat Sandra tertawa, dia benar-benar puas sudah mengerjai Gita.


.


.


“Serius loe San?” semua mata menatap Sandra dengan tatapan terkejut, mereka adalah teman-temannya di divisi kreatif, saat ini Sandra tengah  menceritakan kejadian menyenangkan hari ini kepada mereka.


“Serius lah, gue kerjain aja dia,” jawab Sandra dengan senyum jahilnya.


“Pantes lo nggak ajak dia,” ujar Natalie, padahal mereka berniat mengajak Gita untuk ikut mereka makan siang hari ini sekaligus untuk berkenalan.


“Nggak usah, paling cewek kaya dia bakal adu cantik, males gue dengernya,” ujar Dimas langsung menolak.


“Tapi gue kasihan sama bu Soffia,” jika ingat dengan bagaimana baiknya Soffia, ingin sekali Sandra memukul dan membalaskan rasa sakit Soffia, tapi apa daya, itu hanya haluannya semata.


"Tapi, di sini juga gue heran sih sama bu Soffia, kok ya masih mau sama pak Rayyan, yang notabennya gonta-ganti perempuan dan sering ajak perempuan manapun ke ranjangnya. Emang bu Soffia yakin kalau pak Rayyan bakalan tobat setelah nikah? Bukannya di sini, bu Soffia juga cuman nyakitin perasaannya dan perasaan pak Rayyan? Kan pak Rayyan nggak pernah cinta," ujar Rissa, entah kenapa saat ini pembicaraannya sedang begitu baik.


“Benar, kalau aja bu Soffia nggak egois, dan lebih mementingkan kebahagiannya dan kesehatan batinnya, harusnya dia lebih memilih mundur,” Bagas pun berpendapat demikian.


“Mungkin, bu Soffia salah satu orang yang memiliki tekad besar, dia mencintai pak Rayyan, sampai mengesampingkan rasa sakit hatinya, dia tetap berjuang dan bertahan dengan pak Rayyan, gue rasa pak Rayyan harusnya bersyukur sih kalau dia bisa sama bu Soffia. Karena di sini, bisa jadi bu Soffia menimang tentang dua keluarga yang sudah dekat satu sama lain,” dan Natalie memiliki pendapatnya sendiri pula.


“Bener, coba bu Soffia kurang apa? cantik iya, dia juga pewaris tunggal, dia juga terlihat sabar banget. Kalau pak Rayyan nikah sama bu Soffia, gue yakin keluarganya bakal adem, asal pak Rayyan mau berubah,” timpal Dimas. Sandra yang mendengar jawaban masing-masing dari teman-temannya, membenarkan jawaban mereka. Bagi Sandra, semua jawaban itu benar, namun kembali lagi, kepada Soffia. Wanita itu lebih memilih bertahan dan sangat yakin, kalau Rayyan adalah jodohnya.


“San, lo tiap hari ketemu sama pak Rayyan dan deket sama pak Rayyan, nggak takut kepincut?” tiba-tiba saja Rissa menanyakan hal demikian dan membuat Sandra justru tertawa lucu.


“Gue suka sama Pak Rayyan? Modelan cowok kaya dia? Cuma bikin makan hati,” jawab Sandra dengan santai. Mungkin Sandra bisa menahan perasaannya agar tidak jatuh cinta dengan atasannya itu, namun bagaimana dengan Rayyan, lelaki itu yang justru semakin tertarik dengan sikap Sandra yang acuh dan selalu menghindari Rayyan. Sikap Sandra yang berbanding terbalik dan  jauh berbeda dengan wanita lain. Biasanya Rayyan akan selalu dipuja dan dikejar oleh kaum hawa, bahkan mereka rela antri demi bisa berada di bawah kungkungan Rayyan, menikmati ranjang panasnya, akan tetapi hal yang berbeda justru terjadi pada Sandra. Rayyan justru harus punya banyak alasan supaya Sandra bisa dekat dengannya.

__ADS_1


Sudah 15 menit lamanya, akhirnya Gita keluar dari ruangan Rayyan, dengan malu-malu Gita langsung menuju ke toilet, namun Sandra juga tidak ambil pusing dia tidak menyapa ataupun menanyakan soal apapun. Dia terus bekerja dan fokus dengan apa yang harus dikerjakannya, seperti apa yang disarankan oleh Rissa dan Raka.


“Hai San,” sapa Gita basa-basi.


“Kerjaan aku hampir selesai emang, kalau masalah kerjaan Kak Gita belum beres, itu sih urusan Kakak,” ucap Sandra dengan datar, karena memang dari awal mereka sudah membagi pekerjaan masing-masing, dengan adil. Padahal, di sini yang berpengalaman adalah Gita.


“Maksudnya?” Gita nampaknya berpikir, bahwa Sandra juga mengerjakan miliknya, namun itu salah.


“Ya aku kerjain berkas punyaku, Kakak kerjain punya Kakak, adil dong,” jawab Sandra dengan santai.


“Ta-tapi kan,- Gita nampak protes.


“Kenapa? mau bilang aku terlalu perhitungan? Kan di sini Kakak yang berpengalaman, harusnya Kakak memberikan contoh yang baik buat aku. Jadi, aku nggak salah dong, aku cuman kerjain kerjaan aku,” ujar Sandra lagi dengan tegas, membuat Gita terdiam.


“Bukannya Kakak udah dapet kerjaan plus-plus? Mungkin Pak Rayyan bisa kasih keringanan buat pekerjaan Kakak,” Sandra tersenyum sinis kepada Gita, membuat Gita semakin salah tingkah karena di sindir oleh Sandra.


“Ma-maksud kamu apa?” tanya Gita, pura-pura tidak paham.


“Itu,” Sandra menunjukkan dengan sorot matanya, ke arah jendela itu. Sontak saja, Gita langsung menutup bibirnya rapat.


“Kaget ya?” tanya Sandra dengan senyum sinisnya.


“Tenang Kak, ini bukan kali pertama aku lihat Pak Rayyan begitu, bahkan sebelumnya, ceweknya lebih hot, lebih sexy, dan lebih menantang,” Sandra sengaja memanasi keadaan, dia ingin melihat bagaimana respone Gita.


“Bodynya? Bahkan lebih wow, pokoknya Kak Gita masih kalah jauh,” terang Sandra semakin menjadi, sontak Gita menatap dadanya, dia padahal sudah merasa kalau miliknya cukup besar dan menantang, namun mendengar ucapan Sandra, membuat Gita yakin, kalau wanita yang sebelumnya bersama Rayyan lebih baik darinya dalam urusan ranjang. Karena malu, akhirnya Gita berpamitan lebih dulu ke toilet. Melihat Gita yang nampak salah tingkah, membuat Sandra tertawa, dia benar-benar puas sudah mengerjai Gita.


.


.


“Serius loe San?” semua mata menatap Sandra dengan tatapan terkejut, mereka adalah teman-temannya di divisi kreatif, saat ini Sandra tengah  menceritakan kejadian menyenangkan hari ini kepada mereka.


“Serius lah, gue kerjain aja dia,” jawab Sandra dengan senyum jahilnya.


“Pantes lo nggak ajak dia,” ujar Natalie, padahal mereka berniat mengajak Gita untuk ikut mereka makan siang hari ini sekaligus untuk berkenalan.


“Nggak usah, paling cewek kaya dia bakal adu cantik, males gue dengernya,” ujar Dimas langsung menolak.


“Tapi gue kasihan sama bu Soffia,” jika ingat dengan bagaimana baiknya Soffia, ingin sekali Sandra memukul dan membalaskan rasa sakit Soffia, tapi apa daya, itu hanya haluannya semata.


"Tapi, di sini juga gue heran sih sama bu Soffia, kok ya masih mau sama pak Rayyan, yang notabennya gonta-ganti perempuan dan sering ajak perempuan manapun ke ranjangnya. Emang bu Soffia yakin kalau pak Rayyan bakalan tobat setelah nikah? Bukannya di sini, bu Soffia juga cuman nyakitin perasaannya dan perasaan pak Rayyan? Kan pak Rayyan nggak pernah cinta," ujar Rissa, entah kenapa saat ini pembicaraannya sedang begitu baik.


“Benar, kalau aja bu Soffia nggak egois, dan lebih mementingkan kebahagiannya dan kesehatan batinnya, harusnya dia lebih memilih mundur,” Bagas pun berpendapat demikian.


“Mungkin, bu Soffia salah satu orang yang memiliki tekad besar, dia mencintai pak Rayyan, sampai mengesampingkan rasa sakit hatinya, dia tetap berjuang dan bertahan dengan pak Rayyan, gue rasa pak Rayyan harusnya bersyukur sih kalau dia bisa sama bu Soffia. Karena di sini, bisa jadi bu Soffia menimang tentang dua keluarga yang sudah dekat satu sama lain,” dan Natalie memiliki pendapatnya sendiri pula.


“Bener, coba bu Soffia kurang apa? cantik iya, dia juga pewaris tunggal, dia juga terlihat sabar banget. Kalau pak Rayyan nikah sama bu Soffia, gue yakin keluarganya bakal adem, asal pak Rayyan mau berubah,” timpal Dimas. Sandra yang mendengar jawaban masing-masing dari teman-temannya, membenarkan jawaban mereka. Bagi Sandra, semua jawaban itu benar, namun kembali lagi, kepada Soffia. Wanita itu lebih memilih bertahan dan sangat yakin, kalau Rayyan adalah jodohnya.


“San, lo tiap hari ketemu sama pak Rayyan dan deket sama pak Rayyan, nggak takut kepincut?” tiba-tiba saja Rissa menanyakan hal demikian dan membuat Sandra justru tertawa lucu.


“Gue suka sama Pak Rayyan? Modelan cowok kaya dia? Cuma bikin makan hati,” jawab Sandra dengan santai. Mungkin Sandra bisa menahan perasaannya agar tidak jatuh cinta dengan atasannya itu, namun bagaimana dengan Rayyan, lelaki itu yang justru semakin tertarik dengan sikap Sandra yang acuh dan selalu menghindari Rayyan. Sikap Sandra yang berbanding terbalik dan  jauh berbeda dengan wanita lain. Biasanya Rayyan akan selalu dipuja dan dikejar oleh kaum hawa, bahkan mereka rela antri demi bisa berada di bawah kungkungan Rayyan, menikmati ranjang panasnya, akan tetapi hal yang berbeda justru terjadi pada Sandra. Rayyan justru harus punya banyak alasan supaya Sandra bisa dekat dengannya.


Sudah 15 menit lamanya, akhirnya Gita keluar dari ruangan Rayyan, dengan malu-malu Gita langsung menuju ke toilet, namun Sandra juga tidak ambil pusing dia tidak menyapa ataupun menanyakan soal apapun. Dia terus bekerja dan fokus dengan apa yang harus dikerjakannya, seperti apa yang disarankan oleh Rissa dan Raka.


“Hai San,” sapa Gita basa-basi.


“Kerjaan aku hampir selesai emang, kalau masalah kerjaan Kak Gita belum beres, itu sih urusan Kakak,” ucap Sandra dengan datar, karena memang dari awal mereka sudah membagi pekerjaan masing-masing, dengan adil. Padahal, di sini yang berpengalaman adalah Gita.


“Maksudnya?” Gita nampaknya berpikir, bahwa Sandra juga mengerjakan miliknya, namun itu salah.


“Ya aku kerjain berkas punyaku, Kakak kerjain punya Kakak, adil dong,” jawab Sandra dengan santai.


“Ta-tapi kan,- Gita nampak protes.


“Kenapa? mau bilang aku terlalu perhitungan? Kan di sini Kakak yang berpengalaman, harusnya Kakak memberikan contoh yang baik buat aku. Jadi, aku nggak salah dong, aku cuman kerjain kerjaan aku,” ujar Sandra lagi dengan tegas, membuat Gita terdiam.


“Bukannya Kakak udah dapet kerjaan plus-plus? Mungkin Pak Rayyan bisa kasih keringanan buat pekerjaan Kakak,” Sandra tersenyum sinis kepada Gita, membuat Gita semakin salah tingkah karena di sindir oleh Sandra.


“Ma-maksud kamu apa?” tanya Gita, pura-pura tidak paham.


“Itu,” Sandra menunjukkan dengan sorot matanya, ke arah jendela itu. Sontak saja, Gita langsung menutup bibirnya rapat.


“Kaget ya?” tanya Sandra dengan senyum sinisnya.


“Tenang Kak, ini bukan kali pertama aku lihat Pak Rayyan begitu, bahkan sebelumnya, ceweknya lebih hot, lebih sexy, dan lebih menantang,” Sandra sengaja memanasi keadaan, dia ingin melihat bagaimana respone Gita.


“Bodynya? Bahkan lebih wow, pokoknya Kak Gita masih kalah jauh,” terang Sandra semakin menjadi, sontak Gita menatap dadanya, dia padahal sudah merasa kalau miliknya cukup besar dan menantang, namun mendengar ucapan Sandra, membuat Gita yakin, kalau wanita yang sebelumnya bersama Rayyan lebih baik darinya dalam urusan ranjang. Karena malu, akhirnya Gita berpamitan lebih dulu ke toilet. Melihat Gita yang nampak salah tingkah, membuat Sandra tertawa, dia benar-benar puas sudah mengerjai Gita.


.


.


“Serius loe San?” semua mata menatap Sandra dengan tatapan terkejut, mereka adalah teman-temannya di divisi kreatif, saat ini Sandra tengah  menceritakan kejadian menyenangkan hari ini kepada mereka.


“Serius lah, gue kerjain aja dia,” jawab Sandra dengan senyum jahilnya.


“Pantes lo nggak ajak dia,” ujar Natalie, padahal mereka berniat mengajak Gita untuk ikut mereka makan siang hari ini sekaligus untuk berkenalan.


“Nggak usah, paling cewek kaya dia bakal adu cantik, males gue dengernya,” ujar Dimas langsung menolak.


“Tapi gue kasihan sama bu Soffia,” jika ingat dengan bagaimana baiknya Soffia, ingin sekali Sandra memukul dan membalaskan rasa sakit Soffia, tapi apa daya, itu hanya haluannya semata.


"Tapi, di sini juga gue heran sih sama bu Soffia, kok ya masih mau sama pak Rayyan, yang notabennya gonta-ganti perempuan dan sering ajak perempuan manapun ke ranjangnya. Emang bu Soffia yakin kalau pak Rayyan bakalan tobat setelah nikah? Bukannya di sini, bu Soffia juga cuman nyakitin perasaannya dan perasaan pak Rayyan? Kan pak Rayyan nggak pernah cinta," ujar Rissa, entah kenapa saat ini pembicaraannya sedang begitu baik.


“Benar, kalau aja bu Soffia nggak egois, dan lebih mementingkan kebahagiannya dan kesehatan batinnya, harusnya dia lebih memilih mundur,” Bagas pun berpendapat demikian.


“Mungkin, bu Soffia salah satu orang yang memiliki tekad besar, dia mencintai pak Rayyan, sampai mengesampingkan rasa sakit hatinya, dia tetap berjuang dan bertahan dengan pak Rayyan, gue rasa pak Rayyan harusnya bersyukur sih kalau dia bisa sama bu Soffia. Karena di sini, bisa jadi bu Soffia menimang tentang dua keluarga yang sudah dekat satu sama lain,” dan Natalie memiliki pendapatnya sendiri pula.


“Bener, coba bu Soffia kurang apa? cantik iya, dia juga pewaris tunggal, dia juga terlihat sabar banget. Kalau pak Rayyan nikah sama bu Soffia, gue yakin keluarganya bakal adem, asal pak Rayyan mau berubah,” timpal Dimas. Sandra yang mendengar jawaban masing-masing dari teman-temannya, membenarkan jawaban mereka. Bagi Sandra, semua jawaban itu benar, namun kembali lagi, kepada Soffia. Wanita itu lebih memilih bertahan dan sangat yakin, kalau Rayyan adalah jodohnya.


“San, lo tiap hari ketemu sama pak Rayyan dan deket sama pak Rayyan, nggak takut kepincut?” tiba-tiba saja Rissa menanyakan hal demikian dan membuat Sandra justru tertawa lucu.


“Gue suka sama Pak Rayyan? Modelan cowok kaya dia? Cuma bikin makan hati,” jawab Sandra dengan santai. Mungkin Sandra bisa menahan perasaannya agar tidak jatuh cinta dengan atasannya itu, namun bagaimana dengan Rayyan, lelaki itu yang justru semakin tertarik dengan sikap Sandra yang acuh dan selalu menghindari Rayyan. Sikap Sandra yang berbanding terbalik dan  jauh berbeda dengan wanita lain. Biasanya Rayyan akan selalu dipuja dan dikejar oleh kaum hawa, bahkan mereka rela antri demi bisa berada di bawah kungkungan Rayyan, menikmati ranjang panasnya, akan tetapi hal yang berbeda justru terjadi pada Sandra. Rayyan justru harus punya banyak alasan supaya Sandra bisa dekat dengannya.

__ADS_1


Sudah 15 menit lamanya, akhirnya Gita keluar dari ruangan Rayyan, dengan malu-malu Gita langsung menuju ke toilet, namun Sandra juga tidak ambil pusing dia tidak menyapa ataupun menanyakan soal apapun. Dia terus bekerja dan fokus dengan apa yang harus dikerjakannya, seperti apa yang disarankan oleh Rissa dan Raka.


“Hai San,” sapa Gita basa-basi.


“Kerjaan aku hampir selesai emang, kalau masalah kerjaan Kak Gita belum beres, itu sih urusan Kakak,” ucap Sandra dengan datar, karena memang dari awal mereka sudah membagi pekerjaan masing-masing, dengan adil. Padahal, di sini yang berpengalaman adalah Gita.


“Maksudnya?” Gita nampaknya berpikir, bahwa Sandra juga mengerjakan miliknya, namun itu salah.


“Ya aku kerjain berkas punyaku, Kakak kerjain punya Kakak, adil dong,” jawab Sandra dengan santai.


“Ta-tapi kan,- Gita nampak protes.


“Kenapa? mau bilang aku terlalu perhitungan? Kan di sini Kakak yang berpengalaman, harusnya Kakak memberikan contoh yang baik buat aku. Jadi, aku nggak salah dong, aku cuman kerjain kerjaan aku,” ujar Sandra lagi dengan tegas, membuat Gita terdiam.


“Bukannya Kakak udah dapet kerjaan plus-plus? Mungkin Pak Rayyan bisa kasih keringanan buat pekerjaan Kakak,” Sandra tersenyum sinis kepada Gita, membuat Gita semakin salah tingkah karena di sindir oleh Sandra.


“Ma-maksud kamu apa?” tanya Gita, pura-pura tidak paham.


“Itu,” Sandra menunjukkan dengan sorot matanya, ke arah jendela itu. Sontak saja, Gita langsung menutup bibirnya rapat.


“Kaget ya?” tanya Sandra dengan senyum sinisnya.


“Tenang Kak, ini bukan kali pertama aku lihat Pak Rayyan begitu, bahkan sebelumnya, ceweknya lebih hot, lebih sexy, dan lebih menantang,” Sandra sengaja memanasi keadaan, dia ingin melihat bagaimana respone Gita.


“Bodynya? Bahkan lebih wow, pokoknya Kak Gita masih kalah jauh,” terang Sandra semakin menjadi, sontak Gita menatap dadanya, dia padahal sudah merasa kalau miliknya cukup besar dan menantang, namun mendengar ucapan Sandra, membuat Gita yakin, kalau wanita yang sebelumnya bersama Rayyan lebih baik darinya dalam urusan ranjang. Karena malu, akhirnya Gita berpamitan lebih dulu ke toilet. Melihat Gita yang nampak salah tingkah, membuat Sandra tertawa, dia benar-benar puas sudah mengerjai Gita.


.


.


“Serius loe San?” semua mata menatap Sandra dengan tatapan terkejut, mereka adalah teman-temannya di divisi kreatif, saat ini Sandra tengah  menceritakan kejadian menyenangkan hari ini kepada mereka.


“Serius lah, gue kerjain aja dia,” jawab Sandra dengan senyum jahilnya.


“Pantes lo nggak ajak dia,” ujar Natalie, padahal mereka berniat mengajak Gita untuk ikut mereka makan siang hari ini sekaligus untuk berkenalan.


“Nggak usah, paling cewek kaya dia bakal adu cantik, males gue dengernya,” ujar Dimas langsung menolak.


“Tapi gue kasihan sama bu Soffia,” jika ingat dengan bagaimana baiknya Soffia, ingin sekali Sandra memukul dan membalaskan rasa sakit Soffia, tapi apa daya, itu hanya haluannya semata.


"Tapi, di sini juga gue heran sih sama bu Soffia, kok ya masih mau sama pak Rayyan, yang notabennya gonta-ganti perempuan dan sering ajak perempuan manapun ke ranjangnya. Emang bu Soffia yakin kalau pak Rayyan bakalan tobat setelah nikah? Bukannya di sini, bu Soffia juga cuman nyakitin perasaannya dan perasaan pak Rayyan? Kan pak Rayyan nggak pernah cinta," ujar Rissa, entah kenapa saat ini pembicaraannya sedang begitu baik.


“Benar, kalau aja bu Soffia nggak egois, dan lebih mementingkan kebahagiannya dan kesehatan batinnya, harusnya dia lebih memilih mundur,” Bagas pun berpendapat demikian.


“Mungkin, bu Soffia salah satu orang yang memiliki tekad besar, dia mencintai pak Rayyan, sampai mengesampingkan rasa sakit hatinya, dia tetap berjuang dan bertahan dengan pak Rayyan, gue rasa pak Rayyan harusnya bersyukur sih kalau dia bisa sama bu Soffia. Karena di sini, bisa jadi bu Soffia menimang tentang dua keluarga yang sudah dekat satu sama lain,” dan Natalie memiliki pendapatnya sendiri pula.


“Bener, coba bu Soffia kurang apa? cantik iya, dia juga pewaris tunggal, dia juga terlihat sabar banget. Kalau pak Rayyan nikah sama bu Soffia, gue yakin keluarganya bakal adem, asal pak Rayyan mau berubah,” timpal Dimas. Sandra yang mendengar jawaban masing-masing dari teman-temannya, membenarkan jawaban mereka. Bagi Sandra, semua jawaban itu benar, namun kembali lagi, kepada Soffia. Wanita itu lebih memilih bertahan dan sangat yakin, kalau Rayyan adalah jodohnya.


“San, lo tiap hari ketemu sama pak Rayyan dan deket sama pak Rayyan, nggak takut kepincut?” tiba-tiba saja Rissa menanyakan hal demikian dan membuat Sandra justru tertawa lucu.


“Gue suka sama Pak Rayyan? Modelan cowok kaya dia? Cuma bikin makan hati,” jawab Sandra dengan santai. Mungkin Sandra bisa menahan perasaannya agar tidak jatuh cinta dengan atasannya itu, namun bagaimana dengan Rayyan, lelaki itu yang justru semakin tertarik dengan sikap Sandra yang acuh dan selalu menghindari Rayyan. Sikap Sandra yang berbanding terbalik dan  jauh berbeda dengan wanita lain. Biasanya Rayyan akan selalu dipuja dan dikejar oleh kaum hawa, bahkan mereka rela antri demi bisa berada di bawah kungkungan Rayyan, menikmati ranjang panasnya, akan tetapi hal yang berbeda justru terjadi pada Sandra. Rayyan justru harus punya banyak alasan supaya Sandra bisa dekat dengannya.


Sudah 15 menit lamanya, akhirnya Gita keluar dari ruangan Rayyan, dengan malu-malu Gita langsung menuju ke toilet, namun Sandra juga tidak ambil pusing dia tidak menyapa ataupun menanyakan soal apapun. Dia terus bekerja dan fokus dengan apa yang harus dikerjakannya, seperti apa yang disarankan oleh Rissa dan Raka.


“Hai San,” sapa Gita basa-basi.


“Kerjaan aku hampir selesai emang, kalau masalah kerjaan Kak Gita belum beres, itu sih urusan Kakak,” ucap Sandra dengan datar, karena memang dari awal mereka sudah membagi pekerjaan masing-masing, dengan adil. Padahal, di sini yang berpengalaman adalah Gita.


“Maksudnya?” Gita nampaknya berpikir, bahwa Sandra juga mengerjakan miliknya, namun itu salah.


“Ya aku kerjain berkas punyaku, Kakak kerjain punya Kakak, adil dong,” jawab Sandra dengan santai.


“Ta-tapi kan,- Gita nampak protes.


“Kenapa? mau bilang aku terlalu perhitungan? Kan di sini Kakak yang berpengalaman, harusnya Kakak memberikan contoh yang baik buat aku. Jadi, aku nggak salah dong, aku cuman kerjain kerjaan aku,” ujar Sandra lagi dengan tegas, membuat Gita terdiam.


“Bukannya Kakak udah dapet kerjaan plus-plus? Mungkin Pak Rayyan bisa kasih keringanan buat pekerjaan Kakak,” Sandra tersenyum sinis kepada Gita, membuat Gita semakin salah tingkah karena di sindir oleh Sandra.


“Ma-maksud kamu apa?” tanya Gita, pura-pura tidak paham.


“Itu,” Sandra menunjukkan dengan sorot matanya, ke arah jendela itu. Sontak saja, Gita langsung menutup bibirnya rapat.


“Kaget ya?” tanya Sandra dengan senyum sinisnya.


“Tenang Kak, ini bukan kali pertama aku lihat Pak Rayyan begitu, bahkan sebelumnya, ceweknya lebih hot, lebih sexy, dan lebih menantang,” Sandra sengaja memanasi keadaan, dia ingin melihat bagaimana respone Gita.


“Bodynya? Bahkan lebih wow, pokoknya Kak Gita masih kalah jauh,” terang Sandra semakin menjadi, sontak Gita menatap dadanya, dia padahal sudah merasa kalau miliknya cukup besar dan menantang, namun mendengar ucapan Sandra, membuat Gita yakin, kalau wanita yang sebelumnya bersama Rayyan lebih baik darinya dalam urusan ranjang. Karena malu, akhirnya Gita berpamitan lebih dulu ke toilet. Melihat Gita yang nampak salah tingkah, membuat Sandra tertawa, dia benar-benar puas sudah mengerjai Gita.


.


.


“Serius loe San?” semua mata menatap Sandra dengan tatapan terkejut, mereka adalah teman-temannya di divisi kreatif, saat ini Sandra tengah  menceritakan kejadian menyenangkan hari ini kepada mereka.


“Serius lah, gue kerjain aja dia,” jawab Sandra dengan senyum jahilnya.


“Pantes lo nggak ajak dia,” ujar Natalie, padahal mereka berniat mengajak Gita untuk ikut mereka makan siang hari ini sekaligus untuk berkenalan.


“Nggak usah, paling cewek kaya dia bakal adu cantik, males gue dengernya,” ujar Dimas langsung menolak.


“Tapi gue kasihan sama bu Soffia,” jika ingat dengan bagaimana baiknya Soffia, ingin sekali Sandra memukul dan membalaskan rasa sakit Soffia, tapi apa daya, itu hanya haluannya semata.


"Tapi, di sini juga gue heran sih sama bu Soffia, kok ya masih mau sama pak Rayyan, yang notabennya gonta-ganti perempuan dan sering ajak perempuan manapun ke ranjangnya. Emang bu Soffia yakin kalau pak Rayyan bakalan tobat setelah nikah? Bukannya di sini, bu Soffia juga cuman nyakitin perasaannya dan perasaan pak Rayyan? Kan pak Rayyan nggak pernah cinta," ujar Rissa, entah kenapa saat ini pembicaraannya sedang begitu baik.


“Benar, kalau aja bu Soffia nggak egois, dan lebih mementingkan kebahagiannya dan kesehatan batinnya, harusnya dia lebih memilih mundur,” Bagas pun berpendapat demikian.


“Mungkin, bu Soffia salah satu orang yang memiliki tekad besar, dia mencintai pak Rayyan, sampai mengesampingkan rasa sakit hatinya, dia tetap berjuang dan bertahan dengan pak Rayyan, gue rasa pak Rayyan harusnya bersyukur sih kalau dia bisa sama bu Soffia. Karena di sini, bisa jadi bu Soffia menimang tentang dua keluarga yang sudah dekat satu sama lain,” dan Natalie memiliki pendapatnya sendiri pula.


“Bener, coba bu Soffia kurang apa? cantik iya, dia juga pewaris tunggal, dia juga terlihat sabar banget. Kalau pak Rayyan nikah sama bu Soffia, gue yakin keluarganya bakal adem, asal pak Rayyan mau berubah,” timpal Dimas. Sandra yang mendengar jawaban masing-masing dari teman-temannya, membenarkan jawaban mereka. Bagi Sandra, semua jawaban itu benar, namun kembali lagi, kepada Soffia. Wanita itu lebih memilih bertahan dan sangat yakin, kalau Rayyan adalah jodohnya.


“San, lo tiap hari ketemu sama pak Rayyan dan deket sama pak Rayyan, nggak takut kepincut?” tiba-tiba saja Rissa menanyakan hal demikian dan membuat Sandra justru tertawa lucu.


“Gue suka sama Pak Rayyan? Modelan cowok kaya dia? Cuma bikin makan hati,” jawab Sandra dengan santai. Mungkin Sandra bisa menahan perasaannya agar tidak jatuh cinta dengan atasannya itu, namun bagaimana dengan Rayyan, lelaki itu yang justru semakin tertarik dengan sikap Sandra yang acuh dan selalu menghindari Rayyan. Sikap Sandra yang berbanding terbalik dan  jauh berbeda dengan wanita lain. Biasanya Rayyan akan selalu dipuja dan dikejar oleh kaum hawa, bahkan mereka rela antri demi bisa berada di bawah kungkungan Rayyan, menikmati ranjang panasnya, akan tetapi hal yang berbeda justru terjadi pada Sandra. Rayyan justru harus punya banyak alasan supaya Sandra bisa dekat dengannya.

__ADS_1


__ADS_2