
"Jadi Anda.....Ab-bra-ham Wil-liams????"
"Ya... dan ini istri saya Calliara Quinza!"
"Oh ya ampun... jadi selama ini aku berteman dengan anak seorang Abraham??? Pekik Fiona kuat.
"Aduh Fio, jangan teriak ditelinga ku!" Jerry mengusap-ngusap telinga nya.
"Kau ini, Masalah nya masih penting Jerryno!! bisa gak jangan merusak keterkejutanku!" sungut Fiona, semua orang tertawa melihat tingkah mereka berdua.
"Kau pasti Tuan Muda Adelio kan?" kini tatapan mata Pak Abraham tertuju pada Teo.
"Iya Pak, saya Teo!" Teo mengulurkan tangan nya, Pak Abraham menyamhut itu, tapi sorot mata nya ada yang beda.
"Sudah berapa lama kau mengenal putriku ?"
"Dad.. Please.. Aku baru saja mengenal nya, dan dia partner bisnisku! Lihat usahaku tidak sia-sia bukan!" Lista memotong pembicaraan antara Daddy nya dan juga Teo.
"Harusnya hanya sebagai Partner bisnis, tidak boleh jadi Partner hidup!" tegas Pak Abraham.
Deg!
'Apa Daddy tau jika kami saling menyukai! Ah.. aku lupa jika aku memakai Chip sialan ini!' batin Lista dalam hati.
Teo hanya mengulum senyum nya, ia nampak tak ingin bersuara apa-apa.
'Apakah kau akan mundur setelah tau aku putri mafia Teo!' batin Lista lagi.
"Oke.. maafkan aku! kalian ingin tau kan, kenapa kami.meninggalkan Lista begitu saja saat umur nya masih 9 tahun ??"
Jerry dan Fiona mengangguk cepat. Pak Abraham nampak menarik berat nafasnya.
"Itu karena tradisi keluarga kami, keluarga Williams."
"Maksud nya Pak, kalian sengaja meninggalkan Lista seorang diri di usia yang masih anak-anak??" tanya Jerry mengulangi lagi pertanyaannya.
"Iya.. kami para orang tua dari keluarga Williams harus berani meninggalkan anak kami hidup mandiri diluaran tanpa bantuan apapun, kalian juga tau kan, kami ini bergelut didunia hitam, jadi itu semacam ujian kedewasaan, dan kami akan kembali setelah sang anak berusia 28 tahun, seperti sekarang!" terang Pak Abraham.
"Mungkin kalian menganggap tradisi kami aneh, tapi tidak sepenuh nya juga kami meningalkannya begitu saja tanpa bekal apapun!" imbuh tante Calliara.
"Ja-di.. tempo hari aku melihat Lista berkelahi itu karena memang dia putri seorang maf_ Mmmmmhhh"
__ADS_1
Kata-kata Fiona terhenti saat Jerry membekap mulut nya.
"Tak apa Jerr.. aku memang anak seorang mafia!" timpal Lista.
"Nona Callista, maafkan Fiona yang suka begini!"
"Tak apa, aku mengenal nya lebih dari dirimu sendiri Jerry, wajar jika dia terkejut karena selama ini aku merahasiakannya, maafkan aku." Lista berkata sedikit lirih.
"No.. Lis, kau tak perlu merasa bersalah seperti itu, jangan khawatir, aku hanya merasa sedikit terkejut saja."
"Nona Fiona Cloe, setelah ini saat kita kembali ke Australia, tolong antarkan kami bertemu Ayah dan Ibu mu, untuk mengucapkan banyak terima kasih pada mereka karna sudi merawat anak kami selama ini! Kau boleh memanggil ku paman atau Daddy juga boleh, karna kau juga anak kami."
"Iya paman...Kami juga sudah menganggap Lista seperti bagian dari keluarga kami!"
"Oh ya.. kenapa kau diam saja Nak Teo??" tamya tante Calliara.
"Emm tak apa tante, silah kan lanjutkan mengobrolnya, karena saya mau keluar dulu boleh??" Teo nampak tak nyaman berada ditengah-tengah keluarga Williams yang sudah lama tak berjumpa, ia berniat memberi ruang pada anak dan juga orang tuanya. Ia lalu keluar ruangan, menyulut rokok nya, nampak ia seperti berpikir keras.
Teo merogoh ponsel nya, untuk menelfon seseorang.
(Alex.. Keluarga Williams sudah tiba disini! sepertinya Abraham Williams mengenaliku !)
(Itu artinya aku sudah harus menjauhi Callista?)
(Kenapa kau bisa bodoh sekali soal urusan perasaan!) cibir Alex diseberang sana.
(Aku.. takut Abraham menentang hubungan ini)
(Kau belum mencoba nya Teo, Astaga! sudah lah aku laporkan saja masalah mu ini pada Nyonya besar)
(Hei... )
tuth..tuth..tuth...
'Dasar Alex sialan!'
Umpat Teo kesal yang melihat Alex langsung memutuskan sambungan telepon seenak nya.
"Teo!" Panggil seseorang sembari memegang pundak Teo.
"Quin?? sejak kapan kau disini!"
__ADS_1
"Sejak tadi! kenapa kau keluar?? apa kau merasa tak nyaman berada dekat dengan orang tua ku?"
"Bukan begitu Quin, aku merasa untuk memberikan kalian sebagai orang tua dan anak ruang untuk berbincang, bukankah kalian sudah lama tidak bertemu?"
"Sungguhkah karena itu? atau kau keberatan jika aku putri dari seorang Mafia besar??"
Teo mengusap lembut pipi Lista.
"Tidak Quin, meski aku harus melewati banyak rintangan aku akan tetap memperjuangkan mu, aku ingin menikahi mu Quin??" Ucap Teo tulus.
"Ehemm!"
"Daddy?? kenapa Daddy disini?? apa Daddy menguping kami!"
"Callista, ayo kita kembali ke Australia, bukan kah acara nya sudah selesai! Jet pribadi kita sudah menunggu ayo!"
Teo memberi isyarat pada Lista untuk menyetujui permintaan Daddy nya. Mau tak mau ia harus ikut.
***
Di sisi lain, ternyata Kevin dan Jimy menguping pembicaraan antara Abraham, Lista, dan Teo. Dalam hati Jimy, ia akan menggunakan Kevin untuk dijadikan umpan melawan Abraham Williams. Ia menyeringai licik saat memikirkan rencana nya sendiri.
"Vin lihat, ternyata keluarga Lista begitu kaya, tidak kah kau iri atau merasa rugi melepaskan Callista!" tanya Jimy mengintrupsi dirinya.
"Terserah, aku tidak peduli mau sekaya apapun keluarga nya, bagi ku itu tidak penting, tujuan ku hanya satu sekarang,.aku harus tuntas membalas dendam Ibuku pada Calliara itu, dengan menghilang kan nyawa anak nya, aku yakin Ia akan merasa sangat terpukul!!" Jawab Kevin menggebu-gebu.
"Jadi apa rencana mu selanjut nya!"
"Besok begitu kita di Australia, saat orang tua nya lengah, kita culik Lista dan bawa ke suatu tempat! tanpa bantuan Black King itu pun aku bisa dan berani menghabisi nyawa gadis lemah dan payah itu!"
"Kau yakin?? aku masih punya kawanan lain untu membantu kita Vin!" tawar Jimy.
"Siapa??? apa kau yakin dia tak akan menilak kita seperti Black King itu, sombong sekali dia! seperti apa sih wajah nya??''
"Dunia tak pernah tau seperti apa wajah nya, makanya ia disebut dengan Black King, nah kalau kawanan lain yang aku tawarkan ini, Klen Pisau merah, lawannya Black King, apa kau mencoba menawarkan kerja sama untuk diri nya?"
"Seperti nya menarik, apa kau yakin jika Si pisau merah ini juga sama kuat nya dengan Black King? Aku punya firasat jika Black King ini menolak kita, karena ia kenal dengan Callista!"
Jimy berpikir keras, benar juga dengan yang diucapkan Kevin, biasa nya ia tak pernah menolak jika harus megeksekusi mangsanya, jangan-jangan ia memang benar kenal dengan Callista Quinza!
"Oke.. kita tawarkan pada Klen Mafia pisau merah, jika sampai Black king ikut campur, kita tidak akan risau lagi!"
__ADS_1