
"Aku setuju dengan mu Teo! Dan lagi benar yang kalian pikirkan , Kevin itu belum tewas! aku sengaja hanya menggoresnya sedikit dengan samurai kesayangan ku!"
Deg!
"Pak Abraham?"
Dengan santai pasutri paru baya itu masuk ke dalam ruangan Lista di rawat.
Semua pasang mata menatap mereka dengan pandangan menakjubkan, Fiona juga berdecak kagum dengan tante Calliara Ibu dari sahabat nya selama ini, bagaimana tidak, diusia nya yang sudah menginjak 50 tahun, tubuh tante Calliara masih singset bak model profesional, seperti masih umur 20an, bahkan jika Calliara dan Callista disandingkan, mereka berdua seperti kakak dan adik, tak beda jauh. Sedangkan Paman Abraham,.Ayah Callista, meskipun sekitaran rambut nya sudah mulai memutih, tapi ia masih begitu gagah, garis wajah nya masih begitu tegas, nampak sekali jika waktu muda Paman Abraham ini sangat cool dan banyak digemari para wanita.
"Hah! jadi maksud anda, Kevin anda biarkan hidup tuan??" tanya Alex.
"Benar sekali, rasanya, terlalu mudah kalau dia harus tewas secepat itu, sedangkan selama ini dia sudah menyiksa anak ku dengan kepribadiannya yang hobi celap-celup itu!" jawab Abraham santai.
"Sayang.. bagaimana kondisimu? apa kau masih bisa bertahan?" tanya Calliara yang mendekat kearah putri nya. Diusap nya lembut wajah anak nya.
Callista masih terlihat begitu lemas, wajah nya masih begitu pucat.
"Alex, ini tanaman yang kau maksud, cepatlah, buatkan penawar untuk anak ku!" perintah Abraham pada Alex.
"Baik tuan, aku pergi dulu, dan ya.. aku minta agar Jason juga membantu ku!"
"Kau bisa meminta bantuannya kapanpun!"
Kini Abraham kembali mendekat pada putrinya, diciumnya sekilas kening putri kecilnya, bagi sebagian orang tua, Anak perempuan mereka itu masih dianggap sebagai putri kecil mereka, terutama bagi seorang Ayah. Ayah orang pertama yang akan melindungi dan menjaga kita kala sesuatu hal buruk menimpa anak perempuannya.
Terkadang seorang Ayah juga akan menjadi sumber kekuatan, cinta pertama untuk kaum wanita. Karena hanya Ayah yang menyayangi anak nya tanpa batas dan waktu.
"Kau sudah merasa baik putri kecilku??" tanya Abraham pada Lista.
"Aku sudah lebih baik Daddy, meskipun aku masih sedikit lemas, Alex melarang ku makan dan minum, padahal aku sangat haus!" gerutu Lista kesal.
"Sayang.. Didalam tubuh mu masih ada racun yang berbahaya, tunggu Alex dan Jason membawa kan penawarnya, setelah itu kau bebas mau makan dan minum apa saja! Daddy janji!"
"Sungguh Dad??"
"Iya sayang!"
"Apa aku boleh meminta sesuatu lagi?"
Abraham menyipitkan matanya.
"Minta Apa?"
__ADS_1
"Nikahkan aku dengan Teo!"
Teo yang merasa namanya disebut langsung membelalakan mata nya. Sedangkan Abraham menyorot tajam manik mata Lista lalu beralih ke Teo, tak ketinggalan Jerry dan juga Fiona yang sama, mereka membulatkan mata nya mendengar permintaam frontal Lista.
Sebenar nya Abaraham juga sudah merencanakan pernikahan mereka, setelah Lista sembuh, dan urusan nya dengan kepala Klen Pisau merah selesai, setidak nya mereka menerima balasan karena sudah membuat nyawa Lista dalam bahaya.
"Hei Teo! Apa kau merayu anak ku, agar aku merestui hubungan kalian?" tanya Abraham sinis, lebih tepat nya pura-pura sinis..Ia ingin melihat sejauh apa Teo berjuang untuk Putrinya.
"Saya memang berniat menikahi putri anda Tuan Abraham!" kawab Teo Tegas.
"Bolehkah saya meminta Putri anda, untuk menemani saya sampai rambut kami memutih?? Saya akan menyayangi, mencintai dia sepenuh hati Tuan!"
Abraham nampak manggut-manggut.
"Saya butuh keseriusan kamu Teo Melvin Adelio!"
"Apa yang harus saya lakukan?"
"Kau selesai kan urusan dengan Kepala Pisau merah! Bukan kah kau berjanji akan membawa kepala nya ke hadapan putriku??" Tantang Abraham.
"Kalau itu persyaratannya, dengan senang hati aku akan membawa nya Tuan!" Jawab Teo santai.
Glek!
"Aku tunggu itu semua Black King!"
dan Teo menyeringai Licik.
Lagi-lagi Jerry membelalakan matanya,
'Black King?? Apa Black King itu saudara ku sendiri?? Astaga! kenapa bisa aku tidak tau selama ini?? lalu nenek, apa ia juga tau jika cucu nya termasuk dalam kategori seorang Mafia??' batin Jerry dalam hati.
Begitu banyak pertanyaan yang berkutat didalam pikiran nya, ternyata selama bertahun-tahun ia mendampingi sepupu nya, dia tidak tau sama sekali sisi lain dari seorang Teo.
Teo melirik ke arah Jerry, sehingga mata mereka bertemu.
'Kau hutang penjelasan padaku, Teo!'
Bak dewa yang mampu membaca kata hati Jerry, menyunggingkan bibir nya menyengir kuda.
"Daddy, kenapa kau mengirim Teo untuk menghabisi Ketua Pisau Merah, tunggulah aku sembuh Dad, biar aku ikut membasmi mereka!" rengek Callista pada Daddy nya.
"No Baby!! kau akan menjadi pengantin, jadi biarkan saja Raja mu yang berperang!" jawab Calliara.
__ADS_1
"Apa itu artinya Mommy merestui kami??"
"Ofcourse sayang! Mommy juga ingin melihat kamu bahagia dan berada pada orang yang tepat! maaf jika dulu mommy tidak bisa berbuat apa-apa saat kau disakiti oleh Kevin!"
"Bukan salah Mommy! lagian dulu Lista menerima dia karena tante Calliana bilang jika perusahann Kalian di ambil paksa oleh David Alberto kan?"
"Ya.. dan dia menikahimu juga sengaja! agar ia bisa membalas kan dendam nya pada Calliana yang dikira Mommy karena sudah menggantung nenek nya dipintu kamar mandi, ibu nya jadi stress dan sekarang dipasung dirumah sakit jiwa!" jelas Calliara pada Lista.
"Apa?? jadi selama ini dia sengaja menyakiti ku, bodoh sekali aku yang pernah menaruh hati pada penjahat kelamin itu!" gerutu Lista.
Fiona menyimak pembicaraan mereka, pelik sekali rasanya hidup dengan cara saling balas dendam seperti itu, tidak kah para mafia itu hidup tenang?? haruskah saling sikut menyikut hingga salah satunya harus kehilangan nyawa.
Wajar jika selama ini Lista menyembunyikan nama belakang nya dan hidup biasa saja, ternyata banyak musuh keluarga nya yang bertebaran diluaran sana.
"Fio.. ngelamun ih.. mikiri apa?" tanya Jerry.
bukannya menjawab Fiona malah memayunkan bibirnya ke atas.
"Enak ya jadi Lista, tuh liat cowok seperfect dan se cool Tuan Teo ngelamar dia! aku kapan ya dapet jodoh, apa aku terima aja kali perjodohan yang Papa ajukan!"
"No! gak bisa gitu Fio!" tolak Jerry,
"Lah kenapa Jerryno, selama ini kamu pernah gak liat aku deket-deket sama cowok, palingan kamu doang ketemu nya!"
"Yaudah kalau gitu nikah sama aku aja yuuk!"
pleetaakk!
Fiona menjitak kening Jerry,
"Sakit Fio! kasar kamu ih.. "
"Habis nya becanda kamu gak lucu!"
"Kalau aku serius gimana??"
"Gak mungkin!"
"Kita liat aja entar!" Jerry berucap sembari mendekat kearah Teo yang sudah keluar ruangan. Sementara Fionaasih diam tidak menanggapi ocehan Jerry. Fiona pun bergegas mendekat kearah Lista yang tengaj berbincang-bincang dengan orang tua nya.
Saat Jerry ingin menghampiri Teo, samar-samar ia mendengar Teo berbicara dengan seseorang diujung telpon.
"Nek.. seperti nya Jerry mulai curiga padaku, sebentar lagi ia pasti akan mencerca ku dengan banyak pertanyaan!"
__ADS_1
"Hah!"