
Sementara disisi lain, Jimy melihat Kevin yang sudah penuh dengan darah dan hancur lebur wajah nya mendekat kearahnya.
Ia melihat denyut nadi nya masih berdetak.
"Kau masih hidup Vin!" segera ia mengangkat tubuh Kevin kedalam mobil dan membawa nya kerumah sakit.
"Kau belum boleh meninggal kan dunia ini Kevin, tugas kita masih banyak! Aku sendiri harus menyaksikan kehancuran dari Abraham williams itu sendiri!" Jimy mengepalkan tangannya kuat, hingga terlihat buku tangannya yang memutih, rahang nya mengeras menahan amarah.
*
Satu jam sudah Lista berada di ruang operasi, namun tanda-tanda Alex dan juga Jason dokter dari keluarga Williams keluar.
Teo berjalan kesana-kemari dengan raut wajah yang merah padam, antara takut, kesal, marah semua jadi satu. Calliara Ibu dari Callista duduk dengan tangan mengatup diatas dagu. Abraham nampak berdiri didepan ruang operasi, meski raut wajah nya terlihat datar dan biasa saja, namun didalam hatinya penuh dengan kerisauan, takut jika sampai putrinya kenapa-napa.
Ceklekk..
Pintu ruangan operasi dibuka. Nampak disana Jason yang keluar lebih dulu diikuti oleh Alex.
"Jason! bagaimana keadaan putriku! Apa dia baik-baik saja??" tanya Abraham pada dokter nya.
"Aku bingung harus bagaimana, racun itu sedikit namun mematikan! jaringan saraf Lista banyak yang rusak, tubuh nya masih membiru, dia akan koma untuk beberapa saat, namun aku juga tidak bisa memastikan akan sampai kapan ia seperti ini!" Calliara terperosok ke lantai, selama hidup nya hanya dua kali ia merasa hilang seluruh tenaga, saat Ayah dan Ibu nya meninggal, dan kini anak nya yang koma.
Abraham datang memeluk istri nya.
"Alex! kau ahli dalam dunia peracunan, apa kau tidak bisa mencarikan penawarnya?" tanya Teo.
"Bisa ular hijau itu penawar dari segala racun, namun ia tidak bisa juga menetralisirkan racun di tubuh Lista Teo!" jawab Alex.
"Lalu apa yang harus kita lakukan!! tidak mungkin kita membiarkan Lista terbaring koma, dan melawan racun itu sendirian!!!" Teo mengusap kasar wajah nya.
"Sebenarnya ada satu tanaman yang khasiat nya lebih tinggi dari bisa ular hijau! mungkin itu bisa menetralkan racun di tubuh Lista!" Alex kembali membuka suara.
__ADS_1
"Jason apa kau tau itu??" tanya Abraham.
"Aku tidak tau! Mungkin Alex yang tau itu Abraham." tukas Jason.
"Alex??? bisa kau katakan padaku?" kini Abraham bertanya pada Alex.
"Nama nya Ficus Septica Burm, ia sejenis tanaman obat dari famili Moraceae. Tanaman itu hanya tumbuh di daratan Amerika!"
"Ah iyaa, aku hampir melupakan itu! kau cerdas Alex,aku yakin itu mampu menetralisirkan racun di tubuh Callista!" timpal Jason lagi.
"Baiklah.. aku akan pergi kesana untuk mencari obat itu!" jawab Teo.
"Jangan Teo! aku mohon kau tetap disini bersama Lista, biar aku dan suami ku yang terbang kesana!"
"Iya Teo! Aku takut saat ia bangun nanti kau tidak ada disisi nya, dan ia akan bertanya padaku dengan seribu pertanyaan! aku malas menjawab nya, dia pasti akan sangat cerewet!" Abraham mencebikan bibir nya.
"Sayang! kau ini.. bisa-bisa nya bicara seperti itu disituasi yang genting!" Calliara menepuk pundak suami nya dan memberi tatapan yang tajam.
"Maaf!" lirih Abraham yang masih mampu didengan oleh Teo, Alex, dan juga Jason.
"Lihat, segarang-garang nya laki-laki, ia akan kalah dengan pawang nya!" bisik Jason pada Teo dan Alex dengan sedikt terkekeh geli.
"Kalian jangan mengumpatku, aku bisa dengar!! Cih.. kalian bisa bicara seperti itu karena kalian belum dapat sangkar yang pas! kau Jason lihat usiamu sudah berapa?? aku saja sudah punya anak gadis ,dan sebentar lagi akan ada cucu! nah kau!" ejek Abraham pada Jason.
Jason yang mendengar itu hanya mencebikan bibir nya pada Abraham. Sedangkan Teo dan Alex mereka terkekeh geli melihat tingkah orang-orang yang tidak muda lagi ini bertengkar.
"Sudah, lebih baik kau segera berangkat untuk mencari tanaman itu!" sergah Jason.
"Paman, saya akan menjaga Lista disini, kalian jangan khawatir." Ucap Teo.
"Kau memang harus menjaga nya dengan baik! ingat, jangan pernah mengambil kesempatan dalam kesempitan ya? aku tau apa saja yang kau lakukan pada putriku selama kami pergi dari sini!" tegas Abraham menyorot tajam manik mata Teo.
__ADS_1
Calliara datang mendekat dan memeluk Teo.
"Jagalah putriku nak.. ingat kau jangan macam-macam karna Callista memakai anting yang ada chip khusus yang menghubungkannya dengan Daddy nya!" Bisik Calliara di sela-sela pelukannya.
Teo mengangguk kecik, lalu menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
'Pantas Abraham menyorot ku dengan tajam, berarti dulu saat aku mencium Lista di pantai, Aaaggghhh malu sekali aku' batin Teo, ia mengusap wajah nya kasar.
Alex yang menyadari Teo tengah berpikir menyikut lengannya.
"Kau kenapa?? bukannya kau senang dapat bagian menjaga sang pujaan hati?" bisik Alex.
"Diamlah! mau kupatahkan gigimu?" Spontan Alex menutup mulut nya.
Abraham dan Calliara pergi ke Amerika untuk mencari obat Lista, setelah berpamitan dan melihat Lista sebentar mereka kini terbang menggunakan Jet pribadi mereka.
Teo yang mengantar kepergian calon mertua nya kini kembali ke tempat dimana Lista dirawat. Dipandanginya Lista yang tengah tidur lelap, wajah cantik yang selama ini begitu mudah tersenyum, kini membiru seperti avatar, tapi bukan biru pekat ya guys.. efek racun sedikit, biru samar-samar gitu.
Diusap nya punca kepala gadis yang selama ini mampu menyita perhatiannya dengan lembut, kini tangan Teo sudah beralih menggenggam tangan Lista yang dingin.
"Quin.. bangunlah.. aku rindu dengan senyum mengembang dibibir mu.. Bukankah kau janji setelah perpisahan mu dengan Kevin selesai kita akan menemui Nenek ku untuk meminta restunya??"
"Aku sudah menanti saat ini sejak 24 tahun yang lalu, apa kau ingat.. saat itu usia mu baru 5 tahun, sedangkan aku sudah menginjak remaja.. kau selalu datang padaku meminta perlindungan saat teman-teman lain mengganggu mu, aku sungguh masih ingat dengan jelas Quin.. "
"Aku bahkan berjanji pada diriku untuk selalu menjagamu.. meskipun kau memilih Kevin yang jadi suami mu terlebih dahulu, namun aku tetap melindungi mu dari kejauhan.. Aku mencintai mu dari sebelum aku mengenal apa itu cinta Quin... apa kau tidak kasihan padaku.. yang sudah menunggu mu selama 24 tahun??"
"Bangunlah Quin.. aku mencintai mu.. bahkan seribu gadis yang mirip dengan mu pun tidak bisa mneggoyahkan rasaku terhadap mu, aku hanya menginginkan mu my Quin!"
"Aku akan membahagiakan mu, aku akan membuat mu merasa beruntung kau mempunyai aku, tak akan aku goreskan sedikit pun luka di hatimu, maafkan aku yang sedikit terlambat menolong mu tadi, tapi aku berjanji.. akan mengahabisi siapapun yang sudah membuat mu begini! Aku berjanji Quin!! sebelum aku membawa kepala orang yang sudah membuat begini, maka hukumlah aku!" Ucap Teo yang menciumi punggung tangan Lista.
"Apa kau sungguh akan membawa kepala mereka Teo??"
__ADS_1
"Quin"