
Namun saat Alex sedang memasang kuda-kuda untuk melompat, ia melihat kawanan pisau merah hendak melepaskan anak panah mereka ke arah teman-teman Alex.
"Tiarap!!!!!"
Sontak semua nya bertiarap, mendengar teriakan Alex. Puluhan anak Panah jatuh tepat dihadapan mereka.
Tak lama setelah itu Alex juga ternyata sudah berada di bawah.
"Brengsek!" teriak Abraham.
"Kalian pikir akan mudah menerobos masuk dan menemui bos kami?" ucap salah satu bawahan pisau merah itu.
"Dasar payah! apakah bos mu itu takut menghadapi kami?" Ucap Teo.
"Hei Black King! kau sendiri apakah sudah turun pamor sampai kau membawa pasukan begitu banyak!" cemooh mereka lagi.
Teo berjalan mendekati para bawahan dari pisau merah itu, dia semakin mendekat dengan wajah yang teramat garang, Jerry selaku adik sepupu nya yang hampir tiap hari dekat dengan Teo, tak pernah sekalipun melihat wajah Teo yang sedingin kutub utara itu. Ditatap nya wajah para musuh nya, mungkin ada sekitar 20 orang.
Jarak Teo dengan mereka hanya sekitar setengah meter saja.
"Sebelum kalian semua mati ditangan ku, katakan dimana pimpinan kalian!" ucap Teo dengan nada yang begitu dingin.
Aura membunuh sudah menguar disana, namun para bawahan itu tidak merespon sama sekali, mereka pun mungkin sadar, jatah hidup mereka akan berakhir segera, namun mereka tidak mau mengaku.
"Meskipun kami harus mati ditangan mu, kami tidak akan mengatakan dimana King kami!" jawabnya sombong.
"Baiklah!" Teo mengeluarkan barang seperti rokok dari dalam saku nya. Dihisap nya benda itu lalu ia keluarkan kedalam telapak tangan, dengan gerakan cepat ia melemparkan benda itu tepat dijantung mereka,
"Aaahhhhhh" teriak para bawahan itu. Ketua geng yang mewakilkan mereka semua bicara, melihat kesekeliling, teman-teman nya berteriak kesakitan meregang nyawa, ia melihat tepat dijantung mereka memuncrarkan darah yang begitu deras.
'Apa yang Black King lakukan pada mereka!' pikirnya dalam hati.
Teo berjalan mendekat lagi pada ketua geng mereka,
"Kau lihat,19 bawahan mu sedang meregang nyawa, apa kau mau merasakan serpihan besi itu menusuk jantung mu!"
Deg!
__ADS_1
Ketua geng itu nampak pucat pasi, sebagai dari bawahan dari pisau merah, harus nya ia juga sudah siap jika kapan saja kematian akan datang menghampiri dirinya, namun kenapa saat harus berhadapan dengan Black King ia jadi takut begini.
"Jawab aku!" bentak Teo lagi.
"Apa saat aku menjawab dia dimana, kau akan melepas kan aku?" jawab nya mencoba bernegosiasi dengan si Black King.
Teo kembali mendekat kearah kepala geng itu.
"Kalau kau mengatakan dia dimana Bos mu, mungkin akan aku pertimbangkan untuk membiarkan mu hidup.''
"Baik lah tepat disebelah kanan mu ada ruangan rahasia khusus untuk dirinya, tak ada siapapun pengawal disana, karena itu tempat untuk nya bersenang-senang dengan wanita bayaran!"
"Bagus, Om.. Ini untuk mu!"
Tei mendorong kepala geng itu agat lebih dekat dengan Abraham, dengam senang hati Abraham menerima mangsa nya.
Sriinng...
Dengan hanya sekali hunus, kepala geng itu lanhsung tergeletak tak sadarkan diri dengan bersimbah darah.
Jerry dan Jason yang sangat jarang sekali berada di situasi seperti itu, lanhsung bergidik ngeri dengan kejadian didepannya. Jason dan Jerry masih bertanya-tanya senjata apa yang digunakan Teo, hingga satu kali lempar, 19 orang terkapar, dengan luka yang sama yaitu dada nya sebelah kiri.
"Ayo kita masuk dan serang bersama-sama!" uvap Teo.
"Dobrak dulu pintunya!"
Akhir nya dengan sekali dobrakan dari kekuatan kaki para laki-laki disana, pintu besi itu terbuka.
Nampak di dalam ruangan itu suasan nya begitu pas untuk berehem-ehem. Lampu yang sedikit temaram, di tambah kedua insan yang tengah mereguk surga dunia itu, tak terganggu sama sekali dengan suara dobrakan pintu.
Mereka masih asyik menggoyang satu sama lain.
"Iiiuuuhhhh,menjijikan sekali melihat nya sayang!" ucap Calliara.
"Hei bedebah tak tau diri! kau sudah membuat putriku hampir menemui kematiannya sementara kau disini sibuk bercinta dengan pel*c*r ini!" Teriak Abraham murka.
Kepala genh Botak yang mereka sebut pemimpin itu melongak kearah suara Abraham. Betapa terkejut nya ia mendapati musuh yang selama ini ia tunggu-tunggu hadir dihadapannya, Abraham Williams.
__ADS_1
"Cepat pakai pakaian mu, dan cepat lah pergi dari sini!" ucap si kepala Botak yanh dengan cepat memakai kembali pakaiannya.
"Oh Abraham, lama tak berjumpa dengan mu!"
"Ternyata kau pemimpin dari Pisau merah itu Sony!"
Sony menyunggingkan bibir nya.
"Sony?" Pekik Calliara kaget.
"Lady Liara, sudah lama tak berjumpa, kau makin bertambah cantik saja! sayang kau lebih memilih Abraham ketimbang aku!"
Calliara memandang laki-laki bernama Sony itu dengan tatapan benci dan juga jijik Peristiwa 32 tahun yang lalu nampak berputar-putar kembali di hadapannya. Saat orang yang bernama Sony itu membunuh Ayah nya dengan sangat keji dan tidak berprikemanusian.
"Cih! Hentikan bualan mu yang menjijikan itu Sony bedebah!" ucap Calliara lantang.
"Kenapa kau marah!" ejek Sony , ia berfikir Abraham dan Calliara saja yang datang. Sony sama sekali tidak tau,jika 4 lainnya masih bersembunyi dibalik temaramnya lampu sekitaran sini.
"Kau yang sudah membantu David Alberto untuk membunuh Ayah ku kan? Dan sekarang kau ingin membantu cucu nya Kevin Lano Alberto untuk menghabisi putriku!!" teriak Calliara, kini emosinya sudah sulit dikendalikan.
"Awalnya aku tidak tau Jika nona Callista Quinza itu anak kalian, lantas Kevin menjanjikan aku uang ,.apa salah nya aku menerimanya!" jawab Sony enteng.
"Dasar bedebah sialan! Kali aku pastikan tidak akan membiarkan mu hidup lebih lama lagi Sony! Kau belum pernah melihat kemarahan seorang Putri dan Juga seorang Ibu!"
"Kau akan melakukan apa cantik!"
Calliara menghunuskan tombak nya ke perut Sony, namun ajaib! ujung tombak yang runcing dan sangat mengkilap itu tidak mampu menembus perut nya.
Sony tertawa sangat besar mengejek Calliara.
"Kau pikir barang murahan itu bisa menembus kulit ku?"
Abraham pun tak mau kalah melihat istrinya bertarung sendirian, ia juga melayangkan samurai nya, namun samurai nya seperti menyentuh besi dan bukannya kulit.
'Sial aku lupa jika Sony kebal dengan benda tajam!' maki Abraham dakam hati.
Teo dan yang lainnya yang memperhatikan pergerakan Sony, seperti nya tengah berfikir bagaimana cara nya melumpuhkan pimpinan kepala botak ini.
__ADS_1
"Bagaimana ini King, pimpinan pisau merah itu tidak bisa dilumpuhkan dengan benda tajam!"