Terbiasa Tanpamu

Terbiasa Tanpamu
Chapter 34: Penyerangan 2


__ADS_3

"Alex, apa kau mencium bau racun disini?"


Jason mengendus-ngendus bau yang menyeruak disana, bau nya sangat tajam, bahkan kalau kita menghirup nya lebih lama, itu akan mengakibatkan kita pingsan.


"Ya.. Jason aku menciumnya! Aku lupa jika mereka ahli nya racun, harus nya kita menyuruh Abraham dan Teo memakai masker!" jawab Alex, mata nya tetap awas mengawasi sekitar, memang petinggi pisau merah itu, raja nya racun, banyak musuh mereka yang lumpuh karena racun ciptaannya. Beruntung Callista masih bisa cepat diselamatkan kemarin.


"Aku yakin mereka juga akan waspada, kau tenang saja!" ucap Jason lagi.


Sringgh...


Tanpa permisi ternyata para bawahan pisau merah langsung menghunuskan pedang ke arah Jason, beruntung ia segera menghindar.


"Bedebah kau, dasar licik!" Jason langsung kembali membalas mereka dengan cekatan, ia juga membawa pedang untuk melawan para musuh disini.


"Alex, berhati-hatilah.. jangan sampai kau terkena goresan dari senjata mereka, kalau kau tak mau bernasib sama dengan Callista!" Jason berkata dengam sedikit berteriak ahar Alex yang ternyata juga sedang diserang mendengar nya.


"Siap! mereka pikir hanya mereka yang bisa memolesi senjata nya dengan racun, aku pun bisa!"


*Sreettt...


Bugh..


Bugh*...


Suara dentingan Pedang, juga tombak meluluhlantahkan para penjahat itu. Tak butuh waktu yang lama bawahan Pisau merah sudah menggelepar tak berdaya ditanah.


Baik Jason dan Alex sadar, meskipun ia seperti sudah menghabiskan seluruh kawanan dari para Klen ini, mereka belum habis, bahkan mungkin masih ada ribuan lagi kumpulan kepala botak disini.


Namun tujuan mereka kini yaitu atasan mereka yang sangat licik.


Saat Jason dan Alex sudah berada didalam ruangan yang pencahayaannya memakai obor kayu, disana mereka juga melihat Abraham dan Calliara, juga Teo dan Jerry.


Dari sini masih ada sekitar 7 pintu lagi yang akan membawa mereka pada atasan Pisau merah. Mereka semua harus bisa menebak mana pintunya. Meskipun tenaga mereka masih banyak, jika harus menghadapi ribuan orang lagi, sudah dipastikan mereka akan kelelahan saat menghadapi raja mereka.


"Apa kalian bisa menebak mana ruangan dari kepala botak itu?" tanya Abraham.


"Bukan kah semua nya botak Om?" imbuh Jerry.


"Jerr! diamlah, gunakan otakmu untuk berfikir, bukan nya kau ahli dalam bermain teka teki." timpal Teo pada adik sepupunya itu.


"Ayo Jerry, gunakan keahlian mu itu!" tambah Alex.

__ADS_1


"Cepatlah anak muda,waktu kita tidak banyak, jangan sampai kita diserang dengan ribuan kepala botak, aku tidak bisa membayangkan betapa ngeri nya itu, mungkin bisa mengalahkan kumpulan para Zombie!" Jason bergidik ngeri, bukan karena senjata nya, namun ia lebih ngeri pada ribuan kepala botak, pasti geli sekali!


Jerry mulai berpikir, semua pintu disini memiliki motif dan ukiran pintu yang sama, namun jika diteliti lagi ada ukiran bunga yang terbilang agak kecil disetiap pintu, dan ukiran bunga itu berbeda-beda bentuk. Jerry coba melihatnya satu persatu , dari semua pintu hanya satu pintu yang memiliki Motif bunga Matahari yang mencolok dan agak timbul. Biasanya bunga matahari dilambangkan oleh kekuasaan, jadi bisa dipastikan dibalik pintu itulah Kepala dari Klen Pisau merah bersembunyi.


"Aku sudah dapat!" bisik Jerry.


"Dimana? jika sampai salah aku akan memelintir kepala mu!" jawab Abraham ketus.


"Sayang, kau jangan begitu, dia itu sepupu menantu kita, bersikaplah sedikit manis," jawab Calliara.


"Tenang Om, bisakah kalian melihat disetiap pintu ada ukirannya bunga nya?"


"Ya.. lalu?"


"Disetiap pintu juga terdapat ukiran bunga yang lebih kecil dari sebelumnya, berada tepat di tengah-tengah ukirannya! Nah.. hanya satu pintu yang memiliki ukiran berbeda, sedangkan yang lainnya sama, ukiran bunga Matahari, bukankah itu melambangkan kekuasaan seseorang? bisa dipastikan itulah ruangannya!" jelas Jerry percaya diri, ia yakin jika itu benar dan ia tak salah menebak.


"Ya.. kau benar Jerr, ayo kita kesana!" jawab Jason dengan antusias.


"Jika benar itulah ruangan bos mereka, kita juya harus hati-hati, pasti disana banyak sekali jebakannya!" ucap Calliara memberi usul.


"Kau cerdik sekali sayang," Abraham mengecup bibir istrinya.


"makanya kau cepat menikah, aku saja sudah mau punya cucu, kau masih setia dengan melajang mu!"


"Sudah lah, ayo kita bergerak sebelum kepala-kepala botak yang lain keluar!"


Akhirnya mereka semua memasuki ruangan yang diyakini Jerry adalah tempat si bos Botak bersembunyi dan istirahat. Abraham sebagai kepala Geng berada didepan, dibelakangnnya ada Calliara istrinya, dan disampung kanan kiri nya ada Teo dan juga Alex, sedang Jason dan Jerry mereka berada dibelakang Calliara.


Dengan sekali dobrak dari kaki Abraham, pintu terbuka, namun aneh nya ruangan nya sepi. Tak ada siapapun disana,


"Jerry! lihat, kau yakin tadi mereka ada disini, lalu kemana mereka! harusnya aku tak menuruti anak muda ingusan yang bermain tebak-tebakan!" dengus Abraham kesal.


"Enggak sayang, Jerry gak salah! lihat ada bekas puntung rokok disana, baru saja mereka pasti ada disini, namun sepertinya mereka sudah kabur dan menyelamaykan diri!" timpal Calliara yakin.


"Kau yakin sayang?"


"Ya.. aku yakin!"


Teo memperhatikan sekitar, saat ia berjalan untuk mengawasi sekeliling, suara Boot nya seperti sedang menapaki besi, ia menunduk lalu mengusap lantai yang seperti tanah itu. Benar dugaannya, ini besi atau lebih tepatnya seperti sebuah penutup sebuah lubang.


"Om... Lihat kebawah, ke lantai.. Ini seperti penutup lubang atau ruangan bukan? berarti masih ada ruangan rahasia dibawah sini!" ucap Teo yang masih terus membersihkan tanah yang menutupinya, ia ingin tau sampai dimana batas nya, dan Teo bisa melihat arah pintunya.

__ADS_1


"Kau benar Teo, Ayo semuanya kita harus tau bagian mana yang bisa membuka pintu ruangan rahasia itu!" timpal Abraham.


Mereka terus membersihkan tanah yang menutupi ruangan rahasia itu, namun mereka belum bisa menemukan dimana letak pintunya.


"Sial! apa-apaan ini kenapa tidak ada pintunya sih!" umpat Alex kesal, sangking frustasi nya ia menyandarkan diri nya pada salah satu patung singa disana, Jerry mengusap rambut nya kebelakang, tanpa sadar Jerry menyentuh bagian hidung patunh singa itu, dan...


*Traappp...


Blusshhh*...


"Aahhhhhhh!!"


Alex terkejut, saat semua teman-teman seperjuangan nya jatuh kebawah, ruangan rahasia itu tiba- tiba terbuka,


"Aauuwww bokongku!" rintih Jason yang menahan sakit.


"Sayang kau tak apa?" tanya Abraham cemas melihat istrinya yang tersungkur mencium tanah.


"it's oke sayang, kau tak apa?"


"Ya.. aku tak apa!"


"Brengsek! kenapa gak pake bilang-bilang sih ni pintu bakal kebuka, gue bisa siap-siap terjun! hilang deh gantengnya gue!" rintih Jerry.


"Apa kalian semua baik-baik saja?" tanya Alex dari atas sana.


"Iyaa, Kau turunlah!" teriak Abraham.


Namun saat Alex sedang memasang kuda-kuda untuk melompat, ia melihat kawanan pisau merah hendak melepaskan anak panah mereka ke arah teman-teman Alex.


"Tiarap!!!!!"


......................


Untuk pembaca setia Terbiasa Tanpamu, maaf ya karena up lama banget..


Kemarin mimin sempet drop dan susah buat mikir✌️


Tetep pantengin lanjutannya ya...


Sun sayang dari sini❤️

__ADS_1


__ADS_2