
"Nek.. seperti nya Jerry mulai curiga padaku, sebentar lagi ia pasti akan mencerca ku dengan banyak pertanyaan!"
"Hah!"
Jarry terkejut dengan apa yang dia dengar, Teo berbicara pada nenek nya seolah hanya dirinya lah yang tidak tau pekerjaan lain Teo.
"Apa maksudnya ini! Apa nenek dan Teo merahasiakannya dari ku!" ucapnya sendiri, lalu ia melihat jika Teo menutup telponnya dan kembali kedalam ruangan Lista.
Jerry sembunyi di sebalik pohon hias bonsai dekat pintu ruangan Lista.
'Aku harus pulang dan menanyakan langsung pada nenek!' batinnya dalam hati.
Setelah berpamitan dengan Lista dan juga ateo, Jerry dan Fiona kembali pulang, dalam perjalanan tak ada satupun yamg bicara. Fiona pun bingung, apa sebenarnya yang terjadi pada Jerry, hingga ia membisu seperti ini.
"Jerryno!" panggil Fio.
"Hmm"
"Lo kenapa? ada masalah ya?" selidik Fio.
"Eenggak! memangnya aku gak boleh diem gitu!" celetuk Jerry.
"Ya boleh keles... Tapi kenapa?"
"Entar aja deh gue kasih tau, gue mau cepet pulang buat mastiin aja, bener atau gak dugaan gue!"
"Emang ada apa sih Jerr, sumpah ni gue penasaran!"
"Entar aja Fio, sekarang belum tepat!"
Jerry melajukan mobilnya dengan cepat, setelah mengantar Fiona, Jerry langsung melesat menuju mansion utama Adelio.
Sesampai nya disana gegas ia mencari sosok nenek nya berada.
"Grandma... cucu mu yang paling ganteng mau bertemu! ayolah jangan main petak umpet!"
Satu menit...
Dua menit...
Nihil
Tak ada jawaban
"Grandma.. liat saja, aku do'akan nenek cepet tua!"
Pleeetakkk!
"Aaaduuhhh, kepalaku!" rintih Jerry yang meringis kesakitan menahan dakit karena satu Heels cantik tepat mendarat di kepalanya.
__ADS_1
Sudah diduga ini pasti ulah dari nenek nya,
"Nenek! kenapa kau tega sekali pada cucu mu, lihat ini kepala ku jadi benjol, gimana kalau aku sampai gagar otak, gagal deh nikah tahun ini,.gagal juga bakal ada yang manggil cicit ke nenek?" gerutunya kesal.
Pleetak!
Kali ini Heels mendarat tepat di bibirnya.
"Ya Lord Bibirku!" Ucapnya lagi seraya mengelus-elur bibir nya.
"Bibirku jontor udah pasti ni, Si nenek tega bener sih ya ampun! gak sayang banger sama cucu nya yang ganteng ini!" gerutu nya kesal.
"Itu hadiah untuk mu Jerry." Jawab Nenek Nathalie yang keluar dari persembunyiannya.
"Apa salah dan dosa ku nek? sampai kau tega menyiksa cucu mu yang paling tampan ini, ya ya aku tau, kau lebih sayang pada cucu bujang lapuk mu itu kan!" Jerry mencebikan bibir nya.
"Sebentar lagi dia bukan bujang lapuk lagi Jerryno, dia sudah bertemu dengan permaisuri nya!" Sergah nenek.
Kini Jerry sudah duduk di sofa bersama dengan nenek nya.
"Nek apa kau tau pekerjaan lain dari Teo, selain mengurus usaha dari Adelio?" tanya Jerry serius.
"Tau!" jawab nenek nya singkat.
"Serius nek? apa?"
"Rahasi!"
"Astaga Jerry! sejak kapan kau menjadi kepo seperti ini?"
"Nek Jerry serius"
"Aku juga serius!"
"Nenek!" cicit Jerry yamg sudah menaikan nada bicara nya menjadi satu oktaf.
Nampak nenek menarik nafas nya dalam, lalu membuang nya secara kasar. Ia nampak berfikir dan mengetuk-ngetukan tongkat kebesarannya dilantai.
"Black King!"
"Ja-di bena-r dia Black King? sepupuku Blaxk King Nek?" tanya Jery berulang.
"Apa aku perlu mengulanginya dengan menggunakan pengeras suara Jerry?" tanya Nenek nya sinis.
"Tidak Nek" Jerry memijit pelipis nya yang tidak pening.
"Sejak kapan Nek? Kenapa Jerry baru tau? kalian sengaja ya? atau Jerry tak dianggap keluarga lagi dirumah ini?"
"Jaga ucapan mu Jerry! Teo itu masih bawahannya Abraham Williams, orang tua nya Lista!"
__ADS_1
"A-pa??" Jerry shock mendengar pernyataan nenek nya, jika saja dia punya riwayat penyakit jantung atau darah tinggi, ataupun kolestrol, sudah pasti ia akan struk sekarang.
"Dia sudah menjadi bawahan keluarga Williams sejak ia berusia 12 tahun, saat itu... tugas utamanya menjaga Callista!"
Flash Back On
"Mama....Papa! Kenapa kalian pergi!" raung seorang anak yang masih berusia sekitar 11 tahun.
Pasangan suami istri yang melintas diarea makam, merasa terenyuh dengan pemandnagan bocah laki-laki yang terisak di bawah pusara yang katanya kedua orang tua nya.
"Hei Nak, kenapa kau menangis?" tanya Sang suami pada bocah laki-laki itu. Namun sang bocah tak menjawab, ia hanya menatap sekilas kearah pasangan pasutri itu. Merasa ditolak, sang Istri maju mendekati anak tadi dan duduk bersimpuh disebelah bocah laki-laki itu.
"Nak.. Setiap yang hidup pasti akan mati, itu sudah hukum alam, jangan berlarut-larut dalam kesedihan, kau lupa jika orang tua mu bisa melihat semua ini?" Ucap sang istri sembari mengusap lembut anak laki-laki tadi.
"Apa mereka bisa melihat ku tante?" tanya anak itu,
"Tentu, jadi berhentilah menangis, terlebih kau ini seorang laki-laki."
"Maafkan Teo Ma.. Mama sudah bahagia disana kan?"
"Sudah hapus air matamu, saya Abraham, dan ini istri saya Calliara!"
"Saya Teo, om, tante!"
"Kamu dari keluarga mana? maksudnya saya siapa nama lengkap mu?" tanya Abraham.
"Saya Teo Melvin Adelio!" jawab Teo kecil.
"Oke, kamu mau ikut dengan saya? saya punya seorang putri, mungkin kamu tak kan kesepian!" ucap Calliara memberi tawaran.
"Maaf tante, saya masih punya nenek yang harus saya jaga! Tapi, sesekali saya akan berkunjung kerumah kalian!"
"Kalau begitu kedatangan mu akan kami tunggu, saya akan ajarkan kamu ilmu bela diri khusus laki-laki! karena saya tidak punya anak laki-laki!"
"Terimaksih om."
Flash Back off
"Setelah hari itu, Teo sering berkunjung kerumah Williams, ia diajarkan ilmu bela diri saat usianya masih 12 tahun, dan tugas pertamanya menjaga dan melindungi Callista dari kejauhan, saat Abraham dan Calliara pergi untuk mengasingkan diri selama 19 tahun lamanya!" ucap Nenek Nathalie menjelaskan.
"Jadi Teo sudah mengenal Lista selama itu Nek?"
"Iya, sering kali nenek menawarkan banyak perempuan untuk dijadikan menantu Adelio, tapi Teo menolak, dia hanya ingin Callista!"
Nenek Nathalie nampak menarik nafasnya berat, kadang ia berfikir, jika hidup Teo seperti mengharap kan bulan yang jatuh dari langit. Namun ke khawatiran diri nya akan cucu tertua nya hilang sudah sejak Teo masih memiliki harapan untuk bersatu dengan Callista, pujaan hatinya. Hidup yang selama ini seperti musim dingin, kini berubah menjadi seperti musim semi.
"Dan bagaimana awal mula diri nya menjadi Black King Nek? dan kenapa nenek menyetujuinya! itu masih perbuatan kriminal, Mafia itu dunia hitam nek?" sentak Jerry.
"Jerry! kau itu tidak tau! Teo hanya menerima klien dengan kesalahan paling fatal saja, hal yang sulit ditangani para polisi, dia tidak akan menerima tawaran untuk menghabisi perempuan dan anak kecil!" cicit nenek.
__ADS_1
"Kalian sedang menggosipkan aku ya?"