
Olive sengaja bangun lebih awal, ia ingin mencoba untuk bertanya sekali lagi kepada Mark alasan sikapnya berubah. Ia memutuskan jika Mark tetap tidak memberi penjelasan yang tetap, ia akan menyerah dan akan mencoba untuk menjauhi Mark juga.
Olive menghela nafas sebentar setelah menutup pintu rumahnya, ia langsung bisa melihat Mark yang sedang mengeluarkan motornya dari garasi. Olive mulai berjalan menghampiri Mark. Dalam hati Olive sangat gugup dan takut jika Mark akan tetap menjawabnya seperti biasa.
"Pagi Mark!" sapa Olive mencoba ramah seperti biasa. Mark menatap Olive sekilas lalu menurunkan standar motornya.
"Ada apa?" jawab Mark dengan nada biasa yang membuat Olive agak lega.
"Mmm.. aku boleh berangkat bareng kamu gak?" tanya Olive agak gugup. Mark menatap Olive sebentar, lalu tak lama kemudian Mark mengangguk yang membuat Olive tersenyum senang.
"Yaudah ayo berangkat." ajak Mark tapi langsung Olive cegat. Mark yang terheran akan Olive yang tiba-tiba menahan tangannya hanya mengernyit heran.
"Kenapa?" tanya Mark, Olive langsung melepas tangannya lalu menggigit bibir bawahnya gugup.
"Aku.. aku mau ngomong sesuatu.." jawab Olive yang semakin membuat Mark bingung.
"Mau ngomong apaan? Ngomong aja kali Liv."
"Mmm.. kamu.. masih marah sama aku Mark?" tanya Olive agak takut sambil menunduk. Mark terdiam sebentar, detik selanjutnya Olive langsung terkejut akan Mark yang tiba-tiba memeluknya.
"Maaf udah bikin kamu cemas, aku gak marah kok." Olive masih terdiam karena terkejut, tapi detik selanjutnya Olive tersenyum lega dan membalas pelukan Mark.
Olive lalu melepaskan pelukannya dan menatap Mark tajam. "Pokoknya kamu hutang penjelasan sama aku!" ujar Olive yang membuat Mark terkekeh.
"Siap tuan putri, nanti pulang sekolah aku jelasin semuanya." ujar Mark sambil mengacak pelan rambut Olive seperti biasa.
"Ayo berangkat!" ajak Mark yang langsung Olive angguki. Motor Mark lalu melaju meninggalkan seseorang yang sedari tadi memerhatikan mereka.
⚪⚪⚪
"Cieee.. yang udah baikan cieee.." Wahyu dan Ardi langsung menggoda Mark dan Olive saat melihat mereka yang datang ke kelas sambil bergandengan tangan.
"Brisik lo pada!" tegas Mark sedangkan Olive memilih untuk diam saja karena sebelumnya ia sudah terbiasa seperti ini.
"B aja kali Mark, Olive aja sante aja kita gituin. Masa lo yang cowoknya kagak nyelo?" ujar Wahyu yang mana membuat Mark kesal.
"Hutang di kantin lo bayar sendiri" ancam Mark yang membuat Wahyu kicep seketika. Wahyu langsung cengengesan dan bergelayut di lengan Mark.
"Ngapain lo?!" tanya Mark dingin.
"Hehee.. tadi aku cuman becanda kok say.. lo ganteng banget deh Mark. Hutang gue jangan lo batalin bayarinnya dong.. yaa?" pinta Wahyu sambil memelas dan kedip-kedip manja.
Mark hanya mengernyit jijik sambil langsung melepaskan tangan Wahyu dilengannya. "Apaan sih lo dasar homo! Kalau punya hutang tuh bayar sendiri lah, masa minta bayarin gue mulu sih. Emangnya gue babeh lo apa?"
"Yaelah Mark tolongin gue dong, masa lo tega lihat sahabat lo yang paling ganteng ini sengsara gak bisa jajan lagi di kantin. Ayo dong lah, kan lo udah janji mau bayarin hutang gue"
"Brisik lo, iya gue bayarin entar. Sana minggir gue mau lewat!" Wahyu langsung tersenyum lebar dan memeluk Mark.
"Bangs*t! Ngapain lo peluk-peluk gue nj*ng?!!" Mark langsung marah dan serasa ingin mati ditempat karena kini murid-murid dikelas tengah menertawai dirinya dan Wahyu.
⚪⚪⚪
Samuel: gue udah sampe parkiran, cepet nyusul kalo gak mau gue tinggal.
__ADS_1
Olive mengernyit membaca chat masuk dari Samuel.
Olive: maaf tapi aku pulang bareng Mark
"Ayo Liv kita pulang sekarang." ajak Mark yang langsung menyadarkan Olive.
"Eh? I-iya." mereka berdua lalu berjalan beriringan menuju parkiran. Dari tadi Olive masih memikirkan Samuel, apa perjanjian itu masih berlaku sekarang? Apa ia beri tau saja kalau Mark sudah kembali lagi seperti biasa. Tapi.. mengapa ia sekarang merasa tidak enak?
Sedetik kemudian ada chat masuk lagi dari Samuel.
Samuel: lo kan udah lebih dulu janji sama gue, lo gak inget perjanjian yang waktu itu?
Olive: besok aku bakal jelasin, tapi maaf sekarang aku gak bisa pulang bareng kamu dulu.
Olive lalu mematikan layar ponselnya, Mark yang sedari tadi diam memperhatikan hanya menatap Olive penasaran.
"Kenapa Liv? Dari kakak kamu lagi?" tanya Mark yang langsung membuat Olive menggeleng.
"Nggak, cuman dari temen kok." ujar Olive sambil tersenyum kecil, Mark mengernyit sebentar.
"Temen? Siapa?" tanya Mark penasaran.
"Hamba Allah, ayo udah cepetan jalannya." Olive mempercepat langkahnya yang membuat Mark tambah heran.
Olive memperlambat langkah kakinya saat melihat Samuel yang tengah menatapnya datar. Mark yang memang sengaja menghiraukan Samuel, langsung menghidupkan mesin motornya lalu memberi isyarat agar Olive segera naik.
"Nih helmnya pake dulu." Mark menyodorkan helm pada Olive yang langsung Olive pakai. Motor Mark lalu mulai melaju meninggalkan Samuel yang masih memperhatikan mereka. Samuel tersenyum simpul menatap keduanya yang sudah menjauh.
"Sebelum aku jelasin semuanya, kamu mau kan janji gak bakalan marah dengernya?" Olive menggeleng pelan membuat Mark menghela nafas.
"Aku gak janji, lagian itu juga tergantung dari apa yang kamu jelasin." jawab Olive membuat Mark tersenyum kecil, Mark sudah menduga itu.
"Aku ngelakuin itu karena aku ngambil beasiswa buat ngelanjutin sekolah ke Australia."
Deg
Perkataan Mark membuat Olive menoleh kaget. "Serius??!" tanya Olive memastikan. Mark mengangguk yang membuat Olive tersenyum kecut.
"Kenapa mesti jauh-jauh sih? Emangnya kamu gak tertarik sama universitas yang ada disini apa?" Mark tersenyum kecil mendengar penuturan Olive.
"Mamah juga sama bilang gitu, tapi ini itu udah impian aku dari kecil. Aku udah ngerencanain semuanya dari kecil, aku gak bisa ngerubah keputusan yang udah aku rencanain jauh." jelas Mark yang membuat Olive tersenyum kecut lagi.
"Terus.. apa hubungannya sama sikap kamu yang tiba-tiba berubah?" tanya Olive yang membuat Mark terdiam.
"Itu.. itu karena.."
"Karena apa?" tanya Olive tak sabar.
"Karena aku khawatir soal kamu yang bakal sendirian." ujar Mark sambil menatap manik mata Olive lembut. Olive terdiam sebentar, Olive mengalihkan pandangannya dari Mark.
"Maksud kamu apa? Kan masih ada kak Kara, mamah Aini, Wahyu, Ardi, dan mungkin.. Samuel." ujar Olive yang membuat Mark tersenyum kecil.
"Kayaknya sekarang kalian udah mulai deket." ujar Mark yang membuat Olive mengernyit heran.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Olive bingung.
"Gak, lupain aja." jawab Mark yang membuat Olive mendengus.
"Udah, lanjut jelasin yang tadi aja." ujar Olive yang membuat Mark terkekeh.
"Kayaknya kamu penasaran banget ya?" Olive mendengus sebal lalu mencubit lengan Mark keras.
"AW! Kok malah nyubit sih?! Emangnya cubitan kamu gak sakit apa." Olive hanya menjulurkan lidahnya.
"Bodo amat! Suruh siapa malah ngeselin." Mark terkekeh lagi lalu mengacak-acak rambut Olive.
"Isshh!! Jangan main acak-acak rambut dong! Nantinya jadi kusut Mark!" ujar Olive kesal sambil merapikan rambutnya.
"Emangnya pakaian apa bisa kusut." ujar Mark yang membuat Olive menatapnya tajam.
"Bisa, buktinya aja muka kamu bisa kusut. Wleee.." Olive menjulurkan lidahnya lagi yang mana malah membuat Mark semakin mengacak-acak rambutnya.
"Isshh!! Markonah gak usah acak-acakin rambut aku mulu!!!" kesal Olive tapi Mark malah merangkul pundak Olive dan menyenderkan kepala Olive dipundaknya.
"Aku kangen kamu Liv." ujar Mark yang membuat Olive terdiam.
"Paan si, orang tiap hari juga ketemu kan? Lebay deh." kekeh Olive tapi Mark hanya diam saja sambil mengelus pelan rambut Olive.
"Aku takut kejadian waktu kita smp keulang lagi, makanya aku selalu cari cara supaya kamu punya banyak temen deket selain aku." Olive terdiam mendengar itu, tiba-tiba pikirannya teringat akan kejadian yang dimaksud Mark.
"Aku udah coba segala cara tanpa sepengetahuan kamu. Tapi.. hasilnya tetep aja gagal." Olive masih terdiam mendengarkan.
"Aku takut depresi kamu kambuh lagi, aku takut kamu ngelakuin hal yang bikin aku nyesel nantinya ninggalin kamu. Aku takut nanti kamu gak bisa merhatiin diri kamu sendiri."
"Makanya aku ngelakuin cara ini meskipun agak kejam juga, tapi aku ngelakuin ini supaya kamu mau cari temen lain. Aku pengen ngerasa tenang pas berangkat nanti, kamu mau kan cari temen lain?" tanya Mark yang membuat Olive mendongak.
"Jadi ini alesan kamu berubah gitu aja?" tanya Olive yang sedetik kemudian Mark angguki.
"Iya, sebenernya ini semua Zoe yang ngasih ide." jelas Mark yang membuat Olive mendengus.
"Gak kreatif banget sih, ngapain juga pake rencana kayak gini segala? Tetep aja gak berhasil kan?" ujar Olive dengan nada sedikit tidak suka.
"Lagian harus pake cara apalagi? Soalnya aku gak enak kalo harus bilang langsung nyuruh kamu cari temen lain, nanti dikiranya aku gak mau temenan lagi." jelas Mark sambil ikut menyenderkan kepalanya di kepala Olive.
"Kenapa sih mesti nyuruh aku cari temen lain? Lagian itu juga gak menjamin aku bakal kesepian atau nggak nantinya." ujar Olive sedangkan Mark menghela nafas berat.
"Ya terus gimana aku mau tenang nantinya kalau aku berangkat nanti?" tanya Mark yang membuat Olive cemberut.
"Lagian kamu tau kan Mark, kalo nyari temen itu gak segampang yang kamu kira." ujar Olive lesu. Mark mengangkat kepalanya lalu menunduk untuk menatap Olive.
"Kata siapa? Aku bisa bantu nyariin kamu temen kok."
"Nggak kayak gitu, maksudnya emang nyari temen itu gampang. Tapi nyari temen yang bener-bener tulus itu gak gampang. Kalau sekedar kenal aku juga banyak." jelas Olive malas.
"Olive.. semua orang itu gak sama, kamu gak usah nginget-nginget masalah yang dulu."
"Tapi aku masih gak mau Mark! kalau misalnya kamu mau berangkat ke Australia, ya udah kamu tinggal berangkat gak usah mikirin aku segala! Lagian aku juga gak bakal se-menyedihkan yang kamu kira kok!" setelah mengatakan itu, Olive lalu bangkit dan berlari meninggalkan Mark yang terdiam.
__ADS_1