
Olive menatap layar ponselnya malas, dari tadi Mark meneleponnya tapi selalu Olive abaikan. Olive menaruh ponselnya sembarang ke belakang. Tiba-tiba terdengar suara bel rumah yang langsung terhubung dengan kamarnya.
Olive mengabaikan ponselnya yang terus berbunyi karena notif chat masuk dari Mark. Setetes air mata mulai mengalir dari pelupuk mata Olive. Olive langsung menghapus kasar air matanya.
Ia masih kesal akan perkataan Mark di taman tadi. Jadi selama ini Mark menganggap dirinya sebagai anti sosial yang menyedihkan?
Olive heran seberapa menyedihkan dirinya di mata Mark sekarang?
Sebenarnya Olive belum memaafkan sikap Mark yang tiba-tiba berubah minggu-minggu lalu. Olive masih merasa kesal dan sedikit sakit hati mengingat sikap Mark yang sangat dingin waktu itu.
Kalau tau akan begini, Olive memilih untuk tidak mengetahui penjelasan dari Mark.
Olive lalu bangun dan berjalan pelan ke arah meja rias. Ia lalu duduk sambil memandangi pantulan dirinya di cermin.
'Emangnya aku se-menyedihkan apa sih di mata dia?'
Olive terus memandangi bayangan dirinya. Memandangi wajahnya membuat Olive teringat akan sosok ibunya, setetes air mata mulai mengalir lagi membasahi pipi Olive.
Melihat wajahnya yang sangat mirip dengan ibunya, membuat Olive menjadi merindukan sosok ibunya kembali.
Saat tengah larut dalam lamunannya pandangan Olive tak sengaja menangkap rubik yang terletak di atas meja riasnya. Dan itu membuat pikiran Olive melayang pada kejadian 10 tahun silam, masa dimana ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak.
*Flashback on*
*Olive memandang kosong kedua kakinya. Sekarang adalah jam pulang sekolah, dan sekarang ia sedang duduk di ayunan sambil menunggu supirnya datang.
Pandangan Olive lalu mulai menatapi anak-anak lain yang sedang dijemputi oleh orang tuanya masing-masing. Melihat pemandangan seperti itu, membuat raut wajah Olive murung dan sedih.
Dalam hati, ingin sekali ia merasakan seperti mereka yang selalu diantar-jemput oleh orang tuanya. Olive masih memandangi mereka sampai keadaan sekolah sudah sepi. Ia masih setia duduk menunggu supirnya yang juga belum datang-datang.
Guru-guru TK yang melihatnya sudah mencoba membujuknya agar mau diantar pulang tapi Olive tetap menolak. Olive lalu melihat jam tangannya untuk melihat jam berapa sekarang.
Ternyata ia sudah menunggu sekitar satu jam tapi supirnya belum juga datang. Olive mengeluh kesal, tapi ia memilih untuk tetap duduk menunggu kedatangan supirnya.
Tiba-tiba Olive menangis pelan sambil menunduk. Tak lama kemudian sebuah permen lollipop besar ada di hadapannya yang membuatnya langsung mendongak.
"Kamu mau permen gak? Tadi aku dikasih ini sama bu guru, tapi aku kasih ke kamu aja deh" ujar teman lelakinya yang tidak Olive ketahui siapa namanya.
Mungkin karena ia tidak sekelas dengan laki-laki tersebut jadinya Olive tidak mengenalnya. Olive lalu terdiam sebentar, ia lalu menerima permen tersebut.
"Makasih." ujar Olive yang membuat anak laki-laki itu tersenyum. Melihat anak laki-laki itu tersenyum cerah, membuat Olive tanpa sadar ikut menarik sudut bibirnya juga.
__ADS_1
"Kenapa kamu belum pulang?" tanya anak laki-laki tersebut.
"Aku lagi nunggu mang Dede, tapi sampe sekarang belum dateng juga." jawab Olive sementara anak laki-laki itu hanya ber-oh-ria.
"Kalau kamu? Kenapa kamu juga belum pulang?" tanya Olive balik. Anak laki-laki itu lalu duduk di ayunan samping Olive.
"Aku lagi nunggu bunda, bunda lagi ke toilet dulu." jawab anak laki-laki itu yang membuat Olive mengangguk-ngangguk.
"Sammy! Ayo pulang sayang" tiba-tiba seorang wanita yang sepertinya adalah bunda Sammy berteriak yang membuat Sammy langsung menyahut.
"Iya Bun!" sahut anak laki-laki tersebut.
"Aku pulang duluan ya, daah!" pamit anak laki-laki tersebut sambil melambaikan tangannya. Olive membalas lambaian tangannya sambil tersenyum.
"Daah Sammy!!" teriak Olive setelah mengetahui nama anak laki-laki tersebut tadi.
Tak lama setelah Sammy pergi, supir Olive lalu datang menjemput Olive. Supir tersebut langsung meminta maaf karena ban mobilnya tiba-tiba bocor yang membuatnya harus ke bengkel dulu. Olive mengangguk memaklumi karena ia sama sekali tidak merasa marah.
Kehadiran anak tadi membuatnya tiba-tiba melupakan rasa sedihnya yang tadi.
***Flashback off**
Sejak pertengahan SD, Olive tidak pernah lagi melihat sosok Sammy. Padahal meskipun tidak satu kelas mereka masih tetap selalu bermain bersama jika ada waktu. Sepertinya Sammy waktu itu pindah sekolah karena Olive tidak pernah lagi melihat Sammy di sekolah.
"Sammy.. kamu dimana sekarang?"
⚪⚪⚪
Samuel melempar tasnya sembarang lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Ia menghela nafas berat sambil mengusap wajahnya kasar. Sebenarnya ia masih kesal akan percakapannya dengan Mark saat di rumah Wahyu kemarin.
*Flashback on*
"*Eh konah, gue mau ngomong sama lu." ujar Samuel yang membuat Mark menoleh dengan tatapan malas.
"Bisa gak sih lo gak plesetin nama gue!" kesal Mark tapi tak Samuel hiraukan.
"Gue mau nanya serius ama lo." kini giliran Samuel yang tak dihiraukan.
"Tinggal ngomong aja gak usah banyak gaya." sarkas Mark dengan pandangannya yang terus fokus ke layar TV.
"Ya elonya main ps mulu anj*ng! Gimana gue mau ngomong serius?!"
__ADS_1
"Sensi amat sih lu kayak cewek."
"Ya lo emang nyebelin Markonah!"
"Cepet ngomong!" Mark memilih meletakkan dulu stick psnya dan duduk menghadap Samuel.
"Lo ada masalah apa sama Olive?" tanya Samuel yang membuat Mark terdiam.
"Kepo lu ah kayak Wahyu."
"Gue serius!" tegas Samuel yang membuat Mark terdiam lagi.
"Lo gak usah ikut campur, ini urusan gue sama Olive." jawab Mark dingin.
"Tapi urusan Olive itu urusan gue juga!" ujar Samuel agak membentak. Mark lalu membanting pelan stick psnya dan menghadap Samuel.
"Lo siapanya dia hah?! Apa hak lo buat ngurusin dia?!" bentak Mark yang membuat Samuel menggertakan giginya.
"Gue emang bukan bukan siapa-siapanya dia, tapi lo gak bisa seenaknya aja nyakitin Olive sedangkan dia gak ada salah sama sekali!" jawab Samuel tak kalah dingin.
Mark lalu tertawa pelan mengejek, "Tau apa lo soal dia? Mending lo gak usah ikut campur. Inget. Lo bukan siapa-siapanya dia." ujar Mark dengan nada menusuk. Setelah mengatakan itu, Mark bangkit mengambil tasnya dan berjalan keluar dari rumah Wahyu.
Sedangkan Samuel masih duduk di sofa sambil mengepalkan tangannya menahan emosi.
***Flashback off**
Samuel lalu memilih bermain rubik saja untuk menghilangkan penatnya, ia sudah jago bermain rubik dan sudah mengoleksi berbagai macam jenis rubik.
Setelah mengacak-acak dan selesai menyamakan kembali warna masing-masing sisi rubik tersebut, Samuel mengangkat rubik tersebut dan memandangnya dengan tatapan sendu.
Ia ingat ia pernah memberikan rubik kesayangannya yang ia dapat dari mendiang kakaknya, James. Ia memberikan rubik kesayangannya tersebut pada sahabat perempuannya saat ia masih kecil, Vivian.
Pada saat itu ia melihat Vivian tengah menangis sendirian di bangku taman sekolah, ia lalu duduk di sebelahnya. Ia bertanya kenapa Vivian menangis. Dan Vivian menjawab orang tuanya akan pergi ke luar negeri dalam waktu yang sangat lama.
Vivian bilang dia hanya akan tinggal bersama pembantu beserta supirnya saja. Orang tuanya hanya membawa kakaknya saja. Vivian sudah merengek-rengek kepada orang tuanya agar ia ikut mereka tapi orang tuanya tetap tidak memberi ijin.
Vivian bilang orang tuanya berkata bahwa dirinya sudah besar dan harus bisa mengurus dirinya sendiri. Orang tuanya juga bilang bahwa kakaknya ikut hanya karena akan menjalani proses pengobatan.
Samuel yang saat itu hanya mendengarnya hanya bisa diam sambil memandangi rubiknya. Samuel lalu mencoba menghibur Vivian tapi tidak juga berhasil, akhirnya Samuel memilih untuk memberikan rubik kesayangannya kepada Vivian.
Samuel saat itu bilang, bahwa setiap dirinya merasa sedih ia selalu bermain rubik untuk menghilangkan rasa sedihnya. Vivian lalu mengangguk dan menerima rubik tersebut. Tapi karena dirinya yang tiba-tiba pindah sekolah, ia jadi tidak pernah lagi melihat gadis itu sampai sekarang.
__ADS_1