
Olive menghela nafas lega saat ia sudah sampai rumahnya. Sepulang sekolah tadi ia memenuhi permintaan Samuel untuk menemaninya membeli kado untuk ibunya. Tapi yang membuat Olive sangat-sangat kesal adalah.. ternyata Samuel berbohong soal ia yang akan membeli kado dan malah membawa Olive ke game center.
Samuel malah dengan santainya menyuruhnya untuk ikut main, dan berkata 'gue tau lo bosen di rumah mulu, sini lo ikut main biar lo gak gabut mulu'
Ingin sekali tadi Olive mencabik-cabik muka Samuel yang memasang tampang innocent dan malah asyik dengan dunianya sendiri.
Olive membuka aplikasi galeri diponselnya, ia melihat-lihat koleksi fotonya dengan Mark. Hampir semua foto di galeri Olive adalah fotonya dengan Mark. Olive tersenyum kecut, ia melempar ponselnya sembarang ke belakang.
Olive menatap ke arah jam dinding untuk mengecek jam berapa sekarang, ia lalu mengambil jaket dan ponselnya dan langsung berjalan keluar. Olive berniat untuk menemui Mark yang sedang latihan basket. Ia tidak peduli bahwa Mark akan tetap mengacuhkannya, ia akan tetap bersikap seperti biasa sampai Mark kembali lagi merubah sifatnya ke semula.
"Taksi!" panggil Olive sambil melambai-lambaikan tangannya. Taksi tersebut langsung berhenti dan Olive langsung masuk ke dalamnya. Sebelum menuju lapangan basket, Olive terlebih dahulu membeli botol minuman di kantin. Ia berniat memberikan botol minum tersebut untuk Mark.
Olive bisa melihat Mark dan yang lainnya sedang serius latihan basket, Olive lalu duduk di kursi penonton dan mulai menjalankan aksinya seperti biasa.
"Mark!! Semangat!!" teriak Olive menyemangati, sontak Mark langsung menoleh dan terdiam sebentar. Ia hanya menatap datar dan lanjut bermain. Olive tersenyum kecil dan lanjut berteriak menyemangati.
Setelah permainan selesai, Mark langsung berlari kecil menghampiri Olive. Olive yang melihat itu langsung memberikan botol minum yang ia beli tadi di kantin.
"Nih, kamu pasti haus kan Mark?" ujar Olive sambil tersenyum, setelah terdiam sebentar Mark lalu menerima botol tersebut dan langsung meminumnya sampai ludas.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Mark dingin.
"Cuman mau liatin kamu latihan aja, emangnya kenapa sih? Kan biasanya juga gini." ujar Olive mencoba bersikap biasa. Mark berdecih pelan lalu meremas botol minuman tersebut dan membuangnya sembarang.
"Bukannya gue udah nyuruh lo buat ngejauh ya? Kenapa lo tetap ngeyel kayak gini?" tanya Mark dingin dan menusuk. Olive menghela nafas mencoba untuk tetap sabar dan bersikap biasa.
"Aku ini sahabat kamu Mark, wajar aja dong kalo aku dateng buat nyemangatin sahabat aku sendiri. Lagian kamu kenapa sih? Tiba-tiba nyuruh aku buat ngejauh gitu aja, emangnya aku kenapa? Semuanya itu butuh alasan sama penjelasan yang jelas Mark, lagian aku ini sahabat kamu dari kecil. Dan kamu tiba-tiba bersikap kayak gini, sebenernya ini itu kenapa sih?!" tanya Olive dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Olive mencoba menarik napas pelan mencoba masih bersikap tenang lagi.
Mark terdiam sebentar menatap Olive, tiba-tiba tangannya terulur untuk mengelus pelan rambut Olive. "Maaf, tapi mulai sekarang lo harus mulai terbiasa hidup tanpa gue Liv." Mark lalu mengelus pelan pipi Olive. Olive hanya mematung di tempat, Mark lalu berbalik dan melanjutkan latihannya lagi.
__ADS_1
Air mata Olive mulai menetes, Olive segera menghapusnya kasar dan langsung berbalik keluar. Sebenarnya apa maksud Mark tadi? Mengapa Mark mengatakan hal itu? Olive tak bisa membayangkan hari-harinya ke depan bila apa yang dikatakan Mark tadi adalah benar dan serius.
Sekarang saja ia masih tak sanggup menghabiskan hari-harinya tanpa kehadiran sosok Mark. Bagaimana tidak, sosok tersebut telah mewarnai hari-hari Olive sejak Olive masih kecil. Hampir setiap waktu Olive habiskan dengan Mark dari kecil.
Lalu bagaimana bisa ia melewati itu dengan mudah?
⚪⚪⚪
Olive menatap makanan di depannya tanpa ada selera sedikitpun. Kara yang melihat itu hanya menatap heran adiknya. "Kamu kenapa Liv? Kok mukanya kusut banget gitu sih? Lagi ada masalah?" tanya Kara khawatir sekaligus penasaran.
Olive yang sedang menopang dagu, hanya menghela nafas. "Aku gak papa kok kak, cuman lagi badmood aja." dusta Olive yang langsung Kara tahu. Kara memang selalu tau saat adiknya sedang berbohong ataupun menyembunyikan sesuatu.
"Kamu tau kan, kalo kakak bakalan selalu tau pas kamu lagi bohong." ujar Kara yang membuat Olive mendengus pelan. "Makanya cepetan cerita ke kakak kamu lagi ada masalah apa, kalo kamu lagi punya masalah.. jangan segan-segan buat diceritain." ujar Kara mencoba membuat adiknya bercerita.
"Aku cuman lagi sedih aja, tiba-tiba aja Mark jadi ngejauh gitu. Sifatnya aja jadi berubah 180 derajat. Terus sekarang kita jarang ngobrol ataupun main bareng. Pokoknya dia benar-benar ngejauh, bahkan.. sampe nyuruh aku buat ngejauh juga." jelas Olive tetapi Kara menatap Olive tak percaya.
"Masa iya sih Mark sifatnya jadi kayak gitu?" ujar Kara tak percaya, "Kakak aja tau sifat aslinya dia kayak gimana." ujar Kara yang membuat Olive berdecak sebal.
"Sebenernya kalian lagi ada masalah apa sih? Biasanya juga deket kek orang pacaran." ujar Kara yang malah mendapat pelototan dari Olive.
"Kakak gak boleh ngomong gitu! Aku sama Mark itu nggak kayak orang yang lagi pacaran! Orang kita sahabatan dari kecil, wajar aja kalo kita deket banget." ujar Olive tak terima sedangkan Kara tersenyum menggoda Olive.
"Masa sih??" ujar Kara tapi perhatian mereka langsung teralihkan oleh kedatangan seseorang yang tak diduga.
"Permisi calon kakak ipar." ujar Samuel yang mengejutkan Kara terlebih Olive.
"Eh? Ini bukannya Samuel anaknya Om Andrew ya?" tanya Kara yang langsung Samuel angguki.
"Iya kak, aku boleh ikut gabung kan?" tanya Samuel dan langsung Kara angguki.
__ADS_1
"Langsung duduk aja gapapa, eh.. btw kalian jadian?" tanya Kara yang membuat Olive menganga sekaligus membulatkan matanya.
"Kakak apa-apaan sih?! Siapa juga yang jadian!" kesal Olive tetapi langsung Samuel sela.
"Iya kita jadian kak, Olive mah gitu.. dia masih malu-malu kak. Jadi wajar aja kalo dia gak mau ngaku." jawab Samuel yang membuat Olive semakin menganga.
"Isshh!! Kamu apa-apaan sih Sam! Kamu jangan ngarang ya! Kita itu nggak jadian!" tegas Olive sambil memukul pelan bahu Samuel. Kara hanya tersenyum penuh arti melihat mereka.
"Iya kakak ngerti, kamu pasti masih malu-malu kan Olive? Udah deh gak usah malu-malu, oh iya! Kakak mau ke rumah Sarah sekarang! Kakak lupa astaga!" Kara lalu bangkit dan segera menghabiskan minumnya.
"Kakak duluan ya Olive, dan kamu Samuel tolong jagain pacar kamu yaa!" ujar Kara yang membuat Olive tambah memberengut kesal sedangkan Samuel hanya terkekeh.
"Siap calon kakak ipar!" jawab Samuel semangat. Olive menatap Samuel tidak percaya lalu memukul bahunya. Kali ini Olive memukulnya keras karena sangat kesal.
"Maksud kamu bilang gitu ke kakak aku itu apa hah?!!" tanya Olive dengan raut wajah yang sudah sangat-sangat kesal. Samuel dengan santainya malah menyeruput minuman Olive yang belum habis.
"Gak maksud apa-apa kok, lagian tadi gue cuman bercanda doang. Lo nya aja yang baperan." jawab Samuel santai yang membuat Olive ingin segera mencabik-cabiknya.
"Tapi kakak aku nanti ngiranya ini itu gak bercanda Sam!" kesal Olive sedangkan Samuel terus menanggapi dengan santai.
"Tenang aja, lagian sebentar lagi itu semua bakalan ke wujud kok. Lo tinggal tunggu tanggal mainnya aja." ujar Samuel sambil menaik-turunkan alisnya.
"What?! Maksud kamu apaan sih? Udah deh jangan ngomong yang aneh-aneh." kesal Olive yang membuat Samuel terkekeh.
"Udah deh, daripada lo cemberut mulu. Mending lo ikut gue ke tempat yang seru." ujar Samuel sambil tersenyum. Olive hanya memandang aneh Samuel lalu menggeleng pelan.
"Gak gak, palingan nanti nyasarnya malah kemana bukan ke tempat seru yang kamu maksud." tolak Olive mentah-mentah.
"Ayolah Liv, kali ini gue janji bakalan beneran bawa lo ke tempat itu. Lo mau ya??" pinta Samuel tetapi Olive tetap menggeleng.
__ADS_1
"Nggak! Aku maunya langsung pulang aja, ayo kamu anterin aku pulang aja!" suruh Olive sedangkan Samuel hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Siap tuan putri.."