
Samuel memberhentikannya motornya di sebuah pekarangan rumah yang tidak terlalu luas. Teman-temannya menyuruhnya untuk datang ke rumah Wahyu untuk mengumpul seperti biasa.
Samuel bisa melihat motor Mark yang sudah terparkir disamping motornya terlebih dahulu. Samuel lalu melepas helmnya dan menaruhnya di spion motornya lalu berjalan menuju pintu masuk sambil melepas jaketnya.
Samuel lalu memijit bel rumah dan tak lama kemudian tampak Wahyu yang membukakan pintu. "Tumben lo mijit bel dulu, biasanya langsung nyelonong aja."
"Brisik ah lo." Samuel langsung masuk dengan Wahyu yang berjalan dibelakangnya.
"Lama amat lo datengnya, abis ngapain dulu sih lo? Pasti lo abis ngalusin adek kelas dulu kan? Ngaku lo?!" tanya Ardi yang sedang main ps dengan Mark.
"Sotoy lo! Tadi gue abis nganterin ehem-eheman gue dulu" ujar Samuel sambil duduk di sofa.
"Alahh.. sok-sokan lo punya ehem-eheman. Gebetan juga gak ada lo! Apalagi pacar!" ejek Ardi yang disetujui Wahyu.
"Bener di, dia mana punya cewek! Kerjaannya cuman main simsimi doang mana bisa punya cewek!" timpal Wahyu sedangkan Mark hanya menertawai kecil.
"Sirik aja lo pada, awas aja kalo gue bawa cewek gue. Langsung mingkem pasti kalian." jawab Samuel tak mau kalah.
"Iyain aja dah, palingan cuman si Asih anaknya Mpok Minem doang." ejek Ardi kembali.
"Bener di, dia kan suka nongkrong di warung depan sambil godain si Asih." timpal Wahyu lagi.
"Selera lo boleh juga Sam.." ejek Mark sambil tertawa pelan. Samuel hanya mendengus sebal memilih diam tak ingin berdebat.
"Semerdeka lo pada aja dah! Tunggu aja kalo gue bawa cewek gue." Samuel lalu mengambil setoples macaroon yang masih penuh.
"Heh! Main ambil aja lo! Itu macaroon punya gue!" Wahyu langsung marah ketika Samuel mengambil kue macaroon buatan ibunya.
"Alah pelit lo, gue cuma minta doang elah. Lagian ngapain dipajang disini kalo gak mau dibagi?" Samuel memakan dua macaroon sekaligus yang membuat Wahyu semakin marah.
"Heh itu buatan emak gue spesial buat gue woy! Emak gue bela-belain ngabisin kuotanya cuman buat liat tutorialnya di YouTube!"
"Tutorial apaan? Tutorial hijab? Kan emak lo udah jago pake hijab."
"Ya tutorial masaknya ****!"
"Kan emak lo udah jago masak, ngapain belajar masak lagi?"
"Bacot lo! Sini balikin!" Wahyu yang sudah sangat kesal dan jengah segera merebut toples macaroonnya dan langsung memeluknya.
"Eitss.. bunda gak ngajarin kamu ngomong kasar ya yuu." ujar Ardi sok menasehati.
"Najis! Jijik gue!" Jawab Wahyu sambil sok bergidik jijik.
"Wahh.. ayah liat tuh anak kamu ngomongnya kasar banget." ujar Ardi pada Mark.
"Iya yah, dia pelit lagi. Masa aku mau minta macaroon dia gak kasih." Samuel ikut-ikutan nimbrung yang membuat Wahyu semakin jengah.
"Brisik lo pada! Jijik gue dengernya." jawab Mark sarkastis yang membuat Wahyu terbahak.
"WUAHAHAHAAA RASAIN LO PADA!! MAMAM TUH OMONGAN!" Wahyu terus terbahak senang sedangkan Ardi dan Samuel menatap Wahyu malas.
"Ishh.. ayah mah gituu.. bunda gak like.. awas aja ntar malem ayah tidur diluar!" ancam Ardi yang membuat Mark semakin jengah.
__ADS_1
"Brisik lo! Gue matiin ps nya nih." ancam Mark yang membuat Ardi langsung cengengesan.
"Hehe.. canda bro.. sensian amat sih lu. Belum ganti softex ya?" Mark hanya memutar bola mata malas lalu mereka berdua pun lanjut fokus main ps.
"Emak lo lagi kemana yu?" tanya Samuel pada Wahyu yang lagi asyik ngemil.
"Biasa, lagi arisan dirumah Bu RT. Palingan pulangnya maleman." jawab Wahyu sambil mengambil ponselnya.
"Eh *****! Ini beneran si Katya nge-chat gue?!" ucap Wahyu tak percaya dengan mata yang berbinar.
"Gak percaya gue, palingan cuman nanyain tugas doang." jawab Samuel yang membuat Wahyu kesal.
"Sirik aja lo! Gak suka ya fans berat lo berpaling ke gue?" ujar Wahyu sambil menaikkan sebelah alisnya sok keren.
"Dih najis lo, jijik gue." ujar Samuel yang membuat Wahyu menatapnya semakin malas.
"Napa sih lo sirik mulu? Gue tau gue ganteng, gue tau gue perfect, jadi lo gak usah sirik! Ingat! Sirik tanda tak mampu!" ujar Wahyu sombong tetapi Samuel memilih diam.
Melihat Wahyu yang sedang cengengesan sendiri dengan ponselnya, Samuel memilih mengambil kue macaroonnya diam-diam.
"Eh gila dia nanyain 'ini beneran Wahyu kelas 11 ipa 2 gak?' " ujar Wahyu girang sambil meremas-remas tangan Samuel yang kebetulan lagi memegang kue macaroonnya.
"Lahh?? Eh lo ngambil kue gue ya Sam?!" Wahyu langsung menoleh dan benar saja ditangan Samuel terdapat kue macaroon hijau yang membuat pandangan Wahyu menajam.
"Hehee.. lagian kuenya menggoda iman sih.. gue minta dikit boleh dong yaa??" pinta Samuel sambil memelas dan kedip-kedip cantik.
Wahyu hanya memberengut jijik, "Yaudah deh serah lo, mumpung gue lagi baik jadinya monggo saja." Samuel dengan semangat langsung mengambil toples macaroon dari Wahyu dan memakannya dengan penuh penghayatan.
"Beli aja sendiri! Lo punya kaki buat jalan kan?" jawab Wahyu sarkas.
"Kan katanya lo lagi baik, gimana sih lu?"
"Tadi gue cuman asal ngomong pea!!"
"Ayo dah lo anterin gue ke depan komplek kalo gitu." Ardi langsung berdiri yang membuat Wahyu menatapnya heran.
"Mau ngapain lu?"
"Beli semen! Ya beli martabak lah dodol!" ujar Ardi sambil menoyor pelan kepala Wahyu.
"B aja dong lo, ayo dah gue anter pake motor bebeknya emak." Wahyu dan Ardi lalu keluar rumah untuk membeli martabak. Tersisa Samuel yang masih asyik makan kue dan Mark yang sibuk memainkan ponselnya.
"Eh konah, gue mau ngomong sama lu sat." ujar Samuel yang membuat Mark menoleh malas.
"Bisa gak sih lo gak plesetin nama gue?!" tanya Mark sarkas yang Samuel hiraukan.
"Gue mau nanya serius ama lo." kini giliran Samuel yang dihiraukan.
"Tinggal ngomong aja gak usah banyak gaya." ujar Mark sambil terus fokus ke ponselnya.
"Ya elonya main hp mulu! Gimana gue mau ngomong serius?!"
"Sensi amat sih lu kayak cewek."
__ADS_1
"Ya lo emang nyebelin Markonah!"
"Cepet ngomong!" Mark memilih mematikan layar ponselnya dan menatap Samuel malas.
"Lo ada apa sama Olive?" tanya Samuel yang membuat Mark terdiam.
⚪⚪⚪
"Kakak!! Aku itu gak pacaran sama Samuel!" kesal Olive pada kakaknya yang malah semakin tersenyum jahil.
"Masa sih?? Tapi kakak kok gak percaya yaa??" goda Kara yang membuat Olive semakin memberengut sebal.
"Iya aku gak boong! Kok kakak gak percayaan banget sih!" kesal Olive sambil melempar pelan bantalnya ke arah Kara.
"Tapi kenapa coba waktu itu dia manggil kakak ipar ke kakak?" tanya Kara yang membuat Olive semakin kesal.
"Udah deh gak usah bahas yang waktu itu!"
"Jawab dulu dong.."
"Dia itu emang kayak gitu orangnya! Udah deh kakak gak usah ngurusin dia segala!" Kara hanya terkekeh melihat reaksi adiknya saat ia yang terus mengungkit kejadian di food court waktu itu.
"Yaudah deh kakak percaya, tapi kalau suatu saat kalian jadian. Kamu jangan lupa kasih tau kakak yaa.." goda Kara lagi tetapi Olive memilih diam.
"Serah." jawab Olive malas yang membuat Kara terkekeh lagi.
"Udah deh adik kakak yang cantik ini gak usah pake ngambek segala, mau nemenin kakak ke salon gak? Atau mau kakak traktir cheese cake kesukaan kamu?" tawar Kara berusaha menawari adiknya.
"Gak usah deh aku lagi mager." jawab Olive lesu.
"Kamu kenapa sih? Masih kepikiran Mark lagi?" tanya kakaknya yang membuat Olive semakin lesu.
"Aku lagi gak mood buat bahas dia kak." jawab Olive sambil membaringkan tubuhnya, Kara ikut membaringkan tubuhnya di samping Olive.
"Kalian kenapa sih? Biasanya juga gak pernah kayak gini." tanya kakaknya heran.
"Tau ah, intinya.. dia itu tiba-tiba berubah 180° tanpa alasan yang jelas!" jawab Olive sebal.
Kara terdiam lalu menatap adiknya iba, tidak biasanya ia melihat Olive selesu ini. Biasanya saat ia pulang kerja, ia selalu melihat Olive yang sedang asyik bercanda dengan Mark atau asyik pergi keluar.
Tapi belakangan ini saat ia pulang kerja, ia selalu melihat Olive tengah melamun atau sekedar menatap kosong ketika sedang melakukan sesuatu. Itu membuat Kara sedih dan khawatir kepada adiknya.
"Biar kakak nanti bilang sama Mark deh supaya kalian baikan lagi." Olive segera menoleh dan menggeleng.
"Gak! Biar aku aja yang nyelesain masalah aku sendiri." ujar Olive sedangkan Kara hanya menatap Olive lalu mengangguk pasrah.
"Iya deh, tapi kamu jangan keseringan ngelamun dong. Nanti kalo kamu kenapa-napa gimana??" ujar Kara sambil memeluk adiknya.
"Aku gak bakal kenapa-napa kok kak, kakak gak usah khawatir gitu." Olive balas memeluk kakaknya.
"Tapi kamu harus janji ya sama kakak, kalo kamu lagi ada masalah apapun itu jangan terlalu dipendem sendiri kayak gini. Kakak gak mau liat kamu murung terus." ujar Kara khawatir sambil mengelus-elus rambut adiknya pelan.
"Iya kakakku sayang.." jawab Olive sambil tambah memeluk kakaknya erat.
__ADS_1