
Maafkan daku yg baru update;)
Katya sedari tadi menatap Olive bingung, dalam hati ia sebenarnya ingin sekali memperlihatkan perihal rekaman yang ia dapat.
Tapi mengingat kini situasinya sedang tidak tepat, apalagi mengingat Wahyu yang notabenenya master of kepo pasti akan langsung menguping pembicaraannya dengan Olive.
Apalagi Wahyu dan Zoe itu bersahabat cukup dekat, bagaimana kalau Wahyu tidak mempercayai Katya dan malah mengadukannya pada Zoe?
Tapi mungkin tidak juga sih mengingat Wahyu sangat tergila-gila akan Katya.
"Liv" panggil Katya pelan.
"Kenapa Kat?" saut Olive sambil menoleh.
"Pulang sekolah kita bisa ngomong dulu sebentar kan?" tanya Katya sambil berharap Olive akan langsung menganggukinya.
Olive mengernyitkan keningnya heran, tumben sekali Katya mengajaknya berbicara serius seperti ini. Katya yang mengerti akan maksud ekspresi Olive langsung menambahkan.
"Ada yang perlu gue tunjukkin ke lo entar"
"Yaudah iya, nanti kamu tinggal nyamper aja ke kelas aku" jawab Olive yang langsung Katya angguki.
"Sip, kalo gitu gue duluan ke kelas ya" pamit Katya yang Olive angguki.
Setelah Katya berlalu ke kelasnya duluan, Olive lalu mengalihkan pandangannya pada Mark yang masih asyik mengobrol dengan teman-temannya yang lain.
Olive tersenyum miris dalam hati, ia sadar ia memang tidak pantas jika terus-menerus berada di samping Mark.
Ia bukan tipikal murid yang most wanted yang mempunyai banyak penggemar dan tak banyak juga cowok yang menyukainya.
Tak banyak juga yang mengenali Olive, bahkan pandangan para murid terhadap Olive malah sebagai siswa pendiam yang selalu saja bergantung pada sahabat kecilnya yaitu Mark.
Ia hanya terkenal dikalangan para guru saja, itupun tidak semua guru mengenalinya. Mungkin hanya para guru-guru yang pernah mengajarinya saja.
Tiba-tiba pikiran Olive teringat akan kejadian 3 tahun silam. Ia ingat ia pernah membuat Mark hampir dikeluarkan dari sekolah saat masih bangku SMP.
__ADS_1
Ia ingat bahwa pernah ada seorang murid perempuan yang sangat membencinya di kelas. Murid itu selalu saja menindasnya dan bertingkah sewenang-wenang padanya.
Dan Mark pernah menampar murid perempuan tersebut saat melihat Olive yang dikerjai di toilet.
Kebetulan murid perempuan tersebut adalah anak kesayangan dari pemilik sekolah. Tentu saja murid perempuan tersebut langsung melaporkan perbuatan Mark pada ayahnya. Dan Mark malah dipanggil menghadap kepala sekolah dan hampir saja akan dikeluarkan.
Olive menghela nafas lalu menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya. Samuel yang melihat itu lalu menepuk pelan bahu Olive.
"Lo kenapa sih Liv? Kok kayak yang lesu banget gitu?" tanya Samuel melihat raut wajah Olive yang sama sekali tidak bersemangat.
"Nggak kok gapapa" jawab Olive tapi pandangannya masih tertuju akan Mark. Samuel yang menyadari itu hanya tersenyum tipis.
⚪⚪⚪
Bel pulang sudah berbunyi dari tadi, tapi Olive masih berada di taman belakang sekolah sambil duduk membaca novel.
Tadinya Katya bilang akan menyusulnya ke taman belakang. Tapi sampai sekarangpun Katya masih belum memperlihatkan batang hidungnya sama sekali.
Olive menghela nafas berat sambil menutup novelnya, bahkan mencoba fokus membaca saja rasanya susah sekali. Pikiran Olive sedang berkecamuk antara penasaran akan apa yang akan Katya sampaikan dan perkataan Mark yang selalu memintanya untuk menjauh dari Samuel.
Pertanyaan itu selalu Olive lontarkan dalam hati. Olive lalu menutup novelnya karena mood membacanya malah menurun.
Langit yang mulai mendung membuat Olive memutuskan untuk langsung pulang saja. Hari ini ia sedang tidak pulang dengan Samuel. Ia meminta bahwa ia sedang ingin pulang sendiri.
Saat melewati lapangan basket ia langsung bisa melihat Mark dan teman-temannya yang lain sedang serius latihan.
Kemudian pandangan Olive langsung bisa menangkap Zoe yang ternyata sedang menonton Mark latihan di kursi penonton.
Olive tersenyum tipis, ia lalu mempercepat langkahnya menuju gerbang.
Untuk apa ia menyemangati dan menonton Mark latihan jika telah ada orang lain yang menggantikannya?
Olive malah memutuskan untuk mengunjungi dulu caffe favoritnya. Disana ia langsung memesan green tea cream dan juga cheese cake kesukaannya.
Biasanya setiap ia kesini pasti selalu dibarengi dengan Mark. Tapi saat Olive melihat ke arah pintu masuk, dadanya langsung terasa sesak saat melihat orang yang masuk tersebut.
__ADS_1
Orang tersebut adalah Mark dan Zoe yang membuat Olive serasa ingin langsung pulang. Tapi karena diluar sedang turun hujan, jadinya dengan terpaksa Olive harus tetap berada di dalam caffe sampai hujan reda.
Olive memilih untuk duduk membelakangi Zoe dan Mark agar mereka tidak bisa melihatnya. Apalagi tempat duduk Zoe tepat sekali dibelakang Olive. Untungnya Zoe tidak sadar karena perhatiannya sedari tadi hanya ditujukan pada Mark saja.
Olive mencoba fokus untuk membaca novel lagi dan melupakan fakta bahwa Mark dan Zoe kini sedang duduk di belakangnya. Tapi tetap saja suara obrolan mereka membuat konsentrasi Olive buyar lagi.
Olive terus berharap agar hujan segera reda dan ia bisa cepat-cepat pulang. Tapi sepertinya dewi fortuna sedang tidak memihak padanya karena hujan malah turun semakin deras.
"Zoe, gue boleh minta tolong sama lo kan?" tanya Mark yang mulai menarik perhatian Olive.
"Minta tolong apaan Mark?" tanya balik Zoe.
"Eee.. gue minta tolong lo buat yakinin Olive biar mau ngejauh dari Samuel" Olive terdiam mendengarnya.
"Gue soalnya gak mau sampe Olive disakitin juga kayak lo waktu itu" tambah Mark.
Zoe bingung harus mengiyakan atau tidak, pasalnya jika ia membuat Olive mau menjauh dari Samuel maka otomatis Olive akan semakin dekat lagi dengan Mark seperti biasanya.
Zoe tidak ingin kesempatannya selalu terebut Olive, ia masih diam belum menjawab pertanyaan Mark.
"Gimana? Lo mau kan?" tanya Mark lagi yang tambah membuat Zoe bingung.
"I-iya Mark, nanti gue coba jelasin ke Olive nya" jawab Zoe akhirnya yang membuat Mark tersenyum senang.
"Thanks Zoe, lo emang sahabat gue yang paling bisa ngertiin" Zoe hanya tersenyum kecil menanggapinya. Padahal dalam hati ia tidak sepenuh hati menjawab permintaan Mark.
Olive yang masih terdiam tambah terdiam mendengar perkataan Mark tadi.
Sahabat?
Bukannya Mark dan Zoe itu berpacaran?
Pertanyaan itu terus membenahi benak Olive membuat Olive ingin segera mencari tau kebenarannya.
Lalu kalau memang benar selama ini mereka berdua tidak berpacaran, maka perkataan Zoe waktu itu mengapa seolah ia adalah benar pacarnya Mark dan malah memberinya saran untuk menjauh?
__ADS_1
Saat menyadari satu hal, Olive langsung tersenyum kecut. Sepertinya.. ia sama sekali tidak pernah sekali saja tidak dimanfaatkan.