
"Lo pulangnya bareng Mark lagi?" tanya Samuel saat Olive akan pulang dari rumah Wahyu.
"Iya, kan aku kesininya bareng Mark. Jadi otomatis pulangnya bareng Mark juga." jawab Olive.
"Emangnya kenapa?" tanya Olive lagi.
"Nggak kok, yaudah kalo gitu gue ke kamar Wahyu lagi ya. Hati-hati di jalan." ujar Samuel yang Olive angguki.
"Kamu mau langsung pulang apa mau kemana dulu Liv?" tanya Mark saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Terserah kamu aja deh Mark."
"Yaudah, kalo gitu anter aku beli buku dulu aja ya?" Olive hanya mengangguk.
"Olive, kamu tau Katya kan?" tanya Mark membuka obrolan.
"Tau kok, yang tetangganya Ardi bukan?"
"Iya bener, jadi sebenernya Wahyu itu sakit gara-gara dia ditolak pas nembak Katya kemarin" jelas Mark yang membuat Olive tertawa.
"Yaampun, yang bener? Hahahaa.. kasian juga Wahyu"
"Iya, dia kemaren curhat di telepon sambil nangis-nangis juga. Katanya belum juga dia ngungkapin perasaannya, dia udah di tolak mentah-mentah sama Katya" jelas Mark lagi.
"Kasian juga Wahyu, lagian Katya nolaknya kayaknya kasar banget deh" ucap Olive.
"Soalnya Katya itu emang gak suka sama Wahyu, dia itu dari dulu emang dikenal sebagai fans fanatiknya Samuel. Ternyata dia ngedeketin Wahyu cuman pengen ngemanfaatin dia doang, ehh.. Wahyunya malah keGRan" jelas Mark.
"Tapi ya Mark, kalau misalnya Wahyu beneran jadian sama Katya. Kayaknya mereka bakalan jadi pasangan yang lucu deh" ujar Olive sambil tertawa membayangkannya.
"Kayaknya seru banget kamu ngebayangin mereka, kenapa kamu gak ngebayangin kalau seandainya kita yang jadian aja" perkataan Mark sukses membuat Olive terdiam.
"Becanda Liv.. lagian masa aku jadian sama sahabat aku sendiri sih" ujar Mark lagi sambil tertawa hambar. Olive tersadar sambil tersenyum kecut dalam hati mendengar perkataan Mark tadi.
Ya, Olive sadar mereka hanya sepasang sahabat tak lebih.
⚪⚪⚪
Olive memandang novel yang tengah ia pegang. Novel yang ia beli tadi dengan Mark. Olive membeli novel tersebut karena menurutnya kisahnya sangat mirip dengan dirinya sekarang.
Tentang kisah cinta sepasang sahabat dari kecil yang ternyata bertepuk sebelah tangan sama persis dengan yang ia alami sekarang.
__ADS_1
Perkataan Mark di mobil tadi cukup untuk menjawab segalanya. Bahwa mereka hanya sebatas sahabat tak lebih dari itu.
Olive lalu tertawa kecil menyadari satu fakta yang ia lupakan. Bahwa Mark kini telah memiliki seorang pacar, dan Olive sepertinya belakangan ini sudah melupakan fakta itu.
Drrttt.. drrtt..
Olive langsung mengambil ponselnya yang bergetar, ternyata ada panggilan masuk dari Samuel.
"Iya Sam ada apa?" ujar Olive saat sudah mengangkat panggilan.
"Besok lo berangkat sekolah bareng gue kan?"
"Mmm.. yaudah iya, emangnya kenapa?"
"Nggak, takutnya gue jemput lo nanti lo malah udah duluan berangkat sama si Mark"
"Ya nggak bakalan lah Sam, lagian aku juga pasti bilang dulu kok"
"Yaudah, Eh btw.. besok sepulang sekolah lu gak ada acara kan??"
"Gak.. ada deh kayaknya, kenapa lagi emangnya?"
"Ya bagus deh, gue mau ngajak lo jalan aja kek biasa. Lo mau kan?"
"Nggak bakalan nyasar lagi ke game center kan??" tanya Olive memastikan yang membuat Samuel tertawa di seberang sana.
"Ya nggak bakalan lah sekarang mah, ya elah Liv lo masih diinget aja. Yaudah kalo gitu gue jemput lo besok subuh ya?"
"Yaelah yang bener dong! Masa subuh sih? Akunya juga baru bangun kali Sam.." kesal Olive yang membuat Samuel terkekeh.
"Canda kali Liv.. gue juga masih molor jam segitu mah. Yaudah see you besok"
Olive lalu tersenyum kecil saat sudah menyimpan ponselnya, ia lalu merebahkan dirinya di kasur. Olive menatap langit-langit kamarnya, Olive berpikir kenapa belakangan ini ia selalu saja mudah menerima ajakkan Samuel.
Padahal mereka baru saja dekat minggu-minggu lalu, dan Olive adalah sosok yang sulit untuk dekat dengan orang dan sekarang.. bahkan Olive merasa ia seperti sudah berteman lama sekali dengan Samuel.
Olive lalu bangun dan mengambil sesuatu dari dalam laci nakasnya. Olive lalu kembali merebahkan tubuhnya sambil memainkan benda pemberian teman masa kecilnya dulu.
"Sammy.. kamu sekarang dimana? Pasti sekarang kamu udah seumuran aku, kalau kita ketemu.. aku bakalan cerita banyak hal sama kamu. Aku pengen ketemu lagi sama kamu Sam.." Olive terdiam saat ia mengatakan kata 'Sam', pikiran Olive tiba-tiba tertuju pada Samuel saat mengatakan kata 'Sam'
"Sam.. Sammy.. Samuel.." gumam Olive saat menyebutkan nama mereka.
__ADS_1
"Kok kayak yang.. apa jangan-jangan.. Samuel itu Sammy??" tebak Olive tapi cepat-cepat Olive langsung menggeleng.
"Gak mungkin! Aku gak dapet ciri-ciri Sammy dari Samuel kok, lagian aku gak pernah liat Samuel main rubik. Sammy kan kemana-mana suka bawa rubik" ujar Olive pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba bel rumah Olive berbunyi yang membuat Olive langsung bangkit dan turun ke bawah.
"Hai mamah!" sapa Olive saat melihat mamah Aini dan langsung memeluknya.
"Olive kamu kemana aja?? Kok kamu jarang main lagi ke rumah mamah sih?? Kamu gapapa kan sayang??" ujar Aini sambil melepaskan pelukannya.
"Hehe.. aku gapapa kok mah, aku.. cuman lagi sibuk ngerjain tugas aja. Soalnya sekarang tugas sekolahnya numpuk, hehee.." bohong Olive sambil tersenyum kikuk.
"Ohh.. ya bagus deh kalo gitu, kirain mamah kamu sakit jadinya kamu jarang keluar. Kamu ke rumah mamah yuk, tadi baru aja mamah selesai buat kue brownis kesukaan kamu" ajak mamah Aini yang langsung Olive angguki.
"Iya mah" jawab Olive lalu menutup pintunya keluar, Olive lalu berjalan beriringan dengan mamah Aini.
"Mark!! Ayo turun dulu!!" teriak Aini pada Mark yang sedang di atas.
"Iya mah!" teriak Mark sambil turun dan menuju ruang makan.
"Nih kalian makan brownisnya, mamah tadi udah buatin ini khusus buat kalian. Kalian makan bareng-bareng ya, mamah mau arisan dulu ke rumah bu RT" Olive dan Mark hanya mengangguk kompak lalu mulai memakan brownisnya.
"Liv.. belakangan ini, aku kok liat kamu sering barengan Samuel sih?" tanya Mark yang membuat Olive terdiam.
"Emangnya kenapa? Kita kan emang temenan, jadi wajar dong kalo kita barengan" jawab Olive lalu lanjut memakan brownisnya lagi.
"Bukan gitu, ya.. aku cuman heran aja. Aku kan tau kalo kamu itu tipe orang yang gak mudah nerima temen gitu aja, tapi kok kamu sama Samuel malah kayak yang udah kenal lama aja" jelas Mark yang membuat Olive terdiam lagi, dalam hati Olive juga menyetujui perkataan Mark barusan.
Memang benar, ia adalah tipikal orang yang sangat sulit berteman begitu saja. Dan sekarang ia bersikap dan merasa seolah-olah Samuel adalah sahabatnya dari lama. Olive juga heran akan perasaannya, ia merasa agak familiar saat di dekat Samuel. Perasaan nyaman yang ia rasakan kepada Mark, Olive juga bisa merasakan itu saat dekat Samuel.
"A-aku.. aku gak tau, lagian.. lagian harusnya kamu seneng dong aku punya temen lain?" jawab Olive.
"Ya tapi kenapa mesti Samuel sih? Emangnya gak ada temen lain apa Liv?" kesal Mark yang membuat Olive heran.
"Ya terus apa masalahnya? Kan sama-sama temenan juga. Lagian kenapa kamu kayak yang gak suka gitu aku temenan sama Samuel?" tanya Olive sambil menatap Mark heran.
"Ya.. aku cuman gak suka aja, lagian kamu kan gak tau kalau Samuel itu bukan cowok baik-baik?" jelas Mark yang membuat Olive tambah merasa heran plus bingung.
"Ya terus aku mesti jauhin Samuel gitu? Lagian dia baik kok, kamu jangan nilai orang cuman dari sikap luarnya aja. Lagian kalau dia bukan cowok baik-baik, kenapa kamu dari dulu temenan deket sama dia?" tanya Olive balik yang membuat Mark terdiam.
"Gak bisa jawab kan?" ujar Olive kemudian.
__ADS_1
"Aku bingung deh mau kamu itu apa!" setelah mengatakan itu, Olive berjalan keluar rumah meninggalkan Mark yang masih terdiam.