
"Liv, kamu masih marah?" tanya Mark pada Olive yang sedang membaca novel. Olive segera menutup novelnya lalu memilih berjalan keluar kelas mengabaikan pertanyaan Mark barusan.
"Olive!" teriak Mark tapi masih Olive abaikan, Mark lalu bangkit dari kursi lalu berlari kecil mengejar Olive.
Tapi karena Mark yang telat mengejar, jadinya ia tidak bisa menemukan Olive yang sudah keluar kelas dari tadi.
Mark mencoba mencari Olive ke kantin, perpustakaan, taman belakang, bahkan sampai toilet dan juga UKS pun masih saja tidak ketemu.
Sekarang masih jam istirahat, jadinya Mark tambah sulit mencari Olive karena banyak siswa-siswi yang berlalu lalang menghalangi jalannya. Mark mencoba menanyakan Olive pada murid lain tapi tetap saja tidak ada yang melihatnya.
"Eh, Hendrik! Sini lo!" panggil Mark pada siswa bertubuh gempal yang sedang meminum bubble tea.
"Apaan Mark?" tanya Hendrik bingung.
"Lo liat Olive gak?" tanya Mark sambil terus mencoba mengatur nafasnya.
"Mmm.. tadi kalo gak salah gue liat dia bareng Samuel. Tapi gue gak tau mereka kemana." ucap Hendrik yang membuat Mark langsung berlari menaiki tangga.
"Ehh.. langsung main kabur aja tuh bocah." gumam Hendrik lalu lanjut meminum bubble tea nya lagi.
Mark terus berlari menaiki tangga ke arah rooftop, Mark sudah menduga jika Samuel membawa Olive ke rooftop. Karena memang rooftop sekolah merupakan tempat favorit Samuel.
***It was great at very start
Hands on each other
Couldn't stand to be far apart
Closer the better***
Belum saja Mark memutar kenop pintu rooftop, sudah terdengar suara orang bermain gitar dan juga orang yang bernyanyi.
***Now we're picking fights
And slamming doors
Magnifying all our flaws***
Mark terdiam saat mendengar suara orang yang bernyanyi tersebut, Mark lalu memutar kenop pintu tersebut pelan-pelan. Ia lalu mengintip secara diam-diam dan terlihat lah Samuel dan Olive yang sedang asyik bernyanyi bersama.
***And I wonder why
Wonder what for
Why we keep coming back for more***
Mark bisa melihat Olive yang tersenyum kecil sambil bernyanyi. Saat ini Olive dan Samuel tengah duduk di sofa yang sudah tidak terpakai yang ada di rooftop entah sejak kapan.
Mark terdiam membeku menatap mereka sekaligus mendengarkan suara mereka.
***Is it just our bodies?
Are we both losing our minds?
Is the only reason you're holding me tonight
__ADS_1
Cause we're scared to be lonely***?
Mark menatap Olive yang bisa tersenyum dan tertawa lepas dengan Samuel. Mark lalu tersenyum miris, ia lalu memutuskan untuk turun ke bawah meninggalkan mereka.
"Suara kamu bagus juga Sam." puji Olive yang Samuel menyisir rambutnya ke belakang sambil tersenyum bangga.
"Pastilah, secara kan abang gue itu penyanyi internasional. Masa adeknya gak bisa nyanyi sih, jadi gue juga harus pinter nyanyi lah." ucap Samuel sambil menaik-turunkan alisnya yang membuat Olive terkekeh.
"Ada-ada aja deh, jadi nyesel udah muji nih."
"Jangan gitu Liv, bilang aja lo nyesel karena lo cuman muji gue segitu doang gak lebih." ujar Samuel yang membuat Olive mengernyit bingung.
"Maksudnya?"
"Sebenernya lo nyesel karena lo cuman muji gue sedikit kan? Tadinya lo pengen muji gue lebih-lebih kan? Kan kan?" ujar Samuel sambil menaik-turunkan alisnya lagi.
Olive tertawa kecil, Samuel ini ada-ada saja.
"Eh Liv, perjanjian itu kayaknya sekarang udah gak berlaku lagi kan?" tanya Samuel yang membuat Olive berpikir sebentar.
"Perjanjian apaan?" tanya Olive bingung.
"Ya ampun lo masih muda udah pikun. Itu perjanjian yang katanya lo pengen gue buat nyelidikin si Markonah." jelas Samuel, sedetik kemudian Olive baru ingat.
"Oh iya aku inget!" ujar Olive sambil menjentikkan jarinya.
"Tuh sih lo inget."
"Iya Sam, sekarang udah gak berlaku lagi. Tapi tenang aja kok, kamu masih boleh jemput aku atau pulang bareng aku lagi." ujar Olive yang membuat Samuel tersenyum lebar.
"Serius?" tanya Samuel memastikan, Olive lalu mengangguk yang membuat Samuel tersenyum lagi.
"Nanti aja aku jelasinnya, aku lagi males buat ngebahas tentang dia sekarang."
⚪⚪⚪
"Liv, kamu pulang bareng aku ya?" pinta Mark saat Olive sedang memasukkan buku-bukunya.
"Maaf Mark, tapi aku udah duluan janji sama Samuel." jawab Olive yang membuat Mark mencoba menahan emosinya.
"Aku perlu ngomong hal penting sama kamu, kamu mau ya pulang bareng sama aku?" pinta Mark lagi tapi Olive gelengi.
"Nanti aja kan masih bisa, aku duluan ya Mark." pamit Olive meninggalkan Mark sendirian di kelas.
"Sialan!" umpat Mark sambil menendang bangku yang ada dihadapannya.
Saat Olive sudah sampai parkiran, ia sudah bisa melihat Samuel yang tengah terduduk menunggunya.
"Hai Sam, udah lama nunggunya?"
"Gak kok, gue juga baru sampe tadi. Ayo naik sekarang!" Olive langsung mengangguk dan segera memakai helm.
"Lo mau langsung pulang atau mau mampir dulu kemana?" tanya Samuel saat Olive sudah duduk dibelakangnya.
"Langsung pulang aja deh, aku ngantuk pengen cepet-cepet tidur
__ADS_1
" jawab Olive yang membuat Samuel terkekeh.
"Dasar kebo, dipikirannya cuman ada tidur mulu." ejek Samuel tapi Olive abaikan.
"Udah cepet jalan!"
"Iya iya."
Sesampainya di depan rumah, Olive segera turun dan melepas helmnya.
"Nih helmnya, makasih ya Sam. Aku masuk dulu ya." pamit Olive yang Samuel angguki.
Sesampainya di kamar Olive langsung merebahkan dirinya di atas kasur dan langsung terlelap begitu saja. Entah mengapa ia sangat mengantuk sekarang. Bahkan seragamnya pun masih melekat di tubuhnya.
Tapi tidurnya itu tidak berlangsung lama karena selanjutnya Olive harus terbangun karena suara bel pintu yang terus menerus berbunyi. "Ishh! Siapa sih ganggu orang tidur aja!" kesal Olive dengan mata yang masih mengantuk. Olive lalu segera turun untuk membuka pintu depan.
"Iya, siapa?" tanya Olive dengan matanya yang setengah terpejam. Samar-samar Olive melihat orang di depannya itu mirip seperti sosok Mark.
"Maaf aku ganggu kamu tidur, aku cuman mau ngomong sesuatu lagi sama kamu." ujar Mark yang membuat kantuk Olive seketika menghilang. Olive langsung membuka matanya lebar-lebar.
"Eh? Masuk aja Mark." Olive lalu mempersilahkan Mark untuk masuk.
Mereka berdua lalu duduk di sofa di ruang tengah. "Kamu mau ngomong apa?" tanya Olive to the point.
"Mmm.. ini soal penjelasan aku yang belum selesai." ujar Mark yang membuat Olive terdiam. Olive tersenyum tipis, ia memang sudah menduga jika Mark pasti akan membicarakan hal di taman waktu itu yang belum selesai.
"Bukannya semuanya udah jelas ya, kamu tiba-tiba berubah aneh kayak gitu cuman buat ngebikin aku nyari temen lain. Soalnya katanya kamu bakal ngambil beasiswa ke Aussie, terus karena kamu takut aku bakalan kesepian sama menyedihkan jadinya kamu ngelakuin hal ini ke aku. Iya kan?" jelas Olive dengan nada sarkastik.
"Maksud aku gak gitu Liv..–"
"Udah deh Mark, semuanya udah jelas. Kamu gak usah ngasih penjelasan apapun lagi."
"Olive dengerin aku dulu, aku belum selesai ngejelasin semuanya."
"Kamu mau ngejelasin apa lagi sih? Udah deh aku masih ngantuk pengen tidur lagi."
"Olive, dengerin gue dulu bisa kan!!!" bentak Mark tiba-tiba, sontak saja Olive dibuat terkejut bukan main. Pasalnya baru kali ini Mark berani membentaknya.
Mark mengutuk dirinya yang tidak bisa menahan emosinya, Mark mengusap wajahnya kasar lalu menatap Olive serius. Olive sekarang tengah menunduk pelan ketakutan. Menyadari hal itu Mark lalu meraih sebelah tangan Olive dan mengusapnya pelan.
Mark menghela nafas sebentar sebelum menjelaskan semuanya lagi, "Maaf udah ngebentak kamu tadi, aku gak bermaksud buat ngebentak kamu kok Liv.."
"Sekarang aku pengen ngejelasin semuanya sampai tuntas biar kita bisa kembali lagi kayak dulu lagi, biar kamu gak salah paham lagi."
"Aku emang kejam Liv, aku udah bersikap dingin dan kasar sama kamu belakangan ini."
"Sumpah aku juga gak bermaksud kayak gitu, aku ngelakuin ini semua demi kebaikan kamu. Aku pengen kamu bisa cari temen lain.."
"Aku itu gak pernah ngeluh dan gak pernah ngerasa terbebani sama kamu. Aku cuma pengen kamu cari banyak temen baru biar kamu gak sendirian pas aku gak ada nanti."
"Aku sayang sama kamu Liv, aku pengen ngerubah sikap dingin kamu sama orang lain. Siapa tau dengan kamu cari temen baru, perlahan kamu bisa ngerubah sikap dingin kamu."
"Tapi nyatanya.. perkiraan aku itu salah besar, kamu malah terus nyoba buat ngebuat aku kembali lagi kayak dulu."
"Dan dari situ aku sadar.. semuanya emang gak segampang yang aku kira. Aku juga mulai sadar kalau cara aku itu salah, aku juga sadar kalau cara aku itu terlalu kejam buat kamu. Tapi aku salut sama kamu yang gak langsung marah dan selalu berusaha merubah sikap aku buat kembali lagi kayak dulu."
__ADS_1
"Aku minta maaf sekali lagi sama kamu Liv, aku pengen kamu gak salah paham lagi. Aku gak pernah mandang kamu sebagai orang yang menyedihkan, di mata aku kamu sangat berharga Liv.. dan aku pengen kita bisa kembali lagi kayak dulu lagi.. aku gak bakalan maksa kamu buat cari temen baru lagi kok.."
"Kamu mau kan maafin aku Liv?"